Sudah tujuh hari Tari menebak nomor seratus dua, dan sudah tiga kali ia menuliskan tebakannya di halaman belakang buku harian, lalu mencoretnya.
Tebakan pertama: Apa makanan yang tidak akan kamu bagi? Dicoret, karena Radit bukan orang yang bertanya begitu. Tebakan kedua: Siapa yang akan mengalah lebih dulu saat bertengkar? Dicoret juga, karena ia sudah tahu jawabannya dan tidak ingin mendengarnya. Tebakan ketiga ia tulis dengan huruf kecil-kecil, hampir seperti malu: Apakah kamu menyesal?
Jumat malam itu rumah akhirnya sunyi. Tenda sudah berdiri di halaman sejak sore, kursi-kursi lipat berbaris dengan rapi, dan Papa menghabiskan satu jam terakhir dengan memeriksa tiap tiang seolah-olah tendanya akan menyatakan pendapat. Arif tertidur di sofa ruang tamu dengan ponsel di dadanya. Kebaya putih gading tergantung di pintu lemari, menunggu pagi. Di meja rias, kotak kecil berisi gelang nenek Radit terbuka, dan gelangnya memantulkan cahaya lampu.
Tari keluar mengambil air dan berhenti di ambang pintu ruang tamu.
Papa duduk sendirian di bawah lampu teras, menghadap halaman yang gelap, memegang selembar kertas yang bergetar kecil di tangannya. Bibirnya bergerak tanpa suara, lalu dengan suara, lalu berhenti, lalu mengulang dari awal.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Raditya Hermanto bin..." Papa mengerutkan dahi dan melirik kertas. "Bin. Ya Allah, Papa lupa bin apa."
"Di kertas, Pa."
Papa terlonjak dan menjatuhkan kertasnya. "Tari! Kamu mengagetkan Papa."
"Papa lihat di surat dari penghulu, baris kedua," kata Tari sambil memungut kertas itu dan menunjuk dengan jari.
"Sudah Papa baca dua puluh kali." Papa menerima kertas itu dan menatapnya seperti menatap lawan yang tangguh. "Satu napas, kata penghulu. Kalau putus, harus diulang. Papa tidak mau diulang di depan tamu. Papa sudah latihan di kamar mandi sampai Mama bilang suara Papa menggema."
"Papa gugup?"
"Papa tidak gugup. Papa sedang berlatih." Papa melipat kertas, membukanya, melipatnya lagi. Lalu suaranya turun. "Papa gugup, Nak. Papa bukan takut kehilangan kamu. Papa takut salah ucap satu kata di hari yang kamu tunggu seumur hidup."
"Papa tidak akan salah."
"Kamu yakin?"
"Papa yang menyuruh Tari menjawab sendiri tiga kali, dan tiga kali pula Papa benar."
Papa tertawa pendek, lalu berdeham untuk menyembunyikan matanya. "Tidur. Besok pagi anak Papa cantik, bukan mata panda."
Tari kembali ke kamar dengan segelas air dan hati yang anehnya lebih berat sekaligus lebih ringan.
Di lorong ia berpapasan dengan Arif yang terseok bangun dari sofa, rambutnya mencuat ke tiga arah. "Kak, besok aku harus pegang cincin, kan? Kalau jatuh bagaimana?"
"Jangan dijatuhkan."
"Itu bukan rencana, itu cuma harapan," gumam Arif, lalu kembali ke sofa dan tidur lagi sebelum Tari sempat menjawab. Tari menahan tawa sampai pintu kamarnya tertutup.
Pintu kamar diketuk dua kali tak lama sesudahnya.
"Tidak tidur juga?" Mama masuk membawa sesuatu di tangan, terbungkus daun pisang dan diikat tali rafia. Wangi melati menyusul sebelum wajahnya. "Mama sudah tahu. Mama tidak bisa tidur waktu malam sebelum nikah dulu, jadi Mama tahu kamu juga tidak."
"Ma, jam berapa ini?"
"Hampir pukul sebelas. Duduk." Mama menepuk kasur dan membuka bungkusan itu: untaian melati, putih dan rapat, sebesar lengan bawah. "Untuk sanggul besok. Mama petik sendiri tadi sore dari pagar rumah Bu RT. Jangan bilang-bilang, Mama sudah minta izin tapi tidak menunggu jawabannya."
Tari tertawa dan duduk di sisi ibunya. Wangi melati memenuhi kamar, manis dan sedikit menyengat, seperti ingatan lama.
"Mama mau cerita," kata Mama. "Malam sebelum Mama nikah sama Papa, Mama bangun tengah malam dan ke dapur. Mama makan nasi dingin pakai sambal terasi sambil berdiri di depan kulkas. Ibunya Mama menemukan Mama di sana. Mama pikir Mama akan dimarahi."
"Terus?"
"Ibunya Mama duduk di kursi dapur, menunggu Mama selesai makan, lalu bilang: kalau kamu takut, bilang. Jangan lari. Takut itu boleh. Lari yang tidak." Mama mengusap sudut matanya. "Mama sudah pakai kalimat itu seumur hidup. Sama Papa, sama kamu, sama Arif. Dan Mama senang waktu Radit mengucapkannya di depan Papa dengan kata-katanya sendiri."
"Saya bilang, bukan menghilang."
"Itu. Itu ibunya Mama dalam bentuk laki-laki muda." Mama meraih tangan Tari. "Kamu takut?"
Tari memeriksa dadanya, hati-hati seperti memeriksa saku yang mungkin ada lubangnya. "Takut, Ma. Tapi bukan takut yang dulu. Takut yang sekarang rasanya seperti mau naik panggung."
"Itu bagus. Takut yang itu boleh dibawa."
Tari berdiri, membuka laci meja belajar, dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah lusuh di lipatan: HVS putih, tulisan tangannya sendiri, rapi dan berjajar, judulnya 100 Daftar Pertanyaan. Ia memegangnya sebentar, merasakan kertas itu lebih ringan dari yang ia ingat.
"Ma, tolong simpan."
Mama menerimanya dengan kedua tangan. "Ini kertas yang dulu dikasih ke Radit?"
"Ini aslinya. Yang kuberikan ke Mas Radit itu salinan. Yang ini selalu di laci." Tari duduk lagi. "Dulu aku pikir kalau pertanyaannya seratus dan jawabannya jujur semua, aku akan tahu. Aku tidak akan tertipu lagi." Ia tersenyum. "Ternyata orangnya yang kubutuhkan, Ma. Bukan kertasnya. Kertas ini sudah selesai tugasnya."
Mama memegang kertas itu seperti memegang foto bayi. "Mama simpan di lemari sama ijazah Papa dan buku nikah. Nanti kalau cucu Mama bertanya kenapa neneknya punya kertas ini, Mama jawab bahwa ibu kalian dulu galak."
"Ma."
"Galak yang benar." Mama mengecup dahi Tari, lama. "Tidur, ya. Besok pagi Mama bangunkan."
°°°°
Sesudah pintu tertutup, Tari tidak tidur. Ia mengambil buku harian dari bawah bantal, membuka halaman yang kosong, lalu memandang pulpen di tangannya selama beberapa menit. Lama ia merasa bahwa tiap halaman buku itu punya nama yang sama di dalamnya, bahkan ketika namanya tidak ditulis. Ia menarik napas. Lalu ia menulis.
Hari ini Papa memperbaiki engsel pintu kamar tamu sambil bersiul. Aku baru sadar sudah lama tidak mendengar Papa bersiul. Lusa ada seratus lima puluh kursi di halaman, dan Papa mengecek tiap tiangnya seperti mengecek anaknya sendiri.
Di bawah kalimat itu ia menambahkan satu baris lagi: Mama membawa melati, dan wangi kamar ini akan kuingat lama. Tulisannya agak miring karena kantuk, tetapi tidak ada coretan.
Ia membaca kalimat itu dua kali, perlahan. Tidak ada nama laki-laki mana pun di sana. Bukan sengaja. Ia hanya menulis apa yang terlihat di rumahnya hari itu, dan itu rupanya cukup.
Ia menutup buku, mematikan lampu, dan baru berbaring ketika ponselnya bergetar di bawah bantal. Layarnya terang di kamar yang gelap.
Raditya Hermanto: Maaf, saya tahu sudah malam. Saya hanya mau mengirim satu hal, dan saya mau kamu membacanya sebelum tidur.
Tari mengetik dengan satu tangan.
Lestari Ayu: Aku belum tidur, Mas. Aku sedang menunggu.
Raditya Hermanto: Menunggu apa?
Lestari Ayu: Pertanyaan nomor seratus dua.
Balasan tidak langsung datang. Tari membayangkan Radit di rumah Nur, di kamar yang ia tahu dari foto album, duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan dan Danu yang pura-pura tidur di kasur sebelah dengan telinga terbuka. Pesan itu akhirnya masuk.
Raditya Hermanto: Pertanyaan ke-102: besok kamu bersedia menjawab di depan penghulu?
Tari menatap layar. Wajahnya hangat, matanya panas, dan di dadanya sesuatu yang selama ini mengendap mendadak naik, ringan, seperti gelembung.
Ia tidak menulis tebakan keempat. Ia tidak mencoret apa pun.
Lestari Ayu: Ya.