"Assalamualaikum," kata Radit dari sofa. Ia sudah berdiri, tetapi tangannya tetap di sisi tubuh.
"Waalaikumsalam." Suara Tari keluar lebih kecil dari yang ia maksudkan. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu teringat sesuatu dan membukanya lagi lebar-lebar. Kotak karton dari Gita masih di tangannya. Ia tidak tahu harus menaruh di mana.
"Biar saya..." Arif sudah melompat dari lantai, mengambil kotak itu dengan gerakan secepat petugas bom, lalu menghilang ke dapur sambil berseru, "Ma! Kue dari Kak Gita!"
Dari balik tirai dapur terlihat ujung spatula, lalu ujung spatula itu ditarik masuk dengan bisikan "Ma, jangan!" yang tidak cukup pelan. Tinggal mereka berdua dan jarak tiga langkah di antara keduanya. Radit menatap Tari, dan Tari menatap sandal di kakinya sendiri, sandal jepit hijau yang ia pakai ke rumah Gita karena terburu-buru.
"Saya menunggu sejak pagi," kata Radit. "Bukan untuk membuatmu merasa bersalah. Saya hanya ingin kamu tahu saya tidak datang dengan terburu-buru."
"Aku tahu, Mas. Arif..." Tari menelan ludah. "Arif pasti sudah melaporkan segalanya."
"Hampir."
Papa muncul dari kamar. Ia membawa koran yang sudah dilipat, kacamata baca bertengger di ujung hidung. Ia menatap putrinya sekali, lalu Radit sekali, seperti hakim yang sudah membaca berkas dan tinggal menentukan tempat duduk.
"Tari. Nak Radit minta izin bicara denganmu. Bukan lamaran." Ia menunjuk dengan koran ke arah teras. "Di sana. Pintu terbuka. Papa duduk di kursi rotan dan membaca koran. Papa tidak akan mendengar apa-apa, kalau kalian berbicara pelan."
"Papa dengar pun tak apa-apa," kata Tari.
"Kalau begitu Papa dengar."
"Pa, boleh aku ke kamar sebentar? Lima menit."
Papa mengangguk tanpa bertanya.
Di kamar Tari berdiri menghadap lemari, tangannya gemetar sampai ia harus berpegang pada pintunya. Ia mengambil kertas lipatan tiga dari laci meja, kertas yang ditulisnya Senin lalu dan sejak itu dibaca ulang entah berapa kali. Ia mencuci muka cepat di wastafel, menatap dirinya di cermin. Mata sembap. Kerudung agak miring. Tidak apa-apa. Ia tidak sedang berdandan untuk dinilai.
Ketika ia keluar, Radit sudah di teras. Ia duduk di ujung bangku panjang, sejauh yang bisa dicapai bangku itu, dan di kursi rotan di dekat pintu Papa sudah membuka korannya, halaman olahraga, terbalik. Tari nyaris tertawa.
Ia duduk di ujung lain.
°°°°
"Saya mulai dari yang paling sulit," ujar Radit setelah beberapa saat. "Supaya tidak keburu hilang keberanian." Ia menarik kartu kecil dari sakunya, melihatnya sekilas, lalu menyimpannya lagi. "Saya tidak datang melamar. Saya datang minta izin bicara denganmu. Dan saya salah, Tari."
Tari menahan napas.
"Saya bilang jarak itu jeda. Itu bukan jeda. Itu hukuman, dan saya menjatuhkannya tanpa memberitahumu. Kamu menerimanya tanpa membujuk, dan saya mengira itu tanda kamu kuat. Ternyata saya hanya membiarkan kamu sendirian menanggungnya."
"Mas, aku yang berbohong."
"Ya. Dan saya akan tanya kenapa, nanti, dengan cara yang benar, bukan hari ini." Radit menatap papan teras. "Hari ini saya cuma mau mengaku bagian saya. Saya juga menunda mendengarmu waktu kamu bilang ada yang belum diceritakan. Saya bilang Sabtu. Padahal saya takut."
"Mas takut apa?"
"Takut jawabannya akan mengubah semuanya."
Tari menunduk. Pelan-pelan, ia melepas lipatan kertas di pangkuannya dan mengulurkannya, tetapi tidak sampai ke tangan Radit. Ia meletakkannya di bangku, di tengah, tepat di tempat jarak itu berada.
"Ini jawaban pertanyaan seratus satu. Aku sudah menulisnya Senin. Aku tidak memberikannya karena aku... aku tidak mau berlari ke Mas sesudah menolak Akbar. Aku mau Mas datang dengan cara Mas, dan hari ini Mas datang."
Radit tidak langsung mengambilnya. Ia menatap kertas itu seperti menatap sesuatu yang terlalu rapuh untuk disentuh. Lalu ia menarik kertas itu ke pangkuannya, membuka lipatan tiga, dan mulai membaca.
Ia membaca pelan. Tari tidak berani melihatnya. Ia memandang pot kemuning di sudut teras, daun-daunnya yang agak layu karena Arif lupa menyiram, jari-jarinya sendiri yang saling meremas. Tetapi ia bisa mendengar napas Radit, dan sesekali bunyi kertas yang digeser. Di dalam rumah, jam dinding memukul tiga kali. Dari kursi rotan terdengar halaman koran dibalik, dan koran itu masih terbalik.
Satu menit. Dua menit. Radit sampai di akhir halaman, kembali ke atas, dan membaca sekali lagi, lebih pelan.
Ketika akhirnya ia mengangkat wajah, matanya merah, tetapi suaranya tidak pecah.
"Kamu menulis..." Ia berdeham. "Kamu menulis bahwa kamu ingin hidup dengan orang yang bisa bilang 'saya salah' dan 'saya takut' dalam satu kalimat."
"Ya."
"Saya sudah mengatakannya tadi. Hampir persis." Radit tertawa kecil, dan tawanya basah. "Saya salah, Tari. Dan saya takut. Saya takut kamu menolak saya. Saya marah dan takut ditolak, dua-duanya, berminggu-minggu. Saya tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya, jadi saya menunjukkannya dengan diam."
"Aku juga takut, Mas." Tari menyeka pipinya dengan punggung tangan. "Takut kehilangan Mas, takut Mas tidak mau mendengarku, takut kalau Mas mendengar semuanya Mas akan..." Ia berhenti. "Takut itu yang membuatku berbohong. Itu bukan pembelaan. Itu penjelasan, dan nanti Mas boleh bertanya kenapa."
"Saya akan tanya."
"Aku akan menjawab."
Hening sebentar, tetapi bukan hening yang menyakitkan.
"Tari." Radit melipat kertas itu kembali, sangat hati-hati, lalu menyimpannya di saku kemejanya, dekat dada. "Saya tidak berhak minta kamu memilih saya. Kamu sudah menjawab untuk dirimu sendiri, dan itu memang yang saya minta. Saya hanya minta satu hal, itu pun kalau diizinkan." Ia menoleh ke arah kursi rotan. "Izin untuk datang kembali ke pintu ini dengan cara yang benar. Dengan keluarga, dengan pengawas, tidak terburu-buru. Dan kalau pintunya ditutup, saya terima."
Koran Papa turun perlahan. Ia melepas kacamata bacanya dan menggosok pangkal hidung dengan dua jari.
"Papa tidak mendengar apa-apa," katanya. Suaranya tenang. "Tapi Papa mendengar bahwa kalian dua orang yang jujur, dan itu sudah lebih dari separuh syarat." Ia menatap Radit. "Datang Sabtu depan, Nak Radit. Bawa Ibumu. Bukan untuk melamar, untuk saling melihat lagi."
"Sabtu depan, Om."
"Dan Papa tidak minta janji apa pun dari siapa pun." Papa menatap Tari. "Terutama dari kamu."
"Iya, Pa."
Radit berdiri. Ia mengatupkan tangan di dada kepada Tari, lama, sedikit membungkuk, dan Tari membalasnya dengan gerak yang sama. Tidak ada kata lagi. Mungkin tidak perlu.
Saat Radit mencium tangan Papa di ambang pintu, Papa menepuk punggungnya dua kali. "Satu hal lagi. Besok tenggat Papa kepada Akbar jatuh. Papa dan Mama akan menelepon Bandung pagi-pagi, dengan sopan, supaya urusan itu ditutup dengan benar sebelum Sabtu. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa."
"Terima kasih, Om."
Radit melangkah ke mobil. Tari berdiri di teras dengan kedua tangan di depan dada, tempat tadi ia menahan napas, dan baru ketika mesin mobil itu menjauh ia sadar Papa masih berdiri di sebelahnya. Dari balik tirai dapur, dua kepala menyembul sekaligus, kepala Mama dan kepala Arif, lalu menghilang lagi dengan gerakan yang terlalu cepat untuk dianggap tidak sengaja.
"Pa." Tari menurunkan tangan. "Besok waktu Papa menelepon Bandung, aku mau ikut mendengar."
Papa menatap koran terbalik di tangannya, lalu melipatnya. "Papa memang mau memintamu duduk di sebelah Papa. Orang yang menolak harus tahu bagaimana penolakannya diterima, Nak. Supaya ia tidak menyimpan bayangan yang lebih buruk dari kenyataan."
"Bagaimana kalau Bu Chasanah menangis?"
"Ia akan menangis." Papa membuka pintu untuk Tari. "Dan kamu akan mendengarkan sampai ia selesai."