Melati selalu memasak kalau cemas, dan pagi itu dapur rumahnya sudah berbau seperti toko kue yang kelewat rajin.
Tiga loyang lapis legit sudah dingin di meja, bolu pandan setengah matang masih di oven, dan ia sedang menata nastar di toples ketika Rosidi masuk dengan koran terlipat di ketiak.
"Ma."
"Hm."
"Mama mau buka toko?"
"Mama mau bawa oleh-oleh." Melati menutup toples dengan bunyi klik yang agak keras. "Ke rumah Nur."
Rosidi meletakkan korannya. Ia memandang tiga loyang itu, lalu istrinya, lalu mengangkat satu alis, gerakan kecil yang sudah Melati kenal selama hampir tiga puluh tahun. "Ma. Radit yang minta jarak, bukan Nur."
"Mama tahu. Mama tidak mau membicarakan Radit." Melati menyeka tangannya di celemek. "Mama mau bicara dengan Nur, dengan Nur sebagai Nur, bukan sebagai ibu-nya Radit. Sudah hampir lima belas tahun kami tidak berkabar, Pa, dan begitu tersambung lagi, Mama justru berbohong kepadanya soal hujan. Mama malu sekali."
"Papa tahu."
"Jadi jangan larang Mama."
"Siapa yang melarang?" Rosidi tersenyum. "Papa cuma mau bilang, kalau bolunya gosong, Papa makan sendiri."
Melati melotot, tapi sudut bibirnya naik. Ia berbalik dan membuka oven tepat pada waktunya.
°°°°
Rumah Nur masih seperti yang ia ingat dari kunjungan pertama: pagar pendek bercat putih, motor bebek hijau terparkir di bawah atap kanopi, dan di seberang jalan, rumah Radit yang lebih besar tampak sunyi dengan pintu tertutup. Melati melirik rumah itu sekilas dan buru-buru mengalihkan pandang. Ia tidak boleh memikirkan laki-laki yang sedang menunggu batas tiga bulan di dalam sana.
Nur sudah berdiri di teras ketika ia turun dari taksi, dengan jilbab terbaiknya, warna biru muda yang dulu pernah Melati puji, bukan jilbab rumah yang biasa ia pakai.
"Mbak."
"Nur."
Mereka berdiri berhadapan dua langkah. Melati menggenggam kantong plastik lapis legitnya sampai kukunya memutih, dan ia merasa bodoh: perempuan lima puluh tahun lebih, membawa kue, dan tidak tahu harus bicara apa.
"Aku mau minta maaf," katanya cepat. Kalimat itu lari keluar sebelum ia sempat mengaturnya. "Waktu di telepon dulu, aku bilang Tari tidak datang karena hujan. Padahal tidak hujan. Dia tidak datang karena ketakutan. Aku tahu semuanya, dan aku bohong, Nur. Aku bohong ke kamu, ke besanku sendiri."
Nur diam sebentar. Lalu ia membuka kedua tangannya, bukan untuk mengambil kantong kue, melainkan lebar-lebar, seperti membuka pintu.
"Mbak. Aku sudah tahu itu bukan hujan sejak malam itu."
"Kamu tahu?"
"Aku cuma tidak bertanya." Nur tersenyum, getir. "Itu salahku. Dari semua orang yang tahu ada yang tidak beres, aku yang paling lama mendengar dan paling sedikit bertanya. Aku bilang pada diriku, mungkin Mbak punya alasan, mungkin besok juga cerita. Aku takut mendengar jawabannya. Mbak takut mengaku, aku takut mendengar. Kita berdua..." Ia menggeleng pelan. "Lima belas tahun kita kehilangan kabar karena sama-sama sungkan. Aku tidak mau kehilangan lagi karena sama-sama malu."
Melati tidak ingat siapa yang melangkah lebih dulu. Yang ia ingat hanyalah bahu Nur di pipinya, kantong lapis legit yang jatuh ke lantai teras dengan bunyi dug yang lembut, dan suara tangis yang ternyata miliknya sendiri. Mereka berpelukan lama, dua perempuan setengah baya di teras yang cat berandanya mulai mengelupas, menangis dengan cara yang tidak ditahan, sampai seorang tetangga yang lewat dengan motor tersenyum dan sengaja melambatkan laju.
"Kuenya jatuh," kata Melati akhirnya, dengan hidung tersumbat.
"Lapis legit tidak apa-apa jatuh. Dia padat."
"Kamu bercanda."
"Iya, bercanda." Nur tertawa sambil mengusap pipi. "Ayo masuk, Besan. Aku sudah buat teh."
°°°°
Mereka duduk di ruang makan, di meja kayu tua yang dikelilingi kursi dengan alas bantal rajut, dan di tengahnya lapis legit yang baru dipotong dengan pisau kue. Nur menuang teh. Melati memegang cangkirnya dengan dua tangan dan menunggu kalimat yang paling ingin ia ucapkan menemukan jalan keluarnya.
"Nur."
"Hm."
"Soal Radit."
Nur meletakkan teko. Wajahnya tidak berubah, hanya matanya yang menjadi lebih teduh. "Mbak mau minta aku bicara kepada Radit."
"Aku mau minta Radit diberi kesempatan." Melati menunduk. "Tari tidak jahat. Dia bodoh dan penakut, tapi tidak jahat. Dia sudah menulis surat, Pa yang mencoret-coretnya, dan yang tersisa hanya kejujuran. Aku... aku tidak minta apa pun darimu, Nur, aku tahu ini bukan urusanku, tapi..."
"Mbak." Nur memegang punggung tangannya di atas meja. "Itu keputusan Radit. Aku ibunya, bukan pengatur hatinya."
"Tapi kamu bisa..."
"Aku bisa bicara, dan aku sudah. Aku sudah bilang pada Radit, jawab suratnya, dan dia menjawab satu kalimat. Itu yang bisa kulakukan." Nur menarik napas. "Radit membaca surat itu tiga kali, Mbak. Satu di mobil, satu di musala, satu di kantor sambil pura-pura membaca kontrak. Dia bilang padaku sendiri. Anak itu tidak pernah mengakui apa pun dalam tiga kali baca. Biasanya sekali, lalu dia putuskan."
Melati merasakan sesuatu mengembang di dadanya, hangat dan berbahaya. "Berarti dia..."
"Berarti dia sedang berpikir. Hanya itu yang bisa kukatakan dengan jujur." Nur mengangkat satu jari sebelum Melati sempat tersenyum. "Jangan tersenyum dulu, Mbak. Kalau Mbak berharap lebih dari yang bisa kuberikan, Mbak akan menderita lebih dari yang perlu."
Melati menatap sahabat lamanya, perempuan yang dulu di kampus selalu lebih tenang darinya, lebih sabar, lebih cepat memaafkan. Lima belas tahun tidak mengubah itu. Hanya membuatnya lebih jelas.
"Kamu sudah tua, Nur."
"Kamu juga, Besan."
"Aku tidak tua. Aku... berpengalaman."
Nur tertawa terbahak-bahak, pertama kali sepagi itu, dan Melati ikut tertawa, dan lapis legit di piring mereka menjadi saksi bahwa dua perempuan yang pernah berpelukan sambil menangis kini bisa berdebat soal siapa lebih tua.
°°°°
Tari menunggu di teras ketika Melati pulang, duduk di kursi bambu dengan kerudung rumah dan buku harian di pangkuan yang ditutup dengan ibu jarinya sebagai pembatas. Hari sudah sore, dan di halaman tetangga seseorang menyapu daun-daun kering ke tumpukan.
"Ma."
"Mama sudah ke rumah Nur."
"Aku tahu. Mama pergi dengan tiga loyang." Tari tidak tersenyum. "Bagaimana?"
Melati duduk di sampingnya, menarik napas, dan memutuskan untuk jujur sebisanya. "Kami menangis. Lama sekali. Terus ketawa. Nur bilang Radit membaca suratmu tiga kali."
Tari menahan napas. Melati melihat jari-jarinya mengencang di sampul buku.
"Tapi Nur bilang jangan berharap, Tari. Dia bilang Radit hanya sedang berpikir. Mama tidak mau kamu menunggu terus kalau..."
"Aku tidak akan menunggu terus, Ma." Tari menoleh, dan di matanya ada ketenangan yang membuat Melati terdiam. "Aku akan menunggu sampai batas yang Mas Radit tetapkan. Tiga belas hari lagi. Sampai di hari itu aku tidak akan menuntut apa pun, tidak bertanya apa pun, tidak mengirim apa pun. Kalau dia melepas, aku terima. Kalau dia tidak, aku terima. Aku hanya mau menunggu dengan benar."
"Dengan benar itu bagaimana?"
"Tidak sambil berharap dia mengasihani aku." Tari tersenyum kecil. "Aku masih punya pekerjaan, punya Danu yang harus dilatih, punya Gita yang akadnya sebentar lagi. Aku tidak mau menjadikan tiga belas hari ini hanya jam pasir."
Melati memandang anak semata wayangnya, dan untuk sesaat ia melihat gadis kecil yang dulu menangis karena sepatu barunya berlumpur, dan perempuan dewasa yang kini duduk di depannya, dan menyadari bahwa keduanya adalah orang yang sama.
"Kamu mirip Papa," katanya serak.
"Mama juga, tanpa Mama sadar." Tari menyandarkan kepala sebentar di bahu ibunya, hanya sekejap. "Kuenya enak?"
"Jatuh di teras, tapi Nur bilang lapis legit padat."
Tari tertawa pelan. Ponselnya bergetar di atas sampul buku harian, dan Melati sempat melihat nama Danu di layar sebelum anaknya membuka pesan itu.
Danu: Mbak, Mas Radit bilang Rabu ia ke bank untuk urusan rekening kantor. Katanya Mbak jangan kaget, dan Mbak boleh minta dilayani Mbak Gita. Aku cuma kurir.
Tari membacanya dua kali. Lalu ia mengetik jawaban, menghapusnya, mengetik lagi.
Lestari Ayu: Bilang aku tidak akan lari. Aku akan tetap di meja CS 02.