"Tar, tanganku dingin?"
Gita menjulurkan kedua telapaknya dari balik kebaya putih. Tari meraihnya, dan benar, dingin sekali, seperti baru dikeluarkan dari kulkas. Mereka duduk di ruang kecil di samping serambi masjid, tempat para pengantin biasa menunggu sebelum dipanggil. Kipas angin berputar pelan. Dari balik dinding terdengar suara orang menggelar tikar dan seseorang mencoba pengeras suara: satu, dua, tes.
"Dingin," kata Tari. "Tapi kamu tidak gemetar."
"Itu karena aku sudah gemetar dari subuh. Sekarang tinggal dingin." Gita tertawa getir. "Aku pacaran dengannya sejak SMA, Tar. Sepuluh tahun lebih. Aku pikir akad itu cuma tanda tangan. Ternyata kakiku sudah seperti agar-agar."
"Kamu mau minum?"
"Kalau minum nanti aku ke toilet, kalau ke toilet nanti riasanku rusak." Gita menarik napas panjang sampai bahunya naik. "Ceritakan sesuatu, apa saja. Yang tidak membuatku nangis."
Tari berpikir. "Waktu makan gulai itu, Ibu bilang beliau sudah beli tepung bayi untuk cucunya."
"Itu membuatku nangis."
"Maaf. Kalau begitu, ini kabar dari Danu: di hari keduanya bekerja, ia memanggil seorang nasabah 'Pak Kakak'."
Gita terbahak, lalu buru-buru menutup mulut. "Pak Kakak?" bisiknya. "Dan nasabahnya?"
"Menjawab 'iya, Dik'. Mereka sekarang teman."
Gita tertawa lagi sampai bahunya berguncang. Setelah tawanya reda, ia menatap Tari dengan mata yang tiba-tiba terlalu bening. "Tar, boleh aku bilang sesuatu?"
"Bilang saja."
"Dulu waktu kamu cerita soal Akbar, aku pikir kamu perempuan yang paling kuat yang kukenal. Kamu bilang kamu tidak mau mengenal laki-laki lagi dan aku kagum." Ia mengeratkan genggamannya. "Sekarang aku tahu aku salah. Kamu bukan paling kuat. Kamu orang yang paling takut dicintai, Tar. Dan sekarang kamu tidak takut."
Tari tidak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk, dan menyadari bahwa tangannya sendiri kini yang lebih hangat dari tangan Gita.
"Nah, sekarang kamu yang hampir nangis," kata Gita, mengusap sudut matanya dengan hati-hati supaya maskaranya selamat. "Tolong jangan. Aku perlu satu pegangan yang kering."
°°°°
Akad dimulai pukul sembilan lewat sepuluh. Tari duduk di barisan depan sisi perempuan, sendirian, seperti janjinya dulu pada Gita, di antara Ibu Gita yang tak berhenti memegang sapu tangan dan seorang bibi berkerudung kuning. Di belakangnya rombongan bank memenuhi dua baris: Pak Dirman dengan batik cokelat yang jelas baru disetrika, Firdaus yang untuk sekali ini tidak berkata "gua", dan Pak Fero dengan setelan gelap yang terlalu hangat untuk udara pagi.
Di seberang, di sisi laki-laki, Radit duduk tiga baris dari belakang di sebelah Danu. Kemeja putihnya licin. Ia memegang peci di pangkuan, dan ketika Tari menoleh, kebetulan sekali, matanya sudah menatap ke arahnya.
Hanya satu detik. Radit menunduk, tersenyum kecil pada pecinya, lalu mengangkat wajah lagi ke arah penghulu. Tari mengembalikan pandangannya ke depan dengan jantung yang berdegup tidak sopan.
Ayah Gita menjabat tangan mempelai laki-laki. Penghulu membaca khotbah singkat. Tari melihat punggung pengantin pria yang tegak, kaku, dan tidak bergerak, dan ia ingat betapa dulu laki-laki itu cuma sosok tanpa nama yang disebut "tunangan Gita". Sekarang ia duduk di depan penghulu dengan telinga yang memerah.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau," kata ayah Gita dengan suara bergetar, "dengan putri kandung saya, Gita, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai..."
"Saya terima nikah dan kawinnya Gita binti..."
Satu napas. Tidak terputus, tidak tersendat. Suara pengantin pria begitu mantap sampai seluruh ruangan seolah ikut menahan napas bersamanya.
"Bagaimana, saksi?"
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah." Doa dibacakan. Di belakang Tari seseorang terisak keras, dan ia tahu itu Pak Dirman. Di sisi laki-laki, Radit mengusap wajahnya dengan telapak tangan, pelan, dan menunduk lama sekali.
°°°°
Di serambi, sesudah salam-salaman, Pak Fero tahu-tahu sudah berdiri di depan mikrofon, padahal tidak ada yang mempersilakan.
"Bapak, Ibu, Gita, Mas..." Ia berhenti dan melirik sekeliling. "Maaf, saya diminta mewakili Berlian Bank. Sebenarnya tidak ada yang meminta. Saya yang minta diri sendiri."
Beberapa tamu tertawa. Gita, di kursi pelaminan kecil, menutup mulut.
"Gita ini," lanjut Pak Fero, "karyawan paling tepat waktu yang pernah saya kenal. Dia tidak pernah terlambat. Hari ini dia menikah, dan saya yakin dia tidak terlambat. Saya hanya khawatir, setelah ini, saya akan kehilangan satu jam kerja dua kali sehari karena dia harus pulang menyiapkan makan malam suaminya." Ia berdeham. "Maksud saya, selamat. Semoga rumah tangganya sabar. Itu saja. Terima kasih."
Ia mundur dengan wajah orang yang baru selamat dari ujian. Pak Dirman menepuk punggungnya dari belakang sambil masih menyeka mata, dan berbisik cukup keras untuk didengar separuh serambi, "Bagus, Pak. Tidak menyebut keponakan." Tari menahan tawa sampai dadanya sakit.
Halaman masjid ramai: anak-anak berlarian di antara sepatu, ibu-ibu berebut foto, dan seseorang membagikan teh gelas plastik. Tari berdiri di dekat pagar rendah, di bawah pohon ketapang, ketika sebuah bayangan berhenti di jarak yang sudah ia hafal. Dua langkah. Di belakangnya, Nur sedang berbincang dengan Ibu Gita, dan Danu memegang gelas teh di tiap tangan, terlalu jelas tidak mengawasi siapa pun.
"Assalamualaikum," kata Radit.
"Waalaikumsalam, Mas."
"Tadi... bagus akadnya." Ia mencari kata berikutnya, tidak menemukan, lalu menyerah. "Maaf. Saya hanya ingin bilang sesuatu yang penting dan saya tidak tahu bagaimana mulainya."
"Mulai saja."
Radit menatap sepatu orang-orang di halaman. "Akbar mengirim pesan semalam. Dia mau pamit ke bank, menutup rekeningnya. Kembali ke Bandung. Dia minta waktu Jumat." Ia mengangkat mata. "Saya tidak mau memutuskan apa-apa soal ini sendiri. Kamu mau saya ikut?"
Pertanyaan itu duduk di antara mereka beberapa saat. Tari mendengar suara pengeras suara, tawa anak-anak, dan di suatu tempat Pak Fero mengajari seorang bocah foto selfie.
"Biar aku yang temui, Mas," katanya akhirnya. "Sendiri. Tapi di tempat umum. Di bank, di meja CS 02, seperti biasa."
Radit tidak menjawab segera. Ia hanya memandang Tari, lama.
"Saya percaya," katanya.
"Secepat itu?"
"Saya tidak cepat. Saya sudah berlatih dua pekan di depan kalender." Ia hampir tersenyum. "Tapi ini bukan soal cepat atau lambat. Ini soal kamu yang memilih, dan saya mau menepati bagian saya, yaitu percaya."
"Mas tahu kenapa aku mau sendiri?"
"Saya duga. Tapi saya lebih suka kamu yang bilang."
Tari memandang pagar rendah, tempat sebuah sepeda anak bersandar dengan bel yang berkarat. "Karena menutup sesuatu itu tugas yang punya. Dulu aku yang menutup pintu itu dengan marah. Sekarang aku mau menutupnya dengan benar, supaya tidak ada yang tersisa untuk dikhawatirkan di rumah kita."
Radit mendengarkan tanpa memotong. Ketika ia bicara lagi, suaranya lebih pelan. "Rumah kita."
"Salah ucap?"
"Tidak." Ia mengatupkan tangan di dada, singkat, seperti orang yang menerima hadiah. "Hanya belum terbiasa mendengarnya."
Ponselnya bergetar. Ia memeriksa layar, lalu mengangkat ponsel itu di tangan yang terentang, supaya Tari bisa membaca dari jaraknya tanpa mendekat.
Akbar Fajriansyah: Jumat, pukul sepuluh, kalau Tari berkenan. Transaksi nyata. Saya bawa buku tabungannya.
Tari membaca dua kali.
"Bilang ke dia, jangan lupa bawa KTP juga," katanya, dan Radit tertawa, tawa rendah yang jarang dan hampir tidak terdengar, sementara Danu, di kejauhan, menjatuhkan salah satu gelas tehnya.