Sabtu pagi, Tari bangun sebelum azan Subuh dan mendapati bahwa ia sudah mengingat semuanya.
Seminggu itu tidak berisi kejadian besar, hanya hal-hal kecil yang diam-diam Tari hitung, dan yang paling berat justru datang di hari ketiga.
Selasa malam, sesudah kafe, ponselnya bergetar di meja makan. Pesan Radit hanya satu kalimat: Saya tidak bisa bicara sekarang.
Leher Tari mengencang oleh rasa takut lama. Sendok di tangannya berhenti di udara.
"Kak, mukamu kayak orang lihat tagihan listrik," kata Arif dari seberang meja, mulutnya penuh tempe.
"Mas Radit bilang dia tidak bisa bicara sekarang."
"Terus?"
"Terus kenapa kalimatnya sedingin itu?" Tari menaruh sendoknya. "Kemarin dia masih nanya aku sudah makan atau belum."
Arif menelan, lalu mengangkat bahu dengan wajah yang terlalu bijak untuk anak yang tadi pagi lupa bawa kunci. "Kak, satu pekan itu bukan cuma buat dia. Kakak juga lagi diuji. Daripada nebak-nebak, tanya aja."
"Kalau jawabannya benar-benar dingin?"
"Berarti Kakak tahu. Lebih baik tahu daripada ngelamun sampai nasinya dingin juga." Arif menunjuk piring Tari dengan garpu. "Itu kan kebiasaan Kakak yang bikin Mama marah."
Tari mengetik dengan dua jempol, pelan: Mas, kalimat tadi terdengar dingin buatku. Aku bisa menunggu, tapi aku mau tahu apakah itu karena aku.
Balasan datang sebelum Arif selesai mengunyah suapan berikutnya.
Raditya Hermanto: Saya capek seharian dengan klien, bukan marah. Kalau tadi terdengar dingin, itu bukan karena kamu. Saya bilang sekarang supaya kamu tidak menebak-nebak.
Tari membaca pesan itu dua kali, lalu menghabiskan nasinya sampai bersih. "Untuk pertama kalinya, menunggu balasan tidak terasa seperti menunggu vonis," katanya pelan.
"Nah." Arif mengangguk puas. "Gratis. Tanpa konsultasi."
Rabu Radit menelepon Papa, bukan Tari, untuk menanyakan apakah boleh Nisa datang lebih awal Sabtu dan membantu Mama menyiapkan hidangan. Kamis, tanpa diminta, Danu mengantar sebungkus kecil jambu kristal dari halaman belakang rumah Radit, dengan secarik catatan: Matang di pohon, bukan di karung. Jangan dianggap hantaran. Dan Jumat malam ia mengirim pesan tiga kata: Besok saya datang.
Tari membaca ulang semuanya di tempat tidur, lalu bersujud lama.
Pukul sembilan Mama sudah mondar-mandir seperti panglima sebelum perang. "Kerudung yang mana? Biru atau krem? Jangan putih, nanti terlalu seperti akad."
"Ma, kita cuma menerima tamu."
"Tamu yang membawa niat." Mama mengangkat dua kerudung sekaligus, satu di tiap tangan, lalu menjatuhkan salah satunya dan memeluk yang lain. "Tari. Kamu yakin?"
"Yakin, Ma."
"Kamu bilang yakin dengan suara yang tidak gemetar. Bagus. Tapi Mama tanya sekali lagi kalau sampai jam sepuluh."
"Mama tanya tiga kali sejak subuh."
"Empat." Mama merapikan kerudung krem di kepala Tari dengan gerakan cepat yang penuh sayang. "Mama tidak mau kamu menyesal karena Mama tidak bertanya."
Tari memegang tangan ibunya sebentar. "Terima kasih sudah bertanya."
°°°°
Mereka datang pukul sepuluh lewat lima, dan kali ini mobil Radit berhenti persis di depan pagar, tidak lewat ke ujung gang. Nur turun lebih dulu dengan gamis hijau zaitun dan membawa nampan tertutup kain. Danu membawa kotak, Nisa membawa kotak yang lebih besar, dan Radit berjalan di belakang mereka dengan kemeja putih, tanpa dasi, tanpa jas, dan wajah yang terlalu tenang untuk dipercaya.
Ruang tamu rumah Tari sudah ditata ulang: kursi tambahan, meja kecil di tengah dengan buah dan kue, vas bunga plastik diganti bunga sungguhan yang dibeli Mama pagi tadi. Arif memakai kemeja batik yang tampak seperti dibeli untuk anak yang lebih kecil. Papa menyambut di pintu dan menjabat tangan Radit lebih lama dari biasanya.
Doa pembuka dibaca Papa, singkat. Sesudahnya semua orang duduk dan sunyi turun begitu rapat sampai Tari mendengar jam dinding berdetak, dan, di suatu tempat dekat jendela, napas Danu yang tertahan.
Nur berdeham, tetapi Radit mengangkat tangan pelan.
"Bu, izinkan aku sendiri."
"Silakan, Nak."
Radit berdiri. Ia memandang Papa dan Mama, kemudian Tari, kemudian Papa lagi. "Assalamualaikum, Om, Tante. Nama saya Raditya Hermanto. Saya datang bersama Ibu dan adik-adik saya, dengan satu niat: melamar putri Om dan Tante, Lestari Ayu, untuk menjadi istri saya, dengan cara yang baik dan atas izin Allah."
Ia berhenti. Tari melihat jari-jarinya, yang bertaut di depan perut, sedikit memutih.
"Dalam beberapa bulan ini, saya belajar banyak dari Tari. Saya belajar bahwa menjawab seratus pertanyaan lebih gampang daripada menjawab satu pertanyaan yang jujur. Saya belajar marah tanpa pergi. Saya belajar takut tanpa menyembunyikan." Suaranya tidak naik, tetapi setiap kata terdengar sampai ke sudut ruangan. "Saya tidak menjanjikan saya tidak akan pernah salah. Saya hanya menjanjikan, kalau saya salah, saya akan mengatakannya dan tidak menghilang. Itu yang saya punya. Itu yang saya bawa."
Hening. Mama sudah menyeka mata dengan jari, diam-diam, tanpa suara.
Papa menoleh pada Tari. Wajahnya tenang, tapi matanya basah.
"Tari. Papa sudah bilang bahwa jawabanmu milikmu sendiri. Papa tidak menjawab untukmu, Mama tidak, siapa pun tidak. Silakan, Nak."
Tari berdiri. Kakinya terasa seperti bukan miliknya, tetapi tidak gemetar. Ia memandang Radit, dan Radit memandangnya, dan di antara mereka cuma ada meja kecil dengan kue, dua meter udara, dan seluruh orang yang mereka cintai.
"Mas," katanya. "Aku tidak punya kalimat yang panjang. Seminggu ini aku cuma menunggu satu hal: Mas bilang 'capek, bukan marah' sebelum aku sempat menebak-nebak. Dan Mas bilang." Ia menarik napas. "Itu yang kupilih, Mas. Orang yang bilang dulu. Aku mau jadi orang yang melakukan hal yang sama."
Dari sudut ruangan terdengar suara Nisa menarik hidung.
"Insyaallah, saya terima."
Seketika ruangan itu pecah. Mama menangis keras sekali dengan tangan menutup wajah, dan Nur, di sebelahnya, langsung memeluknya sambil sendiri menangis. Papa menghembuskan napas yang rupanya sudah ia tahan sejak tadi, lalu mengucap "Alhamdulillah" tiga kali, pelan, dengan suara yang serak. Arif bertepuk tangan keras-keras, sendirian, sampai Nisa menarik lengannya.
Papa menunggu sampai ruangan sedikit reda. "Nak Radit. Papa tanya sekali lagi dengan cara lama, supaya Papa tenang. Kalau kamu takut?"
"Saya bilang, Om. Bukan menghilang."
"Itu saja yang Papa minta dari seorang menantu." Papa tersenyum, dan kali ini senyumnya penuh. "Selebihnya urusan kalian berdua dengan Allah."
"Boleh teriak sekarang?" tanya Danu, sudah setengah berdiri.
"Danu," kata Nur dalam tangis.
"Kalau teriak tidak boleh, boleh loncat?"
"Duduk," perintah Nisa tanpa menoleh.
Danu duduk lagi, tetapi senyumnya melebar sampai ke telinga dan ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar. Tari menyadari bahwa adik Radit itu menangis, dan hatinya hangat sampai terasa sakit.
Radit tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menatap Tari, dan matanya, yang selama ini begitu terjaga, berkaca-kaca. Ia mengatupkan tangan di dada, menunduk dalam-dalam, dan Tari membalasnya dengan cara yang sama. Itu saja. Tak ada yang lain yang bisa dikatakan.
°°°°
Beberapa saat kemudian, ketika teh sudah dituang dan kue mulai berpindah dari piring ke piring, Nur membuka nampannya: dua kotak kecil, satu berisi selendang bersulam, satu lagi berisi sebungkus kurma. Bukan cincin, bukan perhiasan, hanya hal-hal kecil yang boleh diberikan. Mama menerimanya dengan kedua tangan dan menciumnya sebelum menaruhnya di pangkuan.
"Pak Rosidi," kata Nur, "Besan. Kami ingin menyampaikan hari akadnya."
"Silakan, Besan."
"Radit?"
Radit berdiri sedikit. "Om, Tante. Kami mengusulkan Sabtu empat pekan dari hari ini, pagi hari, di rumah Om dan Tante. Kalau Om dan Tante dan Tari berkenan."
Papa menoleh pada Mama, yang menatap kalender kecil di dinding, menghitung dengan jari. Mulutnya bergerak. Satu, dua, tiga, empat. Lalu wajahnya berubah.
"Empat pekan," ulang Mama. "Empat pekan?" Ia menoleh pada Nur. "Besan, empat pekan itu tinggal dua puluh delapan hari! Aku belum pesan katering! Aku belum pesan tenda! Aku belum memberi tahu Bu RT!"
"Melati, tenang."
"Aku tenang! Siapa yang tidak tenang!"
"Sabtu pagi, Insyaallah," kata Papa, tanpa menghiraukan kepanikan istrinya. Ia menatap Tari dan Radit bergantian. "Empat pekan, di rumah ini. Papa setuju. Tari?"
Tari memandang kalender yang sama dengan yang dihitung Mama. Ia teringat kalimat yang pernah ia ucapkan kepada Akbar, lebih dari tiga bulan lalu, ketika ia hanya ingin mengusirnya: saya punya calon tunangan. Waktu itu kalimat itu hanya tameng. Hari ini ada orang yang berdiri di ruang tamunya untuk membuat kalimat itu benar.
"Setuju, Pa," katanya. "Insyaallah, Sabtu itu."