Rabu pagi, perasaan itu masih di sana.
Begitu bangun, sebelum membuka mata sepenuhnya, ia memeriksa hatinya pelan-pelan, mencari bagian yang nyeri, mencari keraguan yang mungkin sudah tumbuh semalam. Tidak ada. Perasaan tenang yang ia temukan di masjid dua hari lalu masih utuh, tidak lebih besar dan tidak lebih kecil, seperti benda yang sudah ditaruh di tempatnya.
Kata ibu penjaga masjid terbukti benar. Itu bukan karena ia yang ingin.
Di bank, hari berjalan lancar dan terasa ganjil. Seorang nasabah mengeluh soal biaya administrasi, seorang bapak membawa tiga buku tabungan yang semuanya salah tanggal, dan Tari melayani mereka dengan senyum yang tidak ia paksakan. Pak Dirman, yang lewat membawa kardus, sempat berhenti dan berbisik bahwa Mbak Tari hari ini kelihatan seperti orang yang baru dapat kabar baik. Tari hanya menjawab bahwa belum ada kabar, hanya tidur yang cukup. Menjelang istirahat Gita memiringkan badan melewati pembatas kaca.
"Kamu kelihatan beda."
"Beda bagaimana?"
"Seperti habis mandi air hangat." Gita menyipitkan mata. "Kamu sudah memutuskan."
"Nanti malam aku bilang ke Papa dan Mama."
"Jangan bilang ke aku dulu, ya? Aku bisa bocor." Gita menempelkan telunjuk di bibirnya, tetapi matanya sudah berkaca-kaca. "Cuma satu: apa pun yang kamu pilih, aku di pihakmu."
"Terima kasih, Git."
"Sana kerja. Ada nasabah, ngantre."
°°°°
Mereka duduk di meja makan sesudah Magrib, sebelum Mama sempat menyiapkan piring. Tari yang meminta. Ia berkata, "Ma, Pa, bisa duduk dulu sebelum makan? Lima menit," dan wajah Mama langsung berubah, seperti seseorang yang tahu bahwa nilai ujiannya sudah keluar. Arif, yang sedang membawa gelas, diam di ambang dapur sampai Papa berkata, "Kamu juga, Rif. Duduk. Jangan bicara."
"Siap."
Tari meletakkan kedua tangannya di atas meja. Ia sudah menyusun kalimat sepanjang perjalanan pulang, dan ketika waktunya tiba, semuanya hilang kecuali satu hal.
"Aku tidak akan menerima Akbar."
Hening. Dari ruang tamu jam dinding berdetak jelas sekali.
"Aku sudah istikharah, dan aku tidak mengambil keputusan ini dengan lelah. Papa bilang kalau lelah, bedakan dari tenang. Aku sudah membedakan." Suaranya pelan tapi stabil. "Aku menghormati Akbar. Aku memaafkannya, sungguh-sungguh, dan aku berterima kasih atas keberaniannya datang ke rumah ini dengan cara yang benar. Tapi aku tidak memilihnya."
Mama menutup mulut dengan tangan. Air matanya langsung jatuh, tanpa suara, mengalir ke pergelangan tangannya.
"Ma," kata Tari pelan. "Mama marah?"
"Tidak." Suara Mama pecah. "Mama tidak marah, Nak. Mama tidak bisa bantah. Mama sudah belajar dari Papa dua minggu ini, Mama tidak boleh bantah." Ia mengusap pipi dengan punggung tangan yang basah. "Mama menangis karena Mama takut. Kamu sudah bilang tidak ke Akbar. Kalau Radit juga..."
"Ma." Papa menyentuh lengan istrinya. "Itu risiko, dan Tari tahu itu."
"Aku tahu, Ma." Tari menatap Mama lurus. "Dengar baik-baik, ya. Aku tidak menolak Akbar supaya memilih Mas Radit. Aku menolak Akbar karena aku tidak memilih Akbar. Itu dua hal berbeda. Kalau Mas Radit akhirnya tidak mau, aku akan sedih. Sangat sedih. Tapi aku tidak akan menyesal sudah jujur hari ini."
"Kamu sudah bilang ke dia?" tanya Mama. "Ke Radit?"
"Belum. Dan belum akan. Dia melepas ikatan itu supaya aku memilih tanpa merasa berutang. Kalau aku langsung berlari ke dia sesudah menolak Akbar, itu berarti aku memilih Mas Radit karena sudah tidak ada pilihan lain. Itu bukan jawaban yang dia minta." Tari mengambil napas. "Jawaban untuk Mas Radit sudah kutulis. Tapi aku tidak akan memberikannya sampai ia datang kembali ke pintu ini dengan cara yang dia pilih sendiri. Kalau dia datang."
"Dan kalau dia tidak datang?" tanya Arif, tidak tahan.
"Rif," Papa menegur.
"Maaf. Tapi itu pertanyaan bagus."
"Itu pertanyaan bagus," Tari mengakui, dan hampir tersenyum. "Aku tidak tahu. Mungkin aku yang akan datang. Tapi dengan caraku."
Papa mengangguk lama. Ia menarik sebuah serbet, melipatnya sekali, lalu bicara dengan suara yang tidak keras. "Nak. Papa bangga. Bukan karena kamu menolak Akbar, tetapi karena kamu menolaknya tanpa memakai Radit sebagai alasan. Itu jarang." Ia menyeka kacamatanya dengan ujung serbet. "Satu hal lagi. Kamu harus menyampaikan ini sendiri kepada Akbar. Bukan lewat Papa. Bukan lewat Pak Hamdan. Dia sudah datang dengan caranya; kamu jawab dengan caramu."
"Aku sudah rencanakan itu, Pa."
"Bagus. Besok jangan, biar kamu tenang dulu. Malam ini, kirim pesannya. Atur pertemuannya. Jangan bawa orang lain kecuali Gita."
"Iya, Pa."
Mama menghapus matanya dengan serbet itu. "Mama harus telepon Nur. Mama tidak bisa tahan."
"Jangan, Ma." Tari menggeleng lembut. "Tolong jangan. Kalau Ibu tahu, Mas Radit akan tahu malam ini juga, dan ia akan merasa jawabanku dititipkan lewat dua ibu. Aku ingin tidak ada yang jadi kurir."
"Tapi Nur..."
"Besan itu orang baik," Papa menimpali. "Besan akan mengerti. Tahan dulu sampai Tari selesai bicara dengan Akbar, Ma."
"Selesai bicara dengan Akbar," Mama mengulang, seperti orang menelan obat pahit. "Baik. Mama tahan."
Mama berdiri. Ia tidak mengucapkan apa-apa, langsung berjalan memutari meja dan memeluk Tari dari samping. Kerudung Tari basah oleh air mata Mama, tetapi Mama tidak melepas.
"Mama minta maaf," bisik Mama di rambutnya. "Mama sempat mendorongmu ke sana-sini."
"Aku tahu, Ma."
"Mama sayang kamu."
"Aku juga."
°°°°
Pukul sembilan malam Tari duduk di teras dengan ponsel di tangan dan kopi hangat yang tidak ia sentuh. Ia sudah menulis pesan itu lima kali. Versi pertama terlalu panjang, versi kedua terlalu lembut, versi ketiga terdengar seperti surat dinas. Versi kelima ia baca sekali dan tidak mengubah lagi.
Lestari Ayu: Akbar, aku sudah punya jawabannya. Aku ingin menyampaikannya langsung, bukan lewat Papa dan bukan lewat pesan. Boleh kita bertemu? Di kafe seberang bank, dengan Gita. Waktunya kamu yang pilih.
Jempolnya tertahan di atas tombol kirim. Dari balik pagar, sebuah motor lewat dan lampu depannya menyapu halaman sekilas.
Ia menekan kirim.
Ponselnya diam selama dua menit. Tari menggenggam cangkir kopi dengan dua tangan. Tiga menit. Empat. Ia sudah hampir menyerah menunggu ketika layar menyala.
Akbar Fajriansyah: Sudah kuduga hari ini akan tiba. Jumat.
Tari membacanya sekali. Tak ada tanda seru, tak ada bujukan, tak ada nada apa pun selain titik. Hanya kalimat pendek dari seseorang yang sudah menyiapkan diri sejak hari pertama ia mengetuk pintu itu.
Pintu depan berderit. Papa muncul membawa dua gelas teh dan duduk di kursi sebelahnya tanpa bertanya.
"Dia balas?"
"Jumat, Pa."
"Cepat." Papa menyodorkan satu gelas. "Orang yang sudah siap memang cepat."
"Papa, aku tidak apa-apa kan?"
"Kamu menolak orang baik dengan cara yang baik. Kalau itu tidak apa-apa, Papa tidak tahu lagi apa yang apa-apa." Papa menyeruput tehnya. "Tapi jangan baca ulang pesan itu tujuh kali sebelum tidur."
Tari menatap layar ponselnya yang masih menyala. "Sudah tujuh, Pa."
"Berarti kamu sudah lewat batas." Papa tertawa kecil, mengambil ponsel itu dari tangannya, menekan tombol samping hingga layar padam, lalu menyerahkannya kembali. "Sekarang tidur."