Minggu pagi, Tari menghabiskan separuh waktunya menulis satu pesan dan menghapusnya enam kali. Latihan wawancara Danu di teras kemarin sudah selesai, lengkap dengan dua belas lembar catatan dan piring kue yang licin, dan sekarang tidak ada lagi urusan orang lain yang bisa ia pakai untuk menunda.
Ia duduk di tepi kasur, ponsel di pangkuan, sajadah masih terlipat di ujung ranjang. Pesan pertama terlalu panjang dan penuh pembelaan. Pesan kedua terlalu dingin. Pesan ketiga dimulai dengan kata maaf, dan itu ia hapus dengan cepat karena ia tidak sedang minta maaf kepada orang ini. Pesan keempat, kelima, dan keenam adalah variasi dari ketiganya. Akhirnya ia menaruh ponsel itu di bantal, menarik napas, mengambilnya lagi, dan mengetik tanpa berpikir.
Lestari Ayu: Aku akan ke Bandung Sabtu depan. Bukan untukmu. Aku mau mendengar dari Ibu dan Bapak tentang tahun itu. Kamu tidak boleh ada di sana.
Pesan itu terbaca dalam hitungan detik. Balasannya tidak langsung datang. Tari menunggu dengan jantung yang berdetak seperti orang yang menunggu hasil ujian.
Akbar Fajriansyah: Aku setuju. Aku akan di Jakarta sepanjang hari itu, dan kalau perlu aku akan mengunci diri di gudang. Dua hal saja.
Akbar Fajriansyah: Pertama, ini alamatnya.
Sebuah lokasi masuk di bawahnya, lengkap dengan pin peta dan satu baris patokan dari Akbar: rumah bercat krem, pagar besi hijau, di sebelah toko kain milik keluarga. Tari memandangi pin merah itu lama. Hampir empat tahun ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah menginjak tempat itu, bahkan dalam bayangan, dan kini tempat itu muncul begitu saja di layar seperti nama jalan biasa.
Akbar Fajriansyah: Kedua. Ibu menunggu. Ibu minta kamu datang sebagai tamu, bukan sebagai penebus. Beliau tidak mau kamu merasa wajib apa pun. Kamu boleh pulang kapan saja, dan kamu boleh diam kalau tidak mau bicara.
Tari membaca kalimat itu pelan-pelan. Datang sebagai tamu, bukan sebagai penebus. Ia tidak tahu apakah kalimat itu milik Bu Chasanah atau hasil suntingan Akbar, tapi bunyinya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Lestari Ayu: Terima kasih. Aku tidak akan membalas pesan lagi sampai hari itu.
Akbar Fajriansyah: Aku mengerti.
°°°°
Panggilan video masuk tepat pukul sepuluh, dan wajah Nida muncul lebih dulu, terlalu dekat dengan kamera dan dengan rambut yang masih bergulung di handuk.
"Aku sudah dengar dari Gita," katanya tanpa salam. "Sabtu depan, kereta, Bandung. Aku jemput di stasiun, titik."
"Nid, kamu tidak perlu..."
"Perlu. Kamu bisa naik angkot salah, kamu bisa nyasar ke pasar, kamu bisa tiba-tiba memutuskan pulang di tengah jalan. Aku kenal kamu." Nida menggeser handuknya. "Apalagi aku sudah janji pada diriku sendiri, kalau suatu hari Tari mau ke rumah orang tua si Akbar itu, aku yang antar. Supaya kalau ia cerita sesuatu yang bikin kamu goyah, aku yang tampar kamu dengan sayang."
"Nida," terdengar suara lain dari sudut layar, pelan dan sedikit kunyahan, "kamu bicara seolah-olah kamu mau ikut masuk."
Wajah Esti muncul di kotak sebelahnya, sedang memegang bungkus keripik singkong. Rambutnya diikat asal, dan di belakangnya terdengar televisi menyiarkan sesuatu tentang resep.
"Aku tidak ikut masuk. Aku menunggu di warung depan." Nida menyipit. "Eh, Est, kamu ngemil lagi?"
"Kalau Tari mau cerita, aku makan. Kalau Tari mau menangis, aku makan. Itu peranku di grup ini." Esti menelan dan menatap Tari lembut. "Tar, kamu baik-baik saja?"
Tari mengangguk, lalu menggeleng, lalu tertawa kecil yang berubah jadi napas panjang. "Aku tidak tahu. Mas Radit minta jarak lima pekan. Aku setuju. Aku tidak sedang minta dibujuk, aku sedang... mau tahu dulu."
"Tahu apa?"
"Apa sebenarnya yang terjadi tahun itu. Buku harianku bilang satu hal. Kepalaku bilang hal lain. Aku mau dengar dari orang yang ada di sana."
Nida terdiam. Dari ekspresinya, ia sedang mencari kalimat yang cukup jujur tanpa terdengar menyudutkan. "Tar, aku ingat sesuatu. Waktu itu, seminggu sebelum wisuda, Akbar hilang. Kamu bilang ke aku dia tidak membalas apa pun. Satu minggu penuh, Tar. Baru sekarang aku sadar itu aneh."
"Aku juga baru sadar."
"Jadi?" Esti menghapus remah dari sudut bibirnya. "Aku tidak mau kamu sendirian di kereta pulang. Malam itu, setelah dari sana, telepon aku. Aku tidak peduli jam berapa."
"Aku juga," sahut Nida. "Dan Tar, apa pun yang kamu dengar nanti, jangan buat keputusan di kereta. Keputusan di kereta itu keputusan sedih. Tunggu sampai kamu sudah tidur satu malam."
"Iya, Bu Nida."
"Jangan panggil aku Bu."
"Iya, Bu Esti."
"Aku juga tidak mau dipanggil Bu!" Esti memprotes dengan mulut penuh, dan tawa mereka bertiga pecah, kecil dan basah dan sedikit lega.
°°°°
Gita menunggu di kedai kopi kecil dekat rumahnya, pukul tiga sore, dengan dua gelas es teh yang embunnya sudah merembes ke serbet.
Ia bukan tipe yang biasa menunggu. Gita yang Tari kenal selalu datang tepat waktu atau dua menit lebih awal, dengan senyum jenaka yang sudah siap, tetapi hari ini ia duduk dengan kedua tangan di pangkuan dan wajah yang dipaksakan tenang. Tari duduk di seberangnya, dan Gita langsung bicara sebelum sempat dipersilakan.
"Tar, aku mau minta maaf."
"Untuk apa, Git?"
"Untuk banyak hal." Gita menarik napas. "Waktu kamu cerita soal Akbar, aku bilang 'tenang, kamu pasti ngomong ke Radit'. Aku bilang itu sambil tersenyum, sambil menepuk bahumu. Itu bukan nasihat, itu cara supaya aku tidak perlu melihat wajah ketakutanmu. Aku senior kamu di bank, Tar. Aku tahu orang yang berbohong demi tenang itu kelihatan. Harusnya aku bilang 'kamu belum ngomong dan sudah berapa hari', bukan 'tenang'. Aku terlalu cepat menenangkan, terlalu lambat mendorong."
"Git..."
"Aku sudah mikir semalaman. Kalau aku dorong lebih keras waktu kamu pertama cerita padaku, mungkin Radit dengar dari kamu, bukan dari ibu Akbar." Mata Gita sudah merah. "Dan aku takut kamu menyalahkan aku, karena aku sendiri menyalahkan aku."
Tari memandang sahabatnya lama. Es teh di depannya sudah mencair separuh. Di luar kedai, sebuah motor lewat dan meninggalkan bunyi mesin yang lama menghilang.
"Aku tidak menyalahkanmu," kata Tari.
"Kamu boleh."
"Aku tahu aku boleh. Aku tidak mau." Tari meraih tangan Gita di atas meja dan menggenggamnya sebentar. "Kalau kamu dorong lebih keras, aku tetap akan mundur. Kamu tahu sendiri aku keras kepala. Aku yang menunda, Git, bukan kamu. Dan aku tidak mau kehilangan teman terbaik karena aku takut menanggung bagianku sendiri."
Gita menutup mulut dengan punggung tangan, menahan sesuatu yang tidak lagi bisa ditahan.
"Aku maafkan," lanjut Tari. "Dan tolong jangan simpan lagi. Itu terlalu berat untuk dibawa ke akadmu."
"Jangan bahas akadku," isak Gita, lalu tertawa di tengah tangisnya. "Mataku bengkak, tunanganku bakal bilang aku habis berantem."
"Bilang saja kamu habis nonton film sedih."
"Film apa?"
"Judulnya Kerupuk."
Gita mendengus, lalu terbahak-bahak sampai pelayan kedai menoleh. Ia mengeluarkan tisu dan mengusap hidungnya tanpa malu. "Sandi itu masih berlaku, Tar. Kapan pun. Di Bandung pun. Kalau kamu butuh aku menelepon dan pura-pura darurat, kirim satu kata."
"Di Bandung ada Nida."
"Nida bisa menyetir tapi tidak bisa pura-pura. Aku yang ahli pura-pura darurat." Gita mengangkat gelasnya dengan bangga. "Untuk teman yang tidak lagi pura-pura."
Tari mengangkat gelasnya sendiri, dan keduanya bersulang dengan es teh yang tak lagi dingin.