Balasan Radit sudah menunggu ketika Tari membuka mata.
Raditya Hermanto: Terima kasih. Selamat tidur. Sampai pagi.
Dikirim pukul sebelas lewat lima puluh delapan. Tari membacanya sambil berbaring, dengan ponsel di atas dada dan langit-langit kamar yang mulai pucat oleh cahaya subuh. Datar, seperti biasa. Satu kalimat pendek tanpa emotikon, tanpa tanda seru. Anehnya, pagi itu ia merasa itu pesan terpanjang yang pernah ia terima.
"Tari, bangun." Mama sudah di ambang pintu dengan mukena yang masih menggantung di bahu. "Sudah subuh. Salat dulu, nanti Mama bantu kamu mandi... eh, mandi sendiri, Mama bantu kerudung. Pokoknya bangun."
Salat subuh Tari lebih pendek dari biasanya karena ia terlalu banyak berdoa di sujud terakhir. Sesudahnya rumah mendadak ramai: tukang rias datang pukul enam, katering menurunkan baki-baki dari mobil boks pukul setengah tujuh, dan Arif berlari ke sana kemari dengan peci miring sambil berteriak bahwa tenda ada yang bocor, padahal itu cuma sambungan terpal.
Pukul tujuh lewat, bel pagar berbunyi dua kali. Mama membukanya sendiri dan menjerit.
"Nida! Esti! Ya Allah, kalian sudah sampai!"
Dua perempuan masuk bersama koper kecil dan tas penuh kue. Nida, yang tegas dan blak-blakan, memeluk Mama lebih dulu. Esti, lebih lembut, sudah membuka toples dari tasnya sebelum melewati pintu. Tari berdiri di ambang kamar dengan kebaya setengah terpasang dan jarum pentul di bahu, dan kedua sahabatnya berhenti persis di depannya, memandangnya dari ujung kerudung sampai ujung sepatu.
"Kamu," kata Nida, "kelihatan seperti orang yang akan dilamar."
"Dia sudah dilamar, Nid," kata Esti. "Hari ini dinikahi."
"Maksudku, kamu kelihatan tidak takut." Nida meraih kedua tangan Tari. "Kamu ingat video call kita dulu? Waktu kamu bilang tidak mau kenal laki-laki lagi?"
"Ingat."
"Aku mau tarik semua omonganku soal laki-laki." Nida mengerutkan hidung. "Kecuali satu orang. Dan dia sudah dicoret."
°°°°
Akad dimulai pukul delapan. Tari tidak melihatnya, hanya mendengarnya.
Ia duduk di kamar dengan pintu tertutup setengah, ditemani Nida di kanan dan Esti di kiri, sementara Mama berdiri di celah pintu mengintip ke ruang tamu. Dari balik kayu, suara-suara bergema: penghulu membaca khotbah, seseorang batuk, Danu berbisik sesuatu yang dibalas dengan tepukan keras di bahu. Lalu terdengar suara Papa, kering di awal.
"Ananda Raditya Hermanto."
"Saya, Om."
Hening sebentar. Tari menahan napas. "Jabat tangan saya."
Tari mendengar gesekan kursi. Esti menggenggam tangan kirinya, Nida tangan kanannya, dan Mama, di celah pintu, memegang kusen sampai buku jarinya putih.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Raditya Hermanto, dengan putri kandung saya, Lestari Ayu binti Rosidi, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan sebuah Al-Quran, dibayar tunai."
Detik berikutnya terasa panjang sekali.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lestari Ayu binti Rosidi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Satu napas. Suaranya berat, jernih, dan tidak gemetar sedikit pun.
"Bagaimana, saksi?"
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah." Penghulu membaca doa, dan dari ruang tamu terdengar gumam banyak orang mengaminkan. Mama jatuh terduduk di lantai dengan tangan menutup mulut. Nida menarik Tari ke dalam pelukan yang kuat dan basah, dan Esti menyusul, dan untuk beberapa detik tiga perempuan itu menangis bertumpuk di tepi kasur sambil tertawa.
"Aku tidak mau menangis," kata Tari, "riasanku..."
"Biar saja," kata Nida. "Nanti dibetulkan."
Mereka menuntunnya keluar. Ruang tamu yang selama dua pekan berubah-ubah bentuk kini dipenuhi orang yang duduk bersila, dan wajah-wajah itu menoleh serempak: Nur dengan gamis hijau tua, Nisa dengan kerudung biru dan mata merah, Danu dengan mulut terbuka lebar, Arif dengan peci yang akhirnya benar. Papa duduk tegak di samping penghulu. Dan di depan meja kecil, di atas tikar, laki-laki yang berbaju putih dan berpeci hitam menoleh juga.
Radit berdiri.
Tari duduk di sampingnya, di tempat yang sudah disiapkan. Mereka belum bersentuhan sejak festival. Sebelum ini jarak mereka selalu dua langkah, selalu dengan saksi, selalu dengan pintu terbuka. Sekarang jarak itu tinggal sejengkal, dan tidak ada yang bisa dikatakan.
"Silakan, Nak, salam," bisik penghulu.
Radit menatap Tari. Tidak ada kata, hanya alisnya yang naik sedikit, pertanyaan yang tidak diucapkan: boleh?
Tari menjawab dengan matanya.
Radit mengulurkan tangan kanannya, telapak menghadap ke atas, dan menunggu. Tari menyambutnya dengan kedua tangan, menunduk, dan mencium punggung tangan itu. Hangat. Sedikit basah, ternyata, karena berkeringat. Tangan yang selama ini hanya berjarak dua langkah dari tangannya ternyata sebesar itu, dan setenang itu.
Ketika ia mengangkat kepala, Radit menatapnya lagi dan menunggu satu anggukan kecil. Tari mengangguk sekali lagi.
Telapak tangan Radit mendarat di atas ubun-ubunnya, ringan, tidak lebih dari beratnya kerudung. Bibirnya bergerak membaca doa yang hanya terdengar sampai telinga Tari, pendek, suaranya serak di akhir.
Itu sentuhan pertama yang disetujui oleh keduanya. Cuma beberapa detik. Dan Tari tahu ia akan mengingatnya seumur hidup.
Dari belakang, seseorang menangis keras sekali. Nur dan Mama sudah berdiri, berpelukan, saling menutupi wajah di bahu masing-masing, dan Mama berkata sesuatu yang tak jelas di antara isakan: "Besan, sekarang resmi. Resmi, Besan!"
"Iya, Besan. Resmi!"
Danu berseru "Alhamdulillah!" begitu keras sampai Arif menutup telinga. Nisa mengambil tisu dari tasnya tanpa bicara dan membagikannya ke sekeliling.
°°°°
Penandatanganan buku nikah memakan waktu lebih lama dari yang diduga karena tangan Tari terlalu gemetar untuk menulis namanya dengan huruf yang rapi. Radit menunggu tanpa mendesak, dan ketika tanda tangannya sendiri akhirnya selesai, ia berbisik, "Tidak apa-apa. Itu tanda tangan terbaik yang pernah saya lihat."
"Miring."
"Jujur."
Papa mengangkat tangan meminta perhatian. Ponselnya sudah di tangan kiri, layar menyala.
"Ada satu hal, Papa minta izin. Tadi malam Nak Akbar mengirim pesan ke Papa. Ia tidak hadir di akad, sesuai kesepakatan, tapi ia menitipkan doa. Papa tidak mau membacakannya tanpa persetujuan kalian." Ia menatap Radit, lalu Tari. "Boleh?"
Tari menoleh pada suaminya. Suaminya, ia mencatat kata itu dengan pelan. Radit mengangguk.
"Boleh, Pa."
Papa membaca dengan kacamata di ujung hidung. "Assalamualaikum, Om Rosidi. Mohon sampaikan kepada Mas Radit dan Tari: semoga Allah memberkahi kalian dan mengumpulkan kalian dalam kebaikan, di waktu mudah dan di waktu sulit. Kami titip kalian dalam doa. Dari kami yang jauh dan mendoakan, Akbar, Ibu, dan Bapak."
Ruangan itu diam. Nur menyeka mata dengan ujung kerudung. Mama menggumam pelan, seperti orang yang diam-diam berterima kasih kepada seseorang yang tidak ada di sana.
"Aamiin," kata Radit, dan seisi ruangan menyusul.
Tari ingin mengatakan sesuatu, tetapi suaranya tidak keluar. Dalam hati ia menitip satu doa balasan untuk laki-laki itu, yang pernah ia kira tidak akan pernah ia doakan.
Ketika orang-orang sudah mulai bergerak, saling menyalami, mencari piring dan kursi, Radit mencondongkan badan sedikit, cukup untuk didengar tanpa membuat siapa pun menoleh.
"Tari."
"Ya, Mas?"
"Besok, sesudah walimah, kursi depan di mobil saya akhirnya ada yang menempati." Ia berhenti. "Dengan izin istri saya."
Kata terakhir itu membuat Tari menunduk lebih dalam daripada saat mencium tangannya tadi.
"Izin diberikan," bisiknya.