"Tidak sehari pun?" ulang Tari.
"Tidak sehari pun." Bu Chasanah menyeka matanya sekali lagi, lalu seakan baru ingat sopan santun, ia tertawa kecil dan malu. "Ya Allah, Ibu ini. Tamunya masih berdiri di halaman. Sini, Nak, masuk. Tapi sebelum duduk, Ibu mau tunjukkan sesuatu. Boleh? Supaya ceritanya Ibu mulai dari tempat yang benar."
Tari melirik Arif. Adiknya sudah duduk di kursi rotan teras dengan sepiring pisang goreng yang entah kapan muncul, dan ia mengangkat jempol tanpa menoleh. Tari membiarkan Bu Chasanah menuntunnya melewati lorong sempit di sisi rumah, tempat bau lilin hangat itu berasal.
Di belakang rumah berdiri bangunan memanjang beratap seng, lebar pintunya sedikit lebih besar dari pintu garasi. Di dalamnya ada meja-meja kayu rendah, kompor kecil dengan wajan berisi malam cair, dan bentangan kain mori yang menggantung di tali seperti bendera. Sabtu begitu, pabrik itu hampir kosong. Hanya dua pembatik yang bekerja pelan di pojok, dan keduanya menunduk sopan ketika Bu Chasanah lewat.
"Ini pabrik kita," kata Bu Chasanah. "Pabrik kecil, tapi dulu Bapak yang pegang semuanya. Beli kain, hitung upah, catat utang. Semua di kepala Bapak, dan sedikit di buku itu."
Ia menunjuk sebuah buku catatan bersampul cokelat yang terselip di rak kayu dekat pintu. Sampulnya kusam dan sudut-sudutnya terlipat. Tari memandangnya, lalu pandangannya turun ke sudut gudang kain di belakang rak. Ada tikar lipat yang digulung dan disandarkan ke dinding, sebuah bantal pipih, dan sebuah selimut tipis berwarna abu.
"Itu kasur Akbar," ucap Bu Chasanah pelan. "Dua bulan."
Tari tidak bertanya apa maksudnya. Ia hanya menatap tikar itu, dan sesuatu yang selama bertahun-tahun mengeras di dadanya bergeser sedikit, seperti kayu basah yang mulai lentur.
°°°°
Di ruang tengah, Bu Chasanah menyeduh teh dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia menaruh dua cangkir di meja kayu bertaplak renda, duduk di seberang Tari, dan baru bicara setelah tehnya cukup dingin untuk disentuh.
"Sepekan sebelum wisuda Akbar, Bapak jatuh di kamar mandi. Stroke." Ia mengucapkan kata itu tanpa tekanan, seperti menyebut nama orang yang sudah lama tinggal serumah. "Ibu tidak akan cerita soal rumah sakitnya, itu urusan Ibu dan Allah. Ibu cuma mau bilang, setelah Bapak selamat, kami baru sadar rumah ini punya masalah kedua. Pemasok kain datang menagih. Tiga pemasok, utangnya besar, dan tidak ada yang tahu angkanya kecuali Bapak. Buku itu cuma setengah. Setengahnya lagi di kepala Bapak yang sekarang berbicara pun harus pelan-pelan."
"Akbar tidak pernah bilang apa-apa," ujar Tari. Suaranya terdengar jauh dari dirinya sendiri.
"Dia memang tidak mau bilang." Bu Chasanah tersenyum getir. "Dia pulang dari kosnya naik bus malam, nggak sempat ganti baju, langsung berdiri di pabrik. Ibu bilang pulang saja ke kamar, dia jawab, 'Bu, kalau saya tidur di kamar, saya nggak akan bangun jam empat.' Jadi dia tidur di gudang. Dia belajar menghitung utang dari nol, mengetuk pintu pemasok satu per satu, minta waktu. Orang-orang itu mau kasih waktu karena Bapak dulu jujur. Tapi Akbar yang berdiri di depan pintu mereka, Nak. Kamu bayangkan: anak dua puluh dua tahun, belum juga diwisuda, berdiri minta ampun atas nama kain."
Pintu depan berderit. Arif menjenguk dari ambang pintu, tidak melangkah masuk, dengan piring kosong di tangan dan remah di sudut bibir.
"Maaf, Bu. Pisang gorengnya... enak sekali. Boleh tambah?" Matanya menyapu wajah kakaknya, dan ia menurunkan suara. "Atau nanti saja."
Bu Chasanah tertawa, tawa pendek yang membuat bahunya turun. "Boleh, Nak. Duduk saja di teras, nanti Ibu suruh orang dapur mengantarnya."
"Terima kasih, Bu." Arif menatap Tari sekali lagi, memberi isyarat bahwa ia hanya sepuluh langkah dari sini, lalu kembali ke kursi rotan di teras.
"Adikmu baik," ujar Bu Chasanah. "Bapak nanti sore mau bicara sendiri sama kamu. Beliau lagi istirahat, tapi sudah dari semalam tidak bisa tidur. Ada bagian cerita yang bukan milik Ibu."
Tari meraih tasnya. Ia tidak benar-benar mengambil keputusan; tangannya hanya bergerak lebih dulu. Dari dalam tas ia mengeluarkan buku harian bersampul biru yang sudah usang di tepi, membuka halaman yang ia tandai dengan lipatan kecil, lalu mendorongnya melintasi meja.
"Ibu, saya bawa ini. Saya tidak tahu apakah boleh, tapi saya mau Ibu lihat."
Bu Chasanah mengenakan kacamata baca dari saku gamisnya dan membaca baris yang ditunjuk jari Tari.
Batal jemput lagi. Katanya Bapak kurang enak badan. Alasan.
Perempuan itu membaca kalimat itu dua kali, lalu melepas kacamatanya perlahan. "Tanggalnya?"
"Beberapa hari sebelum wisuda. Saya tidak catat angkanya, tapi..."
"Pasti sepekan sebelum Bapak jatuh." Suara Bu Chasanah serak. "Bapak memang sudah pusing berhari-hari. Beliau keras kepala, tidak mau diperiksa. Ibu waktu itu bilang jangan ke pabrik dulu, tapi beliau jawab 'sebentar, Bu, tinggal satu pesanan'. Jadi Akbar tidak bohong waktu itu, Nak. Bapak memang kurang enak badan."
Tari menutup mulut dengan punggung tangan. Ia tidak menangis, tidak tepat. Yang naik di dadanya lebih sunyi dari tangis, rasa seseorang yang baru tahu bahwa kata alasan yang ia tulis dengan tinta marah ternyata kata yang sebenarnya jujur.
"Saya menulis itu dengan kesal," bisiknya. "Saya pikir dia cuma cari-cari."
"Wajar. Dia tidak pernah bilang apa yang terjadi." Bu Chasanah menyodorkan tisu dari kotak di meja. "Dan itu salah Akbar. Ibu bilang di depan kamu langsung, itu salahnya."
"Kenapa dia tidak bilang, Bu?" Tari mengambil tisu, tetapi tidak memakainya. "Kalau dia bilang Bapak sakit, saya pasti datang. Saya pasti bantu apa pun."
"Itu yang dia takutkan." Bu Chasanah menatapnya lurus. "Akbar cerita sama Ibu, waktu itu kalian sedang bertengkar kecil soal pindah ke Bandung. Dia minta kamu ikut sesudah wisuda, dan kamu jawab..." Ia berhenti sejenak, memastikan ingatannya. "Kamu bilang, 'Aku nggak mau hidupku cuma ngikutin kamu.'"
Tari menegang. Kalimat itu muncul di kepalanya dengan jelas: sebuah sore di bawah pohon dekat gerbang kampus, angin membawa daun kering ke sepatunya, dan Akbar menatapnya seperti orang yang baru ditampar. Ia ingat marahnya waktu itu. Ia ingat juga apa yang tidak sempat ia ucapkan, bahwa ia hanya minta waktu sampai punya pekerjaan sendiri.
"Maksud saya bukan begitu, Bu," katanya lirih. "Saya cuma mau kerja dulu. Saya takut jadi orang yang tidak punya apa-apa kalau ikut."
"Ibu tahu. Sekarang Ibu tahu." Bu Chasanah menyentuh punggung tangan Tari sekilas, lalu menariknya lagi tanpa menunggu penolakan. "Tapi Akbar mendengar hal lain. Dia mendengar kamu tidak mau ikut. Padahal dia sudah tahu rumah ini mau tenggelam, dan dia tidak tega membawa kamu naik ke kapal yang bocor. Dia pikir kamu pantas dapat laki-laki yang tidak tidur di gudang kain. Jadi dia tidak memintamu menunggu. Dia tidak minta kamu ikut. Dia tidak minta kamu apa-apa."
"Lalu dia bilang bosan."
"Iya." Bu Chasanah memejamkan mata sebentar. "Dia sendiri yang bilang bosan, Nak, supaya kamu tidak mengejarnya."