"Kalau kamu bilang cukup, aku yang berdiri duluan," bisik Gita. "Bukan kamu. Biar kamu tidak kelihatan kabur."
Mereka berdiri di trotoar depan bank pukul setengah empat sore, menunggu lampu penyeberangan berubah hijau. Di seberang jalan, kafe tempat Akbar pernah memaksa Tari makan siang berdiri dengan kaca besarnya yang memantulkan awan. Tari memeluk tasnya di depan dada.
"Kita cuma lima menit, Git."
"Lima menit dia sudah janji. Ke aku, bukan ke kamu. Aku yang akan menagih." Gita menyikut lengannya pelan. "Lampunya hijau."
Akbar sudah duduk. Meja yang ia pilih ada di tengah ruangan, bukan di pojok, dan kursinya menghadap pintu supaya siapa pun yang masuk bisa melihatnya lebih dulu. Ponselnya tertelungkup di meja. Di depannya hanya segelas es teh tawar yang esnya sudah separuh mencair. Begitu melihat mereka, ia berdiri, tidak maju, hanya berdiri.
"Terima kasih sudah mau datang," katanya. "Silakan duduk di mana saja kalian merasa enak. Aku tetap di sini."
Gita menarik kursi yang bersebelahan dengan Tari, dan keduanya duduk di seberang Akbar dengan meja di antara mereka. Seorang pelayan datang. Tari memesan teh, Gita ikut, dan Akbar menggeleng, tidak mau menambah pesanan.
"Dua hal dulu," kata Akbar setelah pelayan pergi. "Pertama, aku tidak bawa apa-apa. Tidak ada bunga, tidak ada kartu, tidak ada kejutan. Kedua, kalau kamu angkat tangan, aku berhenti bicara, mau aku sedang di tengah kalimat atau tidak."
Tari mengangguk sekali.
"Mas Radit kirim pesan Sabtu malam." Akbar membalik ponselnya, memperlihatkan layar, lalu menaruhnya lagi. Ia tidak menyodorkannya. "Aku hafal isinya. Taaruf saya dan Tari selesai hari ini. Saya tidak minta Mas Akbar melakukan atau tidak melakukan apa pun. Saya hanya tidak mau Mas mendengarnya dari orang lain. Begitu."
Gita meniup tehnya yang belum datang, kebiasaan orang gugup. "Itu pesan terbaik yang pernah dikirim orang kepada saingannya."
"Aku tahu." Akbar tersenyum, dan senyum itu lebih kecil dari yang biasa Tari ingat, lesung pipinya hanya sedikit terlihat. "Aku sempat duduk setengah jam dengan pesan itu. Aku bukan tipe yang gampang kehabisan kata, Tar, tapi malam itu aku kehabisan. Orang seganteng aku, kehabisan kata. Kamu boleh ketawa."
"Kamu mau bilang apa?" tanya Tari. Suaranya lebih datar dari niatnya.
"Aku ingin datang ke rumah Papamu." Akbar menegakkan punggung. "Bersama Ibu dan Bapak. Hari Minggu, setelah Zuhur, kalau Papamu mengizinkan. Bukan untuk membuatmu memilih. Aku ingin melakukannya dengan benar, lewat pintu depan, di depan orang tuamu, bukan lewat pesan atau lewat Gita."
"Aku keberatan jadi kurir," gumam Gita.
"Maaf, Mbak. Itu yang terakhir." Akbar tidak melepas pandangan dari Tari. "Dan sebelum Minggu, aku akan bilang kepada Mas Radit. Sendiri, di kantornya, bukan di belakangnya. Aturannya dia yang menetapkan, dan aku sudah berjanji menaatinya. Sekarang ikatannya sudah dilepas, aku tetap mau ia mendengar dariku, bukan dari Danu atau dari siapa pun."
Pelayan datang meletakkan dua cangkir teh. Gita langsung menarik selembar tisu dan melipatnya kecil-kecil.
Tari memutar cangkirnya setengah putaran di atas lepek. Banyak kalimat berebut keluar, termasuk yang paling kasar, dan ia memilih yang paling jujur.
"Aku belum tahu, Bar. Dan aku tidak mau jadi hadiah penebus kesalahanmu."
Gita tidak bergerak. Di luar jendela, seorang tukang parkir meniup peluit untuk mobil yang mundur.
"Kesalahanku yang mana?" tanya Akbar, tenang, tidak membela diri. "Yang kata bosan itu?"
"Semuanya. Kata itu. Pesta wisuda. Kamu menyetir semalaman untuk menjelaskan sesuatu yang tidak kamu jelaskan." Tari menatap meja. "Aku sudah memaafkan, aku sungguh-sungguh. Tapi aku juga tahu kamu orang yang pantas merasa utang. Kalau kamu melamarku supaya utang itu lunas, aku tidak mau jadi uangnya."
Ia menunggu Akbar tersinggung. Akbar malah tertawa kecil, pendek, tanpa suara, dan ia menunduk sebentar.
"Tidak ada hadiah, Tar," katanya. "Tidak ada yang lunas. Rumahmu bukan loket pembayaran, dan wajah seganteng ini pun tidak laku di loket mana-mana." Ia berdeham sendiri. "Yang ada cuma pertanyaan yang benar-benar diajukan. Dulu aku tidak pernah benar-benar bertanya. Aku memutuskan sendirian, aku menjelaskan sendirian, aku berteriak sendirian. Sekarang aku mau bertanya kepada Papamu, dan kamu boleh menjawab apa saja."
"Pertanyaannya apa?"
"Itu bukan aku yang bilang. Bapak yang bilang kepada Papamu." Ia mengangkat bahu, setengah malu. "Aku bukan pengecut yang menaruhnya di pesan."
Gita mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, cepat, seolah itu debu. Tari menatap Akbar lama sekali. Bayangan lelaki yang dulu berteriak di halaman wisuda tidak cocok dengan lelaki yang duduk tegak di depannya, menunggu dengan tangan di atas lutut.
"Boleh datang," katanya akhirnya. "Jawabannya bukan janji."
"Aku tidak minta janji."
"Dan kalau Papa bilang tidak boleh, kamu tidak datang."
"Kalau Papamu bilang tidak boleh, aku kirim ucapan terima kasih dan aku tidak bertanya dua kali." Akbar berdiri. "Itu sudah lima menit, kan, Mbak Gita?"
"Empat setengah," kata Gita.
"Kalau begitu aku pergi dulu, setengah menitnya buat Mbak." Ia menaruh dua lembar uang di bawah gelas es tehnya untuk semua minuman, mengangguk kepada mereka berdua, dan keluar tanpa menoleh lagi.
Teh di cangkir Tari akhirnya ia teguk. Sudah dingin.
°°°°
"Boleh datang itu bukan menolak," kata Gita di perjalanan kembali ke bank.
"Boleh datang juga bukan menerima."
"Aku tahu. Aku cuma mau kamu dengar kalimat itu keluar dari mulut orang lain." Gita berjalan sambil menendang kerikil kecil. "Tar, dulu kamu pernah mikir pindah kerja supaya tidak melihat dia. Hari ini kamu duduk semeja dan bilang ke mukanya kamu bukan loket pembayaran."
"Aku bilang rumahku yang bukan loket."
"Aku suka versiku."
Tari tertawa, dan tawa itu membuat tenggorokannya sakit. Ia merasa seperti baru menyelesaikan ujian tanpa tahu nilainya.
Di depan pintu kaca bank, Pak Dirman membukakan pintu sambil memperhatikan wajah mereka satu per satu. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya berkata, "Mbak Tari, tadi ada nasabah nanya meja Mbak. Saya bilang Mbak sedang keluar sebentar, urusan penting." Ia mengangguk puas dengan jawabannya sendiri. "Urusan penting kan, Mbak?"
"Penting sekali, Pak."
"Nah. Berarti saya tidak bohong."
°°°°
Malamnya, sesudah Magrib, ia menceritakan semuanya kepada Papa dan Mama di meja makan, tanpa dibumbui. Mama menaruh sendok dan tidak mengambilnya lagi. Arif menunduk dan makan sangat pelan, tanda ia sedang berusaha menjadi tidak ada. Setelah satu menit yang panjang, ia tidak tahan juga. "Kak, mereka bawa kue juga, ya? Boleh aku yang cicip duluan?"
"Rif," tegur Papa, tanpa menaikkan nada.
"Aku cuma nanya soal kue."
"Bukan cuma soal kue, Pa." Tari menaruh sendoknya. "Akbar minta izin datang ke sini bersama Ibu dan Bapaknya. Hari Minggu, setelah Zuhur. Tari bilang yang memutuskan Papa."
"Minggu setelah Zuhur," ulang Papa. Ia mengusap dagunya. "Mereka tahu rumah ini?"
"Tahu, Pa. Akbar bilang ia tidak minta apa-apa. Cuma izin datang."
"Kalau cuma izin, Papa kasih izin." Papa memandang istrinya sekilas, lalu kembali ke Tari. "Tapi Papa ingin kamu tahu satu hal, Nak. Papa tidak menerima mereka karena kasihan, dan Papa tidak akan menolak mereka karena Radit. Mereka datang ke rumah Papa dengan cara yang benar, jadi Papa terima dengan cara yang benar."
Mama masih diam. Ia mengambil serbet, melipatnya jadi dua, lalu jadi empat.
"Ma?" kata Tari.
"Minggu," ujar Mama pelan, hampir kepada serbetnya. "Mama harus beli kue yang bagus. Bu Chasanah itu orang yang pandai membatik, pasti lidahnya halus."