Hari-hari berlalu dengan perasaan yang makin tak menentu bagi Naya maupun Dika. Setelah kejadian di kantin itu, hubungan mereka terasa sedikit berubah. Ada jarak tipis yang tercipta, bukan karena keinginan, tapi karena rasa sakit dan keraguan yang sama-sama mereka pendam.
Dika masih berpura-pura sibuk dengan Rina, sesekali menyebut nama gadis itu di depan Naya, berharap ada sedikit saja tanda kecemburuan di wajah sahabatnya itu. Namun setiap kali dia bicara, hatinya justru makin terasa perih. Melihat Naya yang selalu tersenyum dan memberi dukungan, membuat Dika makin yakin: Naya sama sekali tak punya rasa lebih dari sekadar teman.
Di sisi lain, Naya perlahan mulai menjauh sedikit. Dia tak sanggup lagi mendengar Dika bercerita tentang wanita lain. Setiap kata yang keluar dari mulut Dika terasa seperti pisau kecil yang menggores hatinya pelan-pelan. Dia mulai lebih sering menyibukkan diri, lebih sering menolak ajakan Dika, dan berusaha menata hatinya agar tak terlalu hancur.
Sore itu, hujan turun deras sekali. Naya terjebak di kampus karena lupa membawa payung. Dia berdiri di bawah atap serambi, menatap butiran air yang jatuh dengan berat, hatinya ikut terasa kelabu. Dia berniat menunggu hujan reda, tapi langit makin gelap dan suara guntur mulai terdengar.
Tiba-tiba, ada sosok berjalan menerobos hujan, mendekat ke arahnya dengan langkah cepat. Sosok yang sangat dia kenal, sosok yang selalu jadi tujuan matanya mencari ke mana pun dia berada. Itu Dika.
Dika berdiri di sana, sedikit basah kuyup, napasnya terengah seolah dia berlari jauh hanya untuk sampai ke sini. Wajahnya terlihat cemas, lega, dan bercampur rasa marah yang samar.
"Kamu kenapa nggak bilang kalau masih di sini?!" seru Dika pelan tapi tegas, langsung menutupi bahu Naya dengan jaket tebal yang dia bawa. "Aku nyariin kamu ke mana-mana. Aku liat motor kamu masih ada, jadi aku yakin kamu belum pulang."
Naya terpaku diam, menatap wajah Dika yang basah karena air hujan dan keringat. Jantungnya berdebar kencang tak karuan. Perhatian ini... kecemasan ini... kenapa rasanya lebih dari sekadar sahabat? Kenapa Dika selalu bisa membuatnya berharap lagi, padahal dia tahu dia harus berhenti berharap?
"Maaf... aku cuma mau nunggu hujan reda aja," jawab Naya lirih, menundukkan wajahnya agar Dika tak melihat air mata yang mulai menggenang. "Kamu kan lagi sibuk sama Rina. Nanti dia nyariin kamu kalau kamu lama di sini."
Kalimat itu keluar begitu saja, penuh rasa sakit dan sedikit nada cemburu yang tak bisa dia sembunyikan lagi.
Dika terdiam. Dia menatap Naya lekat-lekat, matanya menajam dan berubah jadi lebih dalam dari sebelumnya. Dia melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga napas mereka hampir saling bersentuhan.
"Rina? Kamu selalu aja bawa nama dia setiap kita ngobrol, Nay," ucap Dika pelan, suaranya bergetar dan penuh emosi yang tertahan. "Setiap kali aku sebut nama dia, kamu selalu ngalihin pembicaraan. Setiap kali aku bilang aku mau ketemu dia, kamu selalu punya alasan buat pergi. Kamu sebenernya kenapa sih, Nay?"
Naya mengangkat wajahnya, matanya sudah basah. Dia tak tahan lagi. Dia sudah lelah berpura-pura. Dia sudah lelah menyembunyikan segalanya. Rasa sakit, cemburu, dan cinta yang memuncak itu hampir meledak keluar.
"Kenapa apa? Aku nggak kenapa-napa!" jawab Naya agak tinggi, suaranya pecah. "Aku cuma nggak mau ganggu kamu! Aku cuma nggak mau ada di sini dan denger kamu ngomongin cewek lain terus-menerus! Aku juga punya hati, Dik! Aku juga punya perasaan! Apa kamu nggak pernah sadar itu?!"
Dika tertegun. Matanya membelalak kaget melihat air mata yang mulai jatuh membasahi pipi Naya. Hatinya berdebar kencang karena ada secercah harapan yang tiba-tiba muncul.
"Perasaan apa, Nay?" tanya Dika pelan, tangannya perlahan terangkat ingin menyentuh wajah Naya, tapi tertahan di udara. "Kamu mau bilang apa? Bilang aja, Nay. Bilang semuanya. Aku dengerin."
Naya menatap mata Dika. Di saat itu, segalanya terasa jelas. Dia ingin sekali berteriak: "Aku cinta kamu! Aku udah cinta kamu dari dulu! Aku cemburu! Aku sakit! Aku nggak mau kamu sama orang lain!"
Kata-kata itu sudah ada di ujung lidahnya, hampir meluncur keluar... tapi ketakutan itu datang lagi. Rasa takut kehilangan, rasa takut ditolak, rasa takut semuanya berubah jadi hancur. Dia teringat janjinya sendiri: lebih baik jadi sahabat selamanya daripada tidak sama sekali.
Air matanya mengalir makin deras. Dia menarik napas panjang, lalu memaksakan diri untuk menarik sudut bibirnya tersenyum senyum paling menyedihkan yang pernah ada. Dia membuang muka, menjauhkan diri sedikit dari Dika.
"Perasaan... perasaan sebagai sahabat, Dik," jawab Naya terbata-bata, membohongi dirinya sendiri dan juga Dika. "Aku cuma nggak mau sahabatku lupa sama aku cuma gara-gara punya pacar. Aku takut ditinggal. Cuma itu aja."
Dada Dika terasa sesak hebat. Harapan yang tadi tumbuh sebentar, kini runtuh kembali. Dia menatap Naya dengan rasa kecewa yang mendalam, rasa sakit yang luar biasa. Dia pikir... dia pikir hari ini akhirnya Naya bakal jujur. Dia pikir hari ini tembok itu bakal runtuh. Ternyata belum. Ternyata masih.
Dika menurunkan tangannya perlahan, tersenyum pahit. Dia mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu, padahal hatinya sedang menangis sejadi-jadinya.
"Ya... cuma sahabat ya..." gumam Dika lirih, suaranya hilang ditelan suara hujan. "Maafin aku ya, Nay. Maafin aku kalau bikin kamu ngerasa bakal ditinggal. Aku janji... walaupun aku sama siapa pun, aku nggak bakal pernah ninggalin kamu. Kamu bakal tetep sahabatku selamanya."
Kalimat "sahabat selamanya" itu terdengar seperti janji setia, tapi bagi mereka berdua, itu adalah hukuman terberat. Hukuman untuk terus saling mencintai dalam diam, terus saling sakit hati, dan terus terjebak dalam batas yang mereka buat sendiri.
Dika membuka payungnya, lalu melindungi Naya agar bisa berjalan ke tempat aman. Di sepanjang jalan, mereka diam saja. Hanya suara hujan yang terdengar, menyertai dua hati yang hampir saja bersatu, tapi kembali terpisah karena ketakutan dan kebisuan yang sama.
Mereka sama-sama tahu, di bawah hujan sore itu, kebenaran hampir terungkap. Tapi lagi-lagi, mereka memilih diam. Memilih menahan, memilih sakit, dan memilih bertahan dalam status yang paling menyakitkan: Sahabat.