Minggu pertama koas adalah tentang belajar cara bertahan.
Bukan bertahan dalam arti dramatis bukan soal operasi besar atau keputusan hidup dan mati yang harus dibuat dalam hitungan detik. Belum sampai di sana. Ini adalah bertahan dalam arti yang lebih sederhana dan jauh lebih melelahkan: bangun pukul lima, tiba di rumah sakit sebelum tim senior datang, berdiri di lorong yang sama selama berjam-jam dengan kaki yang mulai berdenyut, mencatat hal-hal yang tidak selalu masuk akal di kepala tapi harus tetap dicatat, dan pulang ke kost ketika matahari sudah tidak lagi di tempat yang sama dengan saat berangkat.
Kirana melakukannya dengan kepala tegak. Selalu.
Tapi kepala yang tegak tidak berarti tidak ada yang retak di baliknya.
Hari ketiga, ia salah membaca dosis pada catatan pasien, bukan kesalahan fatal, bukan sesuatu yang sampai tereksekusi, karena ia sendiri yang menyadari dan meralat sebelum ada yang oranglain melihat. Tapi jantungnya berdegup tidak karuan selama setengah jam sesudahnya, dan tangannya sedikit gemetar saat mengisi ulang catatan dengan angka yang benar.
Tidak ada yang tahu. Kecuali ia sendiri. Dan itu, justru, yang paling berat ketika kesalahan tidak dilihat orang lain pun rasanya tetap seperti duri yang menancap.
Hari kelima, seorang pasien bertanya padanya, bertanya padanya, bukan pada dokter senior, bukan pada perawat…"Dok, ini sakitnya kenapa bisa lama sekali, ya?" Dan Kirana berdiri di sana dengan senyum yang ia harap terlihat meyakinkan, memberikan penjelasan yang ia tahu secara teori dengan sangat baik, tapi merasakan betapa jaraknya antara tahu secara teori dan mampu menjawab dengan keyakinan yang sesungguhnya.
Kalimat-kalimat di buku teks tidak pernah bilang bagaimana rasanya menatap mata seseorang yang sedang ketakutan dan mencari jawaban dari wajahmu.
Laporan pertama dikumpulkan hari Jumat.
Kirana menghabiskan dua malam untuk itu, bukan karena ia tidak paham materinya, tapi karena ia tidak mau ada satu celah pun yang bisa dipermasalahkan. Ia tahu standarnya dr. Bima. Ia sudah memutuskan untuk tidak memberikan alasan apapun untuk dikritik.
Naif, ternyata.
Dr. Bima membaca laporan itu kalau bisa disebut membaca, karena yang ia lakukan lebih mirip mengurai setiap kalimat sampai ke inti terkecilnya, selama kurang lebih sepuluh menit yang terasa seperti satu jam. Kirana berdiri di depannya, punggung lurus, tangan di sisi tubuh, ekspresi yang ia jaga dengan susah payah agar tidak menunjukkan seberapa keras ia berdetak di dalam.
"Analisismu di bagian ketiga," Bima akhirnya berkata, tidak mengangkat wajah dari laporan itu, "tidak konsisten dengan data yang kamu sajikan di bagian pertama. Kamu menarik kesimpulan yang melompat terlalu jauh."
"Saya mengacu pada jurnal …"
"Saya tahu kamu mengacu pada jurnal." Kali ini ia mengangkat wajah. Matanya tidak dingin, lebih tepat disebut presisi, seperti sesuatu yang sudah terlatih untuk tidak membuang energi pada hal-hal yang tidak perlu. "Masalahnya bukan sumber referensinya. Masalahnya adalah kamu tidak menjembatani datamu dengan kesimpulanmu. Pembaca laporan ini tidak bisa mengikuti lompatan logikamu."
Kirana menahan diri untuk tidak membantah. Ia tahu, di suatu tempat di dalam dadanya, bahwa Bima tidak sepenuhnya salah. Tapi ada bagian lain yang juga tahu bahwa ia sudah bekerja keras untuk laporan itu dua malam, dua cangkir kopi yang lebih pahit dari yang ia suka, dan mata yang perih saat subuh.
"Revisi bagian ketiga. Kumpulkan ulang Senin." Bima menyerahkan kembali laporan itu. "Bukan karena salah besar. Tapi karena yang baik bisa menjadi sangat baik kalau kamu mau repot sedikit lebih lagi."
Kirana mengambil laporan itu. Mengangguk. Berterima kasih dengan suara yang keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan.
Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah yang tetap terjaga, berjalan sampai ke ujung lorong, membelok ke koridor yang lebih sepi, dan baru di sana ia menghembuskan napas panjang yang sudah ia tahan sejak tadi.
Frustrasi. Ya. Tapi di bawah lapisan frustrasi itu ada sesuatu yang lebih jujur ia tahu bagian ketiga memang bisa lebih baik. Ia tahu, dan ia memilih untuk tidak mengerjakan ulang karena waktu sudah mepet dan ia pikir sudah cukup.
Ternyata cukup tidak cukup untuk standar ini.
Malam itu ia membuka buku catatannya. Bukan untuk menulis tentang Bima, bukan untuk menulis tentang frustrasi hanya untuk menulis pertanyaan yang tiba-tiba terasa lebih mendesak dari sebelumnya: apa artinya kerja keras, kalau yang kamu sebut kerja keras ternyata masih bisa lebih keras?
Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Menutup buku, dan mulai merevisi laporan.
Paket dari Rhea dan Felly tiba hari Sabtu pagi.
Sebuah kotak sedang dengan selotip yang ditempel terlalu banyak tanda bahwa Felly yang mengemas, karena Felly selalu menggunakan selotip seperti mau mengirim paket asuransi. Di dalamnya: keripik singkong pedas yang hanya ada di satu toko di dekat SMA mereka, cokelat batang yang selalu Kirana makan waktu belajar untuk ujian, minyak angin kecil yang sudah menjadi semacam jimat sejak SMA, dan sebuah tisu berbentuk wajah tersenyum yang bodoh dan lucu dan tidak ada gunanya sama sekali pasti dari Felly.
Dan di bawah semua itu, selembar kertas kecil dengan tulisan tangan Rhea yang rapi:
"Dari kita berdua. Biar kamu nggak ngerasa jauh."
Kirana duduk di lantai kamar kostnya, di antara tumpukan laporan yang belum selesai direvisi dan tas yang belum rapi sejak kemarin dan membaca note itu sampai dua kali. Tiga kali. Sampai huruf-hurufnya sedikit kabur karena matanya yang terlalu jujur.
Ia tidak menangis. Atau, ia menangis, tapi hanya sebentar jenis tangisan yang tidak bersuara, yang hanya terasa sebagai tekanan di belakang mata dan hangatnya air yang akhirnya jatuh tanpa meminta izin.
Ini bukan kesedihan. Ini sesuatu yang lain, rindu yang berwarna aneh, campuran antara syukur bahwa ada orang yang tahu persis apa yang ia butuhkan tanpa harus ditanya, dan kesadaran betapa jauhnya jarak antara di sini dan di sana.
Rhea yang diam tapi selalu tepat. Felly yang ribut tapi tidak pernah lupa. Dan Kirana di sini, sendirian di kota orang, belajar cara berdiri dengan kaki karena tidak ada yang bisa berdiri untuknya.
Ia memeluk kotak itu sebentar. Bodoh, mungkin. Tapi tidak ada yang melihat, jadi tidak apa-apa.
Senin, ia mengumpulkan laporan yang sudah direvisi.
Dr. Bima membacanya lebih singkat dari yang pertama, sekitar lima menit. Kirana menunggu dengan cara yang sudah mulai ia pelajari: berdiri, diam, tidak berasumsi sebelum ada yang diucapkan.
"Lebih baik," kata Bima akhirnya. Tidak ada kata lain. Tidak ada pujian tambahan. Hanya dua kata yang diucapkan dengan nada yang sama persis seperti ia mengucapkan semua kalimat lainnya.
Tapi Kirana tahu dari dua kata itu, dari cara Bima langsung menaruh laporan itu ke tumpukan yang berbeda dari minggu lalu, dari sesuatu yang sangat kecil dan hampir tidak ada di sudut matanya yang tidak berkedip bahwa dua kata itu bukan hal kecil dari mulut orang ini.
Ia berjalan keluar dengan sesuatu yang bukan kebanggaan, lebih dekat ke kepuasan yang tenang. Berbeda dari perasaan saat mendapat nilai bagus di ujian. Ini lebih nyata. Lebih berat. Lebih harus diperjuangkan.
Di lorong, ia berpapasan dengan Nara yang langsung menaikkan alis. "Gimana?"
"Katanya lebih baik."
Nara membelalakkan mata. "'Lebih baik'? Ran, itu pujian setara nobel dari dia." Ia menepuk bahu Kirana. "Kamu kuat ya."
Kirana tertawa kecil. Mungkin. Atau mungkin ia hanya belum tahu seberapa jauh jalan yang masih harus ditempuh.
Tapi setidaknya, untuk hari ini, dua kata itu cukup.
Rabu sore, hal yang tidak ia rencanakan terjadi.
Kirana sedang menyalin catatan di ujung lorong lantai dua, sudut yang selalu lebih sepi dari lorong utama, yang karena itulah ia suka ketika mendengar suara dari balik pintu kaca yang setengah terbuka. Ruang konsultasi keluarga.
Bukan suara yang keras. Justru kebalikannya, suara yang sangat dijaga, pelan dan hati-hati, seperti orang yang tahu bahwa kata-kata yang ia pilih akan diingat sangat lama oleh orang yang mendengarnya.
Kirana tidak bermaksud mendengarkan. Tapi kakinya tidak melanjutkan langkah.
Dari celah pintu itu, ia bisa melihat sebagian, hanya sebagian dari sosok dengan jas dokter putih yang duduk sedikit membungkuk di hadapan sepasang orang tua yang wajahnya menunjukkan kelelahan jenis yang tidak bisa disembuhkan dengan tidur. Dan ia mendengar suara yang sangat ia kenali dalam seminggu terakhir, tapi terdengar seperti suara orang yang berbeda:
"Saya tahu ini bukan kabar yang Bapak dan Ibu harapkan. Dan saya tidak akan berpura-pura ada cara yang mudah untuk mendengarnya. Tapi saya mau Bapak dan Ibu tahu…kami tidak menyerah. Dan selama kami di sini, kalian tidak sendirian."
Kirana berhenti bernapas selama satu detik.
Bima. Itu suara Bima. Bima yang di ruang supervisi berbicara seperti orang yang tidak punya waktu untuk kalimat yang tidak perlu. Bima yang dua menit lalu secara metaforis hanya punya dua kata untuk kerja kerasnya seminggu. Bima itu, kini duduk di hadapan sepasang orang tua yang anaknya mungkin sedang berjuang di balik dinding rumah sakit ini, dan berbicara dengan suara yang terdengar seperti seperti seseorang yang benar-benar ada di sana.
Bukan dokter yang sedang menjalankan prosedur. Seseorang yang benar-benar ada.
Kirana melanjutkan langkahnya. Pelan. Tidak ingin ketahuan berdiri di sana terlalu lama.
Tapi gambar itu tidak ikut pergi bersamanya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak seminggu, ia membuka buku catatannya bukan untuk melampiaskan frustrasi, bukan untuk mencatat hal-hal yang harus direvisi. Ia membuka halaman baru. Menuliskan tanggal. Dan di bawahnya, satu kalimat saja:
Ada hal-hal yang tidak diajarkan di buku teks. Dan mungkin, untuk hal-hal itu, satu-satunya cara belajar adalah dengan melihat langsung.
Ia menutup buku itu.
Di luar jendela, malam sudah penuh. Dan di suatu tempat di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergeser sangat kecil, hampir tidak terasa, seperti satu molekul yang berpindah tempat dalam sebuah senyawa. Tidak mengubah rumusnya. Belum.
Tapi cukup untuk membuat sesuatu mulai berbeda.