Warung kopi itu hanya enam meja plastik di bawah terpal biru, tepat di seberang jalan dari masjid tempat Radit dulu duduk di bangku semen dan meminta jarak. Ia datang dua puluh menit lebih awal, memesan kopi hitam tanpa gula, dan menatap gelasnya sampai kopi itu berhenti mengepul.
Empat hari lagi. Ia sudah menghitungnya tanpa diminta, sejak Rabu lalu, sejak kalimat Akbar di antrean Teller memantul-mantul di kepalanya: Saya menepati aturannya. Laki-laki itu menepati aturan, sedangkan ia sendiri, yang membuat aturan, melanggarnya satu kali dengan alasan yang masuk akal dan masih merasa seperti pencuri.
"Nak Radit."
Radit berdiri begitu cepat sampai kursi plastik di belakangnya terdorong. Rosidi berdiri di sisi meja dengan kemeja koko abu-abu dan peci hitam, tangan kanan menenteng koran yang sudah terlipat jadi empat bagian. Wajahnya tidak keras dan tidak ramah, hanya tenang, seperti permukaan kolam di sore yang tidak berangin.
"Om."
Mereka berjabat tangan, hangat dan singkat. Rosidi duduk, melambai kepada penjaga warung, dan memesan teh manis sambil menaruh korannya di meja. Di televisi kecil yang tergantung di pojok, siaran ulang pertandingan bola berjalan tanpa suara.
"Om tidak keberatan saya telepon Senin malam?"
"Keberatan kenapa?" Rosidi mengangkat bahu. "Papa dari tadi menunggu. Sudah lama tidak ngopi dengan anak muda yang minta bertemu bukan untuk pinjam uang."
Radit tersenyum tipis, lalu senyum itu hilang. Ia menaruh kedua telapak tangan di atas meja plastik. "Om. Saya datang bukan untuk minta restu atau minta izin apa pun. Saya mau mengaku sesuatu, dan kebetulan Om yang paling berhak mendengarnya."
"Silakan."
"Saya salah."
Rosidi tidak berkata apa-apa. Penjaga warung meletakkan teh manis di depannya, dan ia mengaduknya perlahan dengan sendok kecil, mata tetap pada Radit.
"Waktu di halaman masjid itu saya bilang jarak. Saya bilang saya tidak memutuskan dengan marah. Itu benar. Tapi akibatnya nyata, Om. Tari menanggung semuanya sendirian, dari Bandung sampai suratnya, dan saya baru tahu kabarnya dari Danu." Radit menarik napas. "Hampir empat pekan saya diam. Surat Tari datang, saya baca tiga kali, dan saya hanya mengirim satu kalimat. Saya takut, Om. Saya takut kalau saya bicara, saya akan memutus. Dan saya takut kalau saya bicara, saya akan memaafkan terlalu cepat, lalu kalau suatu hari hal yang sama terjadi lagi, saya tidak punya apa-apa untuk dipegang."
"Hal yang sama itu apa?"
"Dibohongi. Saya tidak tahu apakah saya sanggup."
Rosidi menyesap tehnya. Di layar televisi, pemain berseragam merah menggiring bola ke sayap kanan, lalu terpeleset, dan penonton bisu memegang kepala. Rosidi menonton adegan itu sekejap, seperti orang yang menunggu gagasan yang tepat lewat.
"Nak Radit. Marah boleh."
"Om?"
"Marah itu hak. Papa tidak pernah mengajari anak Papa untuk tidak marah. Kalau orang yang kamu percaya menyembunyikan sesuatu, kamu boleh marah. Kamu boleh mengurung diri semalam, dua malam. Itu manusiawi." Rosidi meletakkan sendoknya. "Tapi diam berhari-hari, itu lain. Diam berhari-hari bukan hukuman untuk orang yang bersalah. Itu hukuman untuk orang yang menunggu, dan orang yang menunggu itu tidak tahu apa salahnya sekarang."
Radit menunduk. Perkataan itu menancap persis di tempat yang sudah ia ketahui sakit.
"Tari tahu salahnya," ujarnya pelan. "Dia menulisnya jelas."
"Betul. Tapi sekarang yang dia tahu bukan salahnya. Yang dia tahu adalah kamu diam." Rosidi tersenyum, tidak pahit. "Papa tidak menyalahkan kamu. Papa dulu pernah tidak bicara tiga hari dengan Mama soal motor yang dipinjam adiknya. Tiga hari. Rumah seperti kuburan. Di hari keempat Mama masak rendang, dan Papa baru ngerti bahwa selama tiga hari itu kami berdua cuma menunggu siapa yang kalah duluan."
"Siapa yang menang?"
"Rendangnya." Rosidi tertawa, dan Radit tertawa juga, tak sempat menahan. "Tapi serius, Nak. Kamu belum siap memutus, kan?"
"Belum, Om."
"Dan belum siap melanjutkan?"
Radit mengepalkan jari di atas meja. Ia ingin menjawab dengan kalimat yang bagus, yang tertata, yang sejalan dengan citra laki-laki berusia tiga puluh tahun yang tahu persis apa yang ia mau. Tetapi yang keluar justru yang jujur. "Belum juga."
"Itu jawaban jujur." Rosidi mengangguk. "Dan jujur itu yang Papa cari dari kamu sejak kamu duduk di ruang tamu rumah Papa pertama kali. Bukan sempurna. Jujur."
Penjaga warung menawarkan gorengan. Rosidi memesan tahu isi dua, dan Radit, entah kenapa, menjadi lapar juga, setelah seharian tidak.
Radit meraih tahu isi itu, tidak langsung memakannya. "Om. Boleh saya bertanya satu hal tentang Tari?"
"Tentu."
"Dia... makan?"
Rosidi menurunkan koran yang sudah hampir ia buka. Beberapa detik ia hanya memandang Radit, dan di sudut matanya muncul kerutan yang menandakan ia sedang menahan tawa. "Kamu tanya Danu dua kali, sekarang tanya Papa. Radit, kamu tahu, ini pertanyaan paling jujur yang Papa dengar dari kamu hari ini."
"Itu bukan..."
"Dia makan. Tiga kali, dengan roti. Dia sendiri yang bilang." Rosidi mengangkat satu jari. "Dan satu hal lagi. Dia sering menatap telepon, tetapi tidak sekali pun menyentuhnya. Itu ada gunanya dibilang."
Radit menelan sesuatu yang bukan makanan. "Terima kasih, Om."
"Om. Sabtu ini batas yang saya tetapkan. Saya mau datang ke rumah Om bersama Ibu dan Danu. Saya tidak tahu apa yang akan saya katakan, tapi saya tahu saya tidak boleh diam lagi."
"Datanglah." Rosidi mengambil korannya. "Jam berapa?"
"Setelah Zuhur, Om."
"Papa tunggu. Dan Nak Radit." Rosidi menatapnya dari balik kacamata baca. "Datang bukan untuk menang. Datang untuk bicara."
°°°°
"Kalau Radit mundur, Tari, ada Akbar."
Mama mengatakannya sambil menata piring, tanpa menoleh, dengan nada orang yang sudah menghafal kalimat itu sepanjang perjalanan pulang dari pasar. Tari yang sedang membersihkan sayur di wastafel berhenti sejenak, kemudian meneruskan membuang ujung kacang panjang satu per satu.
"Ma."
"Mama tidak bilang kamu harus memilih dia. Mama cuma bilang ada." Mama meletakkan piring terakhir, menegakkan badan. "Akbar itu tulus. Kamu lihat sendiri, Pak Hamdan dan Bu Chasanah orang baik. Dia menepati aturan, dia tidak mengejarmu, dia menunggu. Laki-laki seperti itu jarang."
"Aku tahu, Ma."
"Jadi?"
"Jadi aku tidak mau memilih Akbar karena Mas Radit mundur." Tari meletakkan kacang panjang, mengeringkan tangan di kain, lalu berbalik. Suaranya rendah dan stabil. "Dan aku juga tidak mau memilih Mas Radit karena aku merasa bersalah. Dua-duanya sama saja, Ma. Kalau aku memilih karena rasa bersalah, aku akan menghabiskan hidup membayar utang, bukan menjalani pernikahan."
"Tapi kalau Radit..."
"Kalau Mas Radit mundur, aku akan sedih. Sangat sedih. Tapi aku tidak akan lari ke orang lain supaya tidak sedih." Tari menggeleng. "Itu bukan memilih. Itu menghindari."
Mama membuka mulut, lalu mengatupkannya. Di pintu dapur, Papa sudah berdiri dengan koran di ketiak dan kancing kemeja yang terbuka satu, tersenyum samar, seakan sudah mendengar bagian yang penting.
"Pa. Sudah pulang?"
"Sudah." Papa masuk, menaruh korannya di meja makan, dan mencuci tangan di wastafel tanpa menatap istrinya. "Ma, Tari benar."
"Papa dari mana?"
"Ngopi."
"Dengan siapa?"
"Dengan seseorang yang mau Papa rahasiakan sampai Sabtu." Papa mengeringkan tangan di kain yang sama dengan Tari. Ia menatap anaknya sebentar, dengan tatapan yang membuat Tari tidak menanyakan lebih lanjut. Lalu, tanpa menurunkan suara, ia berkata kepada istrinya, "Dia anak baik, Ma. Dia sedang menakuti dirinya sendiri."
Tari tidak bertanya siapa yang dimaksud. Ia hanya mengambil kacang panjang yang tersisa dan mulai memotongnya menjadi potongan kecil-kecil, satu per satu, dengan tangan yang tidak lagi gemetar.