Pagi itu Mama tidak memasak, dan itu pertanda paling jelas bahwa hari itu bukan hari biasa.
Papa sudah memperingatkan sejak subuh. "Ma, jangan masak apa-apa. Cukup teh dan kue kering dari toples. Kalau Mama masak, Radit nanti merasa harus menghabiskan, dan dia tidak sedang ingin makan." Mama mengangguk dengan wajah seperti anak yang sedang dilarang membuka kado, lalu menghabiskan satu jam menyapu ruang tamu yang sudah bersih.
Tari duduk di tepi tempat tidur dengan gamis abu-abu yang ia pakai saat Radit dan keluarganya pertama berkunjung. Ia sengaja memilih baju itu. Bukan untuk mengingatkan Radit, melainkan untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia pernah duduk dengan tenang di meja orang yang sama, dan bahwa apa pun yang terjadi hari ini, itu tidak menghapus apa yang sudah ada.
"Kak." Arif mengetuk pintu kamar dengan buku jari, menjenguk. "Mobilnya sudah belok di ujung gang."
Tari menarik napas. Ia berdiri, merapikan kerudung di depan cermin, lalu keluar.
Radit turun dari mobil dengan kemeja biru tua yang sederhana, tanpa jas dan tanpa map. Nur turun dari kursi belakang dengan sebuah kotak kue di tangan, dan Danu mengikuti di belakangnya, wajahnya serius seperti peserta ujian. Papa menyambut mereka di pagar, berjabat tangan dengan Radit lebih lama dari biasanya, dan Tari, yang berdiri di ambang pintu dengan Mama di sisinya, memperhatikan bahwa kedua laki-laki itu saling pandang sebentar sebelum melepas.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Silakan masuk."
Mereka duduk di ruang tamu dengan pintu depan terbuka lebar dan jendela yang menghadap ke halaman. Papa di kursi tunggal. Mama dan Tari di sofa panjang. Nur di seberang mereka, Danu di sampingnya, dan Radit duduk di kursi kayu yang sengaja diletakkan sedikit terpisah, tak jauh dari pintu. Arif tidak diminta tetapi tidak juga diusir; ia duduk di lantai dekat ambang dengan buku di pangkuan yang tidak dibuka, memandangi setiap orang bergantian.
Mama menuangkan teh. Tak satu pun cangkir disentuh.
"Om, Tante," kata Radit. Suaranya jernih, tidak bergetar, meski Tari melihat jari-jarinya mencengkeram lutut. "Saya datang hari ini karena hari ini batas yang saya tetapkan sendiri. Tiga bulan sejak taaruf ini dimulai. Saya sudah janji tidak akan diam melewatinya."
Tari mengangguk. Ia merasakan Mama menggenggam ujung kerudungnya.
"Pertama, saya mau minta maaf kepada Om dan Tante. Jarak yang saya tetapkan membuat Tari menunggu sendirian, dan Om dan Tante ikut menanggungnya di rumah ini." Ia menoleh sedikit ke arah Tari, namun pandangannya berhenti di meja tamu. "Tari, saya juga minta maaf kepadamu. Kamu tidak pernah membela diri, dan saya tidak pernah memberimu kesempatan membela diri. Itu bukan keadilan."
"Mas..." Tari hendak bicara.
"Saya belum selesai. Tolong." Radit mengangkat tangan sedikit. "Setelah saya selesai, kamu boleh bicara apa pun."
Tari menutup bibirnya.
"Yang kedua. Hari ini saya tidak datang untuk melanjutkan ke khitbah." Ia mendengar Mama menarik napas tajam, dan Nur menunduk. Tetapi Radit tidak berhenti. "Saya juga tidak datang untuk mengakhiri. Saya tidak sanggup memutuskan, dan saya tidak mau memutuskan sebelum kamu selesai menjawab untuk dirimu sendiri. Jadi saya mau melakukan hal ketiga."
Dari pintu terdengar suara motor lewat di jalan, dan Papa, yang sejak tadi diam, mengangkat dagunya sedikit, mendorong.
"Saya melepas ikatan taaruf ini. Mulai hari ini, kamu tidak terikat kepada saya, dan saya tidak terikat kepadamu. Tanpa janji, tanpa utang, tanpa rasa wajib. Siapa pun yang datang ke pintu rumah ini sesudah hari ini, kamu berhak memilih tanpa merasa berutang kepada saya." Radit menarik napas panjang. "Dan kalau suatu hari kamu memilih saya, saya mau itu karena kamu mau, bukan karena kamu merasa bersalah. Karena kalau karena bersalah, saya akan tahu, dan kamu juga akan tahu."
Nur menutup mulut dengan telapak tangannya. Di sampingnya Danu menatap lantai, rahangnya mengeras. Mama menangis diam-diam, air matanya jatuh ke pangkuan, dan Nur, yang melihatnya, ikut menangis, dan dua perempuan itu duduk berhadapan sambil saling menahan isak, tanpa bicara.
Papa menarik napas dan melepasnya perlahan. "Papa terima, Nak Radit."
"Om..."
"Papa terima, dengan satu syarat." Papa menatapnya lurus. "Pintu rumah ini tetap terbuka untukmu, kapan pun, tanpa harus menunggu undangan. Kamu bukan tamu yang ditolak. Kamu orang yang membuka sendiri pintunya."
Radit menunduk. Bahunya yang selama ini tegak seperti tiang sedikit turun. "Terima kasih, Om."
Tari mengira ia akan menangis. Tetapi yang terjadi justru ia merasa sangat tenang, ketenangan yang aneh.
"Mas." Suaranya lirih namun jelas. "Sekarang aku boleh bicara?"
"Silakan."
"Terima kasih sudah bilang. Sudah bilang langsung, di depan Papa dan Mama, dan tidak menghilang." Ia menelan ludah. "Aku tidak akan membujuk. Aku tidak akan menawar. Aku terima."
Radit mengangkat wajahnya, dan untuk satu detik Tari melihat sesuatu yang berkilat di matanya sebelum ia berkedip dan menyembunyikannya.
"Nak Tari." Nur menyeka pipinya dengan ujung jilbab, suaranya serak namun tegas. "Ibu mau bilang satu hal, dan ini bukan keputusan Radit. Ini keputusan Ibu. Pintu rumah Ibu juga tidak ditutup untukmu. Kamu boleh datang makan, boleh numpang salat, boleh mengajar Danu sampai dia hafal semua soal. Tidak ada hubungannya dengan apa yang diputuskan anak Ibu ini."
"Bu," kata Radit pelan.
"Diam, Dit. Ibu sedang bicara."
Dari lantai dekat pintu terdengar suara menahan tawa yang disamarkan jadi batuk. Arif menunduk dalam-dalam ke bukunya. Mama, yang masih menangis, tertawa kecil di tengah isaknya, dan seluruh ruang tamu menghela napas bersama, sekejap.
"Terima kasih, Bu," kata Tari. Ia berusaha tersenyum, dan nyaris berhasil.
°°°°
Sebelum mereka pulang, Radit berdiri lebih dulu. Dari saku kemejanya ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat polos, kecil, tertutup rapat dengan selotip bening di tepinya. Ia tetap di tempatnya. Ia memberi isyarat kepada Danu, yang berdiri dan menerimanya dengan dua tangan, lalu berjalan melintasi ruang tamu dan menyerahkannya kepada Tari.
"Dari Mas Radit," bisik Danu. Tidak ada nada bercanda dalam suaranya.
Tari menerima amplop itu. Beratnya hampir tak terasa, selembar kertas, mungkin dua.
"Ini pertanyaan nomor seratus satu," kata Radit dari kursinya. "Saya sudah menjawab seratus pertanyaanmu. Ini kebalikannya, hanya satu. Jangan dibuka sekarang."
"Kapan boleh dibuka?"
"Kapan pun kamu siap. Tanpa tenggat." Radit menatapnya, dan sesaat pandangan itu bertahan lebih lama dari yang diperbolehkan siapa pun. "Dan Tari. Jawabnya untuk dirimu sendiri. Bukan untuk saya."
Ia mengatupkan tangan di dada kepada Tari dan Mama, mencium tangan Papa, lalu keluar lewat pintu yang terbuka. Nur memeluk Mama lama sebelum menyusul. Danu menepuk bahu Arif di lantai, hampir tidak terlihat, dan pergi. Mesin mobil menyala, bergerak, lalu menjauh sampai tak terdengar.
Rumah itu mendadak terlalu sunyi. Mama terisak di sofa. Papa duduk di kursi tunggalnya dengan mata terpejam, mulutnya bergerak tanpa suara, berdoa. Arif berdiri, mengambil teh yang tak tersentuh, dan meminumnya sampai habis sekadar agar ada yang bergerak.
Tari tetap di tempat. Ia memegang amplop kecil itu dengan dua tangan, persis seperti Radit dulu memegang tiga lembar kertas HVS di parkiran bank, dan ia tahu, tanpa membukanya, bahwa isinya akan lebih berat daripada beratnya.