Jumat itu bank ramai sampai pukul empat, seperti hari Jumat mana pun, dan Tari berterima kasih untuk itu. Orang yang sibuk tidak punya waktu menghitung menit.
Ponselnya bergetar di laci. Dua pesan, dan keduanya ia baca sambil menunggu printer. Dari Mama: Mama doakan dari rumah. Jangan lupa makan siang kamu tadi, Mama tahu kamu tidak makan. Dari Arif: Kak, kalau ada yang nangis, itu bukan salah Kakak. Tari hampir tertawa. Adiknya sudah mulai bicara seperti Papa, hanya dengan huruf yang lebih berantakan.
Nasabah terakhirnya seorang ibu yang ingin tahu kenapa saldonya berkurang dua ribu rupiah. Tari menjelaskan biaya administrasi dengan sabar, mencetak bukti, dan menyalaminya sampai ke pintu. Ketika ia kembali ke meja CS 02, Gita sudah berdiri di balik pembatas kaca dengan tas di bahu.
"Sudah?"
"Sudah." Tari merapikan formulir yang tidak perlu dirapikan. "Git, kalau nanti aku salah bicara, kamu boleh menendang kakiku di bawah meja."
"Aku tidak akan menendang. Aku cuma akan ada." Gita meraih tangan Tari, mengguncangnya sekali seperti orang menyemangati petinju, lalu melepasnya. "Ayo. Jangan sampai dia yang menunggu."
Pak Dirman membukakan pintu kaca. Ia tidak bertanya apa-apa, tetapi sebelum Tari lewat ia berkata pelan, "Hati-hati nyeberang, Mbak." Seolah jalan seberang itu jalan tol.
Kafe seberang bank sepi. Meja dekat pintu kosong, dan Akbar duduk di meja sebelahnya, bukan di meja yang pernah mereka pakai. Ia memakai kemeja batik biru tua yang rapi, dan di depannya ada segelas teh yang sudah tinggal setengah. Ketika melihat mereka, ia berdiri, menunggu sampai keduanya duduk, baru ikut duduk lagi.
"Terima kasih sudah datang," katanya.
"Terima kasih sudah memilih hari," kata Tari.
Pelayan datang, mencatat dua teh lagi, dan pergi. Gita duduk di sisi Tari dengan punggung lurus. Jarak antara Tari dan Akbar cukup lebar untuk dilewati satu orang membawa nampan.
Tari sudah menyusun kalimatnya berkali-kali di kepala, tetapi yang keluar justru yang paling sederhana.
"Bar, aku sudah istikharah. Aku juga sudah bicara dengan Papa dan Mama. Jawabannya aku sampaikan sendiri, seperti kata Papa." Ia menarik napas. "Aku memaafkanmu. Sungguh. Sesudah ke Bandung, sesudah mendengar Bapak dan Ibu, aku tidak punya amarah lagi. Dan aku tidak memilihmu."
Akbar tidak bergerak. Sesaat ia hanya menatap gelasnya.
"Aku mau jelaskan alasannya," lanjut Tari, "tapi aku tidak mau alasannya terdengar seperti kesalahanmu. Bukan itu. Kamu bukan orang jahat, dan kamu tidak salah niat. Hanya saja, waktu aku membayangkan kamu, perasaanku hangat dan berterima kasih. Itu perasaan yang baik. Tapi itu perasaan terhadap rumah yang pernah kutinggali, bukan rumah yang ingin kutuju."
Dari sebelah, terdengar suara hidung disedot pelan. Gita menunduk dan menyeka sudut matanya dengan serbet.
"Kamu menangis, Mbak Gita?" tanya Akbar, suaranya serak tetapi nadanya hampir geli.
"Aku kena debu."
"Di dalam kafe berpendingin?"
"Debunya canggih." Gita mengusap hidung. "Lanjut, Tar. Maaf."
Akbar tertawa pendek, dan tawa itu menolongnya. Ia menyandarkan punggung, mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk dua kali, pelan.
"Aku sudah tahu," katanya.
Tari mengerjap. "Sudah tahu?"
"Sejak hari-hari pertama duduk di ruang rapat itu. Mas Radit mendengarkan Kino presentasi sampai habis tanpa memotong, baru bertanya satu hal, soal upah pembatik. Bukan soal untung." Akbar memutar-mutar gelasnya sedikit. "Orang yang pertama kali bertanya soal upah pembatik itu orang yang tahu apa artinya kerja untuk orang lain. Dan waktu ia bilang calon tunangannya lulusan Bina Bangsa, aku menghitung dalam hati, dan aku ingin sekali bilang itu bohong. Tapi aku tahu itu bukan bohong." Ia tersenyum miring. "Aku ini narsis, Tar, tapi aku tidak buta. Kalau aku di pihakmu, aku juga memilih dia."
"Aku tidak memilihnya karena itu."
"Aku tahu. Kamu memilih karena kamu sendiri. Itu yang membuatnya lebih sulit." Ia berhenti, mencari kalimat berikutnya. "Boleh aku bilang satu hal, tanpa maksud menawar?"
Tari melirik Gita. Gita mengangkat bahu: terserah kamu.
"Boleh."
"Waktu aku memutuskan kamu dulu, aku mengira sedang menyelamatkanmu. Ternyata aku hanya menyelamatkan gengsiku. Kamu berhak diberi tahu, dan aku tidak memberi tahu." Suaranya merendah. "Aku minta maaf dengan cara yang tidak kutahu bagaimana. Jadi aku minta maaf saja, sesederhana itu."
"Aku terima, Bar."
"Terima kasih." Akbar menunduk sebentar. Ketika ia mengangkat wajah lagi, mata sipitnya berkaca-kaca, tetapi lesung pipinya muncul. "Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Ditolak dengan sangat sopan. Kalau kamu membentak, aku bisa marah. Kalau kamu menolak dengan sopan begini, aku cuma bisa bilang terima kasih."
"Itu maksudku."
"Kejam."
"Sopan."
"Sopan yang kejam." Ia tersenyum, kali ini tanpa meminta apa pun.
Teh dua gelas datang. Tidak ada yang menyentuhnya.
"Ada yang ingin kuminta," kata Akbar sesudah pelayan pergi. "Dua hal, dan boleh kamu tolak."
"Katakan."
"Pertama, izinkan aku yang menyampaikan ini kepada Mas Radit. Bukan Papamu, bukan Gita, bukan Ibuku. Aku. Selama ini kami menunggu terlalu lama, aku dan kamu. Aku tidak mau ia ikut menunggu padahal aku sudah tahu jawabannya." Ia menatap lurus. "Dan aku tidak akan menyampaikannya sebagai kabar gembira. Aku hanya akan menyampaikan apa adanya."
Tari berpikir. Ia membayangkan Radit di ruang tamu rumahnya, menunggu, menghitung hari. Ia membayangkan jawaban itu sampai kepadanya lewat orang lain, dan menyadari bahwa Akbar baru saja mengatakan hal yang sama dengan yang ia pikirkan dua malam.
"Boleh," katanya. "Tapi dengar baik-baik. Katakan padanya ini bukan hadiah. Aku tidak menolakmu supaya ia menang atau supaya ia punya alasan datang. Kalau ia datang, itu urusan dia dengan dirinya sendiri. Bilang begitu."
"Persis begitu."
"Dan yang kedua?"
"Yang kedua gampang." Akbar berdiri. "Jangan tunggu aku baik-baik saja dulu sebelum kamu bahagia. Aku akan baik-baik saja. Hanya butuh waktu, dan batik, dan Ibu yang marah-marah kalau aku makan sambil bengong."
Tari ikut berdiri. Ia mengatupkan tangan di depan dada, dan Akbar membalasnya dengan cara yang sama, tanpa berusaha mendekat satu langkah pun.
"Assalamualaikum, Tar. Mbak Gita."
"Waalaikumsalam."
Akbar berjalan ke pintu kafe. Pintunya dibiarkan separuh terbuka oleh pelayan yang sedang mengepel, dan di ambang itu ia berhenti, merogoh saku, lalu menempelkan ponsel ke telinga. Kafe begitu sepi sehingga suaranya terbawa sampai ke meja mereka.
"Assalamualaikum, Mas Radit? Ini Akbar. Maaf mengganggu sore-sore." Jeda. "Boleh saya ke rumah Mas malam ini? ... Bukan soal kerja, Mas. Soal yang lain, dan saya ingin menyampaikannya langsung." Jeda yang lebih panjang. "Insyaallah, sehabis Isya. Terima kasih."
Pintu menutup di belakangnya. Tari memandangi kaca itu sampai bayangan Akbar hilang di antara motor-motor yang berjajar.
Lututnya baru terasa lemas sekarang. Ia meletakkan kedua tangan di pangkuan supaya Gita tidak melihatnya gemetar, tetapi Gita melihat, dan menggeser kursinya hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.
"Kamu hebat," bisik Gita.
"Aku hampir lupa kalimatku."
"Tapi kamu tidak lupa isinya." Gita menyodorkan segelas teh. "Minum. Dan jangan langsung tanya apa yang akan Mas Radit katakan nanti malam. Aku tidak tahu, kamu tidak tahu, dan malam ini bukan giliranmu."
Tari memegang gelas itu dengan dua tangan. Teh itu sudah hampir dingin. Ia meminumnya sampai habis, dan baru pada tegukan terakhir ia sadar bahwa dari tadi yang ia tunggu bukan rasa lega. Ia menunggu telepon di tangan Akbar itu berhenti, supaya ia tahu apakah pintu di rumah seberang sana akan dibuka atau tidak.