Setelah pelajaran berakhir, Raka buru-buru meninggalkan kelas karena harus bekerja. Naya kemudian kembali ke bangku mereka dan menemukan kartu identitas pekerjaan paruh waktu milik Raka. Ketika ia membalik kartu tersebut, sebuah tulisan kecil membuat rasa penasarannya terhadap Raka berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.
“Dan tidak satu pun dari mereka tahu bahwa benda kecil yang baru saja dimasukkan Raka ke dalam tas itu akan menjadi alasan bagi seseorang untuk bertanya kepadanya satu pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.”
Biskuit itu masih berada di dalam tas Raka.
Ia bahkan lupa bahwa benda itu ada di sana.
Guru masih menjelaskan di depan kelas, sementara cahaya sore mulai berubah. Pantulan matahari di jendela tidak lagi seterang tadi. Bayangan pohon di halaman sekolah memanjang melewati lapangan.
Raka menulis kalimat terakhir di bukunya.
Kemudian ia melihat jam dinding.
15.08.
Tangannya berhenti.
“Dua menit lagi,” gumamnya.
Naya yang sedang menulis menoleh.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu ngomong sendiri?”
“Iya.”
“Sering?”
“Kadang.”
“Seram.”
Raka memasukkan pensil ke tempatnya.
Naya melirik.
“Kamu mau pergi?”
“Iya.”
“Cepat banget.”
“Ada urusan.”
“Kerja?”
Raka mengangguk.
Naya memperhatikan gerakannya.
Ia tidak bertanya lagi.
Setidaknya untuk beberapa detik.
Kemudian—
Tiiin.
Bel pulang berbunyi.
Kelas langsung berubah.
Kursi bergeser.
Buku ditutup.
Suara percakapan muncul dari berbagai arah.
“Besok tugasnya apa?”
“Fisika!”
“Serius?”
“Katanya.”
“Gue belum nulis.”
“Pinjam nanti.”
Raka sudah berdiri sebelum sebagian besar siswa selesai memasukkan buku.
Ia mengenakan tas.
Naya ikut berdiri.
“Rak.”
“Hm?”
“Kamu pulang?”
“Enggak.”
Naya menatapnya.
Raka mengoreksi,
“Maksudku, aku pergi dulu.”
“Ya itu namanya pulang.”
“Bukan.”
“Terus namanya apa?”
“Pergi kerja.”
Naya mengangguk pelan.
“Oh.”
Raka mengangkat tas ke bahu.
Ia hendak pergi ketika Naya memanggil lagi.
“Raka.”
Ia menoleh.
Naya tampak seperti ingin mengatakan sesuatu.
Tetapi akhirnya hanya menunjuk tasnya.
“Biskuitnya jangan lupa.”
Raka melihat tas.
Kemudian Naya.
“Sudah.”
“Bagus.”
Raka mengangguk.
“Duluan.”
Ia berjalan menuju pintu.
“Raka.”
Ia berhenti lagi.
“Apa?”
Naya tersenyum.
“Besok jangan duduk di tempat lain.”
Raka memandang bangku mereka.
Kemudian kembali melihat Naya.
“Memangnya kenapa?”
“Karena aku sudah terbiasa.”
Raka tersenyum tipis.
“Baru sehari.”
“Makanya.”
Raka menggeleng.
“Besok kita lihat.”
Naya mengerutkan hidung.
“Jangan macam-macam.”
Raka pergi.
Pintu kelas bergerak pelan di belakangnya.
Naya masih berdiri.
Ia memperhatikan Raka berjalan melewati lorong.
Tidak ada yang istimewa dari punggung seorang siswa yang pergi setelah sekolah.
Tetapi entah kenapa, Naya terus melihat sampai Raka menghilang di ujung tangga.
“Ngapain kamu?”
Suara temannya membuat Naya tersentak.
“Hah?”
Temannya berdiri di sebelahnya.
“Melamun.”
“Enggak.”
“Dari tadi lihat pintu.”
“Karena...”
Naya mencari alasan.
“Karena aku lupa sesuatu.”
“Apa?”
Naya menunjuk meja.
“Buku.”
Temannya melihat meja.
“Bukunya masih di situ.”
Naya terdiam.
“...Nah.”
“Jadi kamu lupa apa?”
“Diam.”
Temannya tertawa.
Naya kembali ke bangku.
Ia mengangkat tas dari lantai.
Kemudian baru menyadari sesuatu.
Sebuah benda hitam kecil tergeletak di bawah meja.
Naya berhenti.
Ia berjongkok.
Mengambilnya.
Sebuah kartu.
Awalnya ia mengira itu kartu pelajar.
Namun setelah melihat bagian depannya, alis Naya perlahan terangkat.
Ada foto Raka.
Foto itu tidak seperti foto siswa di kartu pelajar.
Raka mengenakan kaus polo berwarna gelap.
Tidak tersenyum.
Di bawah fotonya tertulis:
RAKA ADHIKARA
Naya membaca tulisan berikutnya.
STAFF PART-TIME
Ia diam.
Matanya turun ke baris selanjutnya.
Kedai Kopi Senja — Jakarta Selatan
Naya mengerutkan kening.
“Part-time?”
Temannya yang tadi berdiri di belakangnya ikut melihat.
“Itu punya Raka?”
Naya mengangguk pelan.
“Mungkin.”
“Dia kerja di kedai?”
“Kayaknya.”
“Pantes.”
Naya menoleh.
“Pantes apa?”
“Dia tadi bilang ada urusan.”
Naya kembali melihat kartu itu.
Jari telunjuknya menyentuh tepi plastik kartu.
Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sedikit tidak nyaman.
Bukan karena Raka bekerja.
Ia sudah tahu.
Tapi kartu itu membuat semuanya terasa lebih nyata.
Bukan sekadar “Raka bekerja sepulang sekolah.”
Ada tempat.
Ada seragam.
Ada jabatan.
Ada jadwal.
Semuanya tercetak di sana.
Naya membalik kartu itu.
Tidak ada apa-apa.
Hanya bagian belakang berwarna putih.
“Balikin saja besok.”
Temannya berjalan menuju pintu.
Naya masih berdiri.
“Iya.”
Temannya pergi.
Kelas perlahan mulai kosong.
Satu per satu siswa meninggalkan ruangan.
Suara mereka semakin jauh.
Naya memasukkan kartu itu ke tangannya.
Kemudian ia melihat foto Raka sekali lagi.
Wajahnya sama.
Tetapi sekarang terasa berbeda.
Naya mengingat percakapan tadi.
Jangan terlalu banyak mikir.
Ibu bukan beban.
Empat ratus ribu.
Ia tidak mendengar semuanya.
Tidak tahu semuanya.
Tetapi kalimat-kalimat Raka yang tadi terdengar biasa kini seperti potongan-potongan kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Naya duduk kembali.
Tasnya diletakkan di atas meja.
Ia memutar kartu tersebut di antara jari.
“Kenapa kamu harus susah banget ditebak?”
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Kemudian berhenti.
Karena di bagian belakang kartu, ada sesuatu.
Sebuah tulisan.
Sangat kecil.
Tinta hitam.
Bukan cetakan dari perusahaan.
Tulisan tangan.
Naya mendekatkan kartu ke wajah.
Ia membaca perlahan.
“Shift sore — 16.00–22.00.”
Naya membeku.
Matanya turun ke angka tersebut.
Enam belas sampai dua puluh dua.
Enam jam.
Setelah sekolah.
Setiap hari?
Ia tidak tahu.
Naya membalik kartu kembali.
Melihat foto Raka.
Kemudian kembali ke tulisan itu.
“Jam sepuluh malam...?”
Suara kelas yang tadi ramai kini hampir tidak terdengar.
Naya berdiri.
Ia mengambil ponselnya.
Jarum jam menunjukkan 15.19.
Ia menghitung dalam kepala.
Raka mungkin sedang menuju tempat kerja sekarang.
Enam jam.
Pulang jam sepuluh.
Lalu sekolah lagi besok pagi.
Naya menggenggam kartu itu lebih erat.
Kemudian ia menyadari sesuatu yang membuat ekspresinya berubah.
Di bagian paling bawah kartu, tepat di bawah jadwal kerja, terdapat tulisan lain.
Jauh lebih kecil.
Hampir seperti seseorang sengaja menuliskannya agar tidak mudah terlihat.
Naya mendekatkan kartu ke cahaya dari jendela.
Ia membaca satu kalimat.
“Jika ditemukan, jangan diberikan kepada Raka.”
Naya mengerutkan dahi.
“Apa?”
Ia membalik kartu.
Tidak ada nama lain.
Tidak ada tanda tangan.
Tidak ada penjelasan.
Hanya kalimat itu.
Naya menatap pintu kelas yang sudah kosong.
Kemudian menatap kartu di tangannya.
Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak.
Lalu ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Naya membuka pesan itu.
Hanya ada satu kalimat.
«“Kalau kamu menemukan kartu itu, berarti dia sudah mulai mempercayaimu.”»
Naya menatap layar.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia membaca pesan tersebut sekali lagi.
Kemudian mengangkat wajah.
Kelas XI IPA 2 sudah benar-benar kosong.
Hanya bangku.
Meja.
Cahaya sore.
Dan sebuah kartu kecil di tangannya.
Naya perlahan menutup layar ponselnya.
“Siapa kamu?”
Tidak ada jawaban.
Di luar jendela, suara kendaraan Jakarta terdengar semakin padat.
Naya menatap kartu itu sekali lagi.
Lalu kalimat terakhir di bagian belakangnya.
Jika ditemukan, jangan diberikan kepada Raka.
Tangannya perlahan mengepal.
Untuk pertama kalinya sejak duduk di bangku sebelahnya pagi tadi, Naya tidak merasa sedang berhadapan dengan seorang cowok yang menyebalkan.
Ia merasa sedang memegang sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia temukan.