Papa membaca surat itu dengan pensil di tangan kanan dan segelas teh di tangan kiri, dan sudah tiga kali ia menurunkan pensilnya ke kertas.
Tari duduk di seberang meja makan, menunggu dengan jari-jari yang saling meremas. Jam dinding menunjukkan pukul enam lewat sepuluh. Dari dapur terdengar Mama mengaduk sesuatu dengan sendok kayu, terlalu keras untuk sekadar sarapan. Surat itu sudah dua malam ia kerjakan sesudah pulang dari Bandung, tiga halaman bolak-balik di kertas bergaris, dan sekarang di halaman kedua terdapat sebuah coretan lurus yang memotong satu kalimat penuh.
"Pa."
"Sebentar."
"Pa, itu bagian yang paling..."
"Sebentar, Tari." Papa tidak mengangkat kepalanya. "Papa belum selesai."
Tari mengatupkan bibir. Dari tempat duduknya ia bisa membaca terbalik kalimat yang dicoret itu, dan ia menyesal sudah menulisnya: Aku tidak pernah bermaksud menyakiti Mas, aku hanya takut kehilangan.
Papa membalik ke halaman ketiga, mencoret sekali lagi, lalu meletakkan pensil di atas kertas dan menyilangkan tangan.
"Dua kalimat," katanya. "Papa hanya mencoret dua kalimat."
"Kenapa dicoret, Pa? Itu kan benar. Aku memang tidak bermaksud menyakiti."
"Bukan soal benar atau tidak. Soal fungsinya." Papa menunjuk kertas dengan ujung pensil. "Coba baca ulang: 'Aku tidak pernah bermaksud menyakiti Mas.' Kalimat itu tidak memberi tahu apa-apa kepada Radit. Dia sudah tahu kamu tidak bermaksud. Kalimat itu cuma meminta Radit berkata, 'Ya, aku tahu.' Itu bukan penyesalan, Nak. Itu permintaan dibenarkan."
Dari dapur, sendok kayu berhenti berbunyi.
"Alasan itu menjelaskan, pembelaan itu minta diampuni," lanjut Papa. "Alasan dan pembelaan sering bunyinya mirip, tetapi pembelaan selalu ada 'tapi' di tengahnya, walau tidak ditulis. Di kalimat pertama yang Papa coret, 'tapi'-nya tersembunyi. Aku tidak bermaksud, tapi... aku takut. Kamu menulis alasanmu sebagai tameng."
"Jadi aku tidak boleh bilang aku takut?"
"Boleh. Tulis saja takut. Jangan tulis takut supaya dia mengerti kamu tidak jahat." Papa mendorong surat itu kembali kepadanya. "Beda halus, tetapi Radit akan merasakannya. Orang yang pernah dikhianati sahabat ayahnya tahu betul beda antara orang yang menjelaskan dan orang yang membujuk."
Tari menarik kertas itu ke depannya dan menatap kedua coretan lurus tadi. Ia belum pernah merasa begitu telanjang oleh dua garis pensil.
"Satu lagi," tambah Papa, nadanya melunak. "Kamu menulis dengan sangat rapi. Terlalu rapi. Hapus satu paragraf penutup yang indah itu, dan biarkan suratnya berhenti di tempat ia sebenarnya berhenti."
"Berhenti di mana?"
"Di 'Aku menyesal'. Tidak perlu 'semoga'. Tidak perlu 'jika Mas berkenan'." Papa meneguk tehnya. "Surat ini bukan permintaan. Ini laporan."
Mama muncul di pintu dapur dengan sendok kayu masih di tangan. Matanya merah. "Papa terlalu keras."
"Papa sudah lunak, Ma."
"Papa bilang 'laporan' pada anak yang menulis surat sambil menangis dua malam."
"Karena Papa mau Radit membacanya sebagai tanggung jawab, bukan rengekan." Papa menoleh pada istrinya dengan tatapan yang tidak keras sama sekali. "Kalau Mama yang menulis, apa Mama mau dikasihani atau dipercaya?"
Mama membuka mulut, menutupnya, lalu menggerutu pelan dan kembali ke dapur.
°°°°
Surat itu selesai ditulis ulang di kantor Berlian Bank pada jam makan siang, di meja CS 02 yang ditinggalkan nasabah terakhir, dengan pulpen hitam pinjaman Gita dan papan Istirahat berdiri di sudut meja. Tari mengetik isinya ke ponsel, menyalin dengan tangan karena ia tidak mau Radit menerima sesuatu yang berbau salin-tempel, lalu memasukkannya ke amplop putih polos tanpa nama.
Isinya empat hal pokok, belum termasuk satu paragraf pendek di akhir. Ia menuliskan urutan kejadian dari hari festival sampai hari restoran, tanggal demi tanggal tanpa dihias. Ia menuliskan kebohongannya dengan nama aslinya, tidak diperhalus menjadi kekeliruan atau kesalahpahaman. Ia menuliskan alasannya: takut dikira belum selesai dengan masa lalu, takut ditinggalkan, dan satu alasan yang paling memalukan, yaitu ia senang saat Radit percaya. Dan ia menuliskan penyesalannya, pendek, dua kalimat. Aku salah, Mas. Aku menyesal.
Gita lewat membawa dua map dan berhenti di sisi meja. Ia tidak bertanya. Ia hanya melirik kertas yang dilipat tiga, lalu melirik wajah Tari, dan menaruh sebutir permen jahe di samping pulpen.
"Buat tenggorokan," katanya. "Orang habis menulis surat selalu seret."
"Aku tidak bilang aku menulis surat."
"Tidak perlu. Aku sudah dua tahun duduk di meja sebelah." Gita tersenyum, lalu mengetuk meja dua kali dengan buku jarinya dan pergi.
Tidak ada permintaan balik. Tidak ada kalimat terakhir yang indah. Surat itu berhenti di titik, seperti kata Papa.
Pukul lima kurang sepuluh, Pak Dirman membukakan pintu kaca bank dengan hormat yang sedikit lebih lama dari biasanya, dan di bawah pohon trembesi di halaman Tari menemukan Danu duduk di motor bebek hijau dengan helm di pangkuan.
"Mbak Tari."
"Danu." Tari berhenti dua langkah darinya. Dua langkah, ukuran yang akhir-akhir ini ia kenal terlalu baik. "Terima kasih sudah mau menunggu."
"Santai, Mbak. Wawancaraku belum ada kabar, jadi aku jadi pengangguran terhormat." Danu menurunkan helm. "Mbak mau titip sesuatu, kan? Arif sudah bilang."
Tari mengeluarkan amplop dari tasnya dan menyodorkannya dengan dua tangan. Danu menerimanya, dan dari cara ia memegangnya, jari-jarinya hati-hati, tidak menekan, Tari tahu laki-laki muda itu mengerti benda apa yang dipegangnya.
"Ini surat untuk Mas Radit. Kalau Mas Radit tidak mau membaca, tidak apa-apa. Tolong jangan paksa. Bilang saja ini dari aku, dan aku tidak minta dijawab."
"Mbak yakin tidak minta dijawab?"
"Yakin."
"Karena Mas Radit itu..." Danu menggaruk belakang kepala. "Mas Radit tanya aku dua kali, Mbak makan atau tidak. Terus dia bilang, 'Itu bukan bertanya, itu memastikan.' Aku bilang Mas, itu persis bertanya."
Tari tidak tahu harus tertawa atau menangis, dan akhirnya melakukan keduanya sekaligus dengan satu tarikan napas pendek. "Bilang pada Mas Radit, aku makan. Tiga kali. Dengan tambahan roti."
"Itu bagian dari surat?"
"Itu bukan bagian dari surat. Itu pesan lisan. Satu saja."
"Dicatat." Danu memasukkan amplop ke dalam tasnya dan menutup resletingnya dengan serius. Kemudian ia menatap Tari, wajah mudanya tiba-tiba kehilangan separuh slengean-nya. "Mbak, aku nggak janji dia baca."
"Aku tahu."
"Mas Radit itu orangnya... kalau lagi takut, dia bisa menyimpan sesuatu sampai berbulan-bulan tanpa dibuka. Aku nggak mau Mbak berharap."
"Aku tidak berharap, Danu." Tari tersenyum, lelah dan jujur. "Aku hanya mau dia punya kertasnya. Kalau suatu hari dia mau membaca, kertasnya sudah ada."
Danu menyalakan motor, memakai helm, lalu berhenti sebentar sebelum menarik gas. "Mbak."
"Iya?"
"Kalau Mbak mau tahu, pekan lalu Mas Radit melingkari tanggal di kalender dapurnya, malam hari. Pakai tinta biru. Aku nggak tahu tanggal berapa. Tapi dia nulis satu kata di sebelahnya."
"Kata apa?"
Danu tersenyum samar, tidak menjawab, dan motor hijau itu bergerak menjauh meninggalkan Tari di bawah pohon trembesi dengan tangan kosong.