"Dia bilang apa?" tanya Danu, sebelum Radit sempat menurunkan ponselnya dari telinga.
"Danu, biar Mas Radit duduk dulu," kata Nur dari ambang pintu.
Tapi Radit tidak duduk. Ia berdiri di teras dengan ponsel masih menyala di tangan, menatap pagar, dan Tari yang berdiri di ambang pintu bersama Danu bisa melihat bahunya yang tegak, terlalu tegak.
"Akbar bilang terima kasih sudah bertanya langsung," katanya akhirnya. "Dia bilang tidak ada yang perlu dijelaskan. Akad itu milik keluarga inti. Dia justru lega karena kita yang memutuskan, bukan dia yang harus menebak." Radit berbalik. "Terus dia bilang akan datang ke walimah dengan baju paling rapi yang dia punya, duduk di bagian belakang, dan tidak akan membuat siapa pun menoleh."
"Itu saja?" tanya Danu.
"Ada satu lagi." Radit menatap Tari, dari jarak teras yang cukup lebar untuk Papa lewat sambil membawa koran. "Dia minta saya sampaikan, selamat. Katanya, kalimat itu ia ucapkan tanpa mengandung apa-apa."
Tari mengangguk. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi ia hanya berkata, "Terima kasih sudah menyampaikannya, Mas."
"Sama-sama."
Danu mengangkat tangan seperti murid di kelas. "Boleh tanya? Itu tadi Mas Akbar nangis atau enggak?"
"Danu."
"Kan aku cuma tanya, Bu. Orang yang bilang selamat tanpa mengandung apa-apa itu biasanya habis nangis dulu."
"Dia tidak menangis," kata Radit. "Suaranya biasa saja. Hanya satu kali ia berhenti sebelum bilang selamat, lama, dan saya tidak mengisi jedanya."
Tari menunduk. Ia tahu persis kenapa Radit tidak mengisi jeda itu, dan hatinya mengucapkan terima kasih sekali lagi, tanpa suara.
"Sudah, sudah, jangan kaku begitu," kata Mama dari dalam, jelas-jelas menguping. "Tari, Jumat kamu fitting, jangan lupa makan dulu. Jangan sampai bajunya kesempitan karena kamu terlalu bahagia."
"Ma, itu urusan kain, bukan urusan bahagia."
"Bahagia bikin orang makan banyak. Mama bicara dari pengalaman."
°°°°
Butik itu berada di lantai dua sebuah ruko, dengan tangga sempit dan cermin tinggi di setiap sudutnya. Jumat sore Tari berdiri di depan salah satunya, memakai kebaya putih gading yang belum selesai dijahit, dengan jarum pentul di pinggang dan seorang penjahit berkacamata yang mengukur lengannya sambil bergumam.
Nisa duduk di kursi rotan di belakang, kedua tangannya terlipat. Sejak tiba, ia belum berkata lebih dari lima kalimat.
"Mbak Tari." Nisa akhirnya bicara. "Aku ingin minta maaf."
"Untuk apa?"
"Waktu di pintu rumah Ibu, aku bilang jangan sakiti Mas saya. Nadaku seperti ancaman." Ia memperbaiki letak kerudungnya. "Aku tahu, aku sudah minta maaf waktu kalian berkunjung. Tapi permintaan maaf itu kuucapkan sambil berdiri di pintu, dan aku ingin mengulanginya sambil duduk. Itu lebih sopan."
Tari menahan tawa supaya penjahit tidak menusuknya. "Nisa, aku tidak sakit hati. Aku malah senang kamu bilang begitu. Berarti Mas Radit punya orang yang menjaganya."
"Mas Radit tidak pernah minta dijaga."
"Karena itu perlu ada yang menjaganya diam-diam." Tari menoleh dan tersenyum. "Jadi aku juga ingin kamu jadi adikku, bukan cuma adik iparku. Boleh?"
Nisa terdiam. Bahunya turun sedikit, dan ia tertawa kecil, tawa yang kelihatan jarang dipakai. "Mbak, lenganmu naik. Penjahitnya bilang jangan bergerak."
"Maaf, Bu," kata Tari kepada si penjahit.
"Boleh," lanjut Nisa, tanpa menoleh. "Tapi syaratnya satu. Kalau Mas Radit mulai sok tegar, Mbak kabari aku. Dulu waktu Ayah tidak ada, ia bilang tidak apa-apa selama sebulan penuh. Ibu menemukannya mencuci motor bebek tengah malam."
"Aku kabari."
"Dan Mbak boleh pakai ukuran pinggang yang lebih longgar. Aku lihat catatan penjahitnya. Terlalu pas."
"Aku sudah bilang ke Mama, makan itu bahagia, bukan dosa," kata Tari, dan Nisa tertawa lagi, lebih lepas.
Dari ruang tunggu di luar tirai terdengar suara yang makin lama makin tinggi.
"Besan, seserahan itu bukan lomba. Cukup mukena, sajadah, dan kain."
"Cukup bagaimana, Nur? Anakku satu-satunya! Mama ingin tiga puluh kotak, dengan hiasan!"
"Tiga puluh kotak itu isinya apa saja?"
"Ya, apa saja!"
Tari memandang Nisa lewat cermin. Nisa menghela napas panjang dan berdiri, tetapi Tari sudah lebih dulu menyibak tirai dengan jarum pentul masih menempel di pinggangnya.
"Ma, Bu." Dua ibu itu menoleh bersamaan. "Boleh aku bicara? Sebentar saja."
"Sayang, pelan-pelan, kainnya," kata Mama.
"Aku mau seserahan yang bisa kupakai," kata Tari. "Mukena, sajadah, kain, dan satu kotak buku. Tidak perlu tiga puluh. Mama, aku tahu Mama ingin merayakan, dan aku sayang Mama karena itu. Tapi kalau seserahannya banyak yang cuma jadi pajangan, aku tidak enak melihatnya. Aku lebih suka kotaknya sedikit dan isinya habis dipakai."
Mama membuka mulut, menutupnya lagi, dan akhirnya berkata dengan suara kecil, "Lima kotak."
"Lima kotak, tiga hiasan?" tawar Nur.
"Lima kotak, lima hiasan, dan satu kotak untuk Arif karena ia akan merengek."
"Deal," kata Nur.
Mereka berjabat tangan, kemudian saling memeluk, lalu saling menegur karena pelukan itu menyenggol kerudung Mama.
°°°°
Jarum pentul baru dicabut ketika langit mulai oranye. Mobil Radit terparkir di depan ruko dengan mesin mati dan jendela depan terbuka. Danu duduk di kursi belakang sambil bermain ponsel. Kursi depan di sebelah Radit kosong, bantalnya masih rapi, dan Tari ingat Radit pernah bercanda tentang kursi itu: menunggu istrinya kelak.
Tari berhenti di trotoar, dua langkah dari pintu mobil. Nisa berdiri di sampingnya. Mama dan Nur di belakang.
"Sudah?" tanya Radit.
"Sudah. Kainnya lima kotak, mukena, sajadah, dan buku." Tari menahan senyum. "Mas, soal mahar. Aku ingin yang sederhana. Seperangkat alat salat dan sebuah Al-Quran. Itu saja."
Radit mengangguk, tetapi tidak segera menjawab. Ia menatap setir, lalu menatap Tari. "Boleh saya tambah satu hal?"
"Apa?"
"Bukan benda. Saya akan membacakan satu halaman tiap malam untuk kamu. Tidak harus yang panjang. Satu halaman." Ia menelan ludah. "Saya mau pernikahan kita dimulai dengan hal yang bisa saya kerjakan tiap hari, bukan hanya hari akad."
Danu menjatuhkan ponselnya di kursi belakang. Nisa menoleh ke arah lain dengan pura-pura sibuk memeriksa kuku.
"Satu halaman," ulang Tari pelan. "Kalau Mas capek?"
"Satu halaman pendek."
"Kalau aku sudah tidur?"
"Saya baca pelan-pelan, supaya kamu tidak terbangun." Ia hampir tersenyum. "Dan kalau kamu terbangun, berarti bacaan saya bagus."
"Mulai dari halaman berapa?"
"Dari halaman pertama. Kalau sudah khatam, kita ulang."
"Mas Radit," kata Danu dari kursi belakang, suaranya parau, "aku tadi bersumpah tidak akan terharu sebelum akad."
"Kalau begitu keluar dari mobil dan jangan lihat."
"Aku butuh tisu."
Nisa mengeluarkan satu bungkus dari tas tanpa menoleh, dan menyodorkannya lewat jendela belakang. Dari belakang, Mama menepuk lengan Nur keras-keras.
"Nak Tari." Nur maju selangkah dan mengeluarkan kotak kecil dari tas tangannya. Isinya gelang tipis yang warnanya sudah agak kusam di sisi dalam. "Ini punya almarhumah nenek Radit. Ibu simpan puluhan tahun. Tidak mahal, tidak untuk dipamerkan. Ibu hanya ingin ia ada di tangan perempuan yang akan menemani Radit."
Tari menerimanya dengan kedua tangan. Dingin, lebih ringan dari dugaannya. Tenggorokannya mengencang. "Bu, ini terlalu berharga."
"Justru karena itu. Tidak ada yang lebih pantas." Nur menepuk punggung tangan Tari, lalu mundur. "Pakai di akad, ya."
Tari memasukkan gelang itu ke tasnya, di sebelah lipatan kertas yang ia bawa ke mana-mana sejak Senin: jawaban nomor seratus, dengan catatan kecil di bawahnya. Ujung kertas itu menyentuh jarinya. Ia ingin membukanya, hanya untuk melihat tulisan Radit sekali lagi. Tapi ia menutup tasnya.
"Nak Tari," kata Nur lagi. "Minggu siang makan di rumah Radit, ya. Ibu masak gulai. Dan Ibu mau bicara sesuatu."
"Soal apa, Bu?"
"Bukan hal buruk," kata Nur sambil tersenyum, terlalu manis untuk dipercaya. "Hanya satu hal yang sudah lama Ibu simpan."