Amplop putih itu sudah sehari di dashboard mobil Radit, tergeletak di bawah kaca depan seperti tamu yang tidak berani masuk.
Danu menyerahkannya Selasa sore, di teras rumah Nur, dengan tatapan yang tidak seperti biasanya. Tanpa kelakar, tanpa senyum miring. Hanya kalimat pendek: "Dari Mbak Tari. Dia bilang tidak minta dijawab." Lalu satu kalimat lagi, yang Radit tidak mengerti kenapa membuat telinganya terasa panas: "Katanya dia makan. Tiga kali. Dengan tambahan roti."
Radit sudah menjawab "terima kasih" dan memasukkan amplop itu ke tasnya tanpa membukanya. Rabu ia memindahkannya ke dashboard, supaya terlihat. Kamis siang, sehabis salat Zuhur, ia masih duduk di mobil yang diparkir di sebelah musala kecil dekat kantor, mesin mati, kaca separuh terbuka, dan amplop itu masih utuh.
Ini bukan soal berani. Radit tahu itu. Ia bisa berdiri di depan sepuluh klien tanpa gemetar, menegur pemasok yang berbohong, menandatangani kontrak bernilai ratusan juta. Tetapi di depan satu amplop putih tipis, ia merasa tangannya seperti milik orang lain.
Seseorang mengetuk kaca jendelanya. Dewi berdiri di sana dengan kantong plastik berisi nasi bungkus dan raut wajah yang sengaja dibuat datar.
"Pak. Kino mencari Bapak dari tadi. Saya bilang Bapak sedang rapat."
"Dengan siapa?"
"Dengan Allah, Pak. Di musala. Kino langsung diam." Dewi mengulurkan kantong itu lewat celah kaca. "Bapak belum makan siang. Dari semalam, saya kira."
"Saya belum lapar, Dewi."
"Justru itu, Pak." Dewi tidak menurunkan tangannya. "Orang yang bilang tidak lapar sebelum urusan besar, nanti pingsan di tengah urusannya."
Radit menerima kantong itu. "Terima kasih. Lima belas menit lagi saya masuk."
"Dua puluh, Pak. Saya beri bonus lima menit." Dewi berbalik dan melangkah pergi, lalu menoleh sekali. "Itu amplop dari Mbak Tari, ya, Pak?"
"Dewi."
"Saya tidak lihat apa-apa. Saya cuma bilang itu amplop."
Radit menunggu sampai langkah Dewi hilang. Lalu ia mengambil amplop itu dan merobek ujungnya dengan jari, pelan.
Tiga lembar kertas bergaris, tulisan tangan Tari yang miring ke kanan. Ia mengenalinya dari jawaban-jawaban lamanya. Ia mulai membaca.
Mas Radit,
Aku menulis ini bukan untuk meminta dijawab. Aku menulis supaya Mas punya semuanya dalam urutan yang benar, karena selama ini Mas hanya mendengarnya dari orang lain.
Radit membaca terus. Surat itu tidak berbelit. Hari festival: Akbar berdiri di belakangnya, mereka bernegosiasi, ia setuju berbohong. Hari-hari sesudahnya: Gita, Papa, Mama, kafe seberang bank, empat kali ia mulai mengaku dan empat kali ia mundur. Tiap kali ada alasan yang berbeda, dan Tari menulis semuanya, termasuk yang memalukan, termasuk yang tidak membuatnya terlihat baik. Dengan kalimat pendek, nyaris tanpa kata sifat.
Aku berbohong. Bukan salah paham, bukan lupa, bukan keadaan yang memaksa. Aku memilih berbohong di festival itu, dan aku memilih tidak mengaku setiap kali ada kesempatan. Pilihan-pilihan itu milikku.
Radit berhenti di kalimat itu. Ia membacanya sekali lagi. Pilihan-pilihan itu milikku.
Selanjutnya Tari menulis alasannya. Takut Mas mengira ia belum selesai dengan masa lalu. Takut ditinggalkan, seperti yang pernah terjadi. Dan satu alasan terakhir, yang membuat Radit menurunkan kertas itu sebentar ke pangkuan: Aku juga senang, Mas. Waktu Mas percaya padaku, aku senang. Aku tidak mau kehilangan perasaan itu. Itu alasan paling jelek di antara semuanya, dan aku menuliskannya karena itu benar.
Di halaman ketiga ada satu paragraf pendek tentang Bandung. Ia pergi sendiri, bersama adiknya, bukan untuk Akbar, melainkan untuk mendengar kebenaran empat tahun lalu supaya ia berhenti marah pada orang yang salah. Ia sudah mendengarnya. Ia tidak akan menceritakannya kepada Radit kecuali Radit bertanya, karena itu cerita Akbar dan bukan cerita mereka berdua.
Surat itu berhenti di dua kalimat.
Aku salah, Mas. Aku menyesal.
Tanpa kata maaf. Tanpa kata semoga. Tanpa permintaan untuk apa pun.
Radit tidak bergerak untuk waktu yang lama. Kaca mobil yang terbuka membiarkan angin siang masuk, dan ia merasakannya di pelipis.
Ia sudah menyiapkan dirinya untuk surat pembelaan. Untuk alasan panjang yang membuatnya merasa bersalah karena marah. Untuk kata mohon yang tertata, yang membuat ia tidak punya pilihan selain memaafkan. Ia sudah menyiapkan penolakan untuk semua itu, karena ia tahu bagaimana ia akan menolak. Tetapi surat ini tidak meminta apa pun darinya, dan karena itu tidak ada yang bisa ia tolak.
Kebohongan Tari lahir dari takut kehilangan, bukan dari niat menipu. Ia tahu itu sekarang, dengan kejelasan yang menyakitkan, karena ia membaca hal yang sama persis di dalam dirinya sendiri sebulan terakhir. Ia pun menunda mendengar karena takut. Ia pun menetapkan jarak karena takut. Perbedaannya hanya satu: Tari menuliskan ketakutannya sebagai kesalahan, sedangkan ia menamai ketakutannya kebijaksanaan.
°°°°
Nur membuka pintu rumahnya pukul empat sore, dan hanya dengan melihat wajah anaknya ia tahu bahwa surat itu sudah dibaca. Ia tidak bertanya. Ia menyiapkan dua gelas teh, meletakkannya di meja makan kayu yang sama tempat Radit duduk sejak kecil, dan duduk di kursinya sendiri dengan tangan terlipat.
Radit meletakkan amplop yang sudah terbuka di antara dua gelas itu.
"Dibaca," kata Nur.
"Tiga kali, Bu."
"Satu kali di mobil?"
"Satu di mobil, satu di musala, satu lagi tadi di kantor sambil pura-pura membaca kontrak." Radit menggeleng. "Dia tidak membela diri, Bu. Sedikit pun. Aku sudah menyiapkan diri untuk pembelaan, dan aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada."
Nur mendorong salah satu gelas lebih dekat pada Radit. "Kenapa tidak tahu?"
"Karena kalau ada pembelaan, aku bisa menolaknya. Kalau tidak ada, yang tersisa cuma..." Radit mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. "Cuma kebenarannya. Dan kebenarannya, Bu, Tari bohong karena takut. Persis seperti aku tidak mau mendengar karena takut."
"Kamu baru sadar itu?"
"Aku baru berani mengucapkannya."
Nur menyeruput tehnya perlahan, matanya mengamati wajah putra sulungnya dengan keteduhan yang sama seperti ketika Radit kecil pulang dengan lutut berdarah dan berkata tidak sakit. "Radit. Dulu ayahmu bilang, orang yang pandai menghukum orang lain biasanya sedang menghindari menghukum dirinya sendiri."
"Ibu tidak pernah cerita itu."
"Ibu menyimpannya sampai kamu perlu." Nur meletakkan cangkir. "Jawab suratnya."
"Aku sudah bilang jarak, Bu. Sampai batas tiga bulan. Enam belas hari lagi."
"Betul. Dan kamu juga bilang kabar hanya yang perlu." Nur menatapnya lurus. "Surat yang dikirim dengan tangan gemetar itu perlu dijawab. Satu kalimat saja, Nak. Bukan jawaban akhir. Hanya kabar bahwa suratnya sampai."
°°°°
Malam itu, di meja jati yang masih terasa baru, Radit menulis pesan untuk Tari tiga kali.
Draf pertama terlalu panjang. Ia menulis tentang takutnya, tentang cemburu, tentang rasa bersalah karena ia pun ikut menunda, dan ketika selesai ia sadar itu sebuah pidato, bukan pesan. Ia menghapusnya. Draf kedua terlalu dingin. Satu kalimat formal seperti balasan surel kantor: Surat telah saya terima. Ia mengernyit dan menghapusnya sebelum selesai mengetik titik. Draf ketiga ia tulis dengan mata terpejam sebentar, lalu ia membuka mata dan membiarkan jarinya mengirim sebelum otaknya sempat menawar.
Raditya Hermanto: Saya sudah membaca. Terima kasih. Saya belum bisa menjawab.
Pesan itu terkirim. Radit memasukkan ponselnya ke sakunya dan menyadari satu hal: ia baru saja melanggar jarak yang ia tetapkan sendiri. Hanya satu kali, dengan sadar, dan ia akan mengakuinya bila ditanya. Surat harus dijawab. Itu bukan kelemahan. Itu aturan yang lebih tua dari aturannya.
Ponselnya bergetar sebelum ia sempat berdiri.
Lestari Ayu: Aku mengerti.
Hanya itu. Tanpa tambahan, tanpa tanda baca selain titik, tanpa permintaan. Radit memandangi dua kata itu lama sekali, lalu membacanya sekali lagi dari awal.