Pukul sepuluh lewat lima belas, pintu kaca Berlian Bank bergeser terbuka, dan Pak Dirman, yang sedang membagikan nomor antrean dengan tangan kanan, berhenti di tengah gerakan.
"Lho. Pak Radit."
Tari tidak menoleh. Ia sudah memutuskan sejak pagi, sejak membuka laci dan merapikan alat tulis di mejanya dengan ketelitian yang tidak perlu, bahwa apa pun yang masuk lewat pintu itu hari ini, ia akan terus menatap layar komputernya. Layar itu menampilkan formulir keluhan kartu debit yang sudah ia baca empat kali tanpa menyerap satu kata pun.
"Assalamualaikum, Pak Dirman."
"Waalaikumsalam, Pak. Mau ke Mbak Tari?" Pak Dirman memakai logat Jawa yang membuat tiap kalimatnya terdengar seperti pertanyaan polos. "Nomor antrean piyé, Pak?"
"Pembukaan rekening giro, Pak. Untuk kantor. Kata Mbak Gita tadi pagi, nomor satu."
"Mbak Gita! Ya sudah, silakan, silakan."
Suara itu, tenang dan datar, suara yang dulu, beberapa bulan lalu, mengucapkan saya yakin kita berjodoh di meja ini, kini hanya berjarak enam meter darinya. Tari menggeser kursor tanpa tujuan. Kemeja putih bergaris biru terlihat di sudut matanya, langkah yang tidak tergesa, dan map biru yang dikepit di lengan kiri.
Gita sudah berdiri di mejanya. "Pak Radit. Silakan duduk."
Radit mengatupkan kedua tangan di depan dada, dan Gita membalasnya dengan senyum profesional yang sedikit kaku. Ia duduk di kursi nasabah di meja CS 01, membelakangi meja nomor dua, dan Tari menyadari bahwa itu pasti disengaja. Radit memilih kursi yang tidak memaksanya melihat atau dilihat.
Hanya ada satu pembatas kaca setinggi bahu di antara kedua meja itu.
Tari memandangi layarnya. Di belakang kaca itu terdengar suara Gita menjelaskan syarat, suara Radit menjawab satu per satu: akta pendirian, NPWP, KTP direktur. Datar, jelas, pendek. Dan dalam tiga menit pertama, Tari menghitung bahwa Radit tidak sekali pun berhenti di tengah kalimat.
Lalu, ketika Gita menyodorkan formulir dan meminta tanda tangan, Radit menunduk, dan sesaat bahunya berubah. Tari tahu karena ia melihatnya di pantulan layar mati ponselnya yang tergeletak di samping komputer. Radit tidak menoleh. Ia hanya berhenti sepersekian detik, seperti orang yang mendengar nama dirinya disebut dari ruangan lain.
Lima belas menit berlalu seperti jarum yang diseret.
Ketika Radit berdiri, ia mengambil mapnya, membungkuk sedikit kepada Gita, lalu berbalik. Dan di antara dua meja CS itu, satu langkah dari pembatas kaca, pandangannya bertemu dengan Tari.
Hanya satu detik. Tari mengangguk. Radit mengangguk. Tidak ada yang lain: tidak senyum, tidak suara, tidak salam. Tetapi matanya, di bawah alis yang dijaga tetap lurus, matanya...
"Ya Allah," bisik Pak Dirman dari belakang tiang, pelan sekali, dan Tari baru sadar seluruh ruangan sedang menahan napas.
°°°°
Radit baru melangkah tiga meter menuju pintu ketika seseorang di antrean Teller menoleh.
Tari mengenali punggung itu bahkan sebelum wajahnya terlihat. Kemeja batik biru tua, rambut yang disisir rapi ke samping, map transaksi di tangan. Akbar berdiri di antrean nomor sebelas, tepat di antara tiang pembatas tali dan meja informasi, dan ia membeku persis seperti Radit.
Tidak ada yang bergerak. Pak Fero, yang baru keluar dari ruang kerjanya dengan cangkir kopi, berhenti di ambang pintu dan memandangi situasi itu dengan kerutan yang tidak biasa. Seorang ibu dengan balita di antrean sebelah menarik anaknya sedikit lebih dekat.
Akbar yang pertama menggerakkan kaki, tetapi bukan ke arah Tari. Ia melangkah satu langkah ke samping, mendekat ke tali pembatas antrean, lalu berhenti sepenuhnya di tepi tali itu. Tangannya tidak menyentuh apa pun.
"Mas Radit."
"Mas Akbar."
Suara mereka sama-sama rendah. Tari berdiri dari kursinya tanpa menyadari, lalu duduk lagi, lalu berdiri lagi, dan akhirnya tetap berdiri di sebelah mejanya dengan telapak tangan menempel pada tepi meja.
"Saya cuma setor," kata Akbar, dan matanya pindah dari Radit ke Tari, hanya sekejap, lalu kembali. "Transaksi biasa. Saya tidak tahu Mas ada di sini. Kalau Mas atau Tari mau saya pindah antrean atau keluar dulu, saya keluar."
Radit memandangnya. "Tidak perlu."
"Baik." Akbar menarik napas. Ia melirik dua orang yang berdiri di tempat masing-masing, enam meter satu sama lain, dengan seluruh bank menjadi ruang di antara mereka. Kemudian, dengan kalimat yang jelas ia siapkan sejak lama, ia berkata pelan, tidak kepada satu orang, melainkan kepada keduanya: "Saya menepati aturannya."
Aturan jangan meminang di atas pinangan. Tari tahu persis maksudnya, dan ia tahu Radit pun tahu. Aturan itu telah mereka bicarakan di ruang rapat, di balik pintu yang tidak ditutup rapat, dan sekarang Akbar mengucapkannya di depan Tari, dengan saksi, di tempat umum, karena ia ingin Tari tahu ia tidak bergerak di belakang siapa pun.
"Terima kasih," jawab Radit.
Hanya dua kata. Tetapi suaranya sedikit bergetar di huruf terakhir, hampir tidak terdengar, dan Akbar menunduk seperti orang yang memahami sepenuhnya apa yang baru ia dengar.
"Nomor sebelas," panggil suara otomatis dari loket Teller. "Teller dua."
Akbar mengangguk kepada Radit, lalu, setelah jeda sangat singkat, kepada Tari, sopan, tanpa senyum. Lalu ia berbalik dan berjalan ke loket dua. Radit melangkah menuju pintu kaca. Pak Dirman membukakannya tanpa berkata sepatah pun, dan Radit keluar, dan pintu bergeser menutup di belakangnya dengan bunyi yang sangat halus.
Tari mendengar bunyi itu lebih keras daripada seluruh percakapan tadi.
Beberapa menit kemudian ada yang meletakkan sesuatu di mejanya. Pak Fero, dengan wajah menghadap ke arah lain, menaruh sebungkus roti isi cokelat di samping papan nama, lalu kembali ke ruangnya tanpa sepatah kata. Pak Dirman, yang lewat dengan sapu kecil, berbisik tanpa menoleh: "Mbak Tari, itu roti dari Bapak. Beliau pesan, bilang saja itu roti, bukan perhatian."
Tari menatap bungkus itu, lalu tertawa pendek yang nyaris berubah menjadi isakan, dan menutup mulut dengan punggung tangan.
°°°°
Jam istirahat tiba dua jam kemudian, dan Gita membawa dua cangkir teh hangat ke meja nomor dua tanpa diminta, menaruh papan Istirahat di sudut, dan duduk di kursi nasabah dengan raut yang tidak lagi kaku.
"Tar."
"Aku tidak mau bahas."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Kamu mau bilang sesuatu dengan wajah itu."
Gita menyesap tehnya. "Aku cuma mau bilang satu hal, setelah itu aku diam. Janji."
Tari menunggu dengan tangan menggenggam cangkir panas, tidak yakin ingin mendengarnya.
"Waktu dia tanda tangan tadi. Kamu tidak bisa lihat dari sudut kamu." Gita merendahkan suara. "Matanya berkaca-kaca. Bukan menangis. Dia tidak sampai menangis. Tapi tinta pulpennya hampir tertetes ke formulir karena dia menahan tangan di atas kertas terlalu lama. Aku harus pura-pura menyusun map supaya dia punya waktu."
Cangkir di tangan Tari bergeser sedikit, dan teh bergelombang.
"Dia melihat ke arahku waktu kamu bergerak di kursimu," lanjut Gita. "Maksudku, ke pembatas kaca. Dia tahu kamu di sana. Dan dia tidak menoleh karena dia sedang berusaha tidak..." Gita menggeleng. "Aku tidak tahu apa. Tapi aku kenal orang yang berusaha keras tidak mengatakan sesuatu."
Tari menaruh cangkirnya dengan sangat hati-hati di meja. "Terima kasih, Git."
"Sama-sama. Sekarang minum tehmu sebelum dingin."
"Aku sudah bilang aku tidak akan menuntut apa pun."
"Dan aku tidak menyuruhmu menuntut." Gita mengangkat bahu. "Aku cuma bilang apa yang kulihat."
"Aku tidak mau berharap, Git."
"Aku tidak menyuruhmu berharap. Aku menyuruhmu minum teh." Gita berdiri, merapikan kerudungnya, lalu menunduk sedikit ke arah Tari. "Sepuluh hari lagi, kan? Batasnya."
"Sepuluh hari."
"Aku jamin satu orang di luar sana menghitungnya lebih keras daripada kamu."