Kereta masih setengah jam lagi dari Bandung ketika Arif menyodorkan sebungkus roti isi cokelat ke pangkuan kakaknya.
"Makan, Kak."
"Nggak lapar."
"Itu bukan soal lapar. Itu soal perut Kakak kosong terus nanti bunyi pas lagi duduk di depan orangtua orang." Arif menggigit rotinya sendiri dengan sangat tenang. "Aku sudah baca di internet. Orang gugup itu perutnya berisik."
"Kamu baca apa lagi di internet?"
"Katanya jangan salaman kelamaan, jangan nangis duluan, dan jangan bilang 'maaf' lebih dari tiga kali." Arif mengacungkan tiga jari. "Aku bawa tisu. Dua bungkus."
Tari memandang adiknya dengan alis yang nyaris menyatu. Sejak berangkat dari rumah, Arif tidak sekali pun bergurau tentang Radit atau Akbar. Ia hanya mengurus hal-hal kecil: tiket, botol minum, jalur keluar kalau-kalau kakaknya mendadak ingin pulang. Tari baru sadar bahwa itu cara adiknya menyatakan sayang. Lewat tisu.
"Rif."
"Hm?"
"Makasih."
"Makan dulu rotinya, baru makasih."
Tari membuka bungkus roti itu dan menggigitnya. Rasanya manis dan sedikit hambar, dan ia menghabiskannya sampai remah terakhir.
Di peron stasiun, Nida sudah berdiri dengan kacamata hitam di atas kepala dan kunci mobil di jari telunjuk, bergoyang seperti jimat. Ia tidak melambai. Ia hanya menunggu Tari mendekat, lalu menarik sahabatnya itu ke dalam pelukan yang kuat dan singkat.
"Kamu datang," katanya di dekat telinga Tari.
"Aku datang."
"Hebat." Nida melepaskan pelukan dan menatap Arif. "Dan kamu pasti adiknya. Lebih tinggi dari foto."
"Lebih ganteng juga, Kak?"
"Jangan melunjak."
Mobil Nida berbau pengharum jeruk dan sedikit biskuit bayi. Di kursi belakang ada kursi mungil kosong yang diikat sabuk, dan Tari duduk di sebelahnya, sementara Arif di depan. Nida menyetir dengan cepat, terlalu cepat untuk jalanan menanjak, sampai Arif diam-diam memegang gagang pintu.
"Tar," kata Nida tanpa menoleh, matanya di jalan, "aku mau bilang sesuatu sebelum kita sampai. Nanti aku tidak sempat."
"Bilang saja."
"Waktu itu aku yang paling keras bilang Akbar cuma cari alasan. Ingat? Kamu menangis di kamar kosku dan aku bilang, laki-laki yang bilang bosan itu bohong atau pengecut, dan dua-duanya tidak pantas ditangisi." Nida mencengkeram setir. "Aku bilang itu dengan yakin sekali. Padahal aku nggak tahu apa-apa. Aku cuma sayang kamu dan butuh seseorang untuk disalahkan."
Tari memandang punggung kursi di depannya. "Aku juga butuh seseorang untuk disalahkan, Nid."
"Iya. Dan kita sama-sama pas, ya? Terlalu pas." Nida mendengus pelan. "Kalau nanti ternyata aku salah, aku bakal minta maaf pada Akbar. Di depan kamu. Dengan tangan di dada."
"Kamu tidak perlu."
"Perlu. Aku juga punya bagian."
Tari tidak menjawab. Ia memandang jalan yang berkelok, deretan pohon yang daunnya basah sisa hujan subuh, dan menyadari tangannya sudah lama mencengkeram tali tas. Ia melonggarkannya satu jari demi satu jari. Di kursi depan, Arif menoleh sebentar, menyodorkan tisu dari saku jaket tanpa berkata apa-apa, lalu menghadap ke depan lagi seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kamu bawa berapa tisu sih?" bisik Tari.
"Dua bungkus, Kak. Tadi sudah kubilang."
"Kamu pikir aku bakal habis dua bungkus?"
"Aku pikir Kakak nggak. Tapi aku pikir calon mertua Kakak yang..." Arif berhenti, dan Nida di depannya menoleh dengan alis terangkat. "Eh, maksudku ibunya mantan. Ibunya orang yang..."
"Arif."
"Iya, Kak. Diam."
°°°°
Rumah itu terletak di jalan yang tidak lebar, diapit deretan toko kecil yang masih menutup separuh rolling door-nya. Nida memelankan mobil, lalu berhenti di depan sebuah toko kain dengan papan kuning di atasnya. Tari membaca tulisan di papan itu dua kali.
Chasanah Batik.
Hurufnya sama dengan spanduk di stand festival, tempat ia berdiri dengan gamis hijau dan lutut gemetar, tidak tahu bahwa nama itu adalah nama rumah ibunya Akbar. Ia memandang etalase toko yang memamerkan kain sarimbit dengan warna-warna yang sudah ia kenal dari katalog Radit, dan merasa seperti orang yang baru sadar sedang berjalan di atas kalimat yang selama ini ia kira dinding.
"Rumahnya sebelah," kata Nida. "Pagar hijau. Itu."
Pagar besi itu memang hijau, sedikit mengelupas di engselnya. Rumah di baliknya bercat krem dengan teras kecil, dua kursi rotan, dan pot-pot lidah mertua yang dirawat telaten. Dari lorong sempit di sisi rumah menyeruak bau yang aneh dan hangat, seperti lilin yang dilelehkan di atas kayu. Tari pernah mencium bau itu di tubuh Akbar dulu, samar, setiap kali ia pulang dari liburan keluarga, dan baru sekarang ia tahu dari mana asalnya.
"Aku di warung seberang," Nida meremas bahunya sekilas, lalu menatap Arif. "Jaga kakakmu."
"Siap, Kak."
"Jangan panggil aku Kak. Aku belum sekuno itu."
"Siap, Tante."
Nida mencubit lengan Arif dan pergi sambil tertawa sendiri, kunci mobilnya berbunyi di kantong.
Tari berdiri di depan pagar. Tangannya terulur, namun belum menyentuh besi itu ketika pintu rumah terbuka.
Seorang perempuan berdiri di ambang pintu, mengenakan jilbab hijau lumut dan gamis rumah dari batik sederhana. Wajahnya bulat dan hangat, matanya sipit melengkung seperti bulan sabit, persis mata yang selama ini membuat Tari jengkel kalau melihatnya di wajah orang lain. Kedua tangannya saling menggenggam di depan dada, begitu erat sampai ujung jarinya memutih.
"Assalamualaikum," kata Tari. Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia rencanakan.
"Waalaikumsalam." Bu Chasanah menuruni dua anak tangga teras dengan langkah yang ditahan, seperti orang yang ingin berlari tetapi sudah berjanji untuk tidak melakukannya. Ia berhenti di balik pagar dan membukanya sendiri. "Masuk, Nak. Masuk."
Tari melangkah masuk. Arif menyusul dan mencium tangan Bu Chasanah dengan hormat yang kikuk.
"Ini adiknya? Ya Allah, ganteng. Namamu siapa, Nak?"
"Arif, Bu."
"Arif." Bu Chasanah tersenyum, lalu matanya kembali ke Tari dan senyum itu bergetar. "Tari."
"Iya, Bu."
"Ibu..." Perempuan itu menelan ludah. Tangannya terangkat setengah, lalu turun lagi. "Waktu di restoran itu Ibu memeluk kamu tanpa bertanya, dan Ibu lihat kamu kaget. Ibu sudah janji pada diri sendiri, hari ini tidak akan begitu lagi. Jadi Ibu tanya dulu. Boleh Ibu peluk kamu? Kalau tidak boleh, tidak apa-apa. Betul tidak apa-apa."
Tari terdiam. Ia menatap wajah yang bulat itu, wajah yang matanya sudah lebih dulu basah, yang sedang menunggu jawabannya seolah seluruh pagi itu tergantung padanya. Dan ia sadar, hampir empat tahun, ia mengira dirinya yang paling dilukai. Ia tidak pernah membayangkan ada ibu-ibu yang ikut menangis di ujung lain cerita itu.
"Boleh, Bu," katanya.
Bu Chasanah memeluknya, pelan dan hati-hati, seperti memeluk sesuatu yang bisa retak. Bahunya berguncang. Ia menangis tanpa suara, dan Tari berdiri kaku sesaat sebelum lengannya sendiri terangkat dan membalas.
"Maaf," bisik Bu Chasanah di bahunya. "Ibu janji tidak menangis di pagar. Akbar sudah wanti-wanti."
"Tidak apa-apa, Bu."
"Ibu sudah bertahun-tahun mau bilang sesuatu ke kamu. Setiap kali lihat foto kamu di ponsel Akbar, Ibu mau bilang." Perempuan itu melepaskan pelukan, mengusap pipinya dengan ujung jilbab, lalu memegang kedua tangan Tari erat-erat, kali ini dengan tatapan bertanya dulu, dan Tari tidak menariknya. "Tapi Ibu tidak tahu mulai dari mana."
"Dari mana saja boleh, Bu."
"Kalau begitu Ibu mulai dari yang paling penting." Bu Chasanah menarik napas. Di belakangnya, dari lorong samping, bau lilin batik itu masih mengalir, hangat dan tidak sabar. "Akbar tidak pernah bosan sama kamu, Nak. Tidak sehari pun."