"Pukul berapa kursi itu boleh ditempati?" bisik Radit, tanpa menggerakkan bibir lebih dari yang perlu.
Tari menahan senyum dan tetap menatap lurus ke arah tamu yang berbaris di depan pelaminan sederhana di halaman rumahnya. Tenda kemarin masih berdiri, tetapi sore itu sudah dihiasi kain putih dan rangkaian melati yang dipasang Mama sejak subuh. Seratus lima puluh kursi hampir semuanya terisi. Pak Dirman sedang berebut piring dengan Firdaus di meja prasmanan. Pak Fero, dengan setelan abu-abu, mengantre salaman sambil berlatih sesuatu di mulutnya.
"Sesudah Isya," bisik Tari balik. "Dan Mas jangan bergerak banyak. Fotografernya sedang memperhatikan."
"Saya tidak bergerak. Saya hanya bertanya."
"Mas bertanya dengan bibir bergerak."
"Itu tidak termasuk."
Di sisi kiri Tari, Gita, yang baru menikah dua pekan lalu dan masih bercahaya seperti bohlam, menendang pelan tumit sepatunya. "Berhenti pacaran, kalian. Ada tamu."
Tamu itu Pak Fero. Ia menyalami Radit dengan dua tangan, menyalami Tari dengan anggukan hormat yang berlebihan, lalu berdiri diam di depan mereka, membuka mulut, dan menutupnya lagi.
"Pak?" tanya Tari.
"Saya sudah siapkan sambutan tiga kalimat." Pak Fero berdeham. "Pertama, selamat. Kedua, Tari, terima kasih sudah bekerja dengan jujur selama dua tahun. Ketiga..." Ia terhenti. "Ketiga saya lupa."
"Tidak apa-apa, Pak," kata Radit serius. "Dua sudah cukup untuk satu istri."
Pak Fero memandangnya, lalu tertawa sampai kacamatanya turun.
°°°°
Mereka datang menjelang senja, ketika langit di atas tenda mulai berwarna jingga: seorang perempuan berjilbab biru tua dan laki-laki berambut putih yang berjalan perlahan dengan tongkat, langkahnya dijaga istrinya. Tari mengenali mereka bahkan sebelum Gita menegakkan punggung di sampingnya.
Bu Chasanah berhenti sepuluh langkah dari pelaminan. Ia tidak mendekat lebih jauh. Tangannya menempel di dada, dan ia hanya tersenyum, matanya sudah basah sebelum bibirnya bergerak. Pak Hamdan di sebelahnya menunduk dalam, pelan, penuh hormat.
Tari berdiri. Gita ikut berdiri dan menggenggam lengan bajunya dari belakang, sebagai pegangan yang tidak perlu tetapi menenangkan. Tari memakai sarimbit yang diberikan Akbar di meja CS 02, kawung cokelat dan hijau lumut. Di sampingnya, Radit berkemeja dari kain yang sama.
"Bu." Suara Tari keluar lebih tenang dari yang ia kira. "Pak. Terima kasih sudah datang. Terima kasih untuk kainnya."
"Kainnya cocok sekali, Nak," kata Bu Chasanah. Suaranya bergetar. "Ibu tahu akan cocok. Ibu pilih warnanya sebulan penuh."
"Insyaallah saya pakai terus, Bu."
Pak Hamdan berbicara pelan, dengan jeda di antara kata-katanya. "Nak Tari. Nak Radit. Semoga... kalian... saling menjaga. Itu... saja."
"Aamiin, Pak," kata Radit.
Tidak ada pelukan dan tidak ada keceplosan. Hanya dua orang tua yang berdiri sepuluh langkah dari pengantin, dan Tari menyadari betapa susah dan betapa benar jarak itu.
Di belakang mereka, agak jauh, di dekat tiang tenda yang paling ujung, berdiri laki-laki berkemeja batik cokelat tua. Akbar tidak melambai dan tidak mendekat. Ia hanya mengangguk, sekali, dalam, dan Tari membalasnya.
Radit bergerak sebelum Tari sempat memutuskan apa pun. Ia menoleh pada Tari, meminta izin dengan sorot matanya, dan Tari mengangguk. Ia turun dari pelaminan dan berjalan melintasi halaman, menembus tamu-tamu yang memberi jalan, sampai berdiri di depan Akbar. Dari tempat Tari berdiri, Gita di sampingnya, ia melihat Radit mengulurkan tangan, dan Akbar menyambutnya.
Mereka berbicara sebentar. Tari tidak bisa mendengar, hanya melihat Akbar berkata sesuatu yang membuat Radit menunduk dan tertawa pendek. Lalu Radit menepuk bahu Akbar dengan tangan yang tadi menjabat, satu kali, seperti laki-laki yang berbicara dengan sesamanya.
"Mereka bicara apa?" bisik Gita.
"Entahlah."
"Mau kutebak?"
"Jangan."
"Aku tebak tetap," kata Gita. "Akbar bilang, 'Mas, jaga baik-baik.' Dan Mas Radit bilang, 'Tentu. Saya sudah punya daftar seratus.'"
Tari tertawa lebih keras dari seharusnya, dan beberapa tamu menoleh.
°°°°
Pukul sembilan malam tenda sudah dibongkar separuh. Mama, dengan mata yang sudah tidak punya air lagi, memeluk Tari lama di depan pintu rumah, dan Papa berdiri di belakang dengan tangan di saku, menatap langit-langit teras seolah-olah ada yang menarik di sana.
"Tari." Papa akhirnya bicara. "Kalau Radit takut, bilang."
"Kalau Radit lari, Papa yang mengejar," tambah Mama.
"Ma, Pa..."
"Itu saja, Nak. Berangkatlah."
Mobil silver itu menunggu di tepi jalan dengan mesin menyala. Danu berdiri di sampingnya memegang pintu depan dengan ekspresi pelayan hotel, sudah berlatih. "Silakan, Mbak Tari. Maksudku, Mbak Kakak Ipar."
"Danu."
"Aku lihat dari tadi pagi kursi ini kosong, Mbak. Seluruh keluarga tahu."
Radit sudah duduk di balik setir. Ia tidak menoleh ketika Tari naik, tidak berkata apa-apa saat pintu ditutup, dan baru ketika Danu mundur dengan wajah yang menahan tangis sekaligus tawa, ia memasang sabuk pengaman dengan tangan yang, Tari lihat, sedikit gemetar.
"Saya tidak akan bicara banyak," kata Radit. "Saya sedang berkonsentrasi."
"Mas sudah dua kali salah belok sejak depan rumah."
"Itu bukan salah belok. Itu eksplorasi."
Tari tertawa sampai kerudungnya bergeser. Kota malam bergerak di jendela, lampu merah, lampu hijau, warung bakso yang pernah mereka datangi bersama Danu dan Arif, dan di sela-sela itu hening yang bukan canggung, hanya penuh. Di lampu merah terakhir sebelum perumahan, Radit memandang ke depan dan berkata pelan: "Dulu saya tidak berani menawarkan tumpangan pada kamu. Saya takut kamu tidak nyaman."
"Sekarang?"
"Sekarang saya tahu kamu akan bilang kalau tidak nyaman." Ia menoleh sebentar. "Itu yang berubah."
Rumah itu menyambut mereka dengan lampu teras yang menyala sendiri. Radit menahan pintu pagar, menyerahkan kunci, dan Tari membukanya sendiri.
Di dapur, di bawah lampu kuning, meja jati itu menunggu dengan enam kursi dan taplak kosong.
"Aku masak," kata Tari. "Aku bilang aku masak. Mama bilang jangan, tapi aku bilang sekali ini saja."
Nasi goreng itu jadi dalam dua puluh menit, dan menjadi gosong di sisi bawahnya. Mereka duduk berhadapan, di dua kursi dari enam yang tersedia, dengan satu piring di tengah dan dua sendok. Radit menyuap pertama, mengunyah, dan terdiam.
"Enak," katanya.
"Telingamu merah, Mas."
Radit menyentuh telinganya cepat. "Itu cuma panas."
"Ibu bilang telingamu memerah kalau bohong."
"Ibu terlalu banyak bicara." Ia menyuap lagi, meringis sedikit, dan menelan. "Sedikit gosong. Tapi saya mau menghabiskannya."
Tari menatap laki-laki di seberang meja yang makan nasi gosong dengan serius seolah-olah itu ujian terakhir. Ia mengambil sendok kedua.
"Dulu waktu kecil," kata Radit sambil mengaduk sisa nasi di piring, "Ibu selalu membiarkan saya masak sendiri tiap ulang tahun. Hasilnya selalu gosong, dan Ibu selalu bilang itu rasa paling jujur di dunia."
"Berarti Ibu sudah tahu bakatmu sejak lama."
"Ibu tahu semuanya sejak lama. Itu yang membuat saya takut dan tenang sekaligus." Ia mengangkat wajah. "Sekarang saya punya satu orang lagi yang tahu."
Tari tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menggeser piring itu sedikit ke tengah, supaya sendok mereka sama-sama dekat.
Mereka menghabiskan piring itu sampai bersih.
Sesudahnya Radit mencuci piring, dan Tari mengeringkannya, dan lampu dapur dimatikan satu per satu. Di ambang ruang tengah Radit berhenti, menoleh, dan berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar: "Besok pagi saya yang masak."
"Janji?"
"Janji. Dan telinga saya tidak akan merah."
Ia mematikan lampu teras, memasang kunci, dan pintu depan menutup di belakang mereka dengan bunyi pelan yang mantap.