Kursi kayu dari kamar tamu sudah berdiri di ruang tamu sejak pukul sembilan pagi, lebih tinggi dan lebih kokoh daripada kursi lain, dengan bantalan tipis di sandarannya. Tari memperhatikan Mama menggesernya dua senti ke kiri, dua senti ke kanan, lalu mundur melihat hasilnya seperti pelukis memeriksa kanvas.
"Ma, itu sudah pas."
"Dua senti lagi."
Tari sendiri memakai gamis hijau zaitun, pilihan yang aman, yang tidak mengingatkan siapa pun pada siapa pun. Mobil tamu berhenti di depan pagar pukul satu lewat sepuluh. Arif yang mengintip dari jendela memberi laporan dengan suara bisik kencang, "Bapaknya turun pelan-pelan. Pakai tongkat. Ibunya pegang lengannya. Akbar bawa dua kotak." Papa sudah berdiri di ambang pintu dengan baju koko putih dan peci hitam, dan ia keluar sebelum ada yang sempat mengetuk.
"Assalamualaikum, Pak Rosidi."
"Waalaikumsalam, Pak Hamdan. Silakan masuk. Pelan-pelan saja."
Pak Hamdan berjalan dengan tongkat di tangan kanan dan satu kakinya menyeret tipis setiap kali melangkah. Wajahnya lebih kurus daripada yang Tari ingat dari kursi rotan di Bandung, tetapi matanya sama tenangnya. Bu Chasanah berjalan setengah langkah di belakangnya, mengenakan jilbab biru tua dan memegang tas kecil dengan dua tangan seakan benda itu bisa membantunya tidak gugup. Akbar menyusul paling belakang, dua kotak kue di tangan, mengenakan kemeja putih polos tanpa satu pun gaya.
Bu Chasanah berhenti di depan Tari. Ia tidak langsung memeluk. "Nak Tari. Ibu boleh... salam saja?"
"Boleh, Bu."
Mereka bersalaman, dan Bu Chasanah menahan tangannya satu detik lebih lama dari pantas, hanya satu detik, lalu melepas dengan senyum yang gemetar. Tari tidak tahu siapa di antara mereka yang lebih lega.
Mama mempersilakan Pak Hamdan duduk di kursi kayu. Pak Hamdan melihat kursi itu, melihat Mama, dan berkata pelan, "Kursinya pas, Bu." Mama, yang mendengar itu, tersipu seperti anak sekolah dipuji gurunya, dan Tari menahan tawa sekaligus rasa hangat di dadanya, dan ia mencatat dalam hati bahwa Mama tidak pernah berniat memenangkan siapa pun dengan sebuah kursi.
Pintu depan dibiarkan terbuka. Akbar duduk di kursi paling ujung, menjaga jarak, menaruh dua kotak kue di meja tanpa suara. Tari duduk di sisi Mama, menunduk, mengamati bagaimana semua orang berusaha tidak terlalu keras bernapas.
Pak Hamdan yang pertama bicara. Ia tidak terburu-buru. Setiap kalimatnya datang dengan jeda, seperti orang yang menyeberang sungai dengan batu pijakan.
"Pak Rosidi... Bu Melati... terima kasih sudah menerima kami." Ia berhenti. Bu Chasanah menyentuh punggung tangannya, dan ia melanjutkan. "Saya akan bicara... pendek saja. Anak saya... dulu salah cara. Bukan salah niat."
Tak ada yang bergerak.
"Dia berbohong... kepada Nak Tari. Karena dia pikir... itu melindungi. Itu salah. Saya yang... melarang dia bercerita. Karena saya sakit, dan karena saya malu." Pak Hamdan menarik napas. "Kami datang... bukan untuk menebus. Kami datang... untuk bertanya. Apakah anak kami... boleh dipertimbangkan. Itu saja. Kalau jawabannya tidak... kami pulang dengan hormat."
Bu Chasanah menyeka ujung matanya dengan jilbab. "Nak Tari, Bu Melati, Pak Rosidi. Ibu juga mau minta maaf, soal di restoran itu. Mulut Ibu ini memang tidak pernah bisa diam kalau sedang senang. Ibu tidak bermaksud membuka apa yang bukan hak Ibu. Kalau Nak Radit sampai terluka karena kelancangan Ibu, Ibu yang bertanggung jawab. Bukan Akbar. Bukan Nak Tari."
"Bu," kata Papa, lembut tapi tegas. "Yang tumpah di restoran itu sudah dibereskan oleh orang-orang yang bersangkutan. Ibu tidak perlu membawanya lagi ke sini."
"Terima kasih, Pak."
Papa melipat tangan di pangkuan. Suaranya tenang, seperti pada hari ia menerima Radit, hari yang terasa lama sekali. "Pak Hamdan, saya hargai kejujuran Bapak. Saya tidak akan memberi jawaban hari ini, dan bukan saya yang akan menjawab. Pernikahan ini menyangkut Tari, bukan saya dan bukan Mamanya. Saya beri tenggat dua pekan. Selama itu Tari boleh berpikir, boleh salat, boleh bertanya apa saja kepada kalian lewat saya. Setelah itu dia sendiri yang akan memberi tahu."
"Dua pekan," Pak Hamdan mengulang. "Cukup."
"Nak Akbar." Papa menoleh. "Ada yang mau kamu sampaikan?"
Akbar berdiri. Ia tidak melangkah mendekat. "Terima kasih, Om. Satu hal saja. Apa pun jawaban Tari, saya akan tetap bekerja baik dengan Mas Radit. Kerja sama kami tidak ada hubungannya dengan rumah ini. Saya sudah bilang kepadanya hari Kamis, dan saya mau Om dan Tante juga tahu."
Tari melihat sesuatu bergerak di wajah Mama, sekilas, sesuatu yang ia kenal sebagai rasa tidak enak. Mama membuka mulut, menutupnya, lalu mengambil teko dan menuangkan teh untuk semua orang.
Mereka berbincang sekitar satu jam, tentang Bandung, tentang usaha batik yang kini berjalan pelan tetapi stabil, tentang tongkat Pak Hamdan yang katanya "sahabat baru, tapi cerewet". Arif, yang awalnya diam di lantai dekat ambang, tertawa mendengar itu dan buru-buru menutup mulut. Pak Hamdan melihatnya dan tersenyum lebar, senyum yang hanya terangkat di satu sisi wajahnya, tetapi lebar. Salah satu kotak kue ternyata berisi bolu gulung yang masih agak hangat, dan Bu Chasanah memaksa Arif mengambil dua potong sekaligus. "Ambil, Nak. Anak laki-laki seumur kamu itu perutnya dua." Arif menoleh meminta izin kepada Papa, mendapat anggukan, dan menggigit dengan wajah orang yang baru menemukan agama baru. Dari seberang ruangan, Akbar sempat bertemu pandang dengan Tari. Ia langsung menunduk ke cangkirnya, sopan, tanpa senyum, tanpa upaya apa pun, dan Tari sadar ia sedang diperlakukan seperti seseorang yang bebas.
Tari tidak banyak bicara. Ia hanya berkata saat diminta Papa, "Terima kasih sudah datang dengan cara yang benar. Saya akan menjawab sendiri, dan saya tidak akan menjawab sebelum saya yakin."
"Itu... lebih dari cukup, Nak," kata Pak Hamdan.
°°°°
Mobil mereka berangkat pukul tiga. Bu Chasanah melambai dari jendela sampai pagar tertutup. Begitu suara mesin hilang, ruang tamu mendadak terasa terlalu lapang.
Mama berdiri lebih dulu. Ia menumpuk cangkir sambil menghindari tatapan siapa pun. Di dapur, air keran menyala terlalu lama.
"Ma."
"Iya."
"Ada yang mau Mama bilang?"
Keran dimatikan. Mama berdiri di ambang dapur, tangan basah, dan menatap Tari dengan wajah yang tidak bisa berpura-pura. "Mama masih berharap pada Radit," katanya. Pelan sekali. "Mama sudah coba tidak. Mama sudah coba sejak Radit melepas ikatan itu, dan setiap kali Mama melihat Pak Hamdan, Mama bilang sama diri sendiri, ini orang baik, ini keluarga baik. Tapi tetap saja, Mama masih berharap."
"Mama..."
"Cukup," kata Papa dari kursi tunggalnya. Ia tidak meninggikan suara. "Ma. Itu urusan Mama dengan hati Mama sendiri. Jangan dibawa ke kepala Tari."
Mama menunduk. "Maaf, Nak."
"Tidak apa-apa, Ma." Tari bangkit, mendekat, dan memegang bahu Mama sebentar. "Aku lebih suka Mama jujur daripada pura-pura. Aku cuma minta Mama jangan menarikku ke arah mana pun. Aku mau berjalan sendiri."
Ia menoleh kepada Papa, lalu kepada kursi kayu yang masih berdiri di sisi ruang tamu, dan kepada pintu depan yang sudah ditutup.
"Hari ini aku mulai istikharah."