Amplop itu bermalam di meja belajar, bersandar pada kaki lampu, dan sepanjang malam Tari menjaga jarak darinya seperti menjaga jarak dari kompor yang lupa dimatikan.
Ia baru menyentuhnya sehabis salat Subuh. Rumah masih gelap, dari dapur terdengar Mama menyalakan kompor dan Papa batuk kecil di kamar mandi. Tari duduk bersila di kursi, mengambil amplop cokelat itu dengan dua tangan, lalu mencungkil selotip beningnya dengan kuku. Selotipnya dipasang rapi sekali. Tiga potong, masing-masing sama panjang. Tentu saja, pikirnya. Radit tidak mungkin menempel selotip dengan sembarangan.
Isinya selembar HVS yang dilipat tiga. Tulisan tangan Radit, tegak dan rapat, huruf-hurufnya kecil seperti barisan murid yang disiplin. Hanya empat baris.
Kalau tidak ada yang menunggumu, tidak ada yang mendesakmu, dan tidak ada yang bisa kamu takutkan kehilangan, siapa yang kamu pilih dan kenapa? Jawab untuk dirimu sendiri, bukan untuk saya.
Tari membacanya sekali. Lalu sekali lagi, sambil menahan napas. Pada bacaan ketiga ia baru sadar tangannya sudah memegang pulpen.
Ia menarik selembar kertas kosong dari laci dan menulis, "Aku memilih". Pulpennya berhenti. Kata berikutnya adalah nama, dan nama itu harus keluar dulu sebelum alasan mana pun.
Ia menulis "Mas Radit". Dibacanya. Perutnya langsung mengencang. Ia tahu persis kenapa: huruf-huruf itu terasa seperti pembayaran. Seperti orang yang menyodorkan uang sambil berkata, ini untuk kebohonganku. Ia mencoret nama itu, satu garis lurus.
Ia menulis "Akbar". Yang ini lebih parah. Nama itu muncul bersama wajah Bu Chasanah yang memeluknya di rumah bercat krem, bersama kursi rotan Pak Hamdan, bersama tikar di gudang kain. Ia tidak menulis nama itu karena ia menginginkan Akbar. Ia menulis karena ia berutang perasaan pada keluarga itu. Coretan kedua, lebih pendek, lebih keras.
Tari menyandarkan punggung. Pertanyaan Radit menyuruhnya membayangkan dunia tanpa siapa pun yang menunggu, dan ia mencoba. Sungguh mencoba. Tetapi tiap kali ia menyingkirkan satu orang dari bayangannya, orang lain mengisi tempat itu. Papa menunggu. Mama menunggu. Ada tenggat yang belum diucapkan siapa pun tetapi sudah tergantung di dinding rumah ini. Bahkan rasa bersalahnya punya wajah, dua wajah, dan keduanya sedang menatapnya.
"Tar? Sarapan!"
"Iya, Ma!"
Cepat-cepat ia melipat kertas jawabannya yang penuh coretan, menyelipkan di antara halaman buku harian, lalu memasukkan pertanyaan Radit kembali ke amplopnya. Ia memandang kedua benda itu sebentar. Sangat tidak adil, pikirnya, ada orang yang bisa menuliskan seratus jawaban untuknya tetapi ia sendiri tidak sanggup menulis satu.
°°°°
Danu datang pukul sebelas dengan motor bebek hijau milik Nur, dan suara knalpotnya terdengar dari ujung gang, jauh sebelum orangnya muncul.
"Assalamualaikum! Om! Tante! Mbak Tari!" Ia berhenti di ambang pintu, napasnya tersengal, ponsel terangkat tinggi di tangan kanan seperti piala. "Diterima!"
Arif yang membukakan pintu mengerutkan dahi. "Diterima apa?"
"Kerja, Rif! Bank! Bukan bank tempat kakakmu, bank lain, tapi bank!" Danu menunjukkan layar ponselnya kepada seisi ruang tamu. Surat elektronik bertuliskan huruf tebal di bagian atas, dengan nama sebuah bank yang bukan Berlian. "Wawancara hampir empat pekan lalu, tadi pagi kabarnya masuk. Lima pekan lagi mulai masuk, setelah urusan berkas selesai."
Papa berdiri lebih dulu. Ia menjabat tangan Danu dengan kedua tangan dan menggoyangkannya lama. "Alhamdulillah, Nak. Selamat."
"Alhamdulillah ya Allah," kata Mama dari ambang dapur dengan sendok kayu masih di tangan. Matanya sudah basah, entah untuk Danu atau untuk hal lain, Tari tidak yakin. "Ibumu pasti menangis."
"Menangis dari tadi pagi, Tante. Sampai kerudungnya basah." Danu terkekeh, lalu menoleh kepada Tari, dan tawanya mengecil menjadi senyum yang lebih tulus. "Ini berkat Mbak Tari. Soal-soal latihan itu. Hampir semuanya keluar, Mbak. Hampir persis."
"Bukan persis. Kamu yang mengerjakannya."
"Tapi Mbak yang bikin aku mau mengerjakan." Danu menegakkan badan. "Ibu bilang, bilang terima kasih. Kalau tidak sampai, jangan pulang."
Tari tertawa. Tawa yang pertama sejak kemarin dan terasa asing di tenggorokannya. "Terima kasih sudah bilang. Selamat, Danu."
"Mas Radit tahu?" tanya Arif, polos.
Ruang tamu mendadak lebih senyap. Danu melirik Tari sekilas. "Tahu. Tadi pagi aku kasih tahu sebelum Ibu. Dia diam tiga detik, terus bilang, 'Alhamdulillah, Dan. Sujud syukur dulu.' Dia tidak minta aku mampir ke sini kok, Mbak. Ibu yang minta."
"Aku tidak menanyakan itu," kata Tari pelan.
"Tidak. Tapi Mbak pasti mau tahu." Danu menggaruk belakang kepalanya. "Mbak sudah buka amplopnya?"
Mama menarik Arif ke dapur dengan alasan butuh bantuan mengangkat teh, dan Papa, seolah baru ingat bahwa korannya belum selesai dibaca, kembali ke kursi di dekat jendela.
"Sudah," ujar Tari.
"Dan?"
"Belum bisa, Dan."
Danu mengangguk. "Mas Radit bilang tanpa tenggat. Cuma ya... dia juga duduk di meja jati itu sampai larut, tidak makan, cuma..."
"Danu." Tari mengangkat telapak tangannya. Tidak keras, tetapi cukup. "Jangan bawa kabar itu ke sini. Aku tidak mau menjawab karena kasihan. Itu justru yang bikin aku macet."
Danu menutup mulutnya. Lama ia memandang Tari, dan wajahnya yang biasanya nyablak berubah serius seperti saat Tari mencoret-coret soal latihannya dulu. "Siap, Mbak. Aku cuma kurir kabar gembira. Kabar yang lain aku simpan."
"Terima kasih."
"Sama-sama." Ia bangkit, mencium tangan Papa, dan pamit dengan suara yang kembali ceria. Motor bebek hijau itu menderu menjauh. Tari mengantarnya sampai teras dan baru kembali masuk ketika tak ada lagi bunyinya.
°°°°
Sore itu ia mencoba sekali lagi. Kertas kosong baru, pulpen yang sama. Kali ini ia tidak menulis "Aku memilih". Ia menulis, "Aku belum tahu siapa yang aku pilih, tetapi aku tahu kenapa aku belum bisa tahu." Lalu ia berhenti, menatap kalimat itu, dan sadar ia sedang menulis alasan, bukan jawaban. Pertanyaan Radit tidak meminta alasan menunda.
Ia melipat kertas itu, menaruhnya di bawah lembar ketiga jawaban Radit, dan memutuskan untuk tidak menjawab dulu. Bukan menyerah. Ia hanya tidak mau menuliskan jawaban yang ia tahu akan terbaca seperti pembayaran.
Saat makan malam, tak seorang pun menyebut amplop itu. Mama menyendok sayur ke piring Tari lebih banyak dari biasanya, Papa membicarakan hasil pertandingan semalam, dan Arif, yang jelas-jelas sudah diberi peringatan sebelum duduk, hanya menatap nasinya dengan wajah menderita. Tari tahu betul betapa mahal kesunyian sebanyak itu. Seisi rumah sedang berusaha tidak menjadi tekanan, dan justru karena itu tekanannya terasa di mana-mana.
Selepas Isya ponselnya bergetar di atas kasur. Gita.
Tar, tadi Akbar telepon aku. Dia bilang Mas Radit sendiri yang memberi tahu semalam, lewat pesan, bahwa taaruf kalian sudah selesai. Katanya biar dia tidak mendengar dari orang lain. Sekarang dia minta tolong aku tanya: boleh dia bicara denganmu hari Selasa, di kafe seberang bank? Aku ikut. Dia janji tidak akan bertanya dua kali.
Tari membaca pesan itu sambil berdiri, dan baru sadar ia sudah berdiri sejak bunyi pertama. Radit sendiri yang memberi tahu Akbar, pikirnya. Tentu saja. Laki-laki yang menempel selotip rapi tiga potong tidak akan membiarkan orang lain mendengar kabar dari mulut yang salah, bahkan ketika kabar itu menyakitkan dirinya sendiri.
Jemarinya berhenti di atas layar. Lalu ia mengetik dua kata saja.
Boleh. Selasa.