Balasan Pak Fero datang Minggu malam, dan Tari membacanya dua kali karena yakin ia salah baca.
Cuti sehari? Ambil. Ambil dua kalau perlu. Tapi jangan bilang Pak Dirman, nanti dia sedih tidak ada yang bisa dimarahi. Salam untuk orang tua.
Ia tertawa sendirian di kamar, lalu mematikan ponsel dan tidur lebih awal daripada beberapa pekan terakhir.
Senin subuh, Papa berjalan di sampingnya menuju masjid, tangan di saku sarung, napas mereka berdua terlihat putih di udara dingin. Langit masih abu-abu. Di tangan Tari ada kantong kain berisi mukena, botol minum, dan kotak nasi kuning yang dipaksakan Mama dengan wajah penuh keyakinan.
"Demammu sudah benar-benar turun?" tanya Papa.
"Sudah, Pa. Tiga puluh enam koma tujuh kemarin."
"Bagus." Papa berjalan beberapa langkah tanpa bicara. "Nak. Papa antar sampai gerbang saja. Salat Subuh di sini bersama jamaah, lalu kamu bebas. Papa pulang. Papa tidak akan menyusul."
"Papa tidak akan menanyakan apa-apa nanti?"
"Papa akan bertanya satu hal saja." Papa berhenti di gerbang masjid. "Kamu pulang sudah makan atau belum. Itu saja."
Tari tertawa kecil. "Itu pertanyaan yang adil."
Papa mengelus ubun-ubun kerudungnya satu kali, sekilas, lalu berbalik pergi. Tari memandang punggungnya sampai hilang di tikungan, lalu masuk ke serambi perempuan.
Subuh selesai. Para jamaah pulang satu per satu. Ia tetap duduk di sudut, bersandar pada tiang kayu, dengan sajadah yang ia bentangkan sendiri. Waktu berjalan pelan di tempat itu. Matahari naik, sinarnya masuk dari jendela tinggi dan membentuk persegi terang di lantai marmer, bergeser sedikit demi sedikit.
Ia salat dua rakaat, lalu dua lagi. Doa istikharah ia lafalkan perlahan, kali ini tidak tersendat. Bagian yang selalu membuatnya macet, bagian permintaan, kini keluar tanpa nama: Ya Allah, kalau ini baik bagiku, mudahkan. Kalau tidak, jauhkan, dan jauhkan aku dari memilih karena takut.
Selesai salam ia tetap menunduk lama.
Seorang ibu penjaga masjid, yang dari tadi menyapu serambi dengan gerakan lambat, menghampiri dengan segelas teh dan meletakkannya di dekat sajadah. "Dari tadi saya lihat Mbak belum makan."
"Terima kasih, Bu. Saya bawa bekal."
"Ya sudah, dimakan nanti. Tehnya diminum dulu." Ibu itu duduk bersila di lantai tak jauh dari sana, menggulung-gulung ujung kain sapu. "Mbak lagi nunggu jawaban, ya?"
Tari hampir tersedak. "Kok Ibu tahu?"
"Dari cara duduknya. Yang nunggu jawaban itu duduknya lurus dan nggak bergerak." Ibu itu tersenyum, giginya ompong satu di depan. "Saya sudah dua puluh tahun nyapu di sini. Sudah banyak lihat. Biasanya jawabannya nggak datang waktu lagi berdoa. Datangnya waktu lagi diam sesudah doa, kayak lagi nunggu bus."
"Kalau tidak datang?"
"Ya pulang. Besok balik." Ibu itu bangkit, lututnya berbunyi. "Allah nggak ke mana-mana, Mbak."
"Bu." Tari menahannya. "Kalau jawabannya sudah datang, bagaimana tahu itu bukan karena saya yang ingin?"
Ibu itu berpikir sebentar sambil menyapukan ujung sapu ke lantai. "Tunggu sampai besok. Kalau besok pagi masih sama, Mbak, itu bukan karena Mbak yang ingin. Itu karena memang begitu."
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama. Tehnya jangan lupa dihabiskan."
Setelah ia pergi, Tari meminum tehnya, hangat dan terlalu manis, dan membiarkan diam sesudah doa itu tinggal.
Tidak ada mimpi. Tidak ada suara. Tetapi ketika ia memejamkan mata dan sengaja membayangkan dirinya tua, sebagai ibu-ibu dengan rambut beruban yang tak terlihat di bawah kerudung, ia melihat sebuah dapur. Tidak mewah. Ada meja dari kayu jati dengan enam kursi yang tidak seluruhnya terisi, dan di salah satu kursi ada seorang laki-laki berlesung pipi yang rambutnya juga memutih, sedang berkata sambil menunduk, "Saya salah, Tari. Dan saya takut."
Dua kalimat itu, dalam satu napas.
Ia membuka mata. Jantungnya tidak berdegup kencang. Ia menunggu rasa takut kehilangan yang selama ini selalu datang lebih dulu, tetapi yang datang justru kehangatan yang tenang. Bukan ledakan. Hanya hangat, dan cukup.
Lalu ia memaksa dirinya membayangkan Akbar. Akbar yang tertawa. Akbar yang membawa kue dengan baju putih polos. Akbar yang berteriak di halaman wisuda dan menyetir semalaman. Perasaannya kepada lelaki itu muncul lengkap, dan ia membiarkannya muncul tanpa menolak. Iba. Terima kasih. Rasa lega bahwa ada sesuatu yang selesai dengan baik. Semuanya hangat dan semuanya jujur. Tetapi semuanya terasa seperti rumah lama, bukan rumah yang ingin ia pulangi.
Ia mengeluarkan buku catatan cokelat dari kantong kain dan membuka dua kolom itu. Tujuh alasan, tiga alasan. Dahulu angka-angka itu membuatnya gelisah. Sekarang ia membacanya seperti daftar belanja yang ditulis orang lain: rapi, masuk akal, dan tidak ada hubungannya dengan apa yang ia bawa pulang.
Tari menarik napas panjang. Ia tahu ini bukan mimpi, dan ia tahu ini bukan sekadar lelah. Ini jenis tenang yang membuat ia ingin bangun besok pagi.
°°°°
Pukul dua belas ia pulang. Di jalan ia sempat berhenti di sebuah warung dan membeli sebungkus kerupuk untuk Arif tanpa alasan apa pun, hanya karena ia ingin membeli sesuatu dengan kepala yang ringan. Di rumah ia makan nasi kuning di meja dapur sementara Mama pura-pura sibuk menyusun toples, lalu masuk ke kamar dan mengambil amplop dari bawah bantal. Ia mengeluarkan pertanyaan Radit, meletakkannya di sisi kanan meja, dan menarik selembar kertas baru.
Kali ini pulpennya tidak berhenti.
Pertanyaan ini bukan untukmu, Mas. Jadi aku menjawabnya untuk diriku sendiri. Kalau tidak ada yang menunggu, tidak ada yang mendesak, dan tidak ada yang bisa kutakuti hilang, aku akan tetap memilihmu. Bukan karena Mas aman. Bukan karena Mas tidak pernah salah. Justru karena Mas pernah salah, dan berkata begitu di depan Papa. Aku ingin hidup dengan orang yang bisa mengatakan "saya salah" dan "saya takut" dalam satu kalimat, dan tidak pergi sesudahnya. Dan aku ingin menjadi orang yang melakukan hal yang sama.
Ia terus menulis sampai satu halaman penuh. Ia menulis tentang rumah yang selalu ia bayangkan tanpa ia sadari ada Radit di dalamnya. Ia menulis tentang Akbar dengan hormat, tidak lebih dan tidak kurang. Ia menulis bahwa ia memilih bukan karena takut sendirian. Ia berhenti sebelum kata terakhir, membaca ulang dari awal, tidak mencoret satu kata pun, dan melipat kertas itu menjadi tiga.
Papa duduk di teras ketika ia keluar, menyeduh teh dengan gerakan lambat. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menggeser kursi di sebelahnya.
"Papa belum bertanya," kata Tari.
"Papa sudah bilang akan bertanya satu hal."
"Aku sudah makan."
"Bagus." Papa menyesap tehnya. Lama. "Dan?"
"Aku sudah tahu, Pa." Tari duduk. Suaranya pelan dan tidak gemetar. "Tapi aku mau menunggu satu hari lagi, untuk memastikan ini bukan cuma tenang karena aku capek. Besok aku kerja seperti biasa. Lusa aku bilang ke Papa dan Mama. Dua-duanya, bersama."
Papa mengangguk. Ia menatap pagar, jalanan, dan langit yang sudah cerah. "Lusa itu Rabu."
"Iya."
"Empat hari sebelum tenggat." Papa menaruh cangkirnya. "Papa catat."