"Customer Service nomor tujuh belas ke CS 02!"
Panggilan itu keluar dari pengeras suara tepat pukul sepuluh kurang satu menit. Tari tidak perlu menengok layar antrean. Ia sudah tahu, sejak Pak Dirman membuka pintu kaca sepuluh menit lalu dengan wajah yang aneh, campuran hormat dan waswas, seperti seorang satpam yang menyambut tamu dari masa lalu.
Akbar berjalan di antara deretan kursi tunggu dengan satu map biru di tangan. Kemeja batik cokelat tua, lengan tergulung rapi sampai siku. Tidak ada senyum tebar pesona, tidak ada candaan, tidak ada kejutan. Ia berhenti di depan meja CS 02, menarik kursi nasabah, dan menunggu sampai Tari mengangguk.
"Silakan duduk, Pak."
"Terima kasih, Mbak."
Mbak. Tari menahan senyumnya dan menyilangkan jari di bawah meja. Di CS 01, Gita sibuk mengetik dengan kecepatan yang tidak masuk akal, telinganya miring tiga puluh derajat ke arah mereka.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin menutup rekening tabungan atas nama Akbar Fajriansyah." Ia meletakkan map di meja dan membukanya satu per satu: buku tabungan, kartu ATM, dan di atasnya, dengan gerakan yang sengaja diperlihatkan, sebuah KTP. "Sudah saya bawa. Kata seseorang jangan lupa."
Tari merasakan ujung bibirnya naik tanpa izin. "Terima kasih, Pak. Boleh saya lihat sebentar?"
Ia memeriksa kartu itu, mencocokkan nama, menyalin nomor, lalu menyodorkan formulir penutupan. Akbar membaca setiap baris, menandatangani dengan pena yang ia keluarkan dari sakunya sendiri, dan menyerahkannya dengan dua tangan.
"Alasan penutupan?" tanya Tari, pulpennya melayang di atas kolom itu.
"Pindah domisili." Akbar berhenti. "Dan satu alasan lain yang tidak perlu ditulis."
"Saya tulis pindah domisili saja, Pak."
"Sudah cukup."
Tari mengetik di komputer. Layar menampilkan saldo, riwayat, dan sebuah baris kecil yang membuat Tari terdiam sedetik: setoran hasil penjualan, beberapa hari lalu, lewat Teller. Transaksi nyata, seperti janjinya. Ia tidak berkomentar. Ia hanya menekan tombol konfirmasi, mencetak bukti, dan mendorong lembarnya ke tepi meja.
Dulu, di meja yang sama, laki-laki ini membuka rekening dengan senyum yang membuat seluruh bank menoleh dan menolak berdiri sebelum Tari setuju makan siang. Hari ini ia menutupnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar, mengambil nomor antrean seperti nasabah lain, dan menunggu dipanggil. Tari sendiri tidak tahu mana yang lebih sulit baginya.
"Boleh saya bilang sesuatu soal nomor antrean?" tanya Akbar, melihat ke arah lembar kecil di map.
"Silakan."
"Nomor tujuh belas. Waktu pertama kali saya duduk di kursi ini, saya dapat nomor tujuh, dan saya merasa itu pertanda baik." Ia menggeleng. "Sekarang saya tahu angka tidak pernah pertanda apa-apa. Yang pertanda itu orangnya mau mendengar atau tidak."
"Kamu belajar itu dari mana?"
"Dari empat bulan duduk di ruang rapat bersama laki-laki yang bertanya soal upah pembatik sebelum bertanya soal margin." Akbar menyunggingkan senyum. "Mas Radit tidak tahu, tapi dia gurunya."
°°°°
"Saldonya saya pindahkan ke rekening yang Bapak sebut," kata Tari, "dan prosesnya dua hari kerja. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Ada satu hal. Bukan urusan bank." Akbar meletakkan tangannya di atas map, tidak lebih jauh. "Boleh?"
Tari menoleh sekilas ke Gita. Gita mengangkat jempol tanpa berhenti mengetik. "Silakan."
Dari kursi di sebelahnya, Akbar mengangkat sebuah kantong kain berwarna krem dan meletakkannya di tepi meja, di sisi yang menghadap Tari, lalu menarik tangannya kembali. "Dari Ibu dan Bapak. Dari Chasanah Batik. Kain sarimbit untuk pengantin, satu untuk Mas Radit dan satu untukmu. Ibu memilih kainnya sendiri. Maksud saya, Ibu menyuruh pembatik terbaik di pabrik mengerjakannya dan berdiri di belakang mereka sampai selesai."
Tari mengambil kantong itu. Kainnya terasa halus, dingin, dan sedikit wangi malam. Ia membukanya sedikit, dan melihat motif kawung dengan warna cokelat hangat dan hijau lumut, bukan warna yang akan dipilih Akbar sendiri, melainkan warna yang dipilih orang yang mengenal Tari lewat satu foto dan banyak cerita.
"Bapak dan Ibu bilang jangan kain sembarang," lanjut Akbar. "Dan jangan disimpan di lemari. Kain batik dibuat untuk dipakai."
"Terima kasih. Sampaikan ke Ibu, saya akan memakainya."
"Bapak sehat?" tanya Tari.
Akbar mengerjap, tidak menyangka ditanya. "Sehat. Jalannya masih pelan, tapi sekarang berani turun tangga sendiri. Katanya tongkatnya sahabat yang cerewet." Ia tersenyum kecil, senyum yang jarang ia pakai, tanpa lesung pipi yang berlebihan. "Satu hal lagi. Saya sudah bicara dengan Mas Radit. Setelah walimah, saya kembali ke Bandung."
Tari mengangkat wajah.
"Bukan karena apa-apa. Pabrik sudah punya pemasok yang benar, utang sudah selesai dua, tinggal satu, dan toko di Jakarta sudah jalan sendiri lewat Berkah Group. Bapak bilang saya sudah terlalu lama jadi tamu di kota orang." Ia menggeleng. "Tadinya saya pikir saya pulang karena kalah. Ternyata tidak. Saya pulang karena yang harus saya jaga ada di sana."
"Itu keputusan yang baik."
"Saya mau mengucapkan sesuatu juga, dan saya tidak mau kamu jawab." Akbar menunggu sampai Tari mengangguk. "Dulu saya pernah bilang bosan. Itu kata paling bodoh yang pernah saya ucapkan, dan saya mengulanginya dalam kepala saya setiap malam selama bertahun-tahun. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan menjelaskannya, dan terima kasih sudah tidak membalas dengan kebencian."
Tari memandang formulir yang sudah ditandatangani, kemudian Akbar. Ia tidak tahu apakah ingin tertawa atau menangis. Jadi ia melakukan satu-satunya hal yang terasa benar.
Ia mengatupkan kedua tangan di dada, menunduk.
Akbar terdiam sedetik. Lalu ia membalasnya dengan cara yang sama, tangan di dada, kepala menunduk, lebih dalam dari yang pernah Tari bayangkan.
"Selamat, Tari," katanya pelan. "Kamu menang dari dirimu sendiri."
Ia berdiri, merapikan kursi, mengambil map, dan berjalan ke pintu kaca tanpa menoleh. Pak Dirman membukakan pintu dan mengangguk hormat, dan baru ketika bayangan Akbar menghilang di antara orang-orang di trotoar, Tari sadar bahwa ia menahan napas.
°°°°
"Tar." Gita memutar kursinya setengah putaran. "Kamu baik-baik saja?"
"Baik." Tari menaruh kantong kain di pangkuan. "Aneh. Aku kira akan sesak. Ternyata lega."
"Itu bukan aneh. Itu sembuh." Gita mengeluarkan tisu dari laci, meletakkannya di pembatas kaca yang memisahkan mereka. "Aku tidak mau dengar bahwa kamu menahan tangis demi profesionalisme. Aku pernah lihat kamu menahan tangis karena nasabah yang lupa PIN. Ini lebih berat."
"Aku tidak nangis."
"Matamu merah."
"Itu karena AC."
"AC bank ini sudah dua pekan rusak."
Pak Dirman muncul di ujung meja membawa sebungkus kecil kacang rebus, meletakkannya di pembatas kaca tanpa kata-kata, lalu berdeham keras dan pergi lagi. Tari dan Gita saling pandang, dan tawa mereka pecah bersamaan, kecil dan basah, sampai seorang nasabah di kursi tunggu menoleh heran.
Ponsel Tari bergetar di laci. Ia mengeluarkannya, dan nama yang muncul membuat telapak tangannya hangat.
Raditya Hermanto: Sudah selesai?
Lestari Ayu: Sudah, Mas. Baik. Dia titip kain dari Bu Chasanah.
Raditya Hermanto: Alhamdulillah.
Balasan berikutnya datang bahkan sebelum Tari sempat menaruh ponsel.
Raditya Hermanto: Saya punya satu pertanyaan lagi untuk kamu. Tapi belum waktunya. Jumat depan.
Lestari Ayu: Pertanyaan nomor berapa?
Lama tidak ada balasan. Tari menyusun ulang map di pangkuannya, sekali, dua kali, sampai tepinya benar-benar rata.
Raditya Hermanto: Seratus dua.