Tongkat itu terdengar lebih dulu daripada orangnya. Tuk, jeda, tuk, jeda, dari lorong di samping ruang tengah, dengan irama yang sabar dan tidak mau diburu.
Pak Hamdan muncul mengenakan baju koko putih dan sarung kotak-kotak, rambutnya putih tipis dan tersisir rapi seperti orang yang menyiapkan diri sejak subuh. Satu sisi wajahnya sedikit turun, dan tangan kirinya mengepal ringan di sisi tubuh. Tapi matanya sama sipitnya dengan mata Akbar, dan ia sedang tersenyum, dan Tari berdiri dari kursinya dengan lutut yang tiba-tiba terasa lemas.
"Assalamualaikum, Bapak."
"Waalaikumsalam, Nak Tari." Suaranya pelan, setiap kata ditaruh satu per satu seperti orang menata kursi. "Jangan... berdiri. Bapak yang... harusnya hormat."
"Bapak duduk saja, saya..."
"Di teras. Bapak lebih suka... di teras."
Mereka berpindah ke teras. Bu Chasanah memapah suaminya dengan lengan yang kelihatan sudah hafal jaraknya, dan Pak Hamdan duduk di kursi rotan yang paling dekat dengan pagar. Arif sudah ada di sana, sedang mengunyah pisang goreng ketiga, dan ia buru-buru berdiri dan mencium tangan Pak Hamdan sebelum Tari sempat memperkenalkan.
"Ini adik... Tari?"
"Arif, Pak."
"Arif. Duduk. Makan." Pak Hamdan menepuk lengan kursi di dekatnya dengan tangan kanannya yang masih kuat. "Pisang gorengnya... resep istri Bapak. Empat puluh tahun... tidak ada yang berani... komentar."
Bu Chasanah mendengus. "Bapak ini."
Sesaat suasana mencair. Tari tertawa pendek, tidak menyangka masih punya tawa sore itu. Kemudian Pak Hamdan menatapnya, dan tawa itu surut dengan sendirinya.
"Nak Tari," katanya. "Bapak mau minta... maaf dulu. Baru cerita."
"Bapak tidak perlu."
"Perlu." Ia menarik napas panjang, dan Tari melihat dadanya naik dengan usaha. "Yang melarang... Akbar bicara... itu Bapak."
Tari menoleh pada Bu Chasanah, tetapi perempuan itu hanya mengangguk pelan, memberi tanda bahwa ini memang bagian yang bukan miliknya.
"Waktu itu... Bapak masih di kasur. Tangan ini..." Pak Hamdan mengangkat kepalan kirinya sedikit. "...belum bisa pegang gelas. Akbar duduk di samping Bapak, dan bilang, 'Pak, saya telepon Tari ya. Saya ceritakan semuanya.' Bapak jawab... jangan."
"Kenapa, Pak?" suara Tari tipis.
"Karena Bapak... tidak mau jadi beban... anak orang." Pak Hamdan memandang pagar hijau di depannya, seakan di sanalah ia dulu menaruh kata-kata itu. "Anak itu masih muda. Cantik. Pintar. Baru mau mulai... hidupnya. Bapak pikir... kalau dia tahu, dia pasti datang. Karena baik. Lalu dia... ikut tenggelam di rumah ini. Bapak tidak tega."
"Tapi saya tidak keberatan, Pak."
"Bapak tahu." Ia tersenyum, lemah dan jujur. "Sekarang Bapak tahu. Waktu itu... Bapak pikir yang tahu hanya Bapak. Dasar... lelaki tua. Mengira semua keputusan... harus ditanggung sendiri."
Bu Chasanah menyentuh punggung tangan suaminya, dan Pak Hamdan menepuknya sekali, lembut, lalu melanjutkan.
"Akbar patuh. Terlalu patuh. Dia tidak bilang apa-apa. Dia bilang... bosan. Itu bukan ide Bapak, Nak. Tapi itu... akibat dari larangan Bapak."
°°°°
Matahari sudah turun ke atas atap toko kain di sebelah rumah ketika Bu Chasanah menyambung bagian terakhir. Bayangan pagar memanjang di lantai teras seperti garis-garis penggaris.
"Soal pesta wisuda itu," ujarnya. "Ibu dengar dari Akbar, dan dia tidak pernah menutupinya. Dia mau kamu tahu."
"Ibu tidak perlu cerita bagian itu. Saya ingat." Tari menelan ludah. "Saya ingat semuanya, Bu."
"Kalau begitu Ibu cerita bagian yang kamu tidak lihat."
Tari mengangguk.
"Malam sebelum pesta itu, Akbar mondar-mandir di ruang tamu ini. Bapak sudah bisa duduk, dan Bapak bilang, 'Kalau mau bicara, bicara sana.' Dia berangkat pukul sebelas malam, mobil pinjaman paman. Tidak berhenti kecuali isi bensin. Sampai di sana subuh, belum mandi, belum tidur, tangannya masih bau lilin." Bu Chasanah tersenyum samar. "Dia bilang sama Ibu, 'Bu, saya cuma mau bilang yang sebenarnya, setelah itu terserah dia.'"
Tari menunduk. Ia ingat bau itu. Ia pernah mencium bau itu pada baju Akbar di pesta, saat laki-laki itu berdiri di depan pintu aula dengan kemeja kusut dan mata merah, dan ia justru berpikir: ia tidak punya hak datang ke sini dengan wajah seperti itu.
"Saya melihat dia di pintu," katanya pelan. "Teman-teman sedang foto. Saya pegang bunga. Saya pikir dia datang untuk bikin keributan, jadi saya pura-pura tidak lihat. Dia panggil nama saya tiga kali. Saya jalan terus."
"Lalu?"
"Lalu dia berteriak." Napas Tari bergetar. "'Aku nggak bosan, Tar!' Di depan semua orang. Di depan teman sekelas, dosen, orangtua. Saya malu sekali, Bu. Saya pikir dia sengaja mempermalukan saya. Dua hari sesudahnya saya blokir semuanya. Nomor, akun, semuanya."
"Dia berteriak karena itu satu-satunya cara dia bisa membuatmu dengar." Bu Chasanah tidak menyalahkan, hanya menjelaskan. "Dia sudah panggil tiga kali, kamu tidak menoleh. Dia pikir kalau tidak sekarang, kamu tidak akan pernah tahu. Cara itu salah. Ibu tidak membela. Tapi ia tidak bohong, Nak, di teriakan itu."
Tari menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Di sampingnya, Arif menaruh piring dan menyodorkan tisu tanpa suara, dan kali ini Tari mengambilnya.
Ia menangis. Tidak keras, tapi lama, dengan bahu yang bergetar dan napas yang putus-putus. Pak Hamdan memandang halaman, memberinya ruang, dan Bu Chasanah hanya duduk dekat tanpa menyentuh. Dari kejauhan terdengar bunyi pengajian dari masjid kecil di ujung gang, serak dan jauh, menunggu azan.
Sesudah beberapa lama, Tari mengangkat wajahnya yang basah. "Saya tidak mau mendengar, Pak. Waktu itu, saya yang tidak mau mendengar. Dia salah menutup mulut, saya salah menutup telinga."
"Dua-duanya... muda," kata Pak Hamdan lembut. "Dua-duanya... keras kepala."
Ia diam sebentar, mengatur napas, lalu mengangkat dagu ke arah kursi tempat Tari duduk. "Sebulan lalu... Nak Radit duduk di situ. Lihat bak pewarna, periksa kain. Dia tidak tanya macam-macam. Dia cuma tanya... Bapak minum obat atau tidak."
Tari mengangkat kepala.
"Waktu di restoran..." Pak Hamdan mencari kata, dan Bu Chasanah tidak membantunya, membiarkan ia menemukannya sendiri. "Bapak lihat matanya. Dia terluka. Tapi dia tidak teriak. Dia makan, salat, pamit. Itu... bukan hal sepele, Nak. Orang yang tidak teriak waktu sakit... itu yang jarang."
Dada Tari menyempit, bukan karena tersinggung, tetapi karena kalimat itu tepat sekali. Ia tidak sanggup menjawab.
"Saya minta maaf, Pak. Untuk Akbar. Untuk Bapak dan Ibu. Dan..." Suaranya pecah. "Untuk saya sendiri, yang empat tahun marah pada hal yang salah."
Bu Chasanah menggenggam tangannya akhirnya, hangat dan kering, dan Tari membiarkan. "Tidak ada yang perlu dimaafkan lagi di rumah ini, Nak. Sudah dimaafkan sejak lama."
Mereka diam sebentar. Lalu, dengan hati-hati, seperti orang yang meletakkan benda rapuh di atas meja yang belum pasti kokoh, Bu Chasanah berkata, "Kalau suatu hari Tari mau, Ibu dan Bapak tidak akan..."
"Bu." Tari menegakkan tubuh. Suaranya masih serak, tetapi tidak goyah. Ia menatap perempuan itu, lalu Pak Hamdan, dengan hormat yang tidak mengurangi ketegasannya. "Saya ke sini bukan untuk kembali."