Sarapan di rumah Nur selalu sama: nasi uduk, telur dadar iris, dan teh yang terlalu manis. Pagi itu Radit hanya menyentuh teh.
"Kamu tidak tidur," kata Nur. Ia tidak bertanya.
"Tidur sebentar, Bu."
"Danu pulang semalam dengan muka orang yang disuruh tutup mulut. Tiga kali Ibu tanya, tiga kali dia bilang 'nanti Mas Radit yang cerita'." Nur meletakkan sendok. "Ibu tidak memaksa. Tapi Ibu bukan orang yang bisa disuruh menunggu tanpa kabar. Ibu pernah menunggu lebih lama dari ini."
Radit menarik napas. Ia sudah memutuskan akan menceritakannya sendiri, dan ia menceritakannya dengan urutan yang rapi, seperti laporan: Akbar datang sehabis Isya, Tari menolaknya sore itu, Tari tidak menyebut nama Radit, dan Radit bermaksud menemui Om Rosidi pagi ini.
Nur mendengarkan sampai habis tanpa mengubah wajah. Ketika Radit selesai, ia menuang teh kedua, tetapi tidak untuk dirinya.
"Jadi Akbar yang mengabari."
"Ya, Bu."
"Anak itu," Nur menggeleng pelan. "Ibu tidak akan bilang Ibu suka dia. Tapi Ibu hormat."
"Saya juga."
"Dan kamu?" Nur menatapnya. "Kamu masih marah?"
Radit membuka mulut untuk menjawab tidak, lalu menutupnya lagi. Ia memutar cangkir di tatakannya. "Bukan marah, Bu. Sisa. Seperti bekas lecet. Sudah tidak berdarah, tapi kalau tersentuh masih terasa."
"Kepada Tari?"
"Kepada Tari. Kepada saya." Ia tersenyum getir. "Sedikit kepada Akbar."
Nur mengangguk. Ia merapikan taplak di bawah piring, gerakan kecil yang selalu dilakukannya saat sedang memilih kata. "Dit, dengar. Kamu tidak harus memaafkan supaya Ibu senang. Ibu tidak butuh itu. Memaafkanlah supaya ringan. Ibu pernah membawa dendam kepada orang yang mengkhianati ayahmu, bertahun-tahun, dan yang capek bukan dia. Ibu."
"Ibu tidak pernah cerita itu."
"Karena Ibu malu." Nur berdiri, mengambil sesuatu dari meja dekat dapur, dan meletakkannya di depan Radit: kotak plastik berisi bolu pisang, masih hangat. "Bawa ini."
"Bu, Om Rosidi bilang tidak usah bawa apa-apa. Lagi pula aku tidak datang melamar. Ini bukan hantaran."
"Memang bukan hantaran. Ini bolu." Nur menaruh tangan di bahunya sekilas. "Orang tidak datang ke rumah orang lain dengan tangan kosong, Dit. Itu bukan soal lamaran. Itu soal sopan."
°°°°
Arif membukakan pintu pukul sepuluh kurang sepuluh. Ia sudah memakai kaus bersih dan wajahnya tegang dengan cara yang jelas dibuat-buat.
"Assalamualaikum, Rif."
"Waalaikumsalam, Mas Radit." Arif memandang kotak di tangan Radit lalu ke wajahnya lagi. "Papa di ruang tamu. Mama di dapur. Kak Tari..."
"Tidak ada?"
"Ke rumah Kak Gita dari subuh. Katanya bantu-bantu undangan." Arif menggaruk tengkuk. "Mas mau saya telepon?"
"Jangan." Radit menggeleng. "Jangan telepon. Saya mau bicara dengan Om dulu."
Rosidi duduk di kursi tunggalnya, koran terlipat di pangkuan. Ia mengangguk ketika Radit mengatupkan tangan lalu mencium tangannya.
"Duduk, Nak Radit."
"Terima kasih, Om. Ini dari Ibu." Radit meletakkan bolu di meja. "Om, saya tidak datang melamar. Saya datang minta izin bicara dengan Tari. Pintu terbuka, ada yang mengawasi, di mana pun Om tentukan."
"Papa dengar pesanmu semalam." Rosidi menatapnya lama, seperti seseorang memeriksa tanah sebelum menanam. "Kamu sudah tahu jawaban Tari?"
"Mas Akbar menyampaikannya semalam. Ia menolak. Tapi dia tidak menyebut nama saya, Om." Radit meluruskan punggung. "Saya tidak datang karena merasa menang. Saya datang karena saya melepas ikatan itu dengan cara yang menghukum, dan saya ingin memperbaikinya, kalau Tari masih mau."
"Aturan kamu soal pinangan itu, sudah selesai?"
"Sejak kemarin sore. Mas Akbar sendiri yang memastikannya."
"Bagus. Papa suka orang yang membereskan aturan sebelum melangkah." Rosidi melipat koran sekali lagi. "Tapi Tari belum pulang. Ia di rumah temannya sampai sore, membantu menulis nama di undangan. Kamu boleh pulang dulu dan kembali nanti."
"Saya tunggu, Om."
"Lama, lho. Sampai jam tiga."
"Saya tunggu."
Rosidi tersenyum, sangat tipis. "Kalau begitu duduklah. Papa mau ke masjid sebentar lagi. Kamu mau ikut salat Zuhur?"
Dari arah dapur terdengar bunyi piring beradu agak keras. Melati muncul di ambang pintu dengan baki berisi segelas air putih, tanpa teh, tanpa kue. Ia meletakkannya di depan Radit dengan ketenangan yang mengancam.
"Assalamualaikum, Tante."
"Waalaikumsalam, Nak Radit." Mama berdiri dengan baki di dada. "Tante tidak marah."
"Iya, Tante."
"Tante hanya ingin tahu satu hal. Kamu membuat anak Tante demam. Itu tidak sengaja, Tante tahu. Tapi Tante ingin tahu, apa yang kamu bawa kali ini selain bolu."
Radit tidak langsung menjawab. Ia menatap air putih itu, lalu Mama. "Saya membawa penyesalan, Tante. Dan niat untuk memperbaikinya, kalau diizinkan."
Mama menatapnya lama. Matanya bergerak dari wajah Radit ke kotak bolu, ke Rosidi, dan kembali. Lalu bahunya turun sedikit, seperti seseorang yang meletakkan beban yang tidak sempat ia sadari sedang dibawa.
"Besan itu masak bolu terenak se-Jakarta, tapi jangan bilang-bilang," gumam Mama. Ia menarik baki dari dada. "Sebentar. Tante ambilkan teh. Air putih itu cuma untuk menguji."
"Menguji apa, Ma?" tanya Arif dari lantai, tempat ia sudah duduk bersila sebagai pengawas.
"Menguji dia mau minum atau tidak." Mama berlalu ke dapur. "Dia minum. Kamu lihat sendiri."
Radit memang sudah meminum air putih itu, separuh gelas, tanpa ia sadari.
°°°°
Hari berjalan lambat. Radit ikut Rosidi ke masjid, salat Zuhur di saf yang sama, lalu makan siang sederhana bersama Rosidi dan Arif sementara Mama sesekali melintas membawa piring tambahan. Mereka bicara soal bola, soal harga cabai, soal kantor Radit yang tidak pernah punya meja yang cukup untuk semua orang. Tak seorang pun menyebut nama Tari. Namun namanya hadir di sana seperti kursi kosong di meja makan yang tak seorang pun mau duduki.
Pukul tiga kurang sepuluh Radit duduk lagi di sofa ruang tamu. Rosidi pamit sebentar ke kamar. Arif, yang sudah kehabisan topik, bermain dengan ponselnya tetapi berkali-kali melirik pintu. Jam dinding berdetak. Radit memegang kartu kecil di sakunya, kartu bertuliskan tiga baris itu, dan tidak mengeluarkannya.
"Mas." Arif menurunkan ponsel. "Boleh tanya? Mas sudah tahu mau bilang apa ke Kak Tari?"
"Tiga kalimat. Ada di kartu."
"Cuma tiga?"
"Lebih dari tiga, saya lupa."
"Sama." Arif mengangguk, sungguh-sungguh. "Kak Tari juga begitu. Dua malam lalu dia latihan ngomong di kamar, suaranya sampai tembus tembok. Dia bilang satu kalimat, berhenti, bilang lagi, terus ketawa sendiri." Ia buru-buru menunduk. "Saya tidak nguping. Temboknya yang tipis."
Radit menatap lantai. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak ke arah yang berbeda dari tadi pagi, dan ia membiarkannya.
"Terima kasih, Rif."
"Untuk apa?"
"Temboknya."
Dari halaman terdengar mesin motor matic yang dimatikan. Lalu bunyi standar motor diturunkan. Lalu langkah kaki di teras, ringan, agak tergesa.
"Assalamualaikum! Ma, Gita titip kue ini, katanya..."
Tari berhenti di ambang pintu, satu tangan menahan daun pintu, tangan lain memegang kotak karton. Matanya langsung mendarat pada sofa, pada laki-laki yang duduk di sana dengan punggung lurus dan kedua tangan di lutut.
Kotak karton itu hampir jatuh.