Rabu sore Mama menjemput Tari di depan bank, naik motor matic merah milik Tari sendiri. Ia memakai helm yang kebesaran, kerudung dirapikan di bawahnya, dan membawa tas rantang kosong yang digantung di stang.
"Ma, biar aku yang menyetir."
"Tidak. Mama yang menyetir. Mama tahu jalannya, kamu nanti sibuk memikirkan kalimat." Mama menepuk jok belakang. "Naik, Tari. Besan sudah masak sejak pukul dua."
Pak Dirman, yang berdiri di pos satpam, memberi hormat seperti melepas pasukan. Gita melambai dari balik kaca bank dengan dua jempol terangkat. Tari memeluk pinggang Mama, merasakan punggung ibunya yang hangat dan agak tegang, dan di sepanjang jalan ia melatih satu kalimat saja: Aku akan menjawab apa pun yang ditanyakan.
Rumah Radit tampak lain dari terakhir kali. Lampu teras menyala lebih terang, pintu depan terbuka lebar dengan batu pipih sebagai ganjalan, dan dari dapur menguar aroma yang membuat perut Tari berbunyi: tumisan bawang, santan, daun jeruk. Nur menyambut di pintu dengan celemek, memeluk Mama lebih dulu, lalu menggenggam kedua tangan Tari.
"Nak Tari. Akhirnya."
"Bu." Tari mengangkat rantang yang ia bawa dengan dua tangan. "Rantang Ibu. Sudah dicuci. Maaf lama sekali baru kembali."
"Hampir dua minggu. Ibu sudah mengira kamu menyimpannya sebagai jaminan supaya Ibu mengirim rantang lagi." Nur tertawa dan mengambilnya. "Ayo masuk. Radit sudah duduk dari tadi, tidak makan, tidak minum, hanya memandangi meja."
Radit memang di sana. Ia berdiri ketika mereka masuk, tangan mengatup di dada kepada Tari dan Mama, jas kerjanya sudah dilepas, lengan kemeja digulung sampai siku. Meja jati itu panjang dan mengilat, dengan enam kursi. Di atasnya sudah tertata piring, mangkuk lodeh, ayam goreng, sambal terasi. Tari menyadari bahwa baru kali ini ia melihat meja itu penuh, dan entah kenapa matanya perih.
"Silakan duduk, Tante, Tari."
Nur dan Mama mengambil kursi di kedua ujung. Tari duduk di sisi kiri, Radit di sisi kanan, berhadapan di tengah. Dua kursi di antara mereka kosong. Jaraknya satu meter lebih, dan itu cukup.
Danu muncul dari dapur membawa teko teh dan menuangkannya satu per satu dengan gaya pelayan restoran mewah. "Dua pengawas sudah ada. Boleh saya jadi pengawas ketiga? Saya bisa duduk di pojok dan pura-pura tidak mendengar."
"Danu," kata Nur tanpa menoleh, "baskom buah di dapur belum dicuci."
"Siap, Bu." Danu melirik kakaknya sambil mengangkat alis, lalu menghilang.
"Maafkan Danu, Tante," kata Radit.
"Anak muda memang begitu." Mama menyendok nasi untuk dirinya sendiri dengan gerakan ratu yang sedang memeriksa dapur kerajaan lain. "Arif lebih parah."
°°°°
Mereka makan dalam sunyi beberapa menit, diisi bunyi sendok dan komentar Nur bahwa lodehnya terlalu asin, yang disanggah Mama. Setelah Radit meletakkan sendoknya, Tari melakukan hal yang sudah ia putuskan di motor tadi.
"Mas, kalau boleh, aku mau melanjutkan pertanyaan lisan yang dulu. Aku punya sepuluh, cuma tiga yang sempat kutanyakan."
"Silakan." Radit menegakkan punggung. "Saya siap."
"Keempat. Lagu apa yang Mas dengarkan kalau sedang sendirian?"
Radit berkedip, tak menduga. "Lagu?"
"Ya."
"Sholawat." Ia berpikir sebentar. "Dan kadang lagu dangdut lama yang Ibu putar waktu mencuci. Jangan bilang Danu."
Dari ujung meja Nur terbatuk, menahan tawa. Tari tersenyum.
"Kelima. Apa yang Mas takutkan dari pernikahan?"
"Menjadi ayah yang diam." Radit menjawab cepat, seakan sudah lama menunggu ditanya. "Ayah saya meninggal terlalu cepat untuk saya tahu seperti apa dia. Saya takut menjadi orang yang ada di rumah tetapi tidak benar-benar ada."
Nur menunduk menatap piringnya. Tari tidak menyela. Ia menunggu sampai kalimat itu selesai tinggal di udara.
"Keenam. Hal paling konyol yang pernah Mas lakukan?"
"Menghafal lima poin sebelum menelepon kamu, lalu mencoret poin pertama." Nur terbahak sampai harus mengelap mata.
"Ketujuh. Kalau kita beda pendapat soal uang?"
"Kita buka bukunya bersama di meja ini, bukan di dalam diam."
"Kedelapan. Siapa yang Mas telepon pertama kalau ada kabar baik?"
"Ibu." Radit melirik Nur. "Tapi belakangan, pesan untukmu sudah saya ketik lebih dulu."
"Kesembilan. Pekerjaan atau keluarga?"
"Keluarga. Dan dua pekan terakhir saya mengurus keduanya dengan buruk."
"Kesepuluh," kata Tari pelan. "Ini yang paling ingin kutanya hari ini."
Radit menatapnya. Ia tahu pertanyaan mana itu. "Silakan."
"Kalau Mas dibohongi orang yang Mas percaya, apa yang Mas lakukan?"
Hening. Mama berhenti mengunyah. Nur memegang gelasnya tanpa minum.
"Dulu saya akan marah, lalu pergi," jawab Radit. Suaranya tenang, tetapi telinganya memerah. "Itu yang saya lakukan padamu. Marah, lalu menarik diri dan menyebutnya jarak. Sekarang saya mau belajar yang lain. Saya mau bilang, 'Saya marah, dan saya masih di sini.'"
Tari mengangguk, tidak bisa bicara. Radit meraih gelasnya, menyesap, dan meletakkannya.
"Sekarang boleh saya bertanya satu?"
"Boleh."
"Kenapa kamu berbohong?"
Pertanyaan itu jatuh di meja seperti sendok yang terlepas. Tari tidak mengalihkan pandangan.
"Karena aku takut, Mas. Di festival, waktu Akbar muncul, kepalaku kosong. Aku bukan berniat menipu. Aku panik, dan aku ingin menjaga sesuatu yang baru saja kudapat. Aku baru saja bisa tertawa lepas bersama Mas, baru saja berani percaya. Aku takut cerita tentang Akbar akan merusaknya." Ia menarik napas. "Dan sesudah itu, setiap hari kebohongan itu makin mahal. Tiap kali aku mau mengaku, aku punya alasan. Ada telepon, ada Mama, ada Mas yang mengajak bakso. Alasan itu nyata, tetapi aku tahu aku juga menyambut alasan itu dengan lega. Itu yang paling memalukan. Aku lega saat tidak jadi mengaku."
"Kamu tahu itu salah."
"Aku tahu, dari hari pertama. Dan aku tidak memberi pembelaan, Mas. Aku hanya bilang apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepalaku." Suaranya bergetar tetapi tidak pecah. "Aku minta maaf. Bukan karena aku ketahuan. Karena aku sudah menyakiti Mas dengan cara yang paling Mas benci."
Radit tidak langsung menjawab. Di ujung meja, Nur menyeka mata dengan ujung celemek. Mama mengusap kedua pipinya dengan serbet.
"Terima kasih," kata Radit akhirnya. "Karena tidak menghias."
"Mas..."
"Sekarang giliran saya." Ia menarik napas. "Saya juga salah. Saya menghukummu dengan diam, dan dengan jarak yang tidak pernah kamu setujui. Saya tahu dari kecil bahwa diam itu cara orang kuat bertahan. Ternyata diam bisa juga cara orang takut menghukum. Saya tidak mau mengulanginya."
"Lalu bagaimana, Mas?"
"Lain kali, kalau kamu merasa mau berbohong, bilang dulu bahwa kamu takut, sebelum bilang yang lain. Dan lain kali, kalau saya marah, saya akan bilang saya marah, lalu tetap duduk di ruangan yang sama." Radit mengulurkan telapak tangannya ke atas meja, tidak sampai ke arah Tari, hanya terbuka di tengah, sebagai pernyataan. "Satu aturan saja. Jujur walau takut. Kamu setuju?"
Tari menatap telapak tangan itu. Ia tidak menyentuhnya. Itu bukan waktunya, dan mereka berdua tahu.
"Setuju," katanya. "Jujur walau takut."
Nur menarik napas panjang. "Besan, garamnya kurang, ya?"
"Garamnya pas, Nur. Kamu yang kurang sabar."
Radit dan Tari saling memandang, lalu tertawa bersamaan. Itu tawa pertama mereka berdua sesudah berminggu-minggu, dan Danu, yang ternyata sudah berdiri di ambang dapur dengan baskom buah entah sejak kapan, berbisik ke langit-langit, "Alhamdulillah."
°°°°
Pukul sembilan Radit mengantar mereka sampai pagar. Mama sudah di atas motor, memanaskan mesin dan pura-pura sibuk dengan spion. Tari memakai helmnya.
"Tari."
"Ya, Mas?"
"Kabari kalau sudah sampai."
Tari mengenali kalimat itu. Lebih dari tiga bulan lalu, di parkir motor festival, ia pernah mendengar kalimat yang sama, dan malam itu ia membalas dua baris dengan perasaan seperti sedang menipu. Sekarang ia tersenyum, dan senyum itu sampai ke mata.
"Aku kabari."
Dua puluh menit kemudian, di kamarnya, ia mengetik satu pesan.
Aku sudah sampai, Mas. Terima kasih makan malamnya. Dan terima kasih sudah bertanya.
Balasannya datang dalam empat detik.
Terima kasih sudah menjawab. Selamat malam, Tari.