"Pakai sepatu yang boleh kotor," kata Papa dari balik pintu kamar Tari, pukul enam pagi, dengan suara orang yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak membuka perundingan.
"Mau ke mana, Pa?"
"Memancing."
Tari membuka pintu dengan rambut masih terbungkus kerudung tidur. Papa berdiri di lorong membawa dua joran bambu dan sebuah ember plastik berwarna biru, wajahnya sama seperti saat ia akan menonton final sepak bola. "Papa tidak pernah mengajak kamu memancing sejak kamu kelas dua SD. Kamu waktu itu menangis karena ikannya megap-megap."
"Aku masih menangis kalau ikannya megap-megap, Pa."
"Makanya ikannya kita lepas lagi. Ayo."
Empang itu milik seorang kenalan Papa, tidak lebih besar dari lapangan voli, dikelilingi pohon pisang dan saung bambu yang atapnya bocor di satu sisi. Airnya cokelat tenang. Papa memasang umpan di kail Tari dengan tangan yang sudah lama tidak melakukannya, hampir menusuk jarinya sendiri dua kali, lalu menyerahkan joran itu dengan gaya penuh martabat.
Mereka duduk di tepi saung. Pelampung merah kecil mengapung di air tak bergerak. Seekor capung hinggap di ujung joran Papa, lalu pergi.
"Sudah lima menit tidak ada ikan, Pa."
"Papa ke sini bukan untuk ikan."
"Aku sudah menduga."
Papa tertawa pendek. Dari tas kain di sampingnya ia mengeluarkan termos kecil dan dua gelas plastik, menuangkan teh manis hangat untuk Tari, kopi hitam untuk dirinya sendiri, dan sebungkus roti isi cokelat yang jelas dibuat Mama diam-diam sebelum subuh. Tari mengenali lipatan plastiknya. Ia tidak berkomentar, hanya menggigit roti itu pelan-pelan, dan rasa cokelatnya yang kemanisan entah kenapa membuat dadanya sedikit longgar.
Papa menyandarkan jorannya di pagar saung dan membiarkan benangnya tergantung. "Kamu tahu berapa lama Papa memilih mamamu?"
"Tidak pernah dengar."
"Tiga minggu." Papa mengangkat tiga jari. "Kakekmu waktu itu mau Papa memutuskan dalam seminggu. Papa bilang tidak bisa. Minggu pertama Papa semangat. Minggu kedua Papa takut setengah mati, sampai tidak bisa makan. Minggu ketiga Papa sudah jujur ke diri Papa sendiri tentang apa yang membuat Papa takut, dan setelah itu hati Papa tenang. Bukan senang. Tenang."
Tari memperhatikan pelampungnya. "Istikharah?"
"Tiap malam. Tapi Papa tidak menunggu mimpi. Papa tidak pernah bermimpi apa-apa soal mamamu." Papa mengangkat bahu. "Orang suka mengira istikharah itu seperti menunggu telepon. Padahal yang Papa pelajari: sesudah kamu jujur, sesudah kamu berhenti memperindah alasan, lihat ke mana hatimu tenang. Lalu tanya, tenang itu benar atau cuma lelah."
"Bedanya apa?"
"Tenang yang benar bikin kamu ingin bangun besok. Lelah cuma bikin kamu ingin selesai."
Tari memikirkan kata-kata itu. Seekor ikan kecil menyentuh umpan di kailnya, pelampung bergoyang, lalu diam lagi. Ia tidak menariknya.
"Pa. Boleh aku menghitung keras-keras?"
"Hitung."
"Kalau aku bayangkan Akbar," ia mulai, matanya masih ke pelampung, "aku merasa hangat. Aku iba. Aku ingat tikar di gudang itu, Pa. Aku ingin ia bahagia. Aku ingin ibunya tidak menangis lagi. Rasanya seperti ingin menyelimuti seseorang yang kedinginan, Pa, bukan seperti ingin pulang ke rumah sendiri."
"Dan kalau Radit?"
Tari menelan ludah. Jemarinya mencengkeram bambu joran sedikit lebih kuat. "Kalau Mas Radit, aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kehilangan. Takut ia tidak mau. Takut ia sudah terlalu lelah menungguku jujur." Suaranya turun. "Rasanya seperti memegang gelas yang terlalu penuh."
Papa tidak langsung menjawab. Dari seberang empang, seorang bapak tua melewati pematang membawa cangkul dan mengangkat tangan menyapa. Papa membalasnya.
"Takut kehilangan dan tenang itu dua hal berbeda, Nak," katanya. "Orang sering mengira takut kehilangan itu bukti cinta. Bisa iya, bisa tidak. Kadang takut kehilangan cuma takut sendirian, atau takut disalahkan. Dan tenang pun tidak otomatis benar. Tenang bisa juga karena sudah menyerah." Ia menoleh, matanya hangat di balik kacamata. "Makanya Papa tidak mau menjawab ini untukmu. Papa cuma mau kamu tahu bahwa dua rasa itu belum dijawab oleh hitunganmu barusan."
"Jadi aku harus mencari yang mana?"
"Itu pertanyaan untuk daftarmu, bukan untuk Papa."
"Satu lagi," kata Papa, lebih pelan. "Apa yang kamu takutkan, di luar soal siapa yang kamu pilih? Soal dirimu sendiri."
Tari berpikir lama. "Dibilang orang yang menyakiti dua laki-laki baik sekaligus. Dibilang tidak punya pendirian. Dibilang... Mama dan Mama-nya Mas Radit sampai menangis gara-gara aku."
"Itu takut dinilai, bukan takut kehilangan." Papa mengangguk, seperti seorang guru yang menandai jawaban yang hampir benar. "Takut dinilai tidak ikut memilih, Nak. Dia cuma duduk di kursi sebelahmu dan berbisik. Kamu boleh dengarkan, tapi jangan beri dia setir."
Pelampung Tari tiba-tiba tenggelam. Ia terkesiap, menarik joran, dan seekor ikan mas sebesar telapak tangan menggelepar di ujung benang. Papa berdiri sambil bertepuk tangan seperti orang menang undian.
"Lepaskan," kata Tari cepat.
"Tentu."
Mereka melepasnya bersama-sama, dan ikan itu menghilang ke air cokelat dengan satu kibasan. Papa menatap embernya yang kosong dengan puas. "Hasil tangkapan hari ini: nol. Hasil perbincangan: lumayan."
°°°°
Di rumah, Mama sedang menyetrika taplak meja putih yang sudah rapi, sesuatu yang ia lakukan hanya bila gelisah. Di meja ruang tamu ada deretan cangkir teh yang disusun dan dibongkar tiga kali.
"Ma. Taplaknya sudah licin."
"Besok Pak Hamdan datang." Mama tidak menoleh. "Beliau pakai tongkat. Kursi tunggal Papa terlalu rendah, bangunnya susah. Mama mau tukar dengan kursi kayu yang dari kamar tamu."
Tari berhenti di ambang pintu. Ia tidak menduga Mama akan memikirkan hal itu. "Ma, baik sekali."
"Itu bukan jawaban untuk siapa-siapa." Mama akhirnya menoleh, dan matanya jujur, sedikit lelah. "Mama menyiapkan kursi untuk orang tua yang sakit. Itu saja. Jangan kamu baca macam-macam."
"Aku tidak baca macam-macam, Ma."
"Bagus. Karena Mama juga belum tahu apa yang Mama mau." Mama mematikan setrika. "Cuma kursi." Ia berdeham, mengalihkan topik dengan kikuk. "Kuenya Mama beli saja di toko langganan. Kalau Mama buat sendiri, nanti kelihatan seperti Mama sedang berusaha memenangkan sesuatu."
"Mama memang sedang berusaha memenangkan sesuatu?"
"Mama sedang berusaha tidak." Mama menunjuk Tari dengan setrika yang sudah dingin. "Tolong sebut itu sebagai kemajuan."
Tari tersenyum, lalu menunduk menyembunyikannya. Kemajuan, pikirnya. Mama memang sedang belajar, sama seperti semua orang di rumah ini.
Tari mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia naik ke kamar, mengambil buku catatan polos bersampul cokelat yang biasa ia pakai untuk daftar belanja, dan duduk di meja belajar. Di halaman pertama ia menulis dua judul dengan pulpen hitam, satu di kiri dan satu di kanan. Alasan. Tenang. Di bawah keduanya ia menarik garis lurus dan membiarkan sisa halaman putih.
Ia memandangi dua kolom kosong itu sampai Arif mengetuk pintu kamar dengan buku jari dan menjulurkan kepala.
"Kak. Boleh masuk?"
"Boleh. Pintunya memang terbuka."
Arif melongok ke meja. Ia membaca kedua judul itu dengan bibir bergerak. "Kakak bikin daftar lagi?"
"Iya."
"Daftar yang pertama dulu bikin empat orang kabur." Arif menggaruk kepalanya, serius sekali. "Yang ini, siapa yang kabur?"
"Aku," kata Tari. "Mungkin."