Beberapa minggu berlalu sejak kejadian sore hujan itu. Hubungan Naya dan Dika terasa semakin jauh dan dingin, meski mereka berusaha bersikap biasa saja. Ada jarak yang tercipta, jarak yang menyakitkan, dan keduanya sama-sama tersiksa di dalamnya.
Puncaknya datang saat ada kabar yang membuat dunia Dika seolah runtuh. Seorang teman dekat memberitahunya bahwa ada mahasiswa pindahan dari universitas luar kota, seorang pemuda yang tampan, sopan, dan pintar, yang belakangan ini terlihat sangat sering mendekati Naya. Bahkan kabarnya, pemuda itu berniat mengajak Naya berpacaran dalam waktu dekat.
Hati Dika terasa diremas kuat-kuat. Rasa takut, cemburu, dan rasa sakit bercampur menjadi satu. Dia melihat sendiri beberapa kali pemuda itu menjemput Naya, berjalan bersamanya, dan membuat Naya tertawa renyah — tawa yang sudah lama jarang dia dengar ditujukan padanya.
Malam itu, Dika tak bisa tidur. Dia berjalan mondar-mandir di kamarnya, pikirannya kacau balau. Dia membayangkan jika Naya benar-benar menerima pemuda itu. Dia membayangkan jika Naya nanti akan berpakaian rapi, tersenyum indah, dan memanggil orang lain dengan panggilan sayang. Dia membayangkan jika Naya nanti bukan lagi miliknya... meski memang dari awal Naya tidak pernah menjadi miliknya.
Nggak bisa... aku nggak bisa diam aja. batin Dika berteriak keras. Kalau aku diam, aku bakal kehilangan dia selamanya. Aku udah cukup sakit bertahun-tahun menyimpannya. Aku nggak mau nyesel seumur hidup cuma karena aku terlalu pengecut buat ngomong jujur.
Dika mengambil jaketnya, berlari keluar rumah, dan mengendarai motornya secepat mungkin menuju rumah Naya. Dia tak peduli jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia tak peduli apa yang akan terjadi nanti. Yang dia tahu hanya satu: dia harus bicara. Dia harus mengaku. Sekarang.
Sesampainya di sana, Naya baru saja pulang dari luar, terkejut melihat sosok Dika yang berdiri di depan pagar rumahnya. Wajah Dika terlihat kacau, napasnya terengah, matanya merah dan basah, seolah dia habis berlari jauh atau habis menangis.
"Dik? Kamu kenapa? Ada apa? Kenapa datang malem-malem gini?" tanya Naya cemas, langkahnya mendekat.
Dika menatap Naya lekat-lekat, menatap wajah yang selama ini menjadi dunianya, wajah yang hampir saja akan hilang dari genggamannya. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mau meledak.
"Siapa dia, Nay?" tanya Dika pelan namun berat, suaranya bergetar. "Cowok yang akhir-akhir ini selalu sama kamu... siapa dia?"
Naya terdiam sedikit, bingung dengan pertanyaan dan raut wajah Dika yang begitu emosional. "Oh... kamu maksud Rama? Teman sekelas. Dia baik kok, sering bantuin aku. Kenapa emangnya?"
Dika tertawa pahit, matanya menatap tajam namun penuh kepedihan. "Teman? Cuma teman? Terus kenapa semua orang ngomong dia suka sama kamu? Kenapa semua orang bilang dia mau nembak kamu? Kamu mau terima dia, Nay? Kamu mau jadi pacar dia?"
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Dika terdengar seperti teriakan ketakutan. Naya tertegun. Dia belum pernah melihat Dika secemas, semarah, dan sepanik ini sebelumnya. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba muncul di hatinya, tapi rasa bingungnya jauh lebih besar.
"Kalau iya... terus kenapa, Dik? Kita kan cuma sahabat. Kalau aku punya pacar, kamu harusnya seneng kan? Kamu kan juga suka sama Rina, kamu juga bakal punya pacar kan? Kita kan bakal sama-sama bahagia masing-masing," jawab Naya, tapi suaranya pecah di akhir kalimat karena rasa sakit yang kembali datang.
Kalimat itu seolah menjadi pemicu bagi Dika. Dia tak tahan lagi. Dia melangkah maju, mendekat hingga jarak mereka sangat dekat, lalu berteriak pelan namun penuh perasaan yang meluap-luap.
"Rina?! Kamu masih aja ngomongin Rina?! Aku nggak suka sama Rina, Nay! Aku nggak pernah cinta sama Rina! Itu cuma bohong! Itu cuma akting aku doang!"
Naya membelalakkan matanya kaget, tubuhnya kaku diam di tempat. "Apa... apa maksud kamu?"
Dika mengusap wajahnya kasar, air mata yang selama ini ditahannya akhirnya jatuh juga. Dia menatap Naya dengan tatapan yang paling tulus dan paling dalam.
"Aku ngomongin Rina, aku pura-pura suka sama dia, aku cerita soal dia... semua itu cuma karena aku pengen liat reaksi kamu! Aku pengen tau kamu cemburu nggak! Aku pengen tau ada rasa apa aja di hati kamu buat aku! Tapi kamu cuma senyum, Nay... kamu cuma dukung aku, kamu cuma bilang semangat. Itu bikin aku sakit banget! Itu bikin aku mikir kamu emang beneran cuma anggep aku teman!"
Dika berhenti sejenak, menelan ludahnya yang terasa kering, lalu melanjutkan dengan suara lirih namun tegas yang menggetarkan hati Naya.
"Nay... dengerin aku baik-baik ya. Aku udah capek diam. Aku udah capek nyimpen ini sendirian. Aku udah capek sakit sendiri. Selama bertahun-tahun ini... satu-satunya wanita yang ada di hati aku, satu-satunya wanita yang aku pikirin tiap detik, satu-satunya wanita yang aku takut kehilangan... itu cuma kamu. Cuma kamu, Naya."
Air mata Naya mengalir deras tanpa dia sadari. Dia tak percaya apa yang dia dengar ini. Dia mengira dia sedang bermimpi.
"Aku cinta kamu, Nay. Bukan sebagai sahabat, bukan sebagai kakak, tapi sebagai laki-laki. Aku cinta kamu dari kita masih SMP, dari sebelum kita masuk kuliah, dari dulu banget. Aku diam karena aku takut. Aku takut kalau aku ngomong, kamu bakal ilang. Aku takut kalau aku ngaku, kamu bakal jijik atau ngejauhin aku. Aku pikir aku bisa tahan jadi sahabat aja... tapi ternyata aku nggak kuat. Apalagi sekarang ada orang lain yang mau ambil kamu dari aku. Aku nggak terima, Nay. Aku nggak rela kamu jadi milik siapa pun selain aku."
Dika menggenggam kedua bahu Naya dengan lembut namun erat, menatap mata gadis itu lekat-lekat.
"Maafin aku pengecut ya. Maafin aku bikin kamu sakit selama ini. Maafin aku bikin kamu bingung. Tapi sekarang aku udah nggak peduli lagi sama rasa takut itu. Yang aku tau sekarang... aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak mau lagi cuma jadi sahabat kamu. Aku mau jadi orang yang bikin kamu ketawa, bikin kamu bahagia, dan orang yang bisa kamu peluk kapan aja sebagai kekasih. Nay... boleh nggak sekarang giliran kamu? Kamu sebenernya ngerasa apa ke aku?"
Hening sejenak. Hanya suara isak tangis mereka berdua yang terdengar di keheningan malam itu. Dunia rasanya berhenti berputar, dan hanya ada mereka berdua saja.
Naya menangis terisak, menatap wajah Dika yang penuh harap dan cemas itu. Semua rasa sakit, semua pertanyaan, semua keraguan selama bertahun-tahun... semuanya terjawab sudah. Ternyata... ternyata Dika juga merasakan hal yang sama persis. Ternyata mereka sama-sama mencintai, sama-sama diam, dan sama-sama menanggung rasa sakit yang sama.
"Kamu bodoh banget, Dik..." isak Naya pelan, tapi ada senyum bahagia yang merekah di antara air matanya. "Kamu beneran bodoh banget tau nggak?"
"Aku juga cinta kamu, Dik! Aku udah cinta kamu dari dulu! Aku juga diam, aku juga pura-pura seneng, aku juga sakit banget denger kamu ngomongin cewek lain! Aku pikir aku aja yang ngerasa gini! Aku pikir aku aja yang gila karena cinta sama sahabat sendiri! Aku takut banget ngomong karena aku nggak mau kita berubah jadi asing! Ternyata kamu juga sama bodohnya kayak aku ya?!"
Naya memukul d**a Dika pelan karena haru dan marah bercampur jadi satu, lalu tiba-tiba dia memeluk Dika sangat erat sekali, membenamkan wajahnya di d**a pemuda itu, menangis sepuasnya melepaskan semua beban bertahun-tahun lamanya.
"Aku pikir aku bakal nyesel seumur hidup kalau kita tetep diam, Nay..." bisik Dika bergetar, membalas pelukan itu dengan erat dan penuh rasa syukur yang tak terhingga. Dia mencium puncak kepala Naya berkali-kali, seolah memastikan bahwa ini nyata, ini benar-benar terjadi. "Ternyata aku nggak salah berani ngomong malem ini. Ternyata... ternyata aku emang orang paling beruntung di dunia ini."
Di teras rumah itu, di bawah langit malam yang tenang, dua hati yang selama bertahun-tahun terjebak dalam kata "sahabat", akhirnya bersatu sepenuhnya. Semua rasa sakit, semua jarak, dan semua kebisuan itu lenyap seketika, berganti kebahagiaan yang begitu besar, begitu manis, dan begitu utuh.
Mereka sadar satu hal paling indah: Cinta yang paling luar biasa, adalah saat kita akhirnya tahu... bahwa orang yang kita cintai diam-diam, ternyata juga diam-diam mencintai kita.