Salat malam pertama itu berlangsung hampir satu jam, dan Tari baru sadar ia belum mengucapkan satu pun doa yang rapi.
Pukul tiga dini hari rumah sunyi sekali. Ia menggelar sajadah di antara tempat tidur dan lemari, mengenakan mukena putih yang biasanya hanya ia pakai pada Jumat, lalu salat dua rakaat, dua rakaat lagi, dan istikharah terakhir sebelum witir. Doanya tersendat. Bibirnya melafalkan bahasa Arab yang sudah ia hafal sejak kecil, tetapi bagian permintaannya, tempat ia semestinya menyebut urusannya sendiri, berkali-kali ia ulang dari awal karena ia tidak tahu harus menyebut siapa.
Akhirnya ia menyebut dirinya. "Ya Allah, tunjukkan mana yang baik untukku."
Sehabis salat, ia duduk di meja belajar dengan lampu kecil menyala dan buku catatan cokelat terbuka di hadapannya. Dua kolom yang kemarin kosong. Alasan di kiri, Tenang di kanan.
Ia mengisi Alasan lebih dulu. Untuk Akbar ia menulis cepat: keluarganya hangat. Sudah menebus. Sudah jujur. Tidak mengejar. Kenal aku sejak lama. Ibu Bapaknya menerima. Mama akan tenang. Garis demi garis tulisan itu memenuhi sepertiga halaman. Ia berhenti, menghitung sendiri. Tujuh alasan.
Untuk Radit ia menulis pelan: berani bilang salah. Berani bilang takut. Tidak membentak waktu terluka. Lalu ia terhenti. Tiga baris, dan tidak ada tambahan.
Tari menatap perbandingan itu dengan dahi berkerut. Tujuh lawan tiga. Kalau ini ujian matematika, jawabannya jelas. Tetapi pulpen di tangannya tidak mau ikut bersemangat. Ada sesuatu yang aneh pada daftar yang panjang: semua alasan di sana bisa diucapkan kepada orang lain. Alasan untuk Radit hanya bisa ia ucapkan kepada dirinya sendiri.
Kolom Tenang lebih sulit. Di bawah nama Akbar ia menulis: iba, hangat, bersyukur. Di bawah nama Radit ia menulis satu kata dan mencoretnya. Menulis lagi, mencoret lagi. Pada akhirnya ia menulis: takut. Lalu tanda tanya.
Ia menutup buku itu sebelum mulai menangis.
Sarapan pagi itu berlangsung lebih sunyi daripada biasanya. Papa membaca koran, Arif menyendok bubur tanpa bersuara, dan Mama menaruh teh di dekat siku Tari dengan gerakan hati-hati yang sama seperti ketika Tari kecil sedang demam.
"Mama dengar sajadah jam tiga tadi," kata Mama, tidak menatapnya.
"Iya, Ma."
"Mama tidak tanya hasilnya." Mama menyendok gula, mengaduk teh yang tidak perlu diaduk. "Mama cuma mau bilang, kalau kamu lapar tengah malam, ada bubur sisa di panci."
"Papa juga dengar," Papa menimpali dari balik koran. "Papa tidak tanya apa-apa juga."
"Aku juga dengar," kata Arif.
"Kamu tidak ada yang tanya," ujar Papa.
Tari tertawa sampai tehnya bergoyang, dan untuk sesaat beban di dadanya terasa seperti hal yang bisa dipikul bersama.
°°°°
"Tari. Ke ruangan saya sebentar."
Pak Fero berdiri di ambang ruang kerjanya pukul sepuluh pagi, kaku seperti anak kecil yang disuruh membawa surat panggilan. Gita, di meja CS 01, mengangkat alis tanpa suara. Tari mengikuti atasannya, menutup pintu separuh sesuai kebiasaan.
Ruang Pak Fero berbau kopi mesin. Di meja ada bingkai foto keluarga yang dibalik menghadap ke dalam, entah kenapa, dan sepiring kue lapis yang hanya tersisa satu potong. Pak Fero tidak duduk, dan Tari pun tidak diminta duduk, jadi mereka berdiri berhadapan seperti dua orang yang lupa naskah. Pak Fero menggaruk lehernya, lalu menyilang tangan, lalu menurunkannya.
"Begini," katanya. "Saya tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi."
"Pak, saya baik-baik saja."
"Kamu menatap layar komputer empat menit tanpa mengetik. Saya hitung." Pak Fero berdeham. "Jangan salah paham, saya tidak sedang mengawasi. Saya cuma, ya, melihat. Seorang atasan juga boleh melihat."
Tari terpaksa tersenyum. "Terima kasih, Pak."
"Dan saya mau bilang." Pak Fero menarik napas panjang seperti orang yang sedang menyelam. "Saya dulu ditolak. Berkali-kali. Tidak akan saya sebut berapa kali, memalukan. Orang-orang bilang itu mematikan. Ternyata tidak. Saya masih hidup, saya masih kerja, saya masih bisa makan lapis." Ia menunjuk piring kue di mejanya. "Jadi kalau kamu, entah dengan siapa, sedang berada di posisi menolak atau ditolak, itu tidak membunuh. Itu saja."
Tari menatapnya. Ia tidak pernah membayangkan Pak Fero, yang pernah memaksakan keponakannya di depan seluruh bank, mengucapkan kalimat yang begitu sederhana dan begitu tepat.
Pak Fero mendekat, ragu, lalu menepuk bahu Tari sekali dengan tangan yang terlalu kaku, seperti orang menepuk meja. Tepukan itu cepat, canggung, dan Tari nyaris tertawa.
"Dan, ya. Soal keponakan saya, lupakan. Saya sudah berhenti menjodoh-jodohkan." Ia berputar menuju kursinya dengan langkah sedikit terlalu cepat. "Silakan kembali bekerja. Dan kalau kamu butuh pulang cepat, bilang. Saya tidak akan tanya alasannya."
"Baik, Pak. Terima kasih."
Begitu pintu tertutup di belakangnya, Tari bersandar di dinding lorong dan menutup mulut. Bahunya berguncang. Itu bukan tangis, hanya tawa yang sudah terlalu lama ditahan.
°°°°
Gita menunggunya di musala saat jam istirahat. Mereka duduk berdampingan di teras kecil di samping toilet, dengan dua bungkus nasi yang belum disentuh.
"Dia ngomong apa?" bisik Gita.
"Dia bilang ditolak itu tidak membunuh."
Gita menutup mulut dengan tangan, matanya melebar. Sendok plastik di tangannya terjatuh ke lantai teras dan ia memungutnya tanpa sadar, masih menatap Tari seolah ia baru mendengar Pak Fero naik haji. "Pak Fero? Yang nyomblangin kamu di depan dua puluh nasabah?"
"Pak Fero. Dan dia menepuk bahuku seperti menepuk meja."
Mereka tertawa, terlalu keras, sampai Pak Dirman melongok dari ujung lorong dengan tatapan curiga dan Gita buru-buru melambai bahwa mereka tidak apa-apa. Setelah tawa itu reda, Gita meluruskan duduknya.
"Tar. Aku mau bilang sesuatu, dan ini bukan tentang kamu."
"Bilang saja."
"Akadku Sabtu enam pekan lagi." Gita menyebutkannya dengan nada yang dibuat datar, tetapi pipinya merah. "Aku sudah menunggu sejak SMA, dan sekarang tinggal enam pekan. Kamu harus datang. Duduk di barisan depan, bukan di belakang sambil pura-pura sibuk."
Tari menaruh nasi bungkusnya. Ia meraih tangan Gita dan menggenggamnya sebentar, hal yang jarang ia lakukan di kantor. "Selamat, Git. Aku datang. Aku akan duduk di depan."
"Sendiri?"
"Sendiri. Kenapa?"
"Karena tunanganku bertanya kamu bawa siapa." Gita menarik tangannya dan mengusap hidung. "Aku bilang tidak tahu. Dan itu jawaban jujur."
Tari tidak menjawab. Ia memandang pintu musala yang separuh terbuka, tempat Pak Dirman bersiul dari kejauhan.
Malam itu ia pulang lebih cepat dan membuka laci meja belajarnya. Lembar ketiga jawaban Radit masih di sana, terlipat tiga, berada di bawah catatan cokelat dan kertas jawaban yang ia coret sendiri. Ia mengeluarkannya, membentangkannya di atas meja, dan menekan jarinya ke baris terakhir yang pernah ia baca: jawaban nomor sembilan puluh sembilan.
Di bawah baris itu ada ruang kosong selebar dua jari, tempat nomor seratus menunggu, dan ia sadar ia sudah menghafal letak kekosongan itu seperti menghafal letak anak tangga di rumahnya sendiri. Seratus.
Ia menutup lembar itu lagi, tetapi tidak menyimpannya ke laci. Ia meletakkannya di atas buku harian, di tempat tangannya akan menyentuhnya pertama kali sepulang kerja. Rabu, katanya pada dirinya sendiri. Dua hari lagi.