"Sebelas hari," kata Mama sambil menata mangkuk sup di meja makan, seolah menyebut jumlah kursi.
Tari mengangkat kepala dari piringnya. "Ma. Aku bilang jangan dihitung."
"Mama gak ngitung. Mama cuma nyebut." Mama duduk, meraih sendok sayur, dan menciduk wortel ke mangkuk Tari tanpa ditanya. "Papa kamu yang ngitung. Mama cuma denger Papa ngitung dari balik koran."
"Papa gak ngitung," Papa berkata dari balik korannya.
"Papa ngitung."
"Papa lagi baca berita bola."
Arif terbatuk, berusaha keras tidak tertawa, dan menyembunyikan wajahnya di mangkuk.
"Bank ramai hari ini, Nak?" tanya Papa, akhirnya menurunkan koran satu lipatan.
"Ramai, Pa. Ada yang marah gara-gara kartunya tertelan mesin."
"Marahnya sampai gebrak meja?"
"Sampai gebrak meja. Pak Dirman yang datang menenangkan." Tari menyuap sup. "Katanya, mesinnya yang salah, bukan manusianya. Jadi mesinnya yang dimarahi."
"Pak Dirman itu bijak," ujar Papa. Tari menatap wortel di mangkuknya. Hari ini hari Rabu, dan ia pulang kerja dengan perasaan bahwa seluruh tubuhnya sudah tahu apa yang akan ia lakukan malam ini, hanya kepalanya yang belum diberi tahu.
"Aku selesai," katanya sebelum separuh sup habis. "Aku mau salat dulu. Jangan ada yang ketuk pintu, ya."
Tak seorang pun menjawab. Mama dan Papa bertukar pandang sebentar, pandangan yang Tari kenali sebagai kesepakatan tanpa kata.
Di lorong menuju kamarnya, Mama menyusul dengan secangkir teh hangat. "Minum. Jangan lupa."
"Terima kasih, Ma."
"Mama gak tanya kamu mau salat apa." Mama berdiri dengan kedua tangan di depan perut, ragu. "Tapi kalau nanti kamu butuh dipeluk, ketuk dinding aja. Mama di kamar sebelah. Mama gak bakal nanya apa-apa. Mama cuma peluk."
"Ma, aku belum tentu menangis."
"Semua orang bilang gitu sebelum pintunya dikunci." Mama tersenyum miring, lalu mengusap pipi Tari sekilas, dengan punggung jari, seperti dulu ketika Tari masih kecil dan baru bangun dari tidur. "Sana."
Lembar ketiga itu masih berada di atas buku harian persis seperti yang ia letakkan Senin malam. Tari mengunci pintu, menyalakan lampu meja, dan duduk. Tangannya dingin. Ia membuka lipatan kertas HVS itu, melewati jawaban sembilan puluh tujuh, sembilan puluh delapan, dan sembilan puluh sembilan, yang pernah membuatnya berhenti dulu. Di bawahnya ada baris yang sudah lama ia hindari.
100. Apa yang harus dilakukan saat tahu semisal kamu tidak bisa mempunyai anak?
Tulisan tangan Radit di bawahnya lebih rapat daripada tulisan di baris-baris lain, seperti orang yang sengaja memberi dirinya ruang lebih sedikit.
Saya tidak punya jawaban yang indah. Saya hanya punya satu: saya akan tinggal. Rumah yang saya mau bukan rumah yang penuh suara anak, tetapi rumah yang penuh orang yang tidak pergi saat sunyi. Kalau Allah menitipkan anak, kami syukuri. Kalau tidak, kami tetap utuh. Saya menulis ini setelah dua malam tahajud, bukan setelah sekali jatuh cinta.
Tari membaca baris itu satu kali, pelan. Inti kalimat itu bukan hal baru. Ia pernah mendengarnya dari mulut Radit sendiri di kafe pada hari ia menerima taaruf, ketika semua orang tertawa gugup dan lampu kafe terasa terlalu terang. Ia juga pernah membalik halaman ini, pada hari ia belum berani membacanya. Yang ia takutkan memang bukan isi jawabannya. Ia takut karena sekali ia membacanya dengan mata terbuka, ia tidak punya alasan lagi untuk menunda.
Tetapi di bawah jawaban itu masih ada satu baris kecil yang belum pernah ia lihat.
Huruf-hurufnya lebih kecil, ditulis dengan pulpen yang sama namun tekanan yang lebih ringan. Seperti catatan yang tidak ingin menjadi bagian resmi dari kertas.
Tari, kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah berani. Halaman ini saya tulis ulang dua malam; yang pertama terlalu indah dan tidak jujur.
Tari berhenti bernapas.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Pada bacaan ketiga ia mengerti dua hal sekaligus, dan kedua hal itu datang bertabrakan seperti dua orang di pintu sempit.
Yang pertama: Radit sudah menebak. Sejak awal, sejak ia menulis jawaban nomor seratus, ia sudah tahu Tari tidak akan membaca bagian ini dengan segera. Ia tahu Tari akan menunda, mungkin sangat lama. Dan ia menulis catatan itu bukan untuk menuntut, melainkan untuk menunggu. "Kalau kamu membaca ini." Bukan "ketika". Bukan "segera". Kalau.
Yang kedua: halaman yang pertama, yang terlalu indah dan tidak jujur, sudah dibuang. Radit menulis ulang dua malam supaya Tari tidak mendapat kalimat yang bagus. Ia ingin Tari mendapat kalimat yang benar.
Dada Tari terasa sesak, lalu longgar, lalu sesak lagi. Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahan, satu, dua, lalu menetes ke kertas hingga tinta di pinggir halaman sedikit melebar. Ia cepat-cepat mengangkat kertas itu, menahannya dengan kedua tangan agar tidak rusak, dan terisak tanpa suara, seperti orang yang menangis di tengah rumah yang tidak boleh tahu.
Kertas inilah yang paling ia minta untuk diisi jujur. Seratus pertanyaan yang ia susun dulu karena ia sudah muak pada janji-janji manis yang tak bisa diperiksa. Dan satu-satunya orang yang menjawab semuanya dengan jujur, sampai menulis ulang yang terlalu indah, justru ia bohongi selama berminggu-minggu. Ia tidak berbohong tentang hal besar. Ia hanya menyembunyikan satu nama. Tetapi nama itu ia sembunyikan dari orang yang menaruh seratus kejujuran di tangannya.
Itulah yang melukai Radit. Bukan Akbar, bukan masa lalu. Kertas ini.
Pintu kamar diketuk dua kali, pelan sekali. Tari menahan napas.
"Kak," kata suara Arif dari balik pintu. "Aku nggak masuk. Aku cuma taruh sesuatu di lantai."
"Rif..."
"Dua bungkus. Jaga-jaga." Langkahnya menjauh, lalu berhenti. "Aku nggak nanya apa-apa, Kak."
Tari menyeka hidung dengan punggung tangan. "Kamu dengar?"
"Nggak. Dinding rumah ini tebal."
"Dinding rumah ini tipis, Rif."
"Ya, tebal kalau aku sedang berbaik hati." Terdengar Arif mengambil napas. "Kak, Mas Radit itu orang baik, kan?"
"Kenapa tanya begitu?"
"Soalnya kalau Kakak nangis gara-gara dia, aku harus tahu mau marah atau mau terima kasih."
Tari menatap pintu. Jawabannya muncul sebelum ia sempat memikirkannya. "Terima kasih. Dan aku yang harus minta maaf."
"Oke." Arif terdengar lega. "Berarti aku nggak jadi marah."
Tari membuka pintu sedikit. Di lantai ada dua bungkus tisu saku, tersusun rapi berdampingan. Ia memungutnya dan menutup pintu lagi. Tawa kecil lolos di tengah isaknya, basah dan getir.
Ia mengambil selembar HVS kosong. Tangannya masih gemetar saat menulis. Jawaban 101, begitu ia mengetik di kepalanya, tetapi huruf-huruf yang keluar berbunyi, Aku memilih, dan ia berhenti di situ lagi. Ia mencoba kalimat lain: Aku minta maaf karena. Ia mencoret. Aku menulis ini karena. Ia mencoret lagi. Setiap kalimat yang lahir terasa seperti jawaban yang sudah dipoles, seperti halaman pertama Radit yang ia buang karena terlalu indah dan tidak jujur.
Ia meremas kertas itu, perlahan, lalu merobeknya menjadi dua. Setengah lagi ia robek jadi empat.
Di selembar kertas baru ia menulis satu kata saja dengan huruf yang tidak gemetar.
Belum.
Kata itu pendek dan jujur, dan untuk pertama kalinya sejak amplop itu datang, ia merasa tidak ada yang perlu dipoles. Ia melipat kertas bertuliskan satu kata itu, menyelipkannya ke amplop cokelat bersama pertanyaan Radit, dan menaruhnya di bawah bantal.