Sabtu pagi Mama menyiapkan teh lebih serius daripada menyiapkan ujian akhir.
Ia mencuci poci tanah liat yang tidak dipakai sejak lebaran lalu, merebus air tiga kali karena dua kali pertama menurutnya "kurang yakin", dan memerintahkan Arif menata sepuluh gelas di baki dengan jarak sama rata. Tari, yang duduk di kursi dapur memotong bolu, hanya bisa menonton.
"Ma, mereka cuma datang minum teh."
"Cuma." Mama mengulang kata itu seperti kata kasar. "Nur itu dulu bisa membedakan teh melati dari teh poci hanya dengan mencium uapnya, Tari. Lima belas tahun kami tidak ketemu. Kalau tehnya hambar, dia tidak akan bilang apa-apa, tapi Mama akan tahu."
"Besan tidak seperti itu."
"Kamu tidak kenal Besan waktu muda." Mama melirik jam. "Papa! Kemeja Papa sudah disetrika belum?"
"Sudah dari pukul tujuh," jawab Papa dari kamar. "Dua kali."
Mereka datang tepat pukul sepuluh, berempat: Nur dengan gamis krem yang kelihatan baru disetrika, Radit di belakangnya membawa kantong kertas, Danu dengan kemeja yang terlalu rapi untuk anak yang biasa memakai kaus, dan seorang perempuan muda yang langsung menarik perhatian Tari. Tinggi, tegap, kerudung abu-abu, dan tatapan yang menilai sebelum menyapa.
"Nisa," kata Radit di ambang pintu. "Adik saya yang baru pulang."
"Assalamualaikum," kata Nisa. Ia menyalami Mama dan Papa dengan kedua tangan, sopan dan tegas, lalu berhenti di depan Tari. Sesaat mereka saling menatap. Kemudian Nisa menunduk sedikit. "Mbak Tari. Aku minta maaf soal waktu itu. Soal 'jangan sakiti Mas saya'. Aku tidak tahu situasinya."
"Tidak apa-apa, Nisa. Kamu benar menjaga kakakmu."
"Aku masih menjaganya." Nisa tersenyum tipis, tidak sepenuhnya galak. "Tapi sekarang aku juga mau kenal Mbak."
Danu menyikut Arif. "Lihat, Rif. Itu Nisa waktu lagi baik. Foto dulu, jarang-jarang."
"Danu," kata Nur dan Nisa serentak.
Papa menjabat tangan Danu dan Radit dengan kedua tangannya, lalu menoleh pada Nisa dan menatapnya sejenak. "Jadi ini kakak yang menjaga dari jauh. Papa senang ada yang menjaga. Silakan masuk, Nak."
"Terima kasih, Om."
Di teras, Arif dan Danu sudah lebih dulu memilih tempat duduk masing-masing: lantai dekat pintu, sebagai pengawas sukarela yang tak pernah diminta. Mereka saling mengangguk dengan khidmat, lalu Arif berbisik, "Jangan tertawa keras, Mama bisa dengar," dan Danu menjawab, "Aku tidak pernah tertawa keras," dan keduanya langsung tertawa tertahan sampai bahu mereka berguncang.
°°°°
Ruang tamu rumah Tari tidak pernah menampung delapan orang sekaligus. Kursi pinjaman dari tetangga ditata berjajar, Arif dan Danu duduk di lantai dekat pintu, dan Papa memimpin dengan doa pendek. Mama menuang teh ke gelas satu per satu, tangannya hampir tidak gemetar. Nur menerima gelasnya, mencium uapnya, menyesap, dan menutup mata sedetik.
"Melati," kata Nur. "Teh ini."
"Hambar?" tanya Mama, nyaris berbisik.
"Persis seperti di kos dulu. Ya Allah, aku tidak menyangka kamu masih ingat takarannya." Nur menyeka sudut matanya. "Aku tidak mau berhenti meminumnya."
Mama menutup mulut dengan punggung tangan, dan Tari memalingkan wajah supaya tidak ikut menangis.
Sesudah percakapan ringan soal perjalanan dan macet, Radit meletakkan gelasnya di meja. Ruangan perlahan sunyi, seakan semua orang tahu giliran siapa yang tiba.
"Om, Tante," kata Radit. "Boleh saya bicara sebentar sebelum kita lanjut?"
"Silakan, Nak Radit," kata Papa.
Radit berdiri. Ia tidak memerlukan kartu hari ini. "Saya ingin minta maaf di depan Om dan Tante, di depan Ibu dan adik-adik saya. Soal jarak yang saya minta sudah saya akui kepada Tari. Yang belum saya akui adalah akibatnya di rumah ini: Tari menanggung semuanya sendirian, dan Om dan Tante ikut menanggung."
"Nak..." kata Mama.
"Tante, saya minta maaf." Radit menatap Mama lurus, dan tangannya mengatup di dada. "Waktu itu saya menyebabkan Tante menangis di dapur. Saya tidak tahu, tapi Tari sudah cerita. Seharusnya saya datang dan bicara, bukan menghilang."
Papa lebih dulu bicara, pelan. "Papa terima, Nak. Tapi bukan hanya Tante yang berhak menerimanya." Ia melirik Tari sekilas.
"Sudah, Om. Sabtu lalu di teras, dan Rabu di meja makan saya." Radit menoleh ke arah Tari, hanya sekejap. "Tetapi saya akan mengulangnya kalau perlu, dengan cara yang lain."
Tari menunduk. Ada hal-hal yang terasa lebih berat justru ketika diucapkan dengan sopan di depan delapan orang.
Mama memandangnya beberapa saat. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara. Kemudian ia berdiri begitu mendadak hingga gelas di tangannya bergoyang, berjalan memutar, dan duduk di sisi Nur. Ia meraih kedua tangan sahabat lamanya.
"Nur. Aku harus bilang ini." Suaranya pecah. "Waktu kamu menelepon dulu, aku bukan cuma berbohong soal hujan. Aku juga bilang ke Tari, kalau Radit mundur, ada Akbar yang tulus. Aku mendorong anakku ke arah lain, padahal aku yang mempertemukan mereka. Aku malu."
"Besan."
"Aku mencintai anakku. Itu alasanku, tapi itu bukan pembelaan."
"Melati." Nur memegang wajah sahabatnya dengan dua tangan, seperti memegang mangkuk yang takut pecah. "Kamu mencintai anakmu. Itu bukan dosa. Kalau aku di posisimu, aku akan melakukan hal yang sama." Ia tertawa getir. "Lagi pula aku nyaris menyuruh Radit lupakan saja. Dua kali. Kita sama-sama ibu."
Kemudian keduanya berpelukan, erat dan lama, sampai Papa berdeham dan Danu diam-diam menyerahkan kotak tisu kepada Arif, yang meneruskannya ke Nisa, yang menerimanya dengan wajah datar tetapi mata merah.
°°°°
Ketika semua sudah kembali tenang, Papa mengisi kembali gelas Radit sendiri, tindakan yang jarang ia lakukan untuk tamu.
"Nak Radit. Papa mau tanya satu hal, dan jawabannya jangan diperindah."
"Baik, Om."
"Kalau kamu takut lagi. Takut kehilangan Tari, takut ditolak, takut salah. Kalau itu terjadi lagi, apa yang kamu lakukan?"
Radit tidak menjawab dengan cepat. Ia menatap isi gelasnya, lalu Papa. "Saya bilang, Om. Bukan menghilang."
"Bilang bagaimana?"
"Langsung kepada Tari, dengan kalimat pendek. 'Saya takut, dan saya masih di sini.' Kalau saya tidak bisa bicara saat itu juga, saya bilang kapan saya akan bicara, dan saya menepatinya." Ia berhenti sebentar. "Kemarin saya belajar bahwa diam itu bukan netral, Om. Diam itu keputusan."
Papa mengangguk lama. Ia meletakkan teko dan menatap Tari, kemudian Nur, kemudian Mama.
"Hari ini bukan lamaran," katanya. "Papa tidak minta janji dari siapa pun, apalagi dari anak muda yang baru belajar mengatakan kalau dia takut. Yang Papa minta sederhana: sepekan." Ia mengangkat satu jari. "Sepekan ini, tunjukkan lewat tindakan, bukan kata. Bagaimana kalian saling memperlakukan, bagaimana kalian menghadapi hal kecil yang biasanya memicu salah paham. Kalau Sabtu depan kalian masih yakin, bawa niat yang sudah kalian putuskan. Dengan keluarga, dengan cara yang benar."
"Insyaallah, Om," kata Radit.
Tari merasakan semua mata menoleh padanya. Ia menelan ludah. "Insyaallah, Pa."
Hening itu pecah oleh Danu. "Pak Rosidi, boleh saya tanya? Sepekan itu... termasuk hari ini?"
"Danu," bisik Nur.
"Hari ini termasuk," kata Papa, nyaris tersenyum. "Hitungan Papa baru mulai setelah tehnya habis."
Nisa, yang duduk di sebelah Tari, mencondongkan badan sedikit tanpa mengubah ekspresi. "Mbak," bisiknya. "Mas Radit sudah mulai menghitung sejak Rabu. Di kalender dapurnya ada lingkaran biru baru, tepat di Sabtu depan."
Tari menunduk, menahan senyum yang terlanjur lebar.