Pesan itu masuk Senin malam pukul sembilan lewat sepuluh, dan Tari membacanya sambil menggigit ujung pulpen.
Raditya Hermanto: Selasa sepulang kerja, kafe seberang bank, Gita satu meja. Saya ingin melaporkan satu hal yang sudah saya lakukan dan meminta pendapatmu. Kalau kamu keberatan, tolong bilang.
Tari mengetik "Boleh" lalu menghapusnya. Ia mengetik "Aku tidak keberatan, Mas" lalu menghapusnya juga. Akhirnya ia menulis.
Lestari Ayu: Boleh. Aku bilang Gita. Dan Mas tidak perlu menulis "kalau kamu keberatan". Aku akan bilang sendiri kalau keberatan.
Balasan Radit datang empat belas detik kemudian.
Raditya Hermanto: Baik. Terima kasih sudah mengingatkan.
Gita menerima kabar itu keesokan paginya di depan mesin kopi bank dengan ekspresi seseorang yang naik pangkat tanpa kenaikan gaji. "Ini sudah yang keberapa aku jadi saksi? Kafe, bank, kafe lagi. Aku menuntut honor."
"Aku traktir teh."
"Teh tidak cukup. Aku mau gorengan juga."
"Dua gorengan."
"Tiga." Gita menyeruput kopinya. "Kamu gugup?"
"Sedikit."
"Itu bagus. Kalau kamu tidak gugup, aku yang khawatir."
Pukul empat lewat dua puluh, Radit sudah menunggu di meja dekat pintu, persis di sebelah meja tempat Akbar duduk pada hari itu. Tari melihat itu lebih dulu daripada Gita dan merasakan sesuatu di perutnya bergeser aneh. Radit berdiri begitu mereka masuk, mengatupkan tangan di dada kepada keduanya, dan tidak duduk sebelum mereka duduk.
"Terima kasih sudah mau meluangkan waktu, Mbak Gita."
"Sama-sama, Mas Radit. Silakan bicara, saya pura-pura menjadi tiang."
°°°°
Radit membuka kartu kecil dari saku kemejanya, kartu yang berbeda dari yang dulu. Isinya hanya satu baris. Ia membacanya sekilas lalu menaruhnya terbalik di meja.
"Saya mulai dari laporan. Sejak Akbar melamar lewat orang tuanya, saya menyerahkan penanganan akunnya kepada Kino dan Dewi. Alasannya, supaya urusan hati tidak mencampuri urusan kerja. Saya melakukannya tanpa menanyakan Akbar, tanpa menanyakanmu, dan tanpa memberi tahu siapa pun selain Danu." Ia berhenti. "Senin kemarin Akbar bicara kepada saya di kantor. Ia bilang itu tidak perlu. Katanya ia profesional dan tidak ingin diperlakukan seperti orang yang harus dijauhkan. Saya belum menjawab."
"Kenapa belum?"
"Karena saya ingin tahu pendapatmu dulu. Itu urusan kerja saya, tetapi akibatnya melewati meja ini." Radit menatap Tari lurus. "Menurutmu bagaimana?"
Tari terdiam. Pertanyaan itu terlalu terus terang untuk dijawab dengan kalimat sopan. Ia memikirkannya sebentar, lalu memutuskan menjawab apa adanya.
"Jujur, Mas, itu membuatku tidak enak."
Radit tidak berkedip. Gita menempelkan telapak tangan di mulutnya seperti menahan sesuatu agar tidak keluar.
"Aku mengerti kenapa Mas melakukannya. Aku juga akan melakukan hal sama kalau jadi Mas. Tetapi Akbar bisa merasa dihukum. Dia sudah menerima jawabanku, dia sudah datang ke rumah Mas dengan cara yang baik. Kalau sekarang dia dipindahkan dari Mas karena urusan yang sudah selesai, dia mungkin merasa Mas belum percaya." Ia mengambil napas. "Dan aku tidak mau menjadi alasan seseorang kehilangan pekerjaan yang baik."
Radit mendengarkan seluruhnya tanpa memotong. Ketika Tari selesai, ia diam beberapa detik, lalu mengetuk meja dua kali dengan buku jari, kebiasaannya saat menimbang.
"Terima kasih," katanya. "Saya tidak melihat itu."
"Mas tidak marah?"
"Tidak. Saya senang kamu bilang." Ia mengangkat bahu sedikit. "Dulu saya akan menyimpannya dan menganggap itu urusan saya sendiri. Sekarang saya tahu keputusan seperti ini punya akibat yang tidak selalu terlihat dari tempat saya duduk." Ia membalik kartunya dan menunjukkannya: Tarik kembali pengaturan akun, dengan syarat. "Saya sudah menulis ini sebelum kita bertemu. Tetapi saya ingin kamu mendengarnya dulu."
"Syaratnya apa?"
"Pertama, saya hanya bertemu Akbar di kantor, pada jam kerja, untuk urusan kerja. Kedua, bila ada yang mengganjal, di pihak saya maupun di pihaknya, saya melapor kepadamu atau kepada Om Rosidi, bukan menyimpannya." Radit menatap Gita. "Mbak Gita juga boleh menjadi saksi syarat ini."
"Saya catat," kata Gita, suaranya agak parau. "Syarat satu dan dua. Dengan tinta mental."
Pelayan datang dengan dua gelas teh dan sepiring gorengan, tiga, dan Gita menaruh satu di piring Tari, satu di piringnya, dan satu di depan Radit tanpa komentar. Radit menatap gorengan itu seakan benda asing, lalu mengambilnya dan menggigit.
"Boleh saya sampaikan satu hal lagi?" Suaranya lebih pelan. "Bukan laporan."
"Silakan, Mas."
"Saya masih cemburu." Ia mengatakannya dengan wajah datar, tetapi telinganya merah. "Tiap kali Kino menyebut nama Akbar dalam rapat, telinga saya panas. Tidak banyak, tetapi terasa. Saya ingin bilang itu supaya kamu tidak mendengarnya dari orang lain dan mengira saya menyembunyikannya."
Gita mulai batuk, jelas dibuat-buat. Tari tidak menoleh.
"Dan saya takut menunjukkannya," lanjut Radit. "Takut kamu menganggap saya tidak percaya padamu. Padahal saya percaya. Cemburu dan percaya bisa ada bersama, ternyata. Saya baru belajar."
Tari menunduk, menahan tawa yang tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain di tenggorokannya. "Terima kasih sudah bilang, Mas."
"Itu saja?"
"Itu banyak." Ia mengangkat wajah. "Aku juga akan bilang kalau aku cemburu. Meski belum tahu pada siapa."
"Pada Kino, mungkin," kata Gita pelan. "Dia sering menyapa Mas Radit dengan 'Pak, kita lembur?'"
"Gita."
"Maaf. Tiang tidak boleh bicara."
Radit tertawa, tawa yang pendek dan sungguh-sungguh, dan itu membuat Tari ikut tersenyum tanpa bisa menahannya. Di luar jendela kaca, Pak Dirman melintas di depan bank, melirik ke dalam kafe, lalu cepat-cepat pura-pura mengatur parkir.
°°°°
Hari sudah mulai gelap ketika Radit berdiri untuk pergi. Ia menyimpan kartunya, merapikan kursi, lalu berhenti dengan tangan di sandaran.
"Satu pertanyaan terakhir, Tari. Hari Sabtu, kalau saya datang dengan niat yang sudah saya putuskan, bersama Ibu dan adik-adik, apakah kamu siap menerimanya?"
Tari memandang Gita sekilas, kemudian Radit. Pertanyaan itu bukan tentang jawaban. Pertanyaan itu menanyakan apakah ia mau mendengar pertanyaan yang berikutnya.
"Aku siap mendengarnya, Mas." Ia menarik napas. "Jawabannya akan kuberikan di depan Papa, bukan di sini. Aku mau semuanya benar."
"Itu jawaban yang adil."
"Itu jawaban yang takut," koreksi Tari, tersenyum, "tapi aku bilang aku takut. Jadi masih sesuai aturan."
Radit tersenyum, lesung pipinya muncul. Ia mengatupkan tangan di dada.
"Sabtu, Tari. Mbak Gita, terima kasih."
"Sama-sama, Mas. Besok saya tagih honornya."
"Honornya apa?"
"Undangan akad saya. Kamu dan Tari wajib datang. Tolong catat."
Radit menatapnya sejenak, lalu mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Saya catat."
Sesudah pintu kafe menutup, Gita menyandarkan punggung dan menghembuskan napas panjang. "Tar. Kamu dengar? 'Cemburu dan percaya bisa ada bersama.' Aku mau pingsan. Orang itu tidak sadar dia baru mengucapkan kalimat paling romantis yang pernah kudengar sambil mengunyah bakwan."
°°°°
Malamnya Tari menunggu Papa di teras, dan Papa, yang sudah tahu dari wajahnya bahwa ada kabar, duduk dengan koran yang kali ini terbuka ke arah yang benar.
"Pa, aku sudah bertemu Mas Radit di kafe. Dengan Gita."
"Papa tahu. Mama sudah menanyakan itu tujuh kali."
"Dia melaporkan soal akun Akbar, dan aku bilang pendapatku. Dia menarik keputusannya." Tari memilin ujung kerudung. "Dia bertanya apakah Sabtu aku siap menerima niatnya. Aku bilang jawabannya kuberikan di depan Papa."
"Bagus."
"Papa mau dengar jawabanku sekarang? Supaya Papa tidak kaget?"
Papa melipat korannya perlahan, lalu menggeleng. "Tidak. Papa mau mendengarnya Sabtu, seperti semua orang." Ia menatap halaman rumah yang gelap. "Papa penasaran sekali, Nak. Justru karena itu Papa mau menunggu. Jawaban yang sudah dibocorkan sebelum waktunya selalu terasa lebih kecil."