Naya diam-diam menuju Kedai Kopi Senja untuk memastikan sendiri tempat Raka bekerja. Sementara itu, Raka mulai menjalani shift sore dan memperlihatkan sisi dirinya yang tidak pernah terlihat di sekolah.
> Jika ditemukan, jangan diberikan kepada Raka.
Kartu kecil itu masih tersimpan di dalam tas Naya.
Tangannya sesekali menyentuh bagian luar tas, memastikan benda itu masih ada.
Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia benar-benar datang.
Bukankah tadi ia sudah memutuskan untuk mengembalikannya besok?
Bukankah ia tahu pesan dari nomor tidak dikenal itu seharusnya membuatnya menjauh?
Naya berdiri di depan sebuah minimarket di seberang jalan, menatap deretan ruko beberapa meter di depannya.
Salah satu papan nama berwarna hitam tergantung di lantai dasar sebuah bangunan.
KEDAI KOPI SENJA
“Jadi ini...”
Naya memperhatikan bangunan itu.
Tidak besar.
Tidak kecil juga.
Kaca depan kedai memperlihatkan beberapa meja kayu di dalam. Lampu-lampu kuning tergantung rendah di atas meja. Ada beberapa pelanggan duduk sambil membuka laptop.
Naya melihat jam di ponselnya.
16.07.
“Berarti dia sudah masuk.”
Ia berdiri di tempatnya.
Lalu berpikir.
“Kalau aku masuk, aneh nggak?”
Ia menjawab sendiri.
“Banget.”
“Kalau cuma beli minum?”
“Masih aneh.”
“Kalau pura-pura tidak kenal?”
“Lebih aneh.”
Naya menghela napas.
“Kenapa aku sampai mikirin begini?”
Seorang pengendara motor berhenti di lampu merah.
Suara mesin kendaraan memenuhi jalan.
Jakarta pada sore hari tidak pernah benar-benar diam.
Naya akhirnya menarik napas panjang.
“Cuma lihat.”
Ia menyeberang.
Langkahnya sedikit ragu ketika sampai di depan kedai.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Bel kecil berbunyi ketika pintu terbuka.
Ting.
Beberapa kepala menoleh sebentar.
Naya langsung menyesal.
Bagus. Sekarang semua orang lihat.
Ia masuk.
Udara di dalam lebih dingin daripada di luar.
Aroma kopi, s**u, dan roti panggang bercampur menjadi satu.
Ada musik pelan dari speaker dekat kasir.
Naya berdiri beberapa detik.
Matanya bergerak mencari seseorang.
Tidak ada.
Ia melihat meja kasir.
Seorang laki-laki sekitar dua puluhan sedang mengoperasikan mesin kasir.
“Selamat datang.”
Naya tersenyum canggung.
“Eh...”
“Pesan?”
“Iya.”
Laki-laki itu memberikan menu.
Naya membukanya.
Matanya bergerak dari atas ke bawah.
Ia tidak benar-benar membaca.
“Americano.”
“Hot atau iced?”
Naya terdiam.
“Yang... dingin.”
“Iced Americano?”
“Iya.”
“Nama?”
Naya hampir menjawab.
Kemudian ia sadar.
“Nama?”
“Untuk pesanannya.”
“Oh.”
Ia menyebutkan namanya.
Laki-laki itu mengetik.
“Lima belas ribu.”
Naya membayar.
“Ditunggu di meja.”
Naya mengambil nomor pesanan.
Ia berbalik.
Kemudian matanya langsung tertuju ke arah belakang kedai.
Seorang pelayan sedang membawa nampan.
Rambutnya sedikit berantakan.
Kemeja hitam.
Apron gelap.
Wajah yang sangat ia kenal.
Naya berhenti.
Raka.
Ia benar-benar ada di sana.
Bukan sebagai siswa.
Bukan dengan seragam SMA.
Bukan dengan buku di tangan.
Raka berjalan melewati meja pelanggan sambil membawa dua gelas minuman.
“Permisi.”
Ia meletakkan minuman.
“Ini pesanannya.”
“Terima kasih.”
Raka mengangguk.
Ia berbalik.
Dan hampir bertabrakan dengan Naya.
Keduanya berhenti.
Raka menatap Naya.
Naya menatap Raka.
Beberapa detik.
Tidak ada yang bicara.
Kemudian alis Raka naik.
“Naya?”
Naya tersenyum kaku.
“Hai.”
Raka melihat sekeliling.
Kemudian kembali menatapnya.
“Kamu ngapain di sini?”
Naya mengangkat gelas nomor pesanannya.
“Minum.”
Raka melihat gelas itu.
Kemudian melihat kasir.
Kemudian kembali ke Naya.
“Kamu suka kopi?”
“Tidak.”
Raka mengerutkan dahi.
“Terus pesan Americano?”
Naya tersenyum.
“Lagi mencoba.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Naya terdiam.
Ia harus menemukan jawaban.
“Karena...”
Raka menunggu.
Naya menunjuk keluar jendela.
“Jakarta panas.”
Raka melihat ke luar.
Kemudian menatap Naya lagi.
“Kamu datang ke sini karena Jakarta panas?”
“Iya.”
“Padahal di sekolah ada AC.”
Naya menggigit bibir.
“Beda.”
“Bedanya?”
“AC sekolah tidak punya kopi.”
Raka menatapnya cukup lama.
Naya mulai gugup.
Kemudian Raka menghela napas.
“Duduk saja.”
“Hah?”
“Pesananmu nanti diantar.”
“Oh.”
Raka berjalan melewatinya.
Naya mengikuti dengan mata.
Ia kemudian memilih meja yang cukup jauh dari kasir.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Ia duduk.
Beberapa detik kemudian, ia mengambil ponsel.
Membuka pesan terakhir dari nomor misterius.
Jangan percaya Raka.
Naya menatap pesan itu.
Kemudian melihat Raka yang sedang membersihkan meja.
Raka mengambil gelas kosong.
Berjalan kembali ke belakang.
Mengelap meja.
Memindahkan kursi.
Membantu pelanggan yang kesulitan menghubungkan laptop ke Wi-Fi.
Semua dilakukan tanpa banyak bicara.
Naya mengamati.
Di sekolah, Raka hampir selalu terlihat santai.
Di sini berbeda.
Gerakannya cepat.
Teratur.
Ia bahkan beberapa kali melirik jam dinding.
Naya menatap jam tersebut.
16.18.
Enam jam.
Ia kembali menatap Raka.
Seorang pelanggan memanggil.
“Mas!”
Raka menoleh.
“Iya?”
“Boleh minta air putih?”
“Boleh.”
Raka mengambil gelas.
Kemudian mengisinya.
Ia menyerahkan kepada pelanggan.
“Silakan.”
“Terima kasih.”
Raka mengangguk.
Kemudian kembali bekerja.
Naya menunduk.
Ia merasa sedikit aneh.
Raka tidak terlihat seperti anak yang sedang bermain-main dengan pekerjaan.
Ia benar-benar bekerja.
Seolah ini memang bagian penting dari hidupnya.
Pelayan kasir tadi datang membawa pesanannya.
“Iced Americano.”
Naya mengangkat kepala.
“Oh, iya.”
Gelas diletakkan di depannya.
“Terima kasih.”
Ia memegang sedotan.
Kemudian mencicipinya.
Wajahnya langsung berubah.
Pahit.
Sangat pahit.
Ia menahan ekspresi.
Raka kebetulan lewat.
Melihat wajah Naya.
“Kamu kenapa?”
Naya menelan.
“Enak.”
Raka berhenti.
“Serius?”
“Serius.”
Raka melihat gelas itu.
“Kamu baru minum satu teguk.”
“Ya.”
“Dan langsung bilang enak?”
“Iya.”
“Padahal mukamu seperti habis minum obat.”
Naya memelototinya.
“Jangan mengada-ada.”
Raka menahan senyum.
“Kamu tidak suka kopi.”
Naya menatapnya.
“Siapa bilang?”
“Kamu.”
“Aku tidak pernah bilang.”
“Waktu di kelas.”
“Kapan?”
“Pagi.”
Naya mencoba mengingat.
Ia tidak ingat.
Raka melanjutkan pekerjaannya.
Naya menatap gelas.
Kemudian diam-diam menambahkan gula.
Satu sachet.
Mencicipi.
Masih pahit.
Tambah satu lagi.
Dari jauh, Raka melihatnya.
“Kamu mau bikin kopi atau sirup?”
Naya langsung menoleh.
“Kamu kerja saja!”
Raka tertawa kecil.
Naya mendengus.
Setidaknya kali ini, ia berhasil membuat Raka tertawa.
Namun ketika Raka kembali ke belakang, senyum Naya perlahan menghilang.
Matanya kembali menuju tas.
Kartu itu masih ada.
Pesan itu masih ada.
Dan sekarang ia berada di tempat yang sama dengan Raka.
Ia ingin bertanya.
Tentang kartu.
Tentang pekerjaan.
Tentang ayahnya.
Tetapi ia teringat pesan terakhir.
Jangan percaya Raka.
Naya menatap Raka dari kejauhan.
Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?
Raka sedang menyusun beberapa gelas di rak ketika seorang laki-laki dari balik kasir memanggilnya.
“Rak.”
Raka menoleh.
“Apa?”
“Jam tujuh nanti kamu yang handle meja depan.”
Raka mengangguk.
“Oke.”
“Dan nanti sebelum pulang, tolong cek stok susu.”
“Siap.”
Laki-laki itu melihat Raka beberapa saat.
“Kamu kelihatan capek.”
“Enggak.”
“Matamu bilang iya.”
Raka tersenyum.
“Kurang tidur.”
“Sekolah?”
“Iya.”
“Jangan terlalu dipaksakan.”
Raka tidak menjawab.
Ia hanya kembali bekerja.
Naya mendengar percakapan itu dari mejanya.
Ia menunduk.
Jari-jarinya mengetuk meja.
Kemudian tanpa sadar, ia membuka galeri ponsel.
Foto pertama yang muncul adalah foto kelas pagi tadi.
Ia memperbesar bagian Raka.
Wajahnya terlihat biasa.
Tenang.
Tidak tersenyum.
Naya memperkecil foto.
Ia melihat dirinya sendiri di samping Raka.
Kemudian tertawa kecil.
“Kenapa aku sampai segininya?”
Ia segera menutup galeri.
Namun saat hendak memasukkan ponsel, layar menyala kembali.
Pesan baru.
Nomor yang sama.
Naya langsung membuka.
“Dia belum memberitahumu kenapa dia bekerja di sana?”
Naya menatap Raka.
Kemudian mengetik.
Tidak.
Balasan datang.
“Tanya dia.”
Naya mengetik:
Kenapa?
Tiga titik muncul.
Kemudian:
“Karena alasan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan uang.”
Naya membeku.
Matanya terangkat.
Raka sedang berdiri di dekat meja kasir.
Wajahnya terlihat biasa.
Namun sekarang, setiap gerakannya membuat Naya bertanya-tanya.
Ia mengetik lagi.
Maksudmu apa?
Tidak ada balasan.
Naya menunggu.
Lima detik.
Sepuluh.
Layar tetap diam.
“Dasar orang aneh.”
Naya mengunci ponsel.
Kemudian berdiri.
Ia berjalan menuju kasir.
Raka melihatnya.
“Mau pesan lagi?”
“Enggak.”
“Terus?”
Naya berhenti di depannya.
“Aku mau tanya.”
Raka menatapnya.
“Tanya apa?”
Naya hampir mengatakannya.
Kenapa kamu kerja di sini?
Tetapi kalimat lain muncul di kepalanya.
Besok, tanyakan Raka tentang ayahnya.
Ia mengurungkan niat.
“Enggak jadi.”
Raka mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Lupa.”
“Kamu datang jauh-jauh cuma buat lupa?”
Naya tersenyum.
“Iya.”
Raka menggeleng.
“Kamu memang aneh.”
“Katanya aku cerewet.”
“Dua-duanya.”
Naya tertawa kecil.
Kemudian mengambil tasnya.
“Aku pulang.”
Raka mengangguk.
“Hati-hati.”
Naya berjalan menuju pintu.
Tangannya menyentuh gagang.
Ia berhenti.
Menoleh.
Raka masih berdiri di belakang kasir.
“Nanti...”
“Hm?”
Naya menatapnya.
“Besok jangan lupa bawa bekal.”
Raka tersenyum tipis.
“Kamu mau minta telur lagi?”
Naya menunjuknya.
“Jangan percaya diri.”
“Bukannya tadi kamu datang ke sini cuma karena kopi?”
Naya tersenyum.
“Bisa jadi.”
Ia membuka pintu.
Ting.
Bel kecil berbunyi.
Naya melangkah keluar.
Namun begitu pintu tertutup, senyumnya hilang.
Ia berdiri di trotoar.
Menatap kaca kedai.
Raka sudah kembali bekerja.
Naya memasukkan tangan ke tas.
Menyentuh kartu itu.
“Alasan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan uang...”
Ia mengangkat wajah.
Dan baru menyadari bahwa seseorang berdiri beberapa meter di belakangnya.
Seorang perempuan.
Rambut hitam panjang.
Seragam sekolah.
Naya mengenal wajah itu.
Aurel.
Perempuan itu menatap Naya.
Kemudian matanya turun ke tas Naya.
Tepat ke tempat kartu Raka disimpan.
Aurel berjalan mendekat.
Berhenti di hadapan Naya.
Kemudian bertanya dengan suara pelan,
“Kamu kenal Raka?”