Selasa pagi ponsel Tari bergetar tiga kali sebelum ia selesai memakai sepatu.
Grup itu dibuat Nisa pada hari khitbah, dengan nama yang diganti-ganti sampai akhirnya menetap sebagai Keluarga Besan. Anggotanya Nur, Nisa, Danu, Radit, Mama, Papa, Arif, dan sejak Minggu malam, Tari. Isi pertamanya ucapan terima kasih dari Mama dalam huruf kapital. Isi kedua puluhnya, pagi itu, selembar foto.
Danu berdiri di depan sebuah gedung bank, memakai seragam batik biru tua dengan nametag baru yang terlalu mengilap. Senyumnya lebar, rambutnya disisir ke samping seperti anak sekolah, dan di bawahnya ia menulis: Hari pertama. Doakan aku tidak salah masuk ruangan.
Balasan Mama muncul dalam hitungan detik: MASYAALLAH DANU GANTENG SEKALI. Balasan Arif menyusul: Kak Tari, ini dia yang dulu belajar soal pakai kalkulator cuma buat ngitung gorengan. Balasan Radit paling pendek: Semangat. Salat Duha dulu.
Tari menahan tawa. Ia menyimpan foto itu, membalas dengan satu kalimat, Ingat, senyum dulu, baru tanya, lalu pergi ke motornya dengan hati ringan.
°°°°
Di bank, sebelum brifing, ia mengetuk pintu ruang Pak Fero dengan surat bermeterai di tangan.
"Pak, saya mau mengajukan cuti menikah."
Pak Fero mengangkat wajah dari berkas. Selama beberapa detik ia hanya menatap, mulutnya setengah terbuka, lalu ia melepas kacamatanya dan membersihkannya dengan ujung dasi, kebiasaannya saat sedang memutuskan sesuatu.
"Tar." Suaranya mendadak terlalu pelan. "Kamu serius?"
"Insyaallah, Pak. Akadnya Sabtu empat pekan lagi. Saya minta cuti lima hari kerja, dari Kamis sebelum akad sampai Selasa sesudahnya."
"Dengan..." Pak Fero berdeham. "Dengan Mas Radit yang pernah ke sini bawa nasi kuning itu?"
"Iya, Pak."
"Bukan yang di restoran?"
"Bukan, Pak. Yang itu sudah selesai dengan baik."
Pak Fero menandatangani surat itu tanpa membaca. Tangannya sedikit gemetar. "Bagus. Bagus sekali. Saya... saya sudah menyerah soal keponakan, kamu tahu itu. Tapi saya tidak menyangka akan secepat ini. Pergilah, pergilah, brifing sebentar lagi."
Tari belum melangkah keluar ketika ia mendengar Pak Fero menarik napas dalam-dalam di belakangnya, tarikan napas orang yang sedang memutuskan sesuatu yang berbahaya.
Brifing pagi berjalan seperti biasa: yel-yel, pembacaan surat dan terjemahan, giliran Firdaus menyampaikan angka kemarin. Lalu Pak Fero berdiri dan mengetuk mikrofon dua kali.
"Bapak, Ibu, sebelum bubar. Saya ada pengumuman."
Tari, di barisan CS, menatap lantai dengan tekad seseorang yang tidak mau percaya apa yang akan terjadi.
"Salah satu anggota keluarga besar kita..." Pak Fero berhenti dramatis. "Lestari Ayu, CS 02, akan menikah!"
Sesaat bank itu sunyi. Lalu Gita menjerit kecil. Firdaus bertepuk tangan sambil berseru "Akhirnya!", Pak Dirman di pintu mengacungkan kedua jempol, dan seorang teller muda yang belum pernah berbicara dengan Tari bertepuk tangan paling keras. Tari menutup wajah dengan kedua tangan. Rasanya ia ingin menghilang ke dalam lantai marmer.
"Saya sendiri," lanjut Pak Fero, mengabaikan wajah Tari, "akan hadir di walimah. Saya sudah memutuskan. Saya bahkan tidak perlu diundang, saya mengundang diri sendiri." Ia menatap Tari dengan mata berkaca-kaca. "Tar, saya tidak bawa keponakan. Janji."
Seluruh bank tertawa.
°°°°
Gita menyerahkan undangannya pukul dua belas, ketika bank sepi dan jam istirahat menggantung di papan kecil di meja depan. Undangan itu amplop krem tebal dengan pita hijau, nama Gita dan tunangannya tercetak dengan huruf emas. Tari baru sekarang membaca nama laki-laki itu: bukan lagi sebutan "tunangan Gita", tetapi satu nama utuh yang tampak asing sekaligus sudah lama dikenal.
"Sabtu sebelas hari lagi," kata Gita. "Di masjid dekat rumahku. Kamu duduk di barisan depan."
"Sendiri, kan? Aku janji sudah lama."
"Sendiri. Atau dengan Mas Radit di sisi laki-laki." Gita menahan senyum. "Nanti kita lihat siapa yang lebih gugup."
Tari memeluk amplop itu. "Git, aku..."
"Jangan nangis di depan Pak Dirman." Gita menyodorkan tisu dari tas. "Dia sudah bilang dua kali hari ini bahwa dia terharu, dan itu menakutkan."
Malamnya Mama mengajak Tari dan Arif ke rumah Nur membawa daftar tamu. Nur sudah menyiapkan teh dan pisang goreng. Meja makan penuh kertas, daftar tamu tulisan tangan Mama dan daftar tamu ketikan Radit, dan Nisa duduk di antaranya sebagai juri, dengan laptop terbuka dan ekspresi orang yang baru dipercaya memegang anggaran negara. Danu pulang kerja terlambat, masih memakai seragam, lalu jatuh ke kursi seperti prajurit pulang perang.
"Aku teller hari ini. Tiga orang bertanya kenapa aku senyum terus. Aku bilang aku baru dilamarkan kakak iparku."
"Kamu melamar kakak iparmu?" tanya Arif, yang ikut mengantar Mama.
"Dilamarkan! Maksudku kakakku yang..."
"Danu, minum," kata Nur.
Radit menunggu keributan mereda, lalu mengambil daftarnya sendiri. "Tari, ada satu nama yang ingin saya diskusikan sebelum saya menulisnya. Saya ingin mengundang Pak Hamdan, Bu Chasanah, dan Akbar. Sebagai mitra Berkah Group, dan sebagai keluarga yang pernah datang ke rumah Om Rosidi dengan baik." Ia menatap Tari. "Saya tidak mau memutuskan sendiri. Saya bertanya dulu."
Mama menahan napas. Nisa mengangkat alis. Tari mendengar jam dinding berdetak.
Ia berpikir cukup lama, dan tidak ada yang mendesaknya.
"Mas, terima kasih sudah bertanya." Ia mengatur kalimatnya pelan. "Aku jujur, ya. Aku tidak keberatan mereka diundang. Pak Hamdan dan Bu Chasanah sudah baik sekali padaku, dan Akbar sudah melakukan yang benar. Aku tidak mau mereka merasa dibuang. Tetapi aku tidak nyaman kalau mereka hadir di akad."
"Kenapa?"
"Karena akad itu tempat aku menjawab di depan penghulu dan Papa. Aku akan gemetar, dan aku tidak mau ada yang kurasakan sebagai penonton dari masa lalu, bukan karena mereka salah, hanya karena itu terlalu dekat." Ia menarik napas. "Jadi usulku, akad hanya keluarga inti. Mereka diundang di walimah, yang lebih luas. Di sana kami tidak duduk berdekatan, dan Gita mendampingiku."
Nisa mengetik sesuatu di laptopnya, berhenti, lalu berkata datar, "Akad: empat puluh orang paling banyak, keluarga inti dan saksi. Walimah: seratus lima puluh. Aku mencatat." Ia mengangkat mata sekilas ke arah Tari. "Keputusan yang bagus, Mbak."
Radit mendengarkan tanpa menyela. Sesudah Tari selesai, ia mengambil pulpen dan mencoret satu nama dari daftar akad, lalu menuliskannya di daftar walimah.
"Terima kasih," katanya. "Saya hampir mengundangnya tanpa bertanya."
"Hampir."
"Hampir. Itu bagian dari belajar." Ia meletakkan pulpen. "Saya yang akan menyampaikan keputusan ini kepada Akbar. Kamu tidak perlu."
"Mas yakin?"
"Saya yakin." Ia melirik ponselnya. "Malam ini, kalau kamu izinkan. Di teras, pintu terbuka, kamu boleh mendengar."
Tari mengangguk. Mama, di seberang meja, menyeka mata dengan serbet yang ia bawa sendiri dari rumah.
Radit keluar ke teras. Tari mengikuti dari ambang pintu, bersama Danu yang masih memakai seragam, dan mendengar Radit menekan nama di layar, menunggu dua nada sambung, lalu berkata dengan suara yang jelas dan tidak terburu-buru, "Assalamualaikum, Akbar. Ini Radit. Soal undangan pernikahan saya dan Tari, ada yang ingin saya sampaikan, dan saya ingin kamu mendengarnya langsung dari saya."