Pagi yang indah. Tak se-syahdu hari sebelumnya, cuaca pagi hari ini sangat cerah. Matahari bersinar terang menebar rasa hangat yang menyapa alam. Tetes embun nampak berkilauan di ujung rerumputan dan daun tebu yang bergoyang tertiup angin, seakan enggan melepas pelukannya mengikuti siklus alam.
Rangga sudah bersiap untuk berangkat kerja, badanya sudah kembali bugar, pun dengan hati dan pikiranya. Diandra dengan setia menemaninya menunggu Aryo yang akan menjemputnya pagi itu.
Sesuai rencana, hari ini Rangga akan mengunjungi perkebunan tebu bersama Aryo. Rangga ingin melihat secara langsung kegiatan yang ada di lapangan. Dengan begitu Ia bisa berinteraksi dengan para pekerja disana.
Aryo datang tepat waktu. Kali ini Ia tak sendiri. Dia mengajak seseorang dengan mengendarai dua unit motor trail salah satu merk ternama keluaran negeri Sakura.
Rangga nampak tersenyum senang, dengan segera Ia bangkit dan menemui Aryo yang tengah memarkir sepeda motor di halaman. Dia terlihat begitu tak sabar untuk segera memacu adrenalin menjelajahi trek perbukitan ladang tebu di sekitarnya.
Sambil berenang minum air. Begitu kira- kira peribahasa yang tepat menggambarkan situasi saat ini.
Pekerjaan beres, hoby pun bisa tersalurkan.
Yups ... Rangga adalah pecinta motorcross, balapan dan semacamnya yang berbau- bau motor pasti dia suka.
"Ok, kita berangkat sekarang?" ajaknya tak sabar,
Aryo menurut saja.
"Hati- hati!" pesan Diandra saat melepas suaminya pergi.
Setelah bayangan Rangga dan Aryo menghilang di ujung jalan, Diandra berbalik hendak masuk kerumah. Ia juga perlu bersiap- siap sebelum pergi. Hari ini Ia berencana untuk berkunjung ke sekolah baru Rania dan Rayan.
Tak bersiap terlalu lama, Diandra tampak sudah rapi keluar dari kamarnya. Ia mengenakan dress bunga- bunga yang menjuntai sebatas lutut dengan pilihan alas kaki flat shoes warna nude senada dengan dressnya. Tanganya menenteng hand bag putih, Ia merias wajahnya dengan riasan natural membuat penampilanya nampak fresh dan muda.
"Anak -anak, Kalian sudah siap?" tanya Diandra kemudian,
"Bunda tunggu di depan, jangan terlalu lama!"
Diandra mengambil kunci mobil dan berjalan menuju garasi di samping rumah. Tak berapa lama Rania dan Rayan berlari kecil mengikutinya.
"Ready?" tanya Diandra dibalik kemudi,
"Ready, Bunda!" Jawab Rania dan Rayan riang.
Mobil bergerak berlahan meninggalkan halaman menuju jalan utama di depan rumah mereka. Jalan itu menurun melingkari punggung gunung mengarah ke lembah yang merupakan pusat kota kecamatan.
Rumah yang ditempati Diandra saat ini berada di lereng gunung Lawu. Kebayang bukan betapa indahnya spot pemandangan di sekitar rumah itu?
Suasananya hening dan nyaman, tak ada perumahan penduduk di sekitarnya. Pemukiman penduduk terdekat berada kurang lebih lima kilometer dibawah tempat tinggal mereka. Hanya beberapa Vila yang nampak berdiri kokoh di sisi lain di atas rumah Belanda yang mereka tempati sekarang, itu pun jaraknya cukup berjauhan.
Sepanjang perjalanan ibu dan anak ini tampak asyik mengobrol sambil menikmati pemandangan yang memanjakan mata di sepanjang jalan. Sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah bangunan Sekolah Dasar yang tak jauh dari pasar tradisional. Suasana di pasar itu terlihat masih ramai meski hari sudah beranjak siang.
Diandra segera turun dari mobil setelah parkir di samping gerbang sekolah. Diikuti Rania dan Rayan, mereka bertiga menuju kantor Kepala Sekolah.
Diandra memperkenalkan diri, mereka disambut dengan hangat kemudian diajak berkeliling mengenal lingkungan sekolah baru mereka.
Setelah puas menjelajah sekolah, Diandra dan kedua anaknya pamit mohon diri, rencananya Rania dan Rayan akan mulai bersekolah disana tepat saat tahun Ajaran Baru dimulai.
Tak langsung pulang kerumah, mereka memilih untuk makan siang di luar.
"Kalian sudah lapar?" Tanya Diandra,
Rania dan Rayan mengangguk mengiyakan.
"Kita makan dulu, baru kita pulang!" Ajak Diandra lagi.
Pilihan mereka jatuh pada sebuah warung cepat saji yang menjual beberapa menu makanan berbahan dasar chiken.
*****
Di perkebunan tebu milik PT. Sumber Gendis, para pekerja nampak tengah sibuk mempersiapkan alat- alat yang di butuhkan untuk memanen tebu. Beberapa yang lain memotong batang tebu yang telah siap di panen dan mengumpulkanya di titik tertentu agar mudah diangkut ke tepi.
Truk- truk nampak lalu lalang di jalanan sekitar perkebunan, mereka sudah bersiap mengangkut batang- batang tebu yang telah dipanen dan membawanya ke pabrik untuk di olah menjadi bahan utama gula tebu.
Rangga tengah berbincang dengan mandor perkebunan yang bertanggung jawab atas jalanya proses panen itu. Rangga manggut- manggut mendengar Pak Mandor yang tengah menjelaskan beberapa hal kepadanya. Sesekali Ia berbicara dengan Aryo dan menyuruhnya membuat catatan kecil di aplikasi note panselnya.
"Terima kasih Pak Wongso, urusan disini sepenuhnya saya percayakan pada Anda." Rangga menjabat tangan Mandor Wongso,
"Siap, Tuan. Anda tidak perlu khawatir, stok bahan baku kita masih aman hingga akhir tahun nanti." Terang Wongso bersemangat.
"Kalau begitu kami mohon pamit. Sekali lagi terimakasih." Rangga berpamitan dan meninggalkan area perkebunan diikuti Aryo yang berjalan di belakanya.
Mereka berdua berjalan menuju seberang jalan dimana motor mereka terparkir. Tiba- tiba sebuah truk pengangkut tebu melintas kencang di jalan,
"Awas!!" Rangga memekik, reflek tanganya menarik lengan seseorang yang hampir tertabrak truk yang melintas.
Seorang gadis muda sekitar usia 23 tahun hendak menyeberang juga, sepertinya gadis itu tidak fokus sehingga tak menyadari ada truk yang tengah melintas dengan kencang.
"Aaahhhh --" Gadis itu terkaget.
"Kamu tidak apa- apa?" tanya Rangga kemudian, tanganya masih memegangi kedua lengan gadis yang masih terlihat shock itu.
Mulai tersadar, gadis itu mendongak memandang Rangga. Matanya bersitatap dengan mata Rangga yang tengah terfokus padanya, sesaat gadis itu terpaku dibuatnya.
"Mm --maaf. Te --terima --kasih, Tuan." Jawabnya terbata. Mungkin Ia masih kaget dengan apa yang baru saja dia alami, hampir tertabrak truk tebu.
"Syukurlah!" Rangga melepas genggamanya di lengan gadis itu,
"Lain kali berhati - hatilah!" Pesan Rangga dan berlalu begitu saja meninggalkan gadis itu yang masih mematung di tepi jalan.
Rangga dan Aryo mengendari motor trailnya melintas di depan sang gadis.
Arini, gadis cantik yang hampir tertabrak truk tadi terlihat masih berdiri di tepi jalan. Tubuhnya masih terasa gemetaran karena kaget. Ia berusaha mengatur nafasnya, jantungnya masih berdetak kencang serasa hampir cobot beberapa saat tadi.
Fyuhhh!!
"Untunglah! hampir saja -- " batin Arini seraya memegangi dadanya yang belum berdetak dengan stabil.
Setelah mulai tenang, Ia kembali melangkah untuk menyeberang jalan. Kali ini Dia lebih berhati- hati, fokus memperhatikan kanan dan kiri sebelum menyeberang.
"Lain kali berhati- hatilah!"
Deg! Jantungnya berdesir mengingat tatapan mata dari orang yang baru saja menolongnya tadi.
"Siapa Tuan yang menolongku tadi ya?" batinya penasaran,
Ah, sudahlah! Mungkin salah seorang pekerja di perkebunan.
Gumamnya mengusir rasa penasaran yang mengusik pikiranya.
Tapi -- tatapan itu hangat sekali, Ia tersenyum mengingat kembali peristiwa yang baru saja dialaminya.
Dreett .... Dreett ... lamunanya buyar saat ponselnya bergetar. Ada panggilan dari kang Adnan,
"Ariiiniiii! Dimana kamuuuu? Cepat ke sanggar!!" tanpa basa- basi suara kang Adnan langsung mengulti dirinya,
Arini bergidik ngeri,
"Siap Kangggg ... Meluncurrr!!" Jawab Arini cepat dan buru- buru menstater motornya meluncur ke sanggar.