"Tiga puluh delapan koma enam," kata Mama sambil menarik termometer dari ketiak Tari, dan nadanya seperti orang membaca vonis.
Tari menarik selimut sampai ke dagu. Kamar terasa terlalu terang, padahal tirai belum dibuka. Sejak Kamis ia merasa tubuhnya dipinjam orang lain: kepala berat, sendi nyeri, makanan terasa seperti kertas. Kemarin ia masih memaksa masuk kerja, dan Gita menyuruhnya duduk bersandar sambil menyodorkan permen jahe tanpa bertanya. Pagi ini tubuhnya akhirnya menolak.
"Cuma demam, Ma. Besok juga turun."
"Besok juga turun, besok juga turun." Mama menirukan dengan nada tidak sabar sambil mengompres dahi Tari dengan handuk kecil yang dicelup air hangat. "Mama sudah dengar kalimat itu dari kamu sejak kamu SMP. Kamu itu kalau dipikirkan terlalu keras, badannya yang bayar."
"Aku tidak memikirkan apa-apa."
"Ya Allah, Nak." Mama menatapnya lurus. "Delapan hari lagi tenggat Papa. Delapan. Mama hitung semalam, tidak bisa tidur. Mama tidak mau kamu jatuh sakit begini cuma karena menunda."
"Mama bilang tidak menghitung."
"Mama bohong." Mama mengaku tanpa malu. "Mama bohong dan Mama menghitung."
Tari memejamkan mata. Air hangat dari handuk menetes ke pelipisnya, lalu ke bantal. Di bawah bantal itu ada amplop cokelat berisi satu kata, Belum, yang sudah tiga hari ia tidak berani lihat.
"Ma."
"Iya, Nak."
"Aku capek." Suaranya serak. "Aku ingin menerima Akbar saja. Supaya semuanya selesai."
Tangan Mama berhenti. Handuk itu menggantung di atas dahi Tari, tidak bergerak.
"Tinggal bilang iya. Orang tuanya baik. Mama senang. Papa tidak akan keberatan. Mas Radit juga sudah bilang bebas." Tari menelan ludah yang terasa seperti pasir. "Setelah itu tidak ada lagi tenggat, tidak ada lagi dua kolom, tidak ada lagi orang yang menangis di ruang tamu kita. Selesai."
Mama membuka mulut, tetapi tak ada kata yang keluar. Ia, yang pernah berkata "ada Akbar" dengan lantang di dapur, sekarang menatap putrinya dan wajahnya tidak menunjukkan kelegaan. Hanya cemas yang dalam.
"Tar..."
Langkah di lorong terdengar pelan. Papa berdiri di ambang pintu, berpakaian rumah, memegang gelas air putih yang jelas tidak ia bawa untuk dirinya sendiri. Entah sejak kapan ia di sana.
"Ma, tolong tinggalkan kami sebentar," katanya. Mama bangkit tanpa membantah, mengusap handuk di tangannya, dan keluar sambil menunduk. Pintu dibiarkan terbuka.
Papa duduk di kursi belajar Tari, memutarnya menghadap tempat tidur. Ia meletakkan gelas di nakas dan memandang putrinya lama sekali.
"Kamu masih ingat yang Papa bilang di empang?"
"Lelah itu cuma bikin ingin selesai," bisik Tari.
"Dan?"
"Dan tenang bikin ingin bangun besok."
"Kamu sekarang ingin yang mana?"
Tari terdiam. Matanya mulai panas. "Ingin selesai, Pa."
"Berarti jawabannya sudah kamu tahu." Papa menyentuh punggung tangannya sekilas, hangat dan kasar. "Nak, Papa tidak akan marah kalau kamu memilih Akbar. Papa akan hormati. Tapi Papa tidak akan diam melihat kamu memilih dia hari ini. Jangan jadikan Akbar pelabuhan dari rasa bersalah. Dia anak baik. Dia berhak dipilih karena kamu ingin dia, bukan karena kamu ingin berhenti berlayar."
"Pa, aku..."
"Kamu sedang demam. Kamu sedang lelah. Dan kamu sedang mengira ketenangan sama dengan selesai." Papa berdiri, merapikan selimut Tari sampai ke bahu. "Tidur dulu. Besok kamu boleh tetap berpikir begitu, dan Papa tetap akan di sini."
Ia keluar, meninggalkan gelas air putih di nakas. Tari memandang langit-langit. Ada sesuatu yang pecah di dalam dirinya, tapi pecahnya pelan dan tidak menyakitkan, seperti kaca yang sudah retak sejak lama dan baru sekarang jatuh.
°°°°
Ia tertidur sampai lewat tengah hari, dan terbangun dengan suara motor yang ia kenal di ujung gang.
Motor bebek hijau itu berhenti di depan pagar. Dari kamar, Tari mendengar suara Mama menjawab salam di pintu depan, suara kecil Danu, lalu hening. Ia menggeser selimut, turun dari tempat tidur dengan kaki yang belum stabil, dan berjalan pelan ke ambang kamar.
Danu berdiri di ruang tamu dengan jaket hitam, memegang rantang bertingkat dua yang dibungkus kain kotak-kotak. Ia tampak canggung. Wajahnya, yang biasa nyablak, kini seperti anak sekolah yang disuruh mengantar surat kepada guru.
"Mbak," katanya begitu melihat Tari. "Mbak jangan berdiri. Duduk, duduk."
"Danu, kamu..."
"Ibu yang nyuruh." Danu cepat-cepat meletakkan rantang di meja. "Tante Melati kirim pesan ke Ibu pagi tadi bilang Mbak demam. Ibu langsung masak bubur, katanya jangan lama-lama. Mas Radit tidak tahu, Mbak. Ibu sengaja tidak bilang. Ibu takut dia nyetir ke sini."
Tari duduk di kursi terdekat. "Danu..."
"Ibu bilang, 'Makan dulu, mikir belakangan.'" Danu membuka rantang, dan uap hangat naik, membawa aroma bubur ayam dengan bawang goreng, aroma yang entah kenapa membuat dada Tari menciut. "Ibu juga masukin jahe. Katanya jahe bagus buat demam."
Mama berdiri di ambang dapur memandangi mereka, tangannya menggenggam celemek. Tari mengambil sendok yang disodorkan Danu dan menyuap satu sendok bubur. Rasanya manis, asin, hangat, persis seperti bubur yang dulu ibunya bikin ketika ia kecil.
Ia menangis begitu saja.
Bukan tangis yang tertahan seperti di kamar, tapi tangis yang jatuh sendiri, dengan sendok masih di tangan. Danu panik, berdiri, duduk lagi, lalu meraih kotak tisu dari meja tanpa tahu mau diapakan. Mama datang dari dapur, memeluk bahu Tari, dan menatap Danu dengan mata basah.
"Terima kasih, Danu," bisik Mama. "Sampaikan ke Ibumu, terima kasih."
"Iya, Tante." Danu mengusap hidungnya dengan lengan jaket. "Mbak, makan yang banyak, ya. Besok aku datang lagi kalau Ibu nyuruh."
Sorenya demamnya turun. Termometer menunjuk tiga puluh tujuh koma sembilan, dan Mama membacanya dua kali seperti tidak percaya, lalu pergi ke dapur untuk mencuci rantang Nur dengan sabun lebih banyak dari perlu. Tari berbaring di sofa ruang tamu dengan selimut tipis, mangkuk bubur kosong di meja. Dari kamar sebelah terdengar Arif sedang memainkan gitar dengan tiga kunci saja, berulang-ulang, tanpa lagu.
Papa duduk di kursi tunggal, membaca, tetapi halaman korannya tidak berpindah sejak setengah jam lalu.
"Pa."
"Hm?"
"Terima kasih tadi." Tari menarik selimut sampai ke dagu. "Aku tadi hampir bilang iya karena capek. Aku tahu itu. Cuma, kalau Papa tidak menghentikanku, aku mungkin sudah mengatakannya ke Mama sepuluh kali."
"Papa tahu." Papa melipat korannya jadi empat. "Kamu anak yang kalau terdesak memilih jalan paling cepat keluar ruangan. Itu bukan cacat, itu cara kamu bertahan. Tapi pernikahan bukan pintu keluar."
"Aku mau cuti Senin, Pa."
Papa menatapnya. "Cuti?"
"Sehari. Aku mau ke masjid pagi dan tidak pulang sampai Zuhur. Aku mau minta jawaban bukan dengan kepala yang demam atau lelah." Tari menggigit bibir. "Boleh?"
"Boleh." Papa tidak bertanya apa pun lagi. Ia hanya mengangguk, lalu berkata, seolah menyebut cuaca, "Mama akan menawarkan bekal. Kamu terima saja, jangan dibantah."
"Aku terima."
Dari dapur Mama berseru, "Mama dengar itu! Bekalnya nasi kuning!"
Tari tertawa, pelan dan serak, dan tawa itu membuat kepalanya berdenyut.
"Dan Senin," Mama menyambung dari dapur, kali ini lebih pelan, "kalau kamu pulang dari masjid dan mau cerita, Mama ada. Kalau tidak mau, Mama juga ada."