Mira POV
Hai, aku Mira. Wanita single berumur 24 tahun, bukan karena parasku yang buruk rupa, tapi aku belum menemukan pria idamanku. Jangan khawatir, aku sudah menemukannya. Ia berada di depanku, sedang menatap diriku yang cantik ini. Ya, hantu itu. Dia sedang duduk manis di sofaku.
Kemarin malam, dialah yang mengikutiku. Alasannya, ia khawatir denganku yang pulang sendirian. Tapi dia tidak khawatir dengan jantungku yang seakan siap untuk melompat keluar karena ulahnya.
Tapi ada satu hal yang membuatku tak habis pikir. Hantu itu tidak mau kembali ke tempatnya. Hanya karena ia merasa nyaman, masa dia tidak mau kembali. Yah, aku sih mau-mau saja, lumayan loh tiap saat cuci mata.
"Mengapa kau menatapku terus? Apa ada yang menempel di wajahku?" Tanya hantu itu.
Ada, ketampanan menempel di wajahmu. Huftt ... Hatiku mungkin saja tidak sanggup kalau menatapnya terlalu lama.
"Siapa namamu?" Tanyaku.
Hantu itu terlihat mengerutkan keningnya.
"Entahlah, aku lupa. Untuk sekarang panggil saja Deon," balasnya.
"Sudah berapa lama kamu jadi hantu?"
"To the point saja ya, aku lupa semua tentang diriku. Jangan bertanya hal pribadi, tidak sopan."
Tidak sopan? Bagaimana dengannya yang masuk ke rumah orang tanpa izin? Terlebih rumah seorang wanita. Wajah tampan bukan segalanya, dasar kau Aminah!
"Mengapa kau berpura-pura tidak melihatku?" Tanya Deon.
"Kamu bertanya karena tidak tahu, atau kamu memang bodoh?" Balasku.
"Hah? Wanita macam apa kau, kasar sekali mulutmu." Deon melihatku tak suka.
"Aku wanita macam singa, lalu apa masalahmu? Ah, aku tahu masalahnya, kamulah masalah itu sendiri."
Brakk
Hah? Mengapa dia bisa menggebrak meja? Bunyi lagi. Dia kan hantu.
"Aku? Masalah? Ohho ... Baiklah, aku akan menjadi masalah untukmu," Deon tersenyum, bukannya terpesona, aku malah bergidik ngeri.
***
Author POV
"Kyaaa!!!" Teriak Mira, ini sudah kesekian kalinya ia berteriak.
Deon, hantu itu, selalu saja mengusili Mira. Baru sehari saja ia tinggal, Mira sudah tidak sanggup. Bagaimana kalau ia tinggal untuk selamanya? Mungkin Mira akan mencari kamera dan melambaikan tangan, tanda ia tak sanggup lagi.
"Ternyata hanya mulutmu yang kasar, tapi kau sangat penakut," ejek Deon dari arah belakang. Sedangkan Mira, ia masih memegang dadanya, dengan perasaan dongkol.
Mengapa aku jatuh cinta pada makhluk sialan ini? Batin Mira.
"Sudah cukup, aku salah, maafkan perkataan ku. Aku tidak akan mengulanginya. Jadi, bisakah kau pergi sekarang?" Ucap Mira dengan tangan yang terkepal.
Deon tak menyangka dengan tindakan Mira, menurutnya ini di luar dugaannya.
"Aku memaafkanmu ...." Deon tersenyum tulus, membuat Mira tersentuh. " Tapi, aku tidak akan melepaskanmu ataupun pergi dari sini."
Kretaakk
Itu suara hati Mira yang hancur, rasa tersentuh tadi langsung hilang entah kemana. Mungkin sudah dihancurkan oleh amarah Mira.
Tanpa mengatakan apapun, Mira meninggalkan Deon di ruang makan. Ia pergi menuju kamarnya, entah apa yang akan ia lakukan. Deon yang penasaran pun mengikuti Mira dari belakang.
"Apa kau gila?!!" Teriak Deon lalu pergi meninggalkan kamar Mira.
"Dasar m***m!! Pergi sana!!" Balas Mira sambil menutupi badannya yang tak memakai baju.
Ternyata, ia hanya berniat untuk mandi. Ia bahkan tidak berpikir kalau Deon akan mengikutinya masuk. Wajah kedua insan tersebut kini memerah, akibat malu. Mungkin saja Deon tidak akan terlihat dalam waktu dekat, begitu pikir Mira.
Sayang sekali, Mira tidak menyangka rasa malu Deon dikalahkan oleh rasa percaya diri. Setelah kejadian tadi, Deon masih muncul dengan muka tebal nya dihadapan Mira.
"Tadi, itu salahmu. Kau tidak bilang kalau kau mau mandi." Ucap Deon dengan tangan yang menyilang di depan d**a.
Mira menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Salahku? Selama 7 tahun ini aku tinggal sendirian. Pada siapa aku harus mengatakan akan mandi? Apa aku harus pergi ke pak RT untuk melapor dulu? Atau aku harus pergi menemui pak presiden?" Kesal Mira, darahnya sudah naik ke kepala saling kesalnya.
"Tidak ... Anu itu, kau kan tahu, kalau aku ada disini. Jadi ... Setidaknya kau bilang dulu." Deon terlihat seperti anak anjing yang sedang memelas.
"Atas dasar apa aku harus memberitahumu. Dan, mengapa kamu harus ada di rumahku? Keluarlah sekarang juga, pintunya ada di sana." Mira menunjuk pintu.
"Kau ... Kau hanya bercanda, kan?"
Mira tak mengatakan apapun, ia berlalu pergi ke kamarnya. Menutup pintu dengan keras. Memaafkan pria kurang ajar? Mira tidak akan menjadi bodoh hanya karena cinta dan wajah tampan seseorang.
Ia menaiki kasurnya, mungkin berbaring sebentar akan mengurangi rasa kesalnya. Tak terasa, matanya semakin berat. Hingga akhirnya, Mira malah tertidur pulas.
***
"Ibu, apa ayah tidak akan kembali lagi?" Tanya gadis kecil pada ibunya yang terduduk di lantai.
Sang ibu menyeka jejak air matanya. Di peluknya erat kedua putrinya itu. "Ayah akan kembali, sayang. Ayah harus menyelesaikan kerjanya dulu," balas sang ibu.
"Kapan ayah akan pulang?" Tanya gadis kecil yang satunya.
"Tidak ada yang pasti di dunia ini, Vallen sayang. Percayalah, hanya itu yang perlu kamu dan adikmu pikirkan, ya?" Sang ibu kembali meneteskan air mata.
"Hei! Hei!! Bangunlah,"
Mira akhirnya bangun dari mimpi singkatnya, atau lebih tepatnya, kenangan masa lalu. Begitu membuka mata, Mira disuguhi pemandangan yang tidak bisa di tolaknya. Hingga lupa bahwa, pria dihadapannya adalah hantu yang ia usir tadi.
"Apa kau sudah sadar?" Deon mencolek pipi Mira. Tindakannya itu sukses membuat Mira kembali ke tanah.
"Hah? Eh? Ada apa?" Tanya Mira yang belum sepenuhnya sadar.
"Apa kau mimpi buruk, tadi?"
Mira menutup matanya, "Itu buka- Kyaaaa!!! Apa yang kamu lakukan di kamarku? Dan di kasurku?!!" Teriak Mira yang langsung turun dari kasurnya.
Sedangkan Deon malah mengubah posisinya menjadi tengkurap. Dan terdengar ia sedang bergumam.
"Apa yang kamu katakan?" Tanya Mira.
"Jangan mengusirku," gumam Deon yang masih belum terdengar ke telinga Mira.
"Hah? Apa?"
Deon mendudukkan tubuhnya, "Jangan mengusirku! Aku kesepian di taman!!" Teriaknya.
"Kalau begitu, pergilah ke rumah orang lain."
"Apa kau masih marah soal kejadian tadi? Aku minta maaf, lagipula aku adalah hantu. Apapun yang kulihat, tidak ada gunanya bagiku."
Betul juga apa yang dia bilang. Batin Mira.
"Tap-"
"Baiklah, kalau kau merasa tidak adil. Kalau begit, aku juga akan memperlihatkan tubuhku!" Mira langsung membelalakkan matanya mendengar hal itu.
Baru saja Mira hendak menghentikannya, Deon sudah melepas bajunya. Terlihatlah d**a bidang dan abyss yang menggoda iman. Mira berjalan mendekati Deon.
"Apa aku bisa menyentuhmu?" Tanya Mira sambil mengulurkan tangannya kearah wajah Deon.
Bisa. Mira bisa merasakan kulit Deon. Sejurus kemudian, Mira mengepalkan tangan kanannya dengan sekuat tenaga. Mengangkatnya, lalu meninju perut Deon dengan sekuat tenaganya.
"Arghh!!! Apa yang kau lakukan?!" Rintih Deon sambil memegangi perutnya.
Mira hanya diam saja dengan tatapan membunuhnya. Tangannya masih terkepal, siap untuk meninju Deon lagi.
"Bodoh amat dengan wajah tampanmu, pokoknya hari ini kamu akan mati lagi," ancam Mira.
Deon bergidik ngeri melihat wajah Mira.
"Aargghhhhh!!!"
TBC