Pukul delapan pagi, ponsel Papa sudah diletakkan di tengah meja ruang tamu, bersandar pada vas bunga plastik supaya layarnya menghadap ke atas.
Tari duduk di sebelah kanan Papa. Mama di sebelah kiri, dengan kerudung rapi yang sudah dua kali dibetulkan. Di ambang pintu dapur, Arif berdiri memegang cangkir kosong, matanya lebar. Papa sudah menegurnya tadi dengan satu kalimat: "Rif, kamu boleh mendengar. Kamu tidak boleh bernapas keras." Sejak itu Arif bernapas lewat mulut.
"Hari ini tenggatnya," kata Papa pelan. "Papa lebih suka menelepon sebelum tenggatnya lewat jam dua belas. Itu soal sopan."
"Aku siap, Pa."
"Kamu tidak harus bicara. Kalau mau, bicaralah di akhir."
Papa menekan nama di layar. Nada sambung berbunyi tiga kali, dan Tari menyadari tangannya sudah mengepal di atas lutut tanpa ia sadari.
"Assalamualaikum," terdengar suara perempuan, hangat dan agak serak. "Pak Rosidi? Ya Allah, pagi-pagi. Sebentar, Bapak saya panggilkan."
"Waalaikumsalam, Bu Chasanah. Tidak usah buru-buru. Kami yang mengganggu."
Terdengar langkah, bunyi kursi digeser, lalu napas pelan seseorang yang duduk dengan hati-hati. Pak Hamdan. Suaranya datang dengan jeda di antara kata-kata.
"Pak... Rosidi. Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak Hamdan. Saya dan istri saya di sini, dan Tari juga. Telepon ini kami pasang di pengeras suara, kalau tidak keberatan, supaya semua mendengar langsung."
"Tidak... keberatan. Silakan."
Papa menarik napas. Tari melihat bahunya naik sedikit, lalu turun. "Dua pekan lalu Bapak dan Ibu datang ke rumah kami dengan niat baik untuk Akbar. Kami menghormatinya, dan kami memberi waktu kepada Tari untuk menjawab dengan jernih. Hari ini kami menyampaikan jawabannya." Ia berhenti sedikit. "Tari belum bisa menerima lamaran itu. Ia memohon maaf kalau jawabannya mengecewakan, tetapi ia tidak ingin menunda atau menjawab setengah-setengah. Itu bukan karena ada yang kurang pada Akbar. Itu keputusan Tari, setelah istikharah."
Sunyi di ujung sana. Mama menggenggam ujung kerudungnya sendiri.
Lalu terdengar isakan, kecil dan tertahan, dan Tari tahu itu bukan suara Pak Hamdan.
"Ya Allah..." Bu Chasanah menarik napas yang bergetar. "Maaf, Pak Rosidi. Maaf, Ibu. Saya sudah dengar dari Akbar Jumat malam. Dia menelepon dari mobil sambil menyetir, suaranya biasa saja, terlalu biasa. Saya tahu ada yang tidak biasa. Saya sudah nangis semalam. Pagi ini saya cuma ingin mendengar suara Tari. Boleh?"
Papa menoleh. Tari mengangguk.
"Bu Chasanah," kata Tari. Suaranya pelan dan ia berhenti sebentar agar tidak pecah. "Ini Tari."
"Nak..." isak itu bertambah. "Kamu baik-baik saja?"
"Baik, Bu. Alhamdulillah." Tari menelan ludah. "Saya mau minta maaf kalau ada yang membuat Ibu dan Bapak kecewa. Saya sangat menghargai Ibu dan Bapak. Waktu saya datang ke rumah, Ibu memeluk saya dan menceritakan semuanya. Itu berarti besar untuk saya. Saya memaafkan Akbar, Bu. Sungguh. Tapi saya tidak memilihnya."
"Ibu tahu, Nak." Bu Chasanah tertawa kecil di antara tangisnya. "Sebenarnya Ibu sudah tahu sejak kamu bilang 'saya ke sini bukan untuk kembali'. Ibu cuma masih berharap. Orang tua memang begitu, suka berharap sambil pura-pura tahu." Ia berhenti. "Ibu doakan kamu bahagia. Ibu doakan sungguh-sungguh. Dan kalau itu bukan dengan anak Ibu, semoga dengan orang yang menjagamu lebih baik dari yang Ibu bayangkan."
Mama sudah menangis tanpa suara. Papa menarik sehelai tisu dari kotak di meja dan menyodorkannya tanpa menoleh.
"Terima kasih, Bu."
Terdengar bunyi tongkat diketukkan pelan ke lantai, dan suara Pak Hamdan masuk kembali, perlahan.
"Nak Tari." Jeda. "Anak saya... memilih cara yang benar. Dengan akhir... yang berat." Napasnya berat, tetapi ia melanjutkan. "Dia kuat. Dia pernah melewati yang lebih berat. Dia akan baik-baik saja. Bapak... titip satu saja, Nak. Jangan merasa bersalah."
"Saya akan berusaha, Pak."
"Berusahalah... tapi jangan keras-keras. Nanti capek." Dari ujung sana terdengar sesuatu yang mirip tawa. "Pak Rosidi. Terima kasih sudah memberi... tenggat. Anak perempuan Bapak... dibesarkan dengan baik."
"Terima kasih, Pak Hamdan," jawab Papa. Suaranya terdengar sedikit tidak stabil, dan itu jarang. "Anak Bapak juga."
Mereka mengucap salam. Telepon dimatikan. Tak seorang pun bicara beberapa saat. Dari ambang dapur terdengar bunyi cangkir kosong diletakkan perlahan di lantai, dan Arif akhirnya berani menarik napas lewat hidung.
°°°°
Siang itu Tari menerima panggilan video di kamarnya, dan layar langsung dipenuhi dua wajah yang berebut kamera.
"Kamu menolak dia!" teriak Nida. Di belakangnya terdengar tangis bayi yang tiba-tiba berhenti seakan ikut terkejut. "Aku tahu dari caramu bilang halo! Eh, bukan, aku cuma menebak dari wajahmu!"
"Wajahku belum terlihat apa-apa."
"Dari napasmu!" Nida memukul-mukul sofa. "Esti, bilang sesuatu!"
Esti, di layar kecil di sebelahnya, sedang mengunyah keripik. Ia menelan, menyeka tangan, lalu mengangguk sungguh-sungguh. "Aku bangga sama kamu, Tar. Sungguh. Kamu tidak lari."
"Aku hampir lari tujuh kali."
"Tapi tidak jadi. Itu yang penting." Esti mengacungkan jempol berminyak. "Terus Mas Radit gimana? Sudah dikabari?"
"Esti!" Nida memotong. "Itu bukan giliranmu! Biar Tari yang..."
"Kalian ini," Tari tertawa, dan tawa itu keluar lebih lepas daripada yang ia sangka. Ia menyeka mata dengan lengan baju. "Dia belum melamar. Belum apa-apa. Papa bilang Sabtu depan keluarganya datang, bukan untuk melamar, hanya untuk saling melihat lagi."
"Itu sama dengan melamar," kata Nida.
"Bukan."
"Itu tahap pendahuluan melamar."
"Nida."
"Baik, baik." Nida mengangkat tangan di depan layar. Wajahnya melunak. "Tar. Aku dulu salah menilai Akbar, dan kamu pernah dengar itu. Tapi aku mau bilang satu hal: aku senang kamu memutuskan sendiri. Bukan karena kami ribut, bukan karena Mamamu, bukan karena rasa bersalah. Kamu sendiri."
"Terima kasih, Nid."
"Sekarang tutup teleponnya, aku mau menangis tanpa kamu lihat."
"Aku mau lihat," kata Esti.
"Esti!"
Layar bergoyang karena dua tangan berebut. Tari tertawa sampai perutnya sakit, lalu menutup panggilan itu dengan wajah masih hangat.
°°°°
Pukul empat sore ponsel Mama berbunyi di meja makan. Mama menatap layarnya, lalu menatap Papa yang sedang minum teh, lalu menatap layarnya lagi.
"Nur," bisiknya.
"Angkat," kata Papa.
Mama mengangkat dengan satu tangan di dada. "Assalamualaikum, Nur."
"Waalaikumsalam, Besan." Suara Nur terdengar jelas dari pengeras suara yang Mama lupa matikan. Suaranya tenang, tetapi ada getar di bawahnya. "Maaf menelepon hari Minggu. Radit sudah menceritakan semuanya semalam. Semuanya, Besan. Tentang Akbar, tentang kemarin. Aku tidak tanya apa-apa kepadamu karena aku tahu kamu menahan diri. Terima kasih."
"Nur, aku..."
"Sebentar, aku belum selesai. Aku mau minta tolong dua hal." Nur berhenti, seperti mengumpulkan keberanian. "Pertama, Rabu sepulang Tari kerja, kalau kamu dan Tari tidak keberatan, makan malam di rumah Radit. Aku yang masak. Meja jatinya sudah lama tidak ada yang makan dengan benar. Kamu ikut jadi pengawas, aku juga. Dua ibu sekaligus, tidak ada yang bisa macam-macam."
Mama menoleh pada Papa. Papa menyesap tehnya, lalu mengangguk sekali.
"Boleh," kata Mama, suaranya sudah tidak mantap. "Yang kedua?"
"Yang kedua..." Nur menarik napas. "Sabtu depan, Besan. Boleh aku datang Sabtu? Dengan anak-anak. Bukan melamar. Cuma datang, duduk, minum teh buatanmu. Seperti dulu waktu kita kuliah."
Mama menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh, satu, dua, ke punggung tangan yang masih memegang ponsel. Tari, yang baru keluar dari kamar dan berdiri di ujung lorong, melihat bahu ibunya bergetar.
"Boleh, Besan," kata Mama sambil menangis. "Boleh."