Dewi meletakkan segelas air putih di meja Radit pukul sembilan pagi, tanpa berkata apa-apa, dan pukul sepuluh meletakkan segelas lagi. Radit baru menyadari bahwa keduanya masih penuh ketika ia akhirnya menghabiskan yang pertama.
Selebihnya hari itu ia bekerja seperti mesin yang dirawat dengan baik. Ia tiba pukul tujuh, membalas dua belas surel sebelum sarapan, menandatangani kontrak dengan pemasok kemasan, dan menegur Teguh dengan sangat lembut karena warna sampul katalog salah satu nada. Tidak ada yang bisa menunjuk satu pun cela. Dewi, yang sudah tiga tahun bekerja untuknya, menatapnya sekilas setiap kali lewat, dan sekilas itu cukup untuk menyatakan bahwa ia tidak percaya pada kesempurnaan yang terlalu rapi.
Rapat mingguan dengan klien batik dimulai pukul sebelas.
Di ruang rapat yang sama tempat ia bertanya kepada Akbar sepekan lalu, delapan kursi terisi. Kino berdiri di depan layar dengan antusiasme yang tidak ia sadari mengandung kecemasan. "Jadi, Pak, sejak perbaikan pewarna, kain sarimbit dari Chasanah Batik naik dua puluh persen dibanding bulan lalu. Toko yang tadinya mengembalikan sekarang pesan lagi."
"Bagus, Kin."
"Dan Mas Akbar sudah mengirim hasil uji laboratorium yang baru."
Akbar duduk di ujung meja dengan map terbuka dan wajah yang sama persis seperti saat masuk ruang ini sepekan lalu. Ia mengangguk kepada Kino, lalu kepada Radit, kecil dan sopan. "Hasilnya aman, Mas. Saya sudah kirim ke surel Mas Radit."
"Saya sudah baca. Terima kasih." Radit membuka lembar pertama di depannya. "Ada hal lain yang perlu dibahas dari sisi produksi?"
"Pemasok baru sudah diganti, Mas. Kami kembali ke pemasok lama. Biayanya lebih tinggi sedikit, tapi lebih tenang."
"Lebih tenang itu bagus."
Itu hanya kalimat. Tetapi Radit memperhatikan bahwa setelah mengucapkannya, tangan Akbar yang memegang pena berhenti sejenak, dan Dewi di seberang meja menunduk menulis sesuatu yang tidak perlu ditulis. Rapat berjalan empat puluh menit, tepat sesuai jadwal. Radit tidak sekali pun melirik Akbar lebih lama dari yang diperlukan, dan Akbar tidak sekali pun menatap Radit lebih lama dari yang diperlukan. Di balik formalitas yang rapi itu, dua laki-laki duduk berhadapan dengan aturan yang sama-sama mereka tahu.
°°°°
Malam hari, rumah Radit sunyi.
Ia makan roti dan sebutir telur rebus di meja jati, sendirian, di kursi yang tidak menghadap kursi mana pun. Setelah itu ia mencuci piring, mengeringkannya, dan mengambil map plastik bening dari tasnya, salinan seratus jawaban yang ia keluarkan dari laci kantor tadi sore.
Ia membaca dari nomor satu.
Saya tidak ingat apa yang saya rasakan waktu menulis jawaban pertama, pikirnya, tapi saya ingat cara tangan saya gemetar. Jawaban demi jawaban lewat di bawah matanya. Tulisannya rapi, hampir tanpa coretan. Ada jawaban tentang sarapan yang disukai, tentang takut ketinggian, tentang masa kecil yang tidak banyak ia bicarakan. Ada jawaban yang membuat ia tersenyum karena terlalu serius untuk pertanyaan yang sebenarnya iseng. Ada jawaban yang membuatnya mengernyit karena ia tidak menyangka dirinya pernah sepolos itu.
Di nomor sembilan puluh sembilan, ia berhenti, karena bagian itu berbicara tentang siapa yang meminta maaf lebih dulu, dan di sana ia dulu menulis, saya biasanya lebih lambat. Radit tertawa pendek tanpa suara. Ia benar. Ia lambat.
Halaman berikutnya adalah nomor seratus.
Ia memegang kertas itu dengan dua tangan, dan tidak membacanya.
Bukan karena ia lupa isinya. Ia tahu setiap kata. Ia menulisnya dua malam berturut-turut setelah tahajud, merobek yang pertama, menulis ulang yang kedua. Tetapi malam ini ia tidak bisa membaca satu pun kalimat di sana tanpa merasa seperti penipu. Ia menulis bahwa ia akan tinggal. Dan sembilan hari lalu, di halaman masjid, ia memilih kata jarak.
Radit menaruh kertas itu telungkup di atas meja. Ia berjalan ke dinding dapur, di mana tergantung kalender berbahan karton dari toko kemasan langganan Berkah Group. Ia mencabut pulpen dari saku kemeja yang tergantung di kursi, lalu menghitung dengan jarinya. Dua puluh empat hari lagi sampai batas tiga bulan. Ia melingkari tanggalnya dengan tinta biru dan menulis satu kata kecil di sampingnya: Batas.
Pulpen itu masih di tangannya ketika ia menyadari sesuatu.
Ia menyebut jarak itu jeda. Ia menyebutnya waktu yang adil bagi dua orang untuk menimbang. Tetapi ia sedang menulis tanggal batas di kalendernya seperti narapidana menandai hari bebas, dan itu bukan jeda. Itu hukuman, yang ia jatuhkan dengan bahasa sopan, dengan kemeja putih, dan dengan suara tenang di halaman masjid. Tari tidak membela diri, tidak membujuk, tidak menawar. Ia menerima begitu saja, dan Radit tidak tahu apakah itu bukti ia cukup dewasa atau cukup takut.
°°°°
Bel pintu berbunyi pukul setengah sepuluh, dan di baliknya berdiri Danu dengan rantang kosong dan wajah seseorang yang membawa sesuatu yang ingin dilepas.
"Aku balikin rantang Ibu," katanya sambil menyerahkan wadah itu. "Ibu bilang tolong dicuci."
"Kamu bisa cuci sendiri. Kenapa kemari?"
Danu masuk tanpa menunggu dipersilakan. Matanya menyapu meja jati, kertas yang telungkup, kalender dengan lingkaran biru.
"Karena aku mau bilang sesuatu. Dan wawancaraku sudah selesai, kata HRD-nya dikabari dua minggu lagi. Mbak Tari ngajarin: jangan jawab 'saya pekerja keras', kasih contohnya. Aku kasih contoh, dan HRD-nya ngangguk."
"Syukurlah." Radit menunduk menatap rantang. Kemudian, seakan pertanyaan itu mendorong dirinya sendiri keluar dari mulut: "Dia latihan Sabtu itu... dia makan?"
Danu mengangkat alis. "Mas yang minta jarak, tapi nanya terus."
"Saya tidak bertanya. Saya memastikan rantang ini bersih."
"Mas, rantangnya kosong."
"Itulah maksud saya."
"Wah." Danu menunjuk dinding dengan dagunya. "Mas bikin kalender kayak napi."
Radit menutup mulutnya sebelum jawaban pertama keluar.
"Tadi sore aku mampir ke rumah Arif. Arif bilang..." Danu menggaruk belakang kepalanya. "Arif bilang Mbak Tari akan ke Bandung Sabtu. Ketemu orangtua Mas Akbar. Mau dengar sendiri, katanya, soal empat tahun lalu."
Radit memegang gagang kursi dengan tangan yang tiba-tiba kehilangan tenaga.
"Dia bilang itu pada Arif?"
"Dia bilang pada Pak Rosidi, dan Arif disuruh ikut. Waktu aku tanya apa Mbak Tari mau nemuin Mas Akbar, Arif jawab nggak, Mas Akbar justru bakal di Jakarta." Danu melirik kakaknya. "Mas takut?"
"Takut apa?"
"Mas tahu apa." Danu menyipitkan mata. "Takut Mbak Tari ke sana, terus dengar sesuatu yang bikin dia nggak pulang."
Radit membuka mulut untuk mengatakan hal yang tenang, bijak, dan dewasa, hal yang akan ia katakan pada orang lain, pada klien, pada bawahan. Tetapi yang keluar justru suaranya sendiri, tanpa tameng.
"Ya," katanya. "Takut."
Danu terdiam, matanya melebar sedikit. Dua puluh tiga tahun ia mengenal kakaknya, dan seingatnya, baru sekarang ia mendengar kata itu dari mulut Radit tanpa embel-embel.
"Takut sekali, Dan."