Gulai Nur memenuhi seluruh dapur rumah Radit dengan wangi kunyit dan daun jeruk, dan Mama sudah mengomentarinya dari ambang pintu: "Besan, ini bukan masak untuk makan siang, ini masak untuk pesta."
"Baru tujuh orang, Besan. Itu masih tanggung."
Meja jati itu kini punya tujuh penghuni dan hanya enam kursi. Danu sudah berlari ke rumah Nur untuk mengambil kursi lipat, kembali dengan napas pendek, lalu duduk di kursi lipat itu sendiri sambil memasang wajah orang yang sengaja berkorban. Radit duduk di ujung. Tari di sisi Mama, berseberangan dengan Nisa, dan Arif di antara Nisa dan Danu karena, menurut Nur, dua orang itu terlalu berisik kalau berdekatan.
Tari mengamati taplak meja yang baru: kotak-kotak hijau, jelas dipilih Nur. Ia mengamati piring yang berjajar rapi, gulai dengan potongan nangka, sambal, tempe goreng, dan lalapan yang dipotong lebih cantik dari yang bisa Mama kerjakan di rumah. Ia mengamati Radit membaca doa makan dengan suara rendah, dan ia mengamati dirinya sendiri: tenang, hampir lupa bahwa Nur berjanji mau bicara. Baru ketika Nur menyendokkan nasi untuk Mama, ia ingat.
"Besan, Nak Tari, Nisa, semuanya. Sebelum makan, aku minta sebentar saja." Nur meletakkan sendok nasi. "Aku ini sudah lama menyimpan satu doa. Selama Radit belum menikah, aku tidak berani mengucapkannya keras-keras. Sekarang, di depan Besan sendiri, boleh aku ucapkan?"
"Silakan, Besan," kata Mama.
Nur tersenyum, dan senyum itu begitu polos sampai Tari merasa dadanya menegang lebih dulu, sebelum kalimatnya selesai.
"Ibu berdoa, semoga tahun depan rumah ini sudah ada suara kecilnya. Cucu pertama. Ibu sudah beli satu kaleng tepung bayi, malu-malu, di pojok lemari." Ia terkekeh. "Tidak apa-apa kalau lama, kok. Ibu sabar. Tapi Ibu mau lekas ada cucu, ya, Nak Tari."
Danu mengangkat sendok, bersiap bercanda, tetapi Nisa menendang kakinya dari bawah meja.
Tari tidak mendengar sisanya. Telinganya berdengung. Ia melihat Mama menoleh dan berbisik, "Besan, pelan-pelan," tetapi Nur sudah telanjur tersenyum ke arah piring. Nisa mengucap "Bu..." nyaris tanpa suara.
Tari melihat Arif meraih sambal tanpa tahu apa-apa, dan melihat tangannya sendiri di pangkuan, memegang kain gamis begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Satu kalimat melintas di kepalanya. Dulu kalimat itu cuma pengandaian di kertas seratus pertanyaan. Sekarang ia kemungkinan nyata, dan sudah punya tanggal akad.
"Permisi," katanya. Suaranya terdengar pecah. "Aku ke belakang sebentar."
Ia berdiri sebelum ada yang sempat bertanya.
°°°°
Halaman belakang rumah Radit tidak besar. Hanya sepetak rumput, bangku semen di bawah pohon jambu kristal, dan keran yang menetes. Tari duduk di ujung bangku itu dan menunduk, dan air matanya jatuh ke kain gamis tanpa permisi. Ia bahkan tidak merasa menangis sampai bahunya bergetar.
Langkah kaki datang dari belakang. Bukan satu pasang. Ia mengenali langkah Radit, yang hati-hati dan tidak pernah terburu-buru, dan dua pasang yang lebih berisik di belakangnya. Danu dan Arif berhenti di pintu kaca geser, kira-kira lima meter dari bangku. Cukup jauh untuk tidak mendengar, cukup dekat untuk menjadi saksi.
Radit berdiri di ujung bangku yang lain. Jarak dua orang dewasa di antara mereka. Ia tidak duduk.
"Saya boleh di sini?"
"Boleh, Mas." Tari menyeka pipi dengan lengan baju, tidak berhasil. "Maaf. Aku merusak makan siangnya."
"Kamu tidak merusak apa pun." Ia menunggu. "Saya tidak akan bertanya kenapa. Saya hanya ingin ada di sini kalau kamu mau bicara."
Angin menggerakkan daun jambu. Sebuah buah yang sudah matang jatuh ke rumput, pelan.
"Mas." Tari menarik napas. "Dulu di kertas seratus pertanyaan itu, nomor seratus, aku menulisnya sebagai 'semisal'. Aku bilang ke Ibu, itu cuma misal. Tapi bohong, Mas. Aku bohong ke Ibu waktu itu, dan aku bohong ke diriku sendiri." Suaranya turun jadi bisikan. "Aku takut. Takut sekali. Aku takut suatu hari nanti aku tidak bisa memberi Mas anak. Mas akan tinggal, aku tahu Mas akan tinggal, Mas sudah menulisnya. Tapi aku takut Mas tinggal sambil diam-diam kehilangan sesuatu karena aku. Aku takut Ibu kehilangan, Mas kehilangan, dan aku tidak bisa mengembalikannya."
Radit tidak langsung menjawab. Ia memandang rumput di antara kakinya, lama, dan Tari melihat telinganya. Tidak merah. Telinga itu cuma tenang.
"Terima kasih sudah mengatakannya," katanya akhirnya. "Saya tidak akan bilang jangan takut. Itu tidak berguna, dan saya tahu rasanya jika orang bilang begitu."
Ia merogoh saku, mengeluarkan sapu tangan yang terlipat rapi. Alih-alih mengulurkannya, ia melangkah satu langkah ke bangku, meletakkan sapu tangan itu di tengah, di atas semen, lalu mundur lagi ke ujungnya. Tari menatap kain itu. Tidak ada tangan yang menyentuh, tapi ia merasa dihampiri.
"Kita belum tahu apa-apa," kata Radit. "Itu yang paling jujur yang bisa saya katakan. Kita belum tahu akan dititipi atau tidak, dan kapan. Orang yang bilang tahu, sedang menebak. Yang saya tahu hanya satu: saya mau tinggal. Sudah saya tulis di kertas itu, dan sekarang saya katakan di sini dengan mata terbuka, setelah kamu menangis di depan saya." Ia diam sebentar. "Kalau Allah menitipkan, kita syukuri. Kalau tidak, kita tetap utuh. Dan kalau Ibu kecewa, itu urusan saya menjelaskan kepada Ibu, bukan beban kamu."
"Ibu tidak bermaksud..."
"Aku tahu, Bu. Ibu mengatakan yang semua ibu inginkan. Tapi lain kali Ibu akan tahu bahwa doa itu tidak boleh dijadikan pertanyaan kepada orang yang belum siap." Ia menunduk. "Kamu boleh minta waktu. Kamu boleh menangis di halaman ini sebanyak yang kamu mau. Danu dan Arif tidak akan bilang siapa-siapa."
"Aku dengar, Mas!" teriak Danu dari pintu kaca.
"Pergi," kata Radit tanpa menoleh.
Danu mundur setengah langkah dan bersembunyi di balik Arif.
Tari tertawa di tengah tangisnya, dan itu justru membuat air matanya mengalir lagi. Ia mengambil sapu tangan di tengah bangku, mengusap wajahnya, lalu menatap Radit.
"Mas," katanya. "Aku mau percaya."
"Sungguh?"
"Aku tidak janji tidak akan takut lagi. Tapi aku mau percaya. Percaya pada Mas, percaya aku boleh takut dan tetap di sini."
Radit tidak menjawab dengan kata. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku kemejanya, melipatnya sekali, dan meletakkannya di tengah meja, di antara mereka. Tari mengambilnya.
Pintu kaca bergeser. Nur berdiri di sana, wajahnya pucat, kedua tangan menggenggam ujung kerudung. Danu dan Arif menyingkir untuknya.
"Nak Tari." Suaranya nyaris tak terdengar. "Ibu minta maaf. Ibu tidak berpikir. Ibu cuma..."
"Ibu tidak salah," kata Tari, bangkit. "Ibu menyebut doa, Bu. Aku yang belum siap mendengarnya. Itu bukan salah Ibu."
"Tetap saja. Ibu tidak akan bertanya lagi."
"Ibu boleh berdoa. Cuma jangan bertanya dulu, ya, Bu. Biar aku yang bilang kalau sudah waktunya."
Nur mengangguk cepat, lalu mengangguk lagi, dan akhirnya menutup mulutnya dengan tangan.
"Bu," kata Danu hati-hati dari belakang, "gulainya dingin."
"Danu," kata semua orang sekaligus.
°°°°
Gulai itu dihangatkan ulang, dan makan siang berlanjut dengan suasana yang pelan, seperti orang berjalan di lantai yang baru dipel. Mama menunggu sampai Nur sibuk mengisi piring Arif, lalu mencondongkan badan ke arah Tari dan berbisik, "Mama tidak tahu Besan akan bilang begitu. Mama bisa pindah ke ujung meja kalau kamu mau."
"Duduk saja, Ma."
"Kaleng tepung bayi itu," bisik Mama lagi, hampir tak terdengar, "lucu juga, ya. Dia sudah beli." Mata Mama basah, tetapi bibirnya tersenyum. "Pada waktunya, Tari. Pada waktunya. Mama tidak minta apa-apa selain kamu bahagia."
Tari mengangguk dan menyuap nasi. Dari ujung meja ia merasakan tatapan Radit, tetapi ketika ia menoleh, Radit sedang pura-pura menyendok sambal. Telinganya merah. Bukan karena bohong, Tari tahu, melainkan karena Radit kepergok menatap.
"Gulainya enak, Bu," kata Tari lantang, supaya Nur mendengar.
Nur mengangkat wajah, dan ia tersenyum lega, senyum pertama sejak halaman belakang. "Kurang garam?"
"Pas, Bu. Sungguh."
"Itu bohong," kata Nisa. "Kurang sedikit."
"Nisa!"
"Mbak Tari bilang aku boleh jadi adiknya, Bu. Adik harus jujur."