Diandra sedang sibuk di dapur bersama Mbok Darmi. Sesekali Ia mengecek kedua anaknya yang tengah asyik bermain di ruang tengah. Kali ini Ia membuat hidangan spesial untuk Rangga, Dia ingin mereka makan siang bersama. Setelah semua siap disajikan, Diandra bersegera menghubungi suaminya itu.
Ia menelephon Rangga dengan perasaan sedikit ragu, mungkinkah Rangga sedang sibuk saat ini? Bisakah dia meluangkan waktu untuk sekedar makan siang bersama?
Tuuttt ... ttuttt ...
"Halo, Sayang. Ada Apa?" Terdengar Rangga menyapa dari ujung sana.
"Halo, Mas. Bagaimana hari pertamamu di kantor?" Tanyanya penasaran,
"Baik, semua berjalan lancar." jawab Rangga terdengar meyakinkan, membuat Diandra merasa lega.
"Syukurlah! Mas, Apa Kau sedang sibuk? Jika tidak, Aku mau siang ini kita makan siang bersama dirumah." Pintanya penuh harap,
"Tentu, Aku akan pulang sebelum jam makan siang!" janji Rangga menciptakan lengkungan senyum di bibir Diandra.
"Terimakasih, Mas. Sampai jumpa nanti." pungkasnya mengakhiri telepon.
"Ok." jawab Rangga singkat.
BIP ...
Diandra mematikan sambungan teleponnya.
Setelah meletakkan kembali ponsel ditanganya, Ia membaui baju yang Ia pakai. Sepertinya sudah tidak wangi? Ada bau masakan bercampur dengan bau keringatnya. Badanya juga terasa lengket penuh keringat. Tidak mungkin Ia akan menyambut Rangga dengan penampilan seperti itu bukan? Bergegas Ia mengambil handuk dan bersiap untuk mandi.
"Ehhmm, baru tengah hari sudah mandi kedua kalinya." Batinya sambil tersenyum.
"Tak apa! Demi menyenangkanmu Mas, apapun akan kulakukan." gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri.
Ia melangkah ke kamar mandi sambil terbayang wajah Rangga yang sudah membuat hatinya sangat rindu meski belum sehari ditinggal.
"Ah, kenapa rasanya jadi begini?Semenjak tiba dirumah ini rasanya jadi beda. Hatiku sering berdebar- debar seperti waktu pengantin baru dulu. Apakah ini yang disebut jatuh cinta pada orang yang sama untuk kedua kalinya?"
Entahlah? Yang pasti saat ini Diandra merasa hatinya sangat bahagia.
*****
Rangga mengendari mobilnya melaju dengan kencang, rasanaya tak sabar ingin sampai rumah dan menemui Diandra. Peristiwa pagi tadi di kantor, membuat suasana hatinya buruk. Pikiranya sedikit kacau, Ia butuh kehadiran Diandra untuk menenangkan kekacauan yang tengah ia rasakan.
Setelah sampai di rumah Ia mendapati kedua buah hatinya sedang bermain di ruang tengah. Ia menghampiri kedua anaknya dan memberikan pelukan hangat. Setelah menanyakan keberadaan Diandra, Rangga bergegas menuju kamar.
Rangga membuka pintu kamar dan mendapati Diandra tengah merias diri di depan cermin. Ia menutup pintu kamar dan berlahan berjalan mendekat.
Sedangkan Diandra sedikit kaget melihat pantulan bayangan Rangga di cermin yang berdiri di depan pintu kamar tengah memperhatikanya.
"Mas Rangga?" Diandra menoleh dengan ekspresi kaget bercampur senang.
Rupanya ia tak mendengar suara mobil Rangga, hingga tak tau jika suaminya itu sudah pulang.
Rangga sudah berada di hadapan Diandra yang masih duduk di meja rias. Ia mengambil posisi duduk setengah berdiri untuk mengimbangi posisi Diandra.
"Kau cantik sekali." Puji Rangga membuat Diandra tersipu didepanya.
Rangga mendekap tubuh Diandra, membenamkan kepalanya di d**a istrinya itu. Degup jantung Diandra dapat Ia dengar dengan jelas, seperti irama musik yang mulai menenangkan perasaanya. Rangga memejamkan mata, menikmati suasana yang terasa damai itu.
Diandra mengusap lembut rambut Rangga, membiarkan Rangga terlelap dalam pelukanya.
semenit,
dua menit,
lima menit,
Beberapa saat Rangga benar- benar terlelap. Saat perasaanya mulai kembali tenang, Ia membalik posisi duduknya. Kini ia sudah duduk berselonjor membelakangi istrinya. Punggungnya bersandar di kaki Diandra, sedang Ia rebahkan kepala di pangkuanya.
Diandra memijit- mijit lembut kepala Rangga, dari raut wajahnya ia merasa khawatir melihat Rangga sangat kelelahan. Namun ia menahan diri untuk tidak bertanya. Biarlah Rangga sendiri yang bercerita jika ia benar- benar ingin berbagi denganya.
Sesaat suasana hening kembali,
Setelah merasa lebih baik, Rangga meraih tangan Diandra yang masih memijat lembut kepalanya. Diciumnya telapak tangan istrinya itu, dan mengucap terimakasih.
"Apa pekerjaanmu sangat berat? Mengapa kau tampak lelah sekali?" Diandra tak sabar lagi menahan diri untuk terus diam, dia teramat khawatir melihat kondisi Rangga yang pucat dan nampak lelah.
Rangga masih diam, matanya tampak terpejam, Melihat suaminya tak menjawab, Diandra semakin khawatir.
"Apa kau sakit Mas?"
"Ayo kita ke dokter!" ajaknya dan bersiap untuk beranjak dari duduknya namun dicegah oleh Rangga.
Rangga menahan Diandra untuk tetap diposisinya, ia masih ingin lebih lama bermanja. Setidaknya dengan begitu ia merasa lebih nyaman.
Diandra menurut. Membiarkan Rangga kembali terlelap dipangkuannya.
*****
Malam yang hening, hanya terdengar suara jangkrik yang saling bersahutan. Disebuah pendopo yang diterangi cahaya temaram lampu bohlam, lima orang laki- laki tengah duduk mengelilingi sebuah meja ukir bundar tepat di tengah- tengah pendopo tersebut.
Dari raut wajah yang terlihat, nampaknya mereka tengah membicarakan sesuatu yang serius.
Braaakkk!
Tiba- tiba salah satu dari mereka menggebrak meja membuat yang lainya terkesiap.
"Kurangajar!" Umpatnya kemudian, dadanya terlihat naik turun menahan amarah yang meledak- ledak.
"Berani sekali orang baru itu, belum tau dia siapa Darto yang sebenarnya?!" matanya berkilat menyiratkan amarah.
"Tuan, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya seseorang yang berada di samping laki- laki berkumis yang tengah berapi- api itu.
"Kita harus memberi pelajaran bocah ingusan sok jagoan itu tuan!" sergah yang lain tak kalah emosional dari Si Kumis.
"Kita habisi saja dia!"
"Patahkan saja tulang- tulangnya!" makin riuh yang lain tak mau kalah urun bicara.
"DIIAAAMMMMMM!!!!" Sergah Darto, lelaki berkumis yang tengah memimpin pertemuan malam itu. Tanganya menggebrak meja bundar itu untuk kedua kalinya.
Keempat orang itu menunduk, nyali mereka menciut menyaksikan Darto yang justru semakin tersulut amarahnya.
"Jangan g****k kalian!!!" semprotnya lagi,
"Menghadapi bocah kota itu harus pakai otak!!" seraya tanganya menjontor kepala anak buahnya yang bertanya tentang langkah mereka selanjutnya tadi.
"Kalau hanya mengandalkan otot, kalian akan berakhir dipenjara seperti yang lain!"
"Mau kalian membusuk disana, hahh?!" Darto kembali memperingatkan. Matanya melotot memandang bergantian pada keempat anak buahnya itu.
Tiga orang anak buahnya tampak saling melirik sambil menunduk, seolah saling menyalahkan satu sama lain.
Darto kembali menghembuskan nafas berat, tanganya terlipat di d**a, sedang matanya menerawang jauh ke depan nampak tengah berpikir keras.
Suasana kembali hening,
tiba- tiba salah seorang dari mereka membuka suara.
Hasto, lelaki bertubuh jangkung dengan wajah tirusnya menyeringai penuh arti. Dari kilatan matanya dan senyumnya yang terlihat licik, sepertinya ia telah menemukan sebuah cara untuk menghancurkan Rangga.
"Saya punya ide tuan," ucapnya seraya memberi isyarat kepada yang lain untuk mendekatkan posisi mereka merapat ke meja ukir bundar.
Beberapa saat Hasto terlihat bicara sedikit berbisik memberikan sebuah instruksi pada yang lainnya yang nampak memperhatikan dengan seksama.
Sesat kemudian terdengar tawa Darto yang nampak puas dengan rencana yang baru saja mereka susun.
" HHhaaaaa .... Hhhaaaa ...hahhaaa ..."
"Bagus ...!! Bagus ... !! Bagus Hasto, kamu memang selalu bisa diandalkan!!" Pujinya terlihat bangga pada anak buah kepercayaannya itu.
Mendapat pujian dari tuanya, Hasto membalas dengan senyum kecil yang sedikit ia sembunyikan. Dari tatapannya, dia nampak lebih licik dan jahat dibanding tuanya itu. Entah apa yang tengah ia rencanakan, yang jelas ia mampu membuat Darto tampak sangat senang sekali, jauh berbeda dari beberapa waktu sebelumnya.