Bu Chasanah tidak tersinggung. Ia hanya diam sesaat, lalu tersenyum, dan senyum itu membuat mata sabit-bulannya semakin sipit.
"Ibu tahu, Nak. Ibu cuma tidak tahan kalau tidak bilang." Ia menarik tangannya dari tangan Tari dengan lembut, seakan mengembalikan sesuatu yang dipinjam. "Seumur hidup Ibu paling tidak bisa menyimpan harapan di perut. Kalau ada, harus keluar. Kalau tidak keluar, nanti jadi masuk angin."
"Bu," tegur Pak Hamdan pelan.
"Iya, Pak. Sudah. Ibu diam."
Tari tertawa, tidak mau, tapi tawa itu lolos juga di antara sisa air mata. "Saya yang minta maaf, Bu. Saya tidak mau Ibu dan Bapak berpikir saya datang dengan harapan itu. Saya datang karena saya mau berhenti marah."
"Dan sudah berhenti?"
Tari memikirkan pertanyaan itu sungguh-sungguh. "Kemarahannya sudah tidak ada, Bu. Yang tinggal... rasa tidak enak sama diri sendiri. Itu mungkin butuh waktu."
"Itu urusan yang baik," kata Pak Hamdan. "Orang yang... masih sempat tidak enak sama diri sendiri... artinya hatinya masih hidup."
Matahari sudah hampir hilang ketika Nida muncul di pagar dengan wajah pura-pura santai. Ia melambai dari kejauhan, lalu menjemput Tari dan Arif dengan satu tangan di pinggang dan satu tangan memegang kunci. Bu Chasanah memeluk Tari sebentar lagi, kali ini setelah bertanya dan dijawab anggukan, lalu menyelipkan sekantong kecil kue kering ke tangan Arif.
"Buat di kereta."
"Terima kasih, Bu!"
"Dan Nak Tari." Bu Chasanah memegang pagar, memandang punggung mereka. "Hati-hati di jalan. Kabari Ibu kalau sudah sampai rumah."
Tari menoleh dan mengangguk, dan Nida, yang berdiri di sampingnya, ikut membungkuk sopan pada kedua orangtua itu.
"Bu, Pak," katanya. "Saya Nida. Saya... dulu galak sama Akbar. Mungkin terlalu."
Pak Hamdan mengangkat tongkatnya sedikit, tanda salam. "Galak... itu bagus. Anak muda... perlu ada yang galak."
°°°°
Malam itu Tari tidur di kamar tamu rumah Nida, di kasur lipat berseprai bunga-bunga yang berbau pelembut pakaian. Arif sudah mendengkur di ruang tengah, sebungkus kue kering masih terjepit di tangannya. Di dapur, Nida menggoyang bayi mungil di gendongan dengan satu tangan dan memegang ponsel dengan tangan lain, tempat wajah Esti muncul dengan rambut basah selesai mandi.
"Cerita," perintah Esti. "Dari awal. Jangan loncat."
Tari bercerita. Tentang rumah bercat krem, tikar lipat di gudang kain, buku catatan cokelat yang separuh isinya ada di kepala seorang laki-laki yang kini bicara pelan. Tentang halaman buku hariannya yang ternyata salah ia baca selama empat tahun. Tentang teriakan di depan aula, dan bagaimana kata bosan itu bukan kata bosan sama sekali.
Esti diam lama setelah ia selesai. Tidak ada keripik di tangannya malam ini.
"Jadi dia orang baik," katanya akhirnya.
"Dia orang baik yang membuat keputusan buruk," tukas Nida sambil menepuk punggung bayinya.
"Dua-duanya bisa benar, Nid."
"Aku tahu. Aku cuma mau dia diberi hukuman kecil. Sedikit saja."
"Dia sudah tidur dua bulan di gudang kain," kata Tari. "Hukumannya sudah banyak."
Nida terdiam, lalu menghela napas dan menunduk pada bayinya dan tidak membantah lagi.
"Tar." Esti memajukan wajah ke kamera. "Bu Chasanah tadi bilang sesuatu soal isyarat?"
"Tidak. Akbar yang bilang, di kafe. Dia bilang empat kali bertemu itu isyarat dari Allah." Tari menatap meja dapur. "Dan sekarang aku pikir, mungkin memang isyarat. Tapi bukan yang dia maksud."
"Isyarat apa?"
"Isyarat supaya aku mendengar. Supaya aku berhenti membawa cerita yang separuh. Memaafkan itu... bukan memilih. Dua-duanya berbeda. Aku bisa memaafkan Akbar sampai habis dan tetap tidak kembali."
Nida mengangkat kepalanya. Esti tersenyum dengan mata yang basah. "Nah. Itu baru Tari."
"Jangan keputusan di kereta," kata Nida mengingatkan.
"Iya, aku ingat. Satu malam tidur dulu."
°°°°
Kereta pulang bergerak melewati sawah-sawah yang ditimpa cahaya pagi pucat. Arif duduk di sebelah jendela dengan sisa kue kering di pangkuan, pura-pura tidur, dan gagal.
"Kak."
"Hm?"
"Aku dengar semuanya. Kemarin. Di teras."
"Aku tahu. Kamu duduk dua meter dari kami."
"Aku nggak sengaja pura-pura nggak dengar." Arif membuka matanya sekarang. Wajahnya serius, dan Tari baru sadar bahwa adiknya sudah lama tidak memanggilnya dengan nada itu. "Aku bangga sama Kakak. Waktu Kakak bilang 'Saya ke sini bukan untuk kembali' kemarin, di depan orangtua mantan, sambil nangis, aku pikir, wah. Kakak ini keras kepala sekali. Tapi bagus."
"Kamu mau aku nangis di kereta?"
"Enggak. Aku cuma mau bilang itu."
Tari menahan senyum, lalu memalingkan wajah ke jendela. Kepalanya tidak lagi berisik seperti sebelum berangkat. Ada ruang di dalamnya, tapi ruang itu berisi sesuatu yang lain, sesuatu yang menunggu untuk dinamai.
Ia memeriksa hatinya, seperti Papa pernah menyuruh: pelan, tanpa membela diri. Terhadap Akbar ia menemukan nostalgia yang hangat dan agak sedih, seperti saat membuka kotak lama berisi surat. Itu nyata, dan ia tidak akan berbohong tentangnya. Tetapi ketika ia membayangkan halaman masjid dan laki-laki berkemeja putih yang bilang jarak dengan suara tenang, ada yang menekan di bawah tulang rusuknya, yang jauh lebih tajam dari nostalgia mana pun. Rasa takut kehilangan.
Pramugara kereta lewat mendorong troli, menawarkan kopi dan mi gelas dengan suara serak yang sudah hafal. Arif membeli dua gelas kopi tanpa bertanya, menaruh satu di meja lipat kakaknya, dan Tari menatap uap tipis yang naik dari gelas itu sambil mengingat kalimat Pak Hamdan di teras. Orang yang tidak teriak waktu sakit, itu yang jarang. Ia sendiri tidak yakin Radit sedang tidak sakit. Mungkin laki-laki itu hanya sedang pandai menyimpannya.
Ia mengeluarkan ponsel dan membuka catatan. Satu malam sudah lewat, seperti pesan Nida. Keputusan ini juga bukan keputusan memilih siapa pun. Ini keputusan berhenti menyimpan.
"Rif."
"Hm?"
"Aku mau menulis surat untuk Mas Radit."
"Bukan pesan?"
"Pesan terlalu cepat. Orang bisa membalas sambil marah." Tari menggeleng. "Mas Radit bilang kabar hanya yang perlu, lewat Danu atau satu pesan. Surat ini perlu. Tapi kalau kutulis sebagai pesan, kedengarannya seperti aku menuntut dijawab. Aku nggak mau menuntut apa-apa."
"Terus isinya apa?"
"Semuanya. Mulai dari festival. Bagian Akbar, bagian Gita, bagian aku yang diam-diam senang karena Mas Radit percaya." Ia menarik napas. "Dan tidak ada pembelaan."
Arif menimbang itu lama, mengunyah sisa kue keringnya. "Susah, Kak. Orang kalau nulis surat maaf biasanya ada kata 'tapi' di tengah-tengah."
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari semua surat maaf yang pernah kutulis untuk Mama."
Tari tertawa pendek. Itu tawa yang tidak ia rencanakan, dan sejenak gerbong terasa lebih ringan. Lalu Arif menyodorkan sebungkus tisu yang belum tersentuh, dan wajahnya kembali serius.
"Tulis yang jujur aja, Kak. Jangan yang bagus."
Tari mengetik dua kata di baris pertama, menghapus dan mengetiknya lagi, sampai akhirnya bertahan.
Mas Radit,