Akbar mengetuk pintu ruang kerja Radit dengan dua ketukan sopan, padahal pintunya memang tidak pernah ditutup.
"Mas, ada waktu sepuluh menit?"
Radit menutup berkas yang sedang ia baca dan mengangguk ke kursi di seberang meja. "Silakan, Akbar."
Pagi itu Kamis dan kantor Berkah Group masih sepi. Dari ruang sebelah terdengar Kino menjelaskan sesuatu dengan kecepatan yang membuat siapa pun lawan bicaranya hanya bisa mengiyakan, dan di sela suaranya sesekali terdengar Teguh berkata "hm" dengan nada irit. Akbar duduk, merapikan kerah kemejanya, lalu meletakkan kedua tangan di atas lutut, seperti orang yang sedang menunggu hasil lab.
"Hari Minggu saya ke rumah Pak Rosidi," katanya. "Bersama Ibu dan Bapak."
Radit merasakan sesuatu turun pelan dari dada ke perutnya. Ia sudah tahu hari itu akan tiba, sebab ia sendiri yang mengirim pesan pada Sabtu malam. Tetapi mengetahui sesuatu dan mendengarnya diucapkan di ruangan yang sama adalah dua hal yang berbeda.
"Saya sudah bicara dengan Tari kemarin dulu, di kafe seberang bank, dengan Mbak Gita sebagai saksi. Dia tidak menjanjikan apa-apa. Dia bilang boleh datang, jawabannya bukan janji. Tetapi saya merasa Mas harus mendengar ini dari saya, di sini, bukan dari orang lain."
"Terima kasih sudah bilang."
Akbar menunggu. Radit menyadari ia diberi kesempatan mengatakan sesuatu yang lain, dan ia tidak punya kalimat itu.
"Mas tidak marah?"
"Saya tidak punya hak untuk marah." Radit mengetuk meja dua kali dengan buku jari, kebiasaan yang selalu muncul bila ia sedang menimbang. "Dan yang saya rasakan bukan marah. Saya tidak tahu namanya."
"Boleh saya tebak?"
"Silakan."
"Takut," kata Akbar. "Itu yang saya rasakan waktu Mas bilang akan menanggung uji lab tiga ratus potong batik saya. Saya pikir, orang ini sedang takut juga, hanya caranya berbeda."
Radit tidak menjawab. Di luar jendela, tukang bakso yang biasa lewat jam sepuluh membunyikan mangkuknya, terlalu pagi, dan suara itu membuat kesunyian di ruangan terasa lebih lama.
"Saya tidak akan meminta kamu mundur," ujar Radit akhirnya. "Ikatan itu saya yang lepas. Kamu tidak mengambil apa-apa dari saya."
"Saya tahu Mas tidak akan meminta. Makanya saya sampaikan." Akbar berdiri, tidak terburu-buru. "Kerja sama kita tetap seperti biasa, kan, Mas?"
"Tetap."
Mereka berjabat tangan. Genggaman Akbar mantap, tanpa tekanan berlebihan, dan Radit membalasnya sama mantap. Setelah Akbar keluar, ia duduk lama menatap pintu yang terbuka itu. Dari kejauhan, Kino berseru riang, "Mas Akbar! Sampelnya sudah sampai!" dan Akbar membalas dengan lelucon yang membuat seisi ruangan tertawa. Radit mendengar semua itu dan tidak ikut tertawa.
°°°°
Ruang salat kecil di ujung kantor hanya muat empat orang. Radit menggelar sajadah dan duduk saja, belum salat, menatap karpetnya.
Ia ingat sesuatu yang pernah ia dengar bertahun-tahun lalu dari seorang ustaz di masjid dekat rumah Ibu: seorang laki-laki tidak boleh meminang di atas pinangan saudaranya. Dulu itu hanya aturan di buku. Sekarang aturan itu punya nama, wajah, dan jadwal Minggu setelah Zuhur. Begitu Akbar datang ke rumah Rosidi, Tari berada dalam pinangannya. Selama jawaban belum keluar, Radit tidak boleh melangkah ke sana. Bukan menunggu, apalagi merebut. Hanya tidak melangkah.
Aturan itu tidak melarangnya merasa. Ia sadar benar itu. Danu sudah melapor sejak hari Minggu bahwa amplop itu sudah dibuka dan belum dijawab, hanya itu, dan Radit tidak bertanya lebih. Ia menghitung hari dengan jari tanpa sadar, lalu mengepalkan tangan supaya jarinya berhenti.
Sesudah salat dhuha dua rakaat, ia kembali ke mejanya dan memanggil Kino dan Dewi. Keduanya datang hampir bersamaan, Kino dengan buku catatan terbuka sebelum diminta, Dewi dengan wajah tenang yang tak pernah berubah.
"Mulai besok, akun Chasanah Batik kalian yang pegang. Kino untuk produk dan presentasi, Dewi untuk jadwal dan penagihan. Saya tetap hadir bila ada keputusan besar."
Kino mengerjap. "Lho, Pak? Mas Akbar komplain?"
"Tidak. Dia tidak tahu."
"Berarti kinerja kita?"
"Tidak juga." Radit memilih kata-katanya seperti orang menyusun kartu. "Ada urusan pribadi antara saya dan beliau yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Saya tidak mau urusan itu masuk ke rapat. Lebih baik saya yang keluar dari meja itu."
Teguh, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, berkata satu kata, "Siap." Lalu menghilang.
"Dipindah gara-gara urusan pribadi, Pak?" Dewi bertanya, pelan dan lurus. "Atau supaya Bapak tidak bertemu beliau?"
"Dua-duanya." Radit mengaku. "Tolong jangan bicarakan alasannya kepada siapa pun. Dan perlakukan beliau seperti biasa. Ini tindakan saya, bukan hukuman buat beliau."
Dewi mengangguk satu kali. "Baik, Pak."
Kino masih ingin bertanya sesuatu, tetapi Dewi menariknya keluar dengan satu pandangan.
°°°°
Danu makan di meja jati itu malam harinya, dengan sepiring nasi dan lauk yang Nur titipkan, sambil menyalahkan lampu dapur yang katanya terlalu terang. Radit duduk di seberangnya, tidak makan, tangan menggenggam gelas teh yang sudah dingin.
"Jadi Mas ngasih akunnya ke Kino," kata Danu setelah Radit menceritakan, singkat dan tanpa hiasan. "Terus apa lagi? Mas duduk di sini dan menunggu?"
"Danu."
"Aku serius, Mas." Danu meletakkan sendoknya. "Mas melepas karena takut ditolak. Aku tidak bilang itu salah, aku cuma bilang itu benar. Seratus jawaban itu cuma kertas kalau Mas tidak berani berdiri."
Radit menatap adiknya. Danu menatap balik, rahangnya tegang, mata merah karena marah atau lelah atau dua-duanya.
"Saya yang melepas," kata Radit pelan. "Saya tidak merebut kembali sebelum ia selesai menjawab untuk dirinya sendiri. Kalau saya datang dengan seratus jawaban, itu bukan keberanian, Dan. Itu menekan."
"Terus kalau dia menjawab Akbar?"
"Maka dia menjawab Akbar."
"Dan Mas?"
Radit tidak menjawab. Danu menarik napas panjang lalu mengusap wajahnya dengan dua tangan. "Maaf, Mas. Aku emosi. Mbak Tari bilang jangan bawa kabar, jadi aku tidak bawa kabar, tapi aku juga tidak tahan melihat Mas begini."
"Terima kasih sudah tidak membawa kabar."
"Iya, iya." Danu bangkit, mengambil piring bersih dari rak, menyendokkan nasi dan lauk, lalu menaruhnya tepat di depan kakaknya. "Makan, Mas. Itu perintah Ibu, bukan perintahku." Radit menyuap satu sendok, hanya agar adiknya berhenti menatap. Setelah itu Danu mencuci piringnya sendiri, pamit pulang ke rumah Ibu, dan pergi dengan langkah yang masih sedikit marah.
Pintu menutup. Radit tinggal sendirian dengan teh dingin dan meja jati yang terlalu besar untuk satu orang.
Ponselnya bergetar di atas meja. Nama pengirimnya Akbar.
Kino bilang akun saya dipindah ke dia dan Dewi. Saya tidak keberatan, Mas. Tapi saya ingin Mas tahu itu tidak perlu.
Radit membaca pesan itu tiga kali. Ia tidak membalas. Ia mengetik beberapa kalimat, menghapusnya, mengetik lagi, lalu meletakkan ponsel dan memutuskan bahwa ia akan menjawabnya besok pagi dengan kepala yang lebih jernih. Dan ia akan menyebutkan sebabnya, tidak menghilang.