Setelah bel masuk, suasana kelas kembali tenang. Raka menerima telepon dari ibunya saat jam pelajaran berlangsung. Percakapan singkat itu memperlihatkan sisi kehidupan Raka yang selama ini tidak diketahui Naya.
“Kayaknya tahun ini bakal ramai.”
Naya masih tersenyum ketika mengucapkan kalimat itu.
Raka tidak sempat menjawab.
Bel masuk sudah berbunyi, dan suara langkah kaki memenuhi lorong. Siswa-siswa yang tadi berada di kantin bergegas masuk sambil membawa botol minuman, roti, bahkan beberapa bungkus makanan yang disembunyikan di balik buku.
Naya menarik kursinya lebih dekat ke meja.
“Eh, guru datang.”
Raka menoleh ke pintu.
Seorang guru perempuan masuk sambil membawa laptop dan beberapa lembar kertas.
“Selamat siang.”
“Siang, Bu.”
“Sudah makan?”
“Sudah!”
Jawaban satu kelas terdengar terlalu kompak.
Guru itu tersenyum.
“Bagus. Berarti tidak ada alasan mengantuk.”
Beberapa siswa langsung tertawa kecil.
Naya mencondongkan tubuh ke arah Raka.
“Dia tahu kelas kita.”
Raka membuka buku.
“Semua guru tahu.”
“Tidak. Dia tahu kita suka tidur.”
“Kamu suka tidur.”
“Kamu juga.”
“Aku tidak.”
Naya menunjuk matanya sendiri.
“Aku lihat tadi.”
“Lihat apa?”
“Waktu Matematika.”
Raka menatapnya.
“Aku sedang berpikir.”
“Kamu merem.”
“Berpikir dengan mata tertutup.”
Naya menahan tawa.
“Alasan.”
Guru menoleh.
“Naya?”
Naya langsung duduk tegak.
“Ya, Bu?”
“Kalau ada yang ingin dibicarakan, silakan dibicarakan sekalian di depan.”
“Tidak, Bu.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Bagus.”
Guru kembali menyalakan layar proyektor.
Naya menunduk dan berbisik,
“Gara-gara kamu.”
Raka membuka buku.
“Kenapa aku lagi?”
“Karena kamu mengajakku ngobrol.”
“Aku tidak mengajak.”
“Berarti aku yang mengajak?”
“Iya.”
Naya mendengus.
“Dasar.”
Mereka akhirnya diam.
Pelajaran dimulai.
Suara guru memenuhi kelas, diselingi suara ketikan keyboard dan sesekali bunyi halaman buku yang dibalik.
Raka mencatat.
Tulisan tangannya tetap rapi seperti sebelumnya.
Naya beberapa kali melirik catatan Raka ketika guru menulis poin-poin penting di layar.
Ia mencoba menyalin.
Kemudian berhenti.
Tulisan Raka sudah selesai.
Tulisan Naya baru setengah.
Ia melirik lagi.
Kemudian berbisik,
“Rak.”
“Hm?”
“Boleh lihat?”
Raka menggeser bukunya sedikit ke tengah.
Naya tersenyum.
“Makasih.”
Ia mulai menyalin.
Raka tidak mengatakan apa-apa.
Namun beberapa menit kemudian, ponselnya yang berada di dalam saku bergetar.
Brrt.
Raka berhenti menulis.
Tangannya masuk ke saku celana.
Ia merasakan ponsel bergetar lagi.
Brrt.
Naya melirik.
“Siapa?”
Raka tidak menjawab.
Ia melihat layar di bawah meja.
Satu nama muncul.
Ibu.
Raka langsung berdiri.
“Bu.”
Guru menghentikan penjelasannya.
Raka mengangkat ponsel sedikit.
“Izin ke luar sebentar.”
Guru melihat jam.
“Kamu kenapa?”
“Ibu saya telepon.”
Guru mengangguk.
“Jangan lama.”
“Iya, Bu.”
Raka berjalan keluar.
Naya mengikuti gerakannya dengan mata.
Pintu kelas tertutup.
Suara guru kembali terdengar.
Naya mencoba memusatkan perhatian pada buku.
Satu baris.
Dua baris.
Tiga baris.
Tidak masuk.
Ia melirik pintu.
Kemudian kembali melihat buku.
Apa urusannya?
Mungkin ibunya cuma menanyakan sesuatu.
Mungkin ada barang yang tertinggal.
Mungkin—
Naya menghentikan pikirannya sendiri.
“Kenapa aku mikirin?”
Ia kembali menulis.
Di luar kelas, Raka berjalan beberapa meter menyusuri lorong.
Ia berhenti di dekat jendela yang menghadap halaman sekolah.
Kemudian menekan tombol jawab.
“Bu?”
Suara perempuan terdengar dari seberang.
“Rak?”
“Iya.”
“Kamu sudah masuk kelas?”
“Sudah.”
“Sekarang bisa bicara?”
Raka melirik ke arah pintu kelas.
“Bisa sebentar.”
Suara ibunya terdengar ragu.
“Maaf mengganggu.”
Raka mengerutkan dahi.
“Kenapa minta maaf?”
“Tidak apa-apa.”
“Bu.”
“Hmm?”
“Kenapa?”
Hening beberapa detik.
Raka berdiri lebih tegak.
“Ibu kenapa?”
“Tidak apa-apa, Nak.”
“Kalau tidak apa-apa, kenapa telepon?”
Ibunya menghela napas.
“Pemilik kontrakan tadi datang.”
Raka diam.
“Terus?”
“Katanya pembayaran bulan ini jangan terlambat.”
Raka melihat halaman sekolah.
Beberapa siswa berjalan menuju gedung olahraga.
“Masih kurang?”
“Iya.”
“Berapa?”
“Tidak usah dipikirkan sekarang.”
“Bu.”
“Raka.”
“Berapa?”
Hening lagi.
“Empat ratus.”
Raka mengusap wajah.
“Empat ratus ribu?”
“Iya.”
“Kapan harus dibayar?”
“Besok.”
Raka menunduk.
Jarinya mencengkeram ponsel sedikit lebih erat.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Ibu pikir kamu sedang sekolah.”
“Ya memang.”
“Makanya Ibu tidak mau mengganggu.”
Raka menarik napas panjang.
“Pakai uang yang di laci.”
“Sudah dipakai buat listrik.”
“Uang yang aku taruh di bawah kaleng biskuit.”
“Sudah dipakai buat beli obat.”
Raka terdiam.
“Obat Ibu?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Cuma obat biasa.”
“Bu.”
“Raka.”
“Kenapa?”
“Kamu jangan terlalu banyak mikir.”
Raka menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
Wajah yang biasanya tenang terlihat jauh lebih tua daripada beberapa menit lalu.
“Aku nanti cari.”
“Jangan.”
“Aku cari.”
“Jangan sampai kamu tidak makan.”
“Aku makan.”
“Jangan bohong.”
Raka tersenyum tipis.
“Aku tadi bawa bekal.”
“Masak sendiri?”
“Ibu yang masak.”
“Berarti ibu tahu kamu masih mau makan masakan Ibu.”
“Ya.”
Suara ibunya terdengar sedikit tertawa.
“Kalau begitu Ibu tenang.”
Raka menunduk.
“Bu.”
“Hm?”
“Besok aku pulang agak malam.”
“Kerja?”
“Iya.”
“Jangan terlalu malam.”
“Iya.”
“Dan jangan lupa belajar.”
“Iya.”
“Jangan jawab iya terus.”
Raka tersenyum.
“Terus harus jawab apa?”
“Bilang, ‘Iya, Bu. Saya anak baik.’”
Raka tertawa kecil.
“Tidak mau.”
“Nah, itu baru anak Ibu.”
Keduanya terdiam sesaat.
Kemudian suara ibunya kembali terdengar.
“Raka.”
“Iya?”
“Maaf.”
Raka mengerutkan dahi.
“Untuk apa?”
“Karena kamu harus bekerja.”
Raka menatap lapangan.
“Aku tidak keberatan.”
“Ibu tahu.”
“Serius.”
“Ibu juga tahu.”
“Terus?”
“Ibu cuma tetap merasa bersalah.”
Raka menarik napas.
Kemudian berkata pelan,
“Kalau Ibu terus bilang begitu, nanti aku yang marah.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu bukan beban.”
Hening.
Suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar dari kejauhan.
Raka memejamkan mata sebentar.
“Kita cari jalan keluarnya.”
Ibunya tidak menjawab.
“Bu?”
“Iya.”
“Jangan nangis.”
“Apa?”
“Suara Ibu berubah.”
“Astaga. Kamu ini.”
Raka tersenyum kecil.
“Ketahuan.”
“Sudah, sana belajar.”
“Iya.”
“Dan pulang jangan terlalu malam.”
“Iya.”
“Raka.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
Raka diam.
“Untuk apa?”
“Sudah jadi anak yang baik.”
Raka menelan ludah.
Kemudian menjawab,
“Jangan ngomong begitu.”
“Kenapa?”
“Nanti aku benar-benar nangis.”
Ibunya tertawa kecil.
“Ya sudah. Tutup.”
“Iya.”
Panggilan berakhir.
Raka masih memegang ponsel di telinganya selama beberapa detik.
Kemudian menurunkannya.
Ia membuka aplikasi kalkulator.
Jarum jam di layar menunjukkan waktu yang terus berjalan.
Ia memasukkan beberapa angka.
Pendapatan kerja paruh waktu.
Uang transportasi.
Uang makan.
Kebutuhan rumah.
Kemudian ia menghapus semuanya.
Menghitung ulang.
Sekali lagi.
Tetap kurang.
“Empat ratus ribu...”
Raka memasukkan ponsel ke saku.
Ia berdiri diam beberapa detik.
Kemudian mengusap wajahnya.
“Bisa.”
Ia mengatakannya pelan.
Seolah sedang meyakinkan seseorang.
Atau dirinya sendiri.
Raka berbalik dan berjalan kembali menuju kelas.
Begitu tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti.
Dari dalam terdengar suara Naya.
“Bu, Raka tadi memang begitu dari awal.”
Guru menjawab,
“Begitu bagaimana?”
“Ya... begitu.”
“Penjelasanmu tidak jelas.”
“Dia kelihatan seperti orang yang tidak pernah panik.”
Beberapa siswa tertawa.
Raka menatap pintu.
Kemudian membuka.
Percakapan langsung berhenti.
Naya menoleh.
“Oh.”
Raka kembali ke tempat duduk.
Naya memandangnya beberapa detik.
“Kamu lama.”
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Raka duduk.
Naya memperhatikan wajahnya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya.”
“Yakin?”
“Iya.”
Naya menatap matanya.
“Kamu kelihatan beda.”
Raka membuka buku.
“Cahaya.”
“Hah?”
“Cahayanya beda.”
Naya menoleh ke jendela.
Cahaya matahari memang masuk dari arah berbeda.
Ia kembali melihat Raka.
“Kamu bohong.”
Raka mengambil pensil.
“Kenapa?”
“Entahlah.”
Naya menunduk.
Kemudian mengambil pulpen yang tadi dipinjamnya.
“Kalau nanti kamu mau cerita, bilang saja.”
Tangan Raka berhenti.
Ia menatap Naya.
Naya tidak menatapnya.
Ia hanya melanjutkan menyalin catatan.
“Aku nggak akan maksa.”
Raka diam.
Beberapa detik kemudian, ia berkata,
“Makasih.”
Naya mengangkat bahu.
“Teman sebangku harus saling bantu.”
Raka tersenyum tipis.
“Katanya tadi aku menyebalkan.”
“Masih.”
“Baik.”
Naya ikut tersenyum.
Pelajaran kembali berjalan.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berubah.
Bukan sesuatu yang besar.
Hanya sebuah percakapan singkat.
Sebuah kalimat sederhana.
Dan untuk pertama kalinya sejak duduk di bangku itu, Raka merasa mungkin—
mungkin—
tidak semua orang di sekolah ini hanya melihat dirinya sebagai anak beasiswa.
Di sampingnya, Naya kembali menulis.
Tanpa berkata apa-apa, ia mendorong sebungkus kecil biskuit ke arah Raka.
Raka menatapnya.
“Apa ini?”
“Cadangan.”
“Buat apa?”
“Kalau kamu lapar.”
“Aku tidak lapar.”
“Ya sudah. Simpan.”
Raka melihat biskuit itu.
Kemudian mengambilnya.
“Terima kasih.”
Naya tersenyum tanpa menoleh.
“Jangan dibuang.”
“Aku tahu.”
“Serius.”
“Iya.”
Naya kembali menulis.
Raka memasukkan biskuit itu ke dalam tas.
Di luar, suara klakson dari jalan raya terdengar panjang.
Di dalam kelas, guru terus menjelaskan.
Dan tidak satu pun dari mereka tahu bahwa benda kecil yang baru saja dimasukkan Raka ke dalam tas itu akan menjadi alasan bagi seseorang untuk bertanya kepadanya satu pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.