Naya masih berada di kelas yang kosong setelah menerima pesan misterius. Ia mencoba membalas nomor tersebut, tetapi pesan berikutnya membuatnya semakin bingung karena pengirim mengetahui nama Raka dan hubungan mereka.
“Sekarang kamu sudah melihat sendiri. Besok, tanyakan Raka tentang ayahnya.”
Kalimat itu masih terpampang di layar ponsel Naya.
Jempolnya tidak bergerak.
Matanya membaca kalimat tersebut sekali lagi.
Kemudian sekali lagi.
Ia menurunkan ponsel sedikit.
“...Ayahnya?”
Suara Naya terdengar pelan di ruangan yang sudah hampir kosong.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung di atas kepalanya.
Naya menatap pintu kelas.
Kosong.
Ia kemudian melihat kartu yang masih berada di tangan kirinya.
Kartu identitas pekerjaan Raka.
Bagian depan.
Bagian belakang.
Tidak ada nama ayah.
Tidak ada sesuatu yang berhubungan dengan keluarga.
Hanya tulisan:
Jika ditemukan, jangan diberikan kepada Raka.
Naya mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
Ia mengetik sesuatu pada kolom pesan.
Siapa kamu?
Jempolnya berhenti di tombol kirim.
Ia menatap pesan itu beberapa detik.
Kemudian menekan kirim.
Pesan terkirim.
Satu centang.
Dua centang.
Naya menunggu.
Lima detik.
Sepuluh.
Tidak ada balasan.
“Ya sudah.”
Ia memasukkan ponsel ke saku.
Kemudian mengambil tasnya.
Baru dua langkah menuju pintu, ponselnya kembali bergetar.
Brrt.
Naya langsung berhenti.
Ia mengeluarkannya lagi.
Ada balasan.
“Seseorang yang mengenal Raka lebih lama daripada kamu.”
Naya membaca pesan itu dengan bibir sedikit terbuka.
“Lebih lama...?”
Ia mengetik cepat.
Kamu teman Raka?
Balasan muncul hampir seketika.
“Tidak.”
Naya mengerutkan dahi.
Kalau bukan teman, kamu siapa?
Kali ini tidak langsung dibalas.
Naya menunggu.
Satu menit.
Tidak ada.
Ia berjalan menuju pintu sambil terus menatap layar.
Kemudian sebuah pesan masuk.
“Kamu seharusnya tidak menemukan kartu itu.”
Naya berhenti.
Tangannya menggenggam ponsel.
Ia melihat kartu di tangan satunya.
“Memangnya kenapa?”
Ia mengetik.
Apa yang ada di kartu ini?
Tidak ada jawaban.
Naya menunggu.
Lalu mengetik lagi.
Kenapa aku tidak boleh memberikannya kepada Raka?
Tiga titik muncul.
Menghilang.
Muncul lagi.
Kemudian hilang.
Seseorang sedang mengetik.
Naya menunggu.
Akhirnya pesan masuk.
“Karena dia akan tahu seseorang sedang mencari tahu tentang dirinya.”
Naya menatap layar.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Naya mencoba menelepon nomor tersebut.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kemudian—
tut.
Panggilan diputus.
Naya menurunkan ponselnya.
“Berani juga.”
Ia mencoba sekali lagi.
Kali ini langsung masuk pesan otomatis bahwa nomor tersebut tidak dapat menerima panggilan.
Naya mendecakkan lidah.
“Hebat.”
Ia memasukkan ponsel ke dalam tas.
Kemudian memandang kartu di tangannya.
Sebenarnya ia bisa saja meninggalkannya.
Besok, ia tinggal mengembalikan kartu itu kepada Raka dan berpura-pura tidak pernah menerima pesan apa pun.
Sederhana.
Tidak perlu ikut campur.
Tidak perlu mencari masalah.
Tidak perlu tahu siapa ayah Raka.
Tidak perlu tahu kenapa seseorang mengirim pesan kepadanya.
Naya mengangguk pelan.
“Ya.”
Ia berjalan lagi.
“Besok balikin.”
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Ia berhenti.
“...Tapi kenapa dia bilang jangan?”
Naya menoleh ke belakang.
Kelas itu masih sama.
Meja Raka.
Kursi Naya.
Jendela.
Papan tulis.
Tidak ada sesuatu yang terlihat mencurigakan.
Ia berjalan kembali.
Tangannya menyentuh meja tempat Raka duduk.
Permukaan kayunya dingin.
Naya mengingat pagi tadi.
Pertengkaran mereka.
Pulpen.
Bekal.
Biskuit.
Telepon dari ibunya.
Kalimat yang tidak sengaja ia dengar ketika Raka kembali ke kelas.
Ibu bukan beban.
Naya menatap kursi itu.
“Raka...”
Ia tidak tahu kenapa ia menyebut nama itu.
Mungkin karena baru beberapa jam mengenalnya.
Mungkin karena justru itu yang membuatnya penasaran.
Ia tidak mengenal Raka.
Namun Raka sudah membuatnya ingin tahu.
Dan Naya tahu rasa penasaran seperti itu biasanya membawa masalah.
Ponselnya kembali bergetar.
Naya hampir menjatuhkannya.
Ia membuka pesan.
Nomor yang sama.
“Jangan datang ke Kedai Kopi Senja.”
Naya membeku.
Matanya perlahan turun ke kartu di tangannya.
Kemudian ke layar.
“...Aku belum bilang mau datang.”
Tidak ada balasan.
Naya menatap layar kosong.
Kemudian perlahan tersenyum.
Bukan senyum geli.
Bukan senyum senang.
Senyum seseorang yang baru saja menemukan alasan untuk melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.
“Sekarang aku malah penasaran.”
Ia memasukkan kartu Raka ke dalam saku tasnya.
Bukan untuk menyembunyikannya.
Setidaknya itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.
Naya berjalan keluar kelas.
Lorong sekolah sudah jauh lebih sepi.
Beberapa siswa masih berada di lantai bawah. Suara mereka terdengar samar dari tangga. Matahari sore masuk dari jendela-jendela panjang, membuat lantai lorong terlihat keemasan.
Naya menuruni tangga.
Satu lantai.
Kemudian satu lantai lagi.
Ia sampai di lantai dasar.
Beberapa siswa melewatinya.
“Nay!”
Naya menoleh.
Temannya melambaikan tangan dari dekat gerbang.
“Pulang bareng?”
Naya membuka mulut.
Kemudian matanya melirik jalan di luar sekolah.
“Aku ada urusan.”
“Urusan apa?”
“Urusan penting.”
Temannya mengerutkan dahi.
“Kamu?”
Naya menunjuk dirinya sendiri.
“Iya.”
“Sejak kapan kamu punya urusan penting?”
“Sejak tadi.”
Temannya tertawa.
“Jangan aneh-aneh.”
“Tidak.”
Naya berjalan keluar gerbang.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
Tangannya masuk ke dalam tas.
Kartu itu masih ada.
Ia merabanya melalui kain tas.
Kemudian mengeluarkan ponsel.
Ia membuka aplikasi peta.
Jarinya mengetik:
Kedai Kopi Senja Jakarta Selatan.
Beberapa hasil muncul.
Naya melihat alamat yang tercantum pada kartu.
Sama.
Ia memperbesar peta.
Lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah.
Naya menghitung ongkos perjalanan dalam kepala.
Kemudian menghela napas.
“Cuma lihat.”
Ia mulai berjalan menuju halte.
“Lihat saja.”
Ponselnya bergetar lagi.
Naya berhenti.
Pesan baru.
Dari nomor yang sama.
Kali ini hanya tiga kata.
“Jangan percaya Raka.”
Naya menatapnya lama.
Lalu mengetik:
Kenapa?
Tidak ada balasan.
Naya memasukkan ponselnya ke saku.
Kemudian melanjutkan berjalan.
Langkahnya semakin cepat.
Ia sendiri tidak tahu apakah yang sedang ia cari adalah jawaban—
atau justru masalah baru.
---
Di tempat lain, beberapa kilometer dari sana, sebuah pintu kayu didorong terbuka.
Raka masuk ke dalam sebuah kedai kopi kecil yang terletak di antara deretan ruko di Jakarta Selatan.
Aroma kopi panggang langsung menyambutnya.
“Telat dua menit.”
Suara laki-laki terdengar dari balik meja kasir.
Raka melihat jam dinding.
“Dua menit?”
“Dua menit.”
“Masih masuk akal.”
“Kalau pelanggan bilang begitu, kamu yang marah.”
Raka meletakkan tasnya.
“Karena pelanggan tidak dibayar untuk datang tepat waktu.”
Laki-laki di balik kasir tertawa.
“Ganti baju.”
Raka mengangguk.
Ia mengambil tas dan berjalan menuju pintu kecil di belakang kedai.
Tangannya baru menyentuh gagang pintu ketika ponselnya bergetar.
Raka mengeluarkannya.
Tidak ada pesan.
Hanya notifikasi dari aplikasi bank.
Ia membuka.
Saldo rekeningnya.
Raka menatap angka tersebut beberapa detik.
Kemudian mengunci layar.
“Masih kurang.”
Ia memasukkan ponselnya kembali.
Tidak ada yang melihat wajahnya berubah.
Tidak ada yang tahu bahwa di saat yang sama, seseorang sedang dalam perjalanan menuju tempat ini.
Dan orang itu membawa sesuatu yang seharusnya sudah berada di tangan Raka.
Sebuah kartu kecil.
Dengan satu kalimat yang seharusnya tidak pernah dibaca siapa pun.
Jika ditemukan, jangan diberikan kepada Raka.