Radit meletakkan ponsel di meja ruang tamu dan tidak bergerak selama hampir satu menit.
Boleh saya ke rumah Mas malam ini? Ia sudah menjawab "silakan" sebelum otaknya sempat menimbang. Itu kebiasaan lamanya: menjawab yang sopan lebih dulu, memikirkan akibatnya belakangan. Sekarang akibatnya duduk di dadanya, tepat di bawah tulang rusuk, dan menolak pergi.
Ia berdiri, menata ulang bantal sofa yang sudah rapi, menyapu remah yang tidak ada, lalu membuka pintu depan lebar-lebar dan menahannya dengan batu pipih dari halaman. Pintu terbuka. Dulu aturan itu ia pasang demi Tari. Malam ini ia memasangnya demi dirinya sendiri, seakan kalau semuanya terlihat dari luar, ia tak akan sempat berbuat bodoh di dalam.
Pukul enam ia mengetik pesan pendek kepada Danu.
Raditya Hermanto: Ke rumah saya sehabis Isya. Duduk di ruang tamu. Jangan banyak tanya.
Balasan datang dalam empat detik. Mas kenapa? Ada yang meninggal?
Tidak ada yang meninggal. Datang saja.
Danu muncul pukul tujuh lewat dengan motor bebek hijau yang knalpotnya berisik dari ujung gang. Ia masuk tanpa mengucap salam, melihat wajah kakaknya, dan baru ingat salam. "Assalamualaikum. Mas, wajah Mas kayak orang mau sidang."
"Waalaikumsalam. Duduk."
"Aku disuruh jadi apa?"
Radit menatap adiknya. Ia sudah memutuskan akan bilang sesuatu yang lebih ringan, tetapi yang keluar lain. "Saksi. Saya tidak mau mendengar ini sendirian."
Danu berhenti bercanda. Ia duduk di sofa panjang dan meletakkan kedua tangan di lutut, seperti anak sekolah menunggu pembagian rapor.
"Mas takut?"
"Ya."
"Ya sudah." Danu mengangguk. "Aku di sini."
Itu saja, dan itu cukup.
°°°°
Mobil Akbar berhenti di depan pagar pukul tujuh empat puluh. Radit mendengar pintunya menutup, langkah kaki di jalan setapak, lalu salam yang diucapkan jelas dan tidak terburu-buru. Akbar berdiri di ambang pintu yang sudah terbuka, tidak masuk sebelum dipersilakan.
"Silakan, Mas Akbar."
"Terima kasih, Mas. Danu."
"Mas Akbar," kata Danu, dan hanya itu.
Akbar duduk di kursi tunggal yang menghadap sofa, punggungnya tegak, kedua tangan terlipat di pangkuan. Ia tidak membawa tas, tidak membawa berkas, bahkan tidak membawa buah tangan. Radit baru menyadari bahwa itu juga bentuk sopan santun: orang yang membawa kabar berat tidak datang dengan tangan penuh.
"Saya langsung saja, kalau Mas tidak keberatan."
"Silakan."
"Tadi sore, di kafe seberang bank, dengan Gita sebagai saksi, Tari memberi jawaban kepada saya." Akbar menatapnya lurus. "Ia menolak. Ia bilang memaafkan saya, dan tidak memilih saya."
Ruang tamu itu sunyi. Dari luar terdengar jangkrik dan satu motor lewat. Danu menahan napas begitu keras hingga Radit nyaris mendengarnya.
Radit merasakan sesuatu bergerak di dalam dirinya, dan ia menunggu lega. Yang datang lebih rumit dan lebih berat dari lega: sebuah beban yang berpindah tangan.
"Mas Akbar," katanya, suaranya lebih datar dari yang ia maksudkan. "Ada hal lain yang disampaikan?"
"Ada dua." Akbar mengangkat jari satu. "Pertama, ia menitip pesan. Katanya ini bukan hadiah untuk Mas. Ia tidak menolak saya supaya Mas menang atau supaya Mas punya alasan datang. Kalau Mas datang, itu urusan Mas dengan diri Mas sendiri." Ia mengangkat jari kedua. "Kedua, saya harus jujur, karena Mas sudah jujur kepada saya di kantor waktu itu. Ia tidak menyebut nama Mas sekali pun. Ia tidak bilang ia memilih Mas. Ia hanya bilang ia tidak memilih saya."
Danu mendesah, hampir kecewa. Radit tidak.
"Terima kasih," kata Radit. "Karena tidak menghias."
"Saya tidak datang supaya Mas lega. Saya datang karena Mas berhak mendengarnya dari saya, bukan dari ibu Mas, atau dari Pak Rosidi, atau dari Danu yang mungkin akan membocorkannya di jalan."
"Aku tidak bocor," protes Danu pelan.
"Belum." Akbar nyaris tersenyum. Lalu senyum itu hilang. "Ada yang ingin saya tanyakan satu lagi, Mas. Dan Mas boleh tidak menjawab."
"Tanyakan."
"Aturan itu. Yang saya sebut di kantor." Akbar menyebutnya tanpa menunjuk. "Pinangan saya sudah selesai sejak sore tadi. Tidak ada yang berjalan lagi atas nama saya."
Radit memahami maksud kalimat itu: Akbar sedang membukakan pintu tanpa mengatakannya. Ia berdiri. Akbar juga berdiri. Radit mengulurkan tangan, dan Akbar menyambutnya dengan kedua tangan, genggaman laki-laki yang sama-sama sedang menahan sesuatu supaya tidak tumpah.
"Terima kasih sudah datang sendiri," kata Radit.
"Satu hal lagi, Mas." Akbar tidak melepas genggamannya langsung. "Jangan jadi pengecut karena harga diri. Saya pernah. Harganya hampir empat tahun, dan saya tidak mau Mas membayar sebanyak itu."
Radit tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, dan itu lebih jujur daripada kalimat apa pun yang bisa ia susun.
Di ambang pintu Akbar menoleh. "Soal akun yang Mas pindahkan ke Kino dan Dewi. Itu tidak perlu, sebetulnya."
"Kita bahas Senin di kantor."
"Baik, Mas. Selamat malam."
Mobilnya menjauh. Danu menunggu sampai bunyinya hilang, lalu menatap kakaknya dengan mata yang sudah memerah.
"Mas..."
"Besok, Dan. Bicaranya besok." Radit menepuk bahu adiknya sekali. "Pulang. Ibu pasti menunggu. Jangan ceritakan apa pun malam ini."
"Kenapa?"
"Karena kalau Ibu tahu, Ibu akan menelepon Tante Melati malam ini juga. Dan saya ingin mendengarnya dari Tari. Kalau ia mau bicara."
Danu mengerjap, lalu tertawa pendek sambil mengusap hidung. "Mas bahkan memikirkan itu."
"Saya memikirkan segalanya, Dan. Itu masalahnya."
°°°°
Pukul sembilan, sesudah Danu pulang, ia berwudu dan salat dua rakaat di ruang tengah. Di sujud terakhir ia berhenti lebih lama dari biasanya. Ia mencoba menamai perasaan yang tadi tidak sempat ia namai, dan menemukan bahwa nama itu bukan lega, bukan senang, bukan pula menang. Namanya takut. Selama tiga pekan ia bersembunyi di balik satu kalimat yang terdengar luhur: tidak boleh meminang di atas pinangan orang lain. Kalimat itu benar. Tetapi kalimat itu juga tempat berlindung yang nyaman, sebab selama Akbar masih punya hak, Radit tidak perlu mengambil risiko apa pun. Sekarang tempat berlindung itu runtuh, dan yang meruntuhkannya Akbar sendiri, dengan tangan kosong dan suara yang tidak gemetar.
Ia mengucap istigfar tiga kali, pelan, dan bangkit.
Pukul sepuluh rumah itu sepi. Radit mematikan lampu ruang tamu dan duduk sendirian di dapur, di meja jati dengan enam kursi, yang kini terasa terlalu besar untuk satu orang.
Dari bawah kalender dapur ia menarik map plastik berisi salinan seratus jawabannya, yang beberapa hari lalu ia bawa pulang dari laci kantor. Ia membuka lembar terakhir. Nomor seratus. Di bawahnya ada catatan kecil dengan tulisan tangannya sendiri: Tari, kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah berani.
Ia tidak tahu apakah Tari sudah membacanya. Ia hanya tahu ia ingin lebih berani daripada kalimat itu.
Ia mengambil selembar kartu kosong dan menulis tiga baris. Saya tidak datang melamar. Saya minta izin bicara dengan Tari, pintu terbuka. Saya salah memilih diam. Ia membaca tiga baris itu, mencoret kata "memilih", menggantinya dengan "ikut", lalu menulisnya lagi tanpa mencoret.
Kemudian ia mengambil ponsel dan mengetik, kali ini tanpa menimbang.
Raditya Hermanto: Om Rosidi, Assalamualaikum. Besok pagi saya boleh bertamu ke rumah? Bukan untuk melamar. Saya ingin minta izin bicara dengan Tari.
Ia menekan kirim, dan ponsel itu bergetar sebelum ia sempat menaruhnya di meja.
Om Rosidi: Datanglah. Papa di rumah seharian. Tidak usah bawa apa-apa.