Setelah pelajaran selesai, Naya mengajak Raka makan bersama teman-temannya. Raka awalnya menolak karena membawa bekal sederhana, tetapi Naya tidak memberinya kesempatan untuk menghilang sendirian. Di meja makan, Raka mulai berhadapan dengan lingkungan sosial yang berbeda dari kehidupannya.
Bel istirahat berbunyi.
Suara kursi bergeser hampir bersamaan.
Guru Matematika bahkan belum sempat menutup buku ketika beberapa siswa sudah berdiri.
“Besok kita lanjutkan—”
“Baik, Bu!”
Guru itu berhenti.
Ia menatap seluruh kelas.
“Belum selesai.”
Beberapa siswa perlahan duduk kembali.
Raka menahan senyum.
Naya di sebelahnya sudah memasukkan buku ke dalam tas.
“Lima menit lagi aku mati.”
Raka memasukkan pensil ke tempatnya.
“Karena Matematika?”
“Karena lapar.”
“Baru juga jam makan.”
“Justru itu.”
Naya berdiri.
Kemudian menatap Raka.
“Kantin.”
Raka tetap duduk.
“Silakan.”
Naya menunggu.
Raka membuka tas.
Mengeluarkan sebuah kotak makan kecil berwarna hitam.
Naya memandang benda itu.
“Kamu bawa bekal?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau makan.”
Naya mengernyit.
“Itu jawaban paling tidak membantu yang pernah aku dengar.”
Raka membuka tutup kotaknya.
Di dalamnya ada nasi, telur dadar yang dipotong menjadi beberapa bagian, dan tumis kangkung.
Tidak banyak.
Tapi semuanya tersusun rapi.
Naya menatapnya beberapa detik.
“Kelihatannya enak.”
Raka mengambil sendok.
“Memang.”
“Boleh coba?”
Raka berhenti.
“Tidak.”
Naya langsung cemberut.
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak membawa makanan.”
“Aku bisa beli.”
“Kalau begitu beli.”
“Peliiiiit.”
“Bukan pelit.”
“Terus?”
“Ini bekalku.”
Naya menyilangkan tangan.
“Cuma satu suap.”
“Tidak.”
“Setengah suap.”
“Itu bahkan tidak masuk akal.”
“Seperempat.”
Raka menatapnya.
Naya balas menatap.
“Seperempat suap?”
“Iya.”
“Bagaimana cara makan seperempat suap?”
Naya berpikir.
“Pakai... seperempat mulut?”
Raka menahan tawa.
Naya langsung menunjuknya.
“Jangan ketawa.”
“Aku tidak.”
“Kamu ketawa.”
“Tidak.”
“Kamu hampir.”
Raka akhirnya berdiri.
“Sudah. Ke kantin saja.”
Naya mengambil tasnya.
“Berarti kamu ikut?”
“Tidak.”
Naya berhenti.
“Lalu?”
“Aku makan di sini.”
Naya menatap kotak bekalnya.
Kemudian menatap Raka.
Kemudian kembali melihat kotak bekal.
“Sendirian?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku biasa begitu.”
Naya menghela napas.
“Kamu ini memang susah.”
“Aku tahu.”
Naya mengambil kotak bekal Raka.
Raka langsung meraihnya kembali.
“Hei.”
“Ke kantin.”
“Aku tidak mau.”
“Bawa bekalnya.”
“Kenapa?”
“Biar aku tidak perlu makan sendirian.”
Raka menatapnya.
“Bukannya kamu punya teman?”
“Punya.”
“Terus?”
Naya tersenyum.
“Sekarang aku punya teman sebangku juga.”
Raka menghela napas.
“Naya.”
“Apa?”
“Aku benar-benar tidak mau ke kantin.”
“Kenapa?”
Raka diam sebentar.
“Ramai.”
Naya memperhatikan wajahnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memaksanya.
“Oh.”
Ia meletakkan kembali kotak bekal itu di meja.
“Kalau begitu...”
Naya menarik kursi di depan Raka.
Kemudian duduk.
“Aku makan di sini.”
Raka mengangkat alis.
“Kamu?”
“Iya.”
“Bukannya tadi kamu lapar?”
“Lapar.”
“Terus?”
“Aku bisa lapar di sini.”
Raka menatapnya beberapa detik.
“Kamu keras kepala.”
Naya tersenyum.
“Katanya tadi aku mudah kesal.”
“Dua-duanya.”
“Berarti kita cocok.”
Raka menggeleng.
“Aku mulai menyesal duduk di sini.”
Naya tertawa.
“Sudah terlambat.”
Ia membuka tasnya.
Mengeluarkan sebuah roti kemasan.
Kemudian meletakkannya di atas meja.
“Nih.”
Raka melihat roti itu.
“Kenapa?”
“Bekalku.”
“Kamu beli?”
“Dari rumah.”
Raka melihat kemasannya.
“Masih utuh.”
“Karena aku belum makan.”
“Terus kenapa duduk di sini?”
Naya membuka bungkusnya.
“Karena aku mau makan sama kamu.”
Raka tidak menjawab.
Naya menggigit rotinya.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Kemudian Naya melirik kotak bekal Raka.
“Telurnya kelihatan enak.”
Raka menghela napas.
“Sudah kuduga.”
“Aku cuma bilang.”
“Matamu bilang lebih banyak.”
Naya tertawa.
“Kalau aku minta sekali lagi?”
“Tidak.”
“Dua kali?”
“Tidak.”
“Kalau aku kasih roti?”
Raka melihat roti di tangan Naya.
“Tidak.”
“Kalau aku kasih setengah?”
“Tidak.”
“Seperempat?”
“Jangan mulai lagi.”
Naya tertawa lebih keras.
Pintu kelas terbuka.
Seorang siswi masuk bersama dua temannya.
Mereka berhenti ketika melihat Raka dan Naya.
Salah satu dari mereka tersenyum.
“Eh, Naya.”
Naya menoleh.
“Apa?”
“Kalian makan berdua?”
Naya mengangkat rotinya.
“Iya.”
Temannya melirik Raka.
Kemudian tersenyum jahil.
“Cepat juga.”
Naya langsung memahami maksudnya.
“Bukan begitu.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Tapi mukamu sudah bilang.”
Temannya tertawa.
Raka makan seperti tidak mendengar.
Naya menunjuk Raka.
“Dia cuma teman sebangku.”
“Baru beberapa jam.”
“Terus?”
“Biasanya kamu tidak pernah mau duduk sama cowok.”
Naya membuka mulut.
“Karena—”
Ia berhenti.
Raka menoleh.
Naya buru-buru menggigit roti.
“Karena apa?”
Naya mengunyah.
“Karena... malas.”
Temannya kembali tertawa.
“Baiklah.”
Mereka berjalan pergi.
Naya menatap punggung mereka.
“Dasar.”
Raka mengambil telur dengan sendok.
“Dia benar.”
Naya menoleh.
“Apa?”
“Kamu memang tidak perlu menjelaskan.”
Naya terdiam.
Raka makan seperti biasa.
Namun Naya memperhatikannya.
“Kamu tidak malu?”
“Malunya kenapa?”
“Kalau orang-orang ngomongin kita.”
“Memangnya ada apa dengan kita?”
Naya terdiam.
“Tidak ada.”
“Ya sudah.”
Naya kembali makan.
Beberapa saat kemudian, tiga siswa laki-laki masuk ke kelas.
Salah satunya berhenti di samping meja Raka.
“Rak.”
Raka mendongak.
Ia mengenali wajahnya.
Anak yang tadi pagi membawa dua minuman.
“Kita belum kenalan.”
Raka mengangguk.
“Raka.”
“Gue Fikri.”
Fikri menunjuk dua temannya.
“Ini Dimas. Ini Arga.”
Mereka mengangguk.
“Lo anak baru?”
“Bukan.”
“Bukannya gue nggak pernah lihat lo?”
“Gue memang jarang kelihatan.”
Dimas tertawa.
“Orang bisa jarang kelihatan gimana?”
Raka menunjuk bangkunya.
“Duduk.”
Fikri tertawa.
“Jawaban lo aneh.”
Naya menyela.
“Dia memang aneh.”
Raka menatap Naya.
“Kamu sekarang sudah punya hobi baru?”
“Apa?”
“Mengomentari aku.”
“Seru.”
Fikri menatap mereka bergantian.
“Gue tinggal sebentar, kok kalian sudah akrab?”
Naya langsung menjawab.
“Tidak akrab.”
Raka berkata bersamaan,
“Lumayan.”
Naya menoleh cepat.
Raka hanya mengangkat bahu.
Fikri tertawa.
“Wah.”
“Wah apanya?” tanya Naya.
“Tidak apa-apa.”
“Jangan bikin muka begitu.”
Fikri duduk di meja depan.
“Rak, nanti pulang ikut nongkrong?”
“Di mana?”
“Café dekat sekolah.”
Raka diam.
“Jam berapa?”
“Setengah empat.”
Raka menghitung sesuatu dalam pikirannya.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Ada urusan.”
Fikri mengangguk.
“Besok?”
“Belum tahu.”
“Lo sibuk banget.”
“Lumayan.”
Fikri mengangkat bahu.
“Kalau berubah pikiran, kabarin.”
Raka mengangguk.
Fikri kembali ke tempatnya.
Naya memandang Raka.
“Kamu memang ada urusan?”
“Iya.”
“Apa?”
“Kerja.”
Naya tertawa kecil.
“Kerja?”
Raka mengangguk.
“Kenapa?”
“Tidak.”
Naya tidak melanjutkan.
Ia menggigit roti lagi.
Namun kali ini gerakannya lebih pelan.
Raka memperhatikannya sebentar.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Yakin?”
“Iya.”
Raka kembali makan.
Naya menunduk.
Sebenarnya ia ingin bertanya lebih banyak.
Kerja di mana?
Sampai jam berapa?
Kenapa siswa SMA bekerja?
Tetapi entah kenapa, ia merasa pertanyaan itu terlalu pribadi.
Jadi ia memilih diam.
Beberapa menit kemudian, suasana kelas kembali ramai.
Ada yang bercanda.
Ada yang keluar menuju kantin.
Ada yang bermain ponsel.
Raka menghabiskan makanannya.
Ia menutup kotak bekal.
Naya memperhatikannya.
“Sudah?”
“Iya.”
“Cepat.”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Raka memasukkan kotak bekal ke tas.
Naya tiba-tiba mengeluarkan sebuah permen dari sakunya.
Ia meletakkannya di atas meja Raka.
“Nih.”
Raka melihatnya.
“Untuk apa?”
“Hadiah.”
“Hadiah apa?”
“Karena sudah mau makan sama aku.”
Raka mengambil permen itu.
“Makasih.”
Naya tersenyum.
“Jangan dimakan sekarang.”
“Kenapa?”
“Biar nanti.”
Raka memasukkan permen ke saku.
Naya memandang gerakan itu.
“Beneran disimpan?”
“Iya.”
“Kirain langsung dibuang.”
“Aku bukan orang seperti itu.”
Naya tersenyum kecil.
Kemudian bel masuk berbunyi.
Suara langkah kaki kembali terdengar di lorong.
Siswa-siswa bergegas kembali.
Naya bersandar ke kursinya.
Raka membuka buku.
Namun sebelum guru berikutnya masuk, seorang gadis berhenti di depan pintu kelas.
Ia mengenakan seragam yang sama.
Rambut hitam panjang tergerai rapi di bahunya.
Beberapa siswa yang sedang berbicara langsung menoleh.
Gadis itu melihat ke dalam kelas.
Matanya menyapu ruangan.
Kemudian berhenti pada Raka.
Hanya sesaat.
Tetapi cukup lama untuk membuat Naya menyadarinya.
Gadis itu tidak masuk.
Ia hanya berdiri di sana selama beberapa detik.
Kemudian seseorang memanggil namanya dari lorong.
“Aurel!”
Gadis itu menoleh.
Sebelum pergi, matanya kembali tertuju pada Raka.
Raka sendiri tidak menyadarinya.
Ia sedang mencari halaman buku.
Naya memperhatikan pintu yang baru saja ditinggalkan gadis itu.
Kemudian menoleh kepada Raka.
“Rak.”
“Hm?”
“Itu Aurel.”
Raka membalik halaman.
“Siapa?”
Naya menatapnya tidak percaya.
“Kamu serius?”
“Iya.”
Naya membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Kemudian menghela napas.
“Tidak apa-apa.”
Raka mengangguk.
“Kalau begitu bagus.”
Naya menatap wajahnya.
Lalu tersenyum kecil.
“Kayaknya tahun ini bakal ramai.”